Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Diam-Diam
Tubuh Kenzie terbaring kaku di atas tempat tidur dengan suhu badan tinggi, Rania sedikit khawatir dan ketakutan dengan keadaannya meskipun ia seorang dokter, tapi tetap saja merasa ketakutan saat melihat Kenzie tak sadarkan diri. Untung saja Rania memaksanya agar bisa masuk, jika tidak pasti Kenzie akan pingsan tanpa diketahui orang lain.
Seluruh tubuhnya berkeringat sangat hebat, dan Rania mencoba memberikan pertolongan pertama sebisa mungkin dengan obat yang Kenzie punya di kotak P3K-nya. Mungkin Kenzie kelelahan bekerja terlihat tubuhnya sangat lemas dan lemah.
Ponsel Rania berbunyi ternyata telepon dari IGD, ia lupa jika hari ini ada pergantian shift dengan temannya. Tapi Rania tidak bisa meninggalkan Kenzie dalam keadaan seperti ini. Akhirnya Rania menyewa seorang suster rumah sakit untuk menjaga Kenzie selama dirinya tidak ada. Keadaannya memang tidak parah tapi Kenzie harus istrahat total beberapa hari ini.
"Tolong kabari aku kalau terjadi sesuatu, dan jangan lupa cek infusan setiap satu jam sekali. Berikan obat ini kalau demamnya belum turun juga," kata Rania mengingatkan suster tentang tugasnya.
Berat sebenarnya Rania meninggalkan Kenzie dalam keadaan seperti sekarang, tapi tugasnya tidak bisa ia tinggalkan sekarang juga. Tidak mungkin Rania memberitahu Jeevan karena mereka masih sedang berliburan dan baru pulang malam ini.
"Baik dr. Rania," jawab suster mengerti apa yang diucapkan oleh Rania.
"Tolong segera telepon aku kalau dia suda sadar," pinta Rania terlihat kebingungan dan ketakutan.
"Iya Dok," angguk-nya lagi.
Sesaat Rania menatap Kenzie begitu lekat yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur, sebenarnya Kenzie bukan pingsan tapi hanya tertidur sangat lelap. Jika seluruh tubuhnya sudah stabil pasti dia akan membuka kedua matanya.
"Aku pergi dulu. Please kamu baik-baik aja selama aku nggak ada," ucap Rania salam hati dengan nada lirih menatap Kenzie begitu lekat.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat menyita waktu akhirnya Jeevan dan Valerie sampai di apartemen Jeevan. Sesuai kesepakatan jika setelah menikah mereka berdua akan tinggal di apartemen Jeevan, bukan tanpa alasan mereka tinggal di sana karena Jeevan tidak suka tinggal di rumah Valerie yang besar dan sepi.
Kedua bola mata Valerie menatap seisi ruangan saat masuk ke dalam apartemen, ia bisa melihat dengan jelas jika Jeevan adalah lelaki yang sangat rapih dan suka kebersihan, semua tertata dengan baik dan sempurna. Mulai dari warna cat dinding, gorden yang semua serba putih serta warna elektronik atau furniture yang senada yaitu berwarna hitam.
"Ini kamarnya." Jeevan membawa Valerie ke sebuah kamar yang terletak di samping ruang TV dekat meja makan.
Dibukanya pintu kamar dan Valerie bisa melihat kamarnya yang megah dan sangat minimalis, entah kenapa di dalam apartemen Jeevan lebih banyak warna hitam atau putih yang Valerie lihat. Tidak ada warna yang lain.
"Ini kamar aku?" tanya Valerie melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil menatap seisi kamar yang kebanyakan berwarna hitam.
"Kamar kita," jawab Jeevan memperjelas pertanyaan Valerie dengan singkat.
Ucapan Jeevan membuat Valerie kaget bukan main, ia yang tadinya begitu menikmati suasana kamar yang tenang mendadak berbalik menatap Jeevan yang ada di belakangnya. Bola matanya membulat menatap Jeevan yang tersenyum manis.
"Apa!" Teriak Valerie kaget tidak percaya.
"Iya, kamar kita," Jeevan memperjelas ucapannya.
"Maksudnya kita berdua tidur di sini? Di kamar ini?" Valerie masih tidak percaya dan Jeevan hanya mengangguk singkat sambil tersenyum manis.
"Iya."
"Kamu pasti bohong! Memang nggak ada kamar lain di sini? Masa cuma satu?" Valerie terlihat panik seolah tidak percaya dengan ucapan Jeevan.
"Ngapain aku bohong? Memang di sini cuma ada satu kamar, kalau banyak kamar namanya kos-kosan."
"Nggak mungkin apartemen semewah ini cuma punya satu kamar?"
"Memang cuma ada satu kamar, lagian ngapain juga aku punya banyak kamar?"
"Terus kita berdua satu kamar?" Valerie semakin tidak bisa dikontrol membuat Jeevan kebingungan.
"Iya," jawab Jeevan singkat.
Wajah Valerie terlihat pasrah ketika tahu harus satu kamar dengan Jeevan, bagaimana bisa mereka satu kamar dalam jangka waktu yang lama. Tidak bisa dibiarkan, mengingat Jeevan selalu melakukan hal-hal aneh yang membuat Valerie ketakutan dan tidak merasa nyaman.
"Kamu tidur di tempat tidur aja, biar aku di sofa," terang Jeevan mengalah.
Tapi Valerie tidak percaya begitu saja dengan ucapan Jeevan yang kadang bisa berubah-ubah. Baru beberapa hari mereka bersama saja, Valerie sudah tiga kali melihat Jeevan tanpa busana dan banyak sekali kejadian yang akan membuat mereka berdua tidak nyaman.
"Tenang aja, aku nggak akan macem-macem kok. Aku nggak mau memaksa kamu buat mencintaiku. Aku tahu karena semuanya butuh proses," ucap Jeevan yang nanya disambut oleh Vale dengan tatapan sinis dan wajah yang muram.
"Sekarang kamu istrahat, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu," pamit Jeevan meninggalkan Valerie sendirian menuju ruang kerjanya.
Memang di apartemen Jeevan hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, ruang TV, ruang makan, kamar mandi di dalam kamar dan di luar, dapur dan ruang kerja yang seharunya menjadi kamar tidur tapi disulap oleh Jeevan menjadi ruang kerjanya sudah sejak lama.
Jeevan selalu menghabiskan waktunya di ruang kerja, bahkan sering tertidur di sana. Ia jarang sekali tidur di kamar tidurnya karena selalu ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tidak bisa ditunda lagi. Sudah hampir malam tapi Kenzie belum juga membalas pesannya, dia berjanji akan mengirimkan file-file yang harus ditandatangani oleh Jeevan. Tapi sampai sekarang belum juga ada kabarnya.
Sekarang Jeevan tidak bisa memberitahukan Valerie jika dia adalah cinta pertamanya dulu, Namira. Ternyata selama ini Valerie sengaja menyembunyikan namanya menjadi Namira selama bersekolah di sana, ia selalu menutupi semuanya sampai perasannya. Jeevan seperti orang bodoh yang benar-benar menggilainya. Setelah benar-benar mencintainya, Valerie pergi begitu saja tanpa ada rasa bersalah meninggalkannya.
Jam Alarm berbunyi dan Jeevan terbangun dan seperti biasa ia tertidur di meja kerjanya dengan posisi duduk, tapi anehnya di tubuhnya ada selimut yang menyelimutinya. Siapa lagi pasti Valerie yang melakukannya. Semalam Valerie terbangun dan melihat Jeevan tidak ada di kamar, rasa penasaran muncul di hati Vale dan mendapati Jeevan tidur di ruang kerjanya.
Ditutupinya tubuh Jeevan agar tidak kedinginan saat tidur dalam posisi duduk. Tubuh Jeevan sepertinya terasa pegal dan ia melihat ponselnya tidak ada notifikasi masuk dari Kenzie, kemana sahabatnya itu? Setelah Jeevan sampai di ruang makan ia melihat istrinya sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.
Spontan Jeevan terdiam terpaku melihat Valerie yang sudah bangun lebih dulu darinya menyiapkan sarapan. Biasanya Jeevan selalu membuat sendiri, tapi sekarang Valerie yang membuatnya. Menjadi anak tunggal bukan menjadikan Valerie manja tapi ia sudah terbiasa semua serba sendiri, jadi tidak heran jika Valerie juga pandai memasak seperti Jeevan.
"Kamu udah bangun, aku udah siapakah sarapan," ucap Valerie menyadarkan Jeevan yang masih terdiam terpaku berdiri mematung menatap ke arah meja makan.
"Ini semua kamu yang siapkan?" tanya Jeevan tidak percaya seraya melangkahkan kakinya menuju meja makan dan memperhatikan satu per satu menu sarapan pagi yang dibuat oleh istrinya.
Memang tidak banyak yang dibuat oleh Valerie hanya makanan kesukaan Jeevan, memang pagi hari Jeevan tidak bisa sarapan dengan makanan berat, ia selalu sarapan roti dan kopi. Berbeda dengan Valerie yang harus makan berat yaitu nasi gorengan dan susu. Jeevan alergi protein dan makanan laut, jadi Valerie memberikan isi roti dengan selai kacang.
"Memang kamu pikir siapa? Aku udah terbiasa buat sarapan sendiri di rumah, jadi jangan heran," jelas Valerie menarik kursi meja makan dan duduk.
Mereka berdua menikmati sarapan pagi, ini adalah hari pertama kali mereka sarapan bersama dengan status suami istri.
"Nanti aku pulang malam, tapi aku udah siapkan semua buat makan malam di kulkas, nanti kamu tinggal hangatkan saja semua. Kamu bisa kan?" tanya Valerie memberitahu Jeevan jika nanti dia akan pulang terlambat.
Jeevan yang sedang asik menikmati sarapannya terdiam mendadak menatapnya, ada rasa penasaran di hatinya ke mana istrinya akan pergi.
"Kamu mau ke mana?" Jeevan balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Valerie lebih dulu.
Mendadak wajah Vale sedikit gugup dan kebingungan untuk menjawab pertanyaan Jeevan, apa ini ada hubungannya dengan telepon masuk yang pernah Jeevan lihat, yaitu dr. Simon. Lama Jeevan menunggu jawaban dari Valerie sampai merasa kesal dibuatnya.
"Kamu nggak perlu tahu, pokoknya jangan tunggu aku pulang. Dan aku udah siapkan bekal buatmu." Valerie memberikan sekotak box bekal untuk Jeevan yang berisi roti sandwich kesukaan Jeevan.
Ada rasah bahagia yang tersirat di balik rasa kesalnya kepada Valerie, baru kali ini ada yang membuatkan bekal makan siang. Selama berhubungan dengan Maura tidak pernah sekalipun Jeevan dibuatkan bekal makan siang. Memang Valerie adalah perempuan yang sempurna untuknya.
Dengan langkah cepat Rania turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam lift menuju apartemen Kenzie. Setelah pulang tugas ia langsung ke tempat Kenzie untuk melihat keadaannya. Sesampainya di sana Rania sedikit lega karena keadaan Kenzie mulai membaik meskipun sejak kemarin belum membuka kedua matanya.
Kepalanya terasa sangat berat dan masih merasakan sakit, tapi sebisa mungkin ia mencoba membuka kedua bola matanya. Meskipun masih terasa lemas dan sakit di seluruh tubuhnya. Samar-samar Kenzie bisa membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya. Seingatnya kemarin ia masih di ruang tamu, tapi kenapa sekarang ada di kamar? Apalagi dengan tangan yang terasa pegal karena infusan.
Kenzie mencoba memperhatikan sekitarnya dengan seksama meskipun matanya masih terlihat kabur dan sayu, sepintas ia melihat sosok Rania yang datang menghampirinya sambil membawa sebuah nampan yang berisikan bubur dan air putih hangat. Kenzie seperti sedang bermimpi karena perempuan yang menghampirinya mirip dengan Rania.
Mulutnya masih membisu karena tidak punya tenaga untuk bicara, napasnya masih terdengar panjang dan lambat, serta kedua bola matanya yang semakin lama semakin terasa lemas. Tidak ada yang bisa Kenzie lakukan saat ini selain kembali tidur.
"Kamu udah bangun? Kita makan dulu, ya?" Rania duduk di samping Kenzie yang hanya terdiam saat sudah sadar tanpa bicara.
Sebisa mungkin Rania berusaha membantu Kenzie agar bisa mencerna makanannya, agar Kenzie mempunyai tenaga dan lebih baik lagi. Rania begitu sabar mengurusnya, selesai memberi makan dan minum obat, Rania membersihkan apartemennya tanpa ada rasa lelah. Sampai ada panggilan masuk terdengar di ponsel milik Kenzie.
Ternyata itu dari Jeevan yang sudah berapa puluh kali mengirim pesan dan menelepon Kenzie sejak semalam. Melihat panggilan dari Jeevan membuat Rania sedikit ragu, tapi ia juga tidak bisa menutupi keadaan Kenzie saat ini. Pasti Jeevan sedang membutuhkannya di kantor. Akhirnya Rania memutuskan untuk mengangkat telepon masuk dari Jeevan di ponsel Kenzie.
"Halo." Suara Rania saat menerima panggilan masuk dari Jeevan di ponsel Kenzie.
Suara Rania membuat Jeevan kaget bukan main, kenapa ada suara perempuan yang mengangkat ponselnya? Jeevan terdiam sesaat lalu kembali melihat nomor siapa yang ditekan olehnya, ternyata benar itu adalah nomor Kenzie. Tapi kenapa ada suara perempuan? Jeevan kembali menempelkan ponsel di telinganya setelah melihat sesaat nama panggilan di ponselnya.
"Ini ponsel Kenzie, kan? Kenapa yang angkat perempuan?" tanya Jeevan keheranan.
Rania masih terdiam dan sedikit ketakutan, apa yang harus diucapkan olehnya. Tapi ia terlanjur sudah mengangkat panggilan masuk dari Jeevan dan mau tidak mau harus memberitahukan yang sebenarnya.
"Iya betul, ini aku Rania," ucap Rania memberitahu kepada Jeevan membuatnya begitu kaget saat mendengarnya.
"HAH! Kenapa ponselnya ada sama kamu? Kenzie mana?" tanya Jeevan kaget tidak percaya dan dibuat penasaran kenapa Kenzie bisa bersama dengan Rania, bukannya hubungan mereka berdua sedang tidak baik-baik saja?
"Kenzie nggak bisa terima telepon karena dia lagi sakit."
"What, sakit!" Jeevan kembali dibuat kaget dengan ucapan Rania.
"Sakit apa? Gimana keadaannya?"
"Kamu nggak usah khawatir dia udah mendingan, nanti aku kasih tahu dia kalau kamu telepon."
Sebenarnya Jeevan ingin tahu bagaimana bisa Rania bersama dengan Kenzie, dan sejak kapan mereka berdua menjadi dekat. Apalagi saat seperti ini mereka kenapa bisa bersama. Tapi sekarang bukan saatnya Jeevan bertanya, karena ia harus meminta data kepada Kenzie tentang hasil rapat kemarin.
"Boleh aku minta tolong?" pinta Jeevan berharap jika Rania bisa menolongnya.
"Apa?"
Jujur Jeevan tidak yakin jika Rania bisa membantunya, tapi ia tidak bisa mempunyai pilihan lagi selain meminta bantuan Rania. Jeevan terlihat kebingungan sambil memegang keningnya.
"Apa bisa kamu mencari laptop milik Kenzie? Nanti ada orang yang mengambilnya. Bisanya dia simpan di bawah meja kerjanya, beritahu aku kalau kamu menemukannya."
Rania mencari laptop milik Kenzie berdasarkan keterangan Jeevan di mana laptopnya disimpan. Rania berusaha mencarinya dengan hati-hati. Seperti ucapan Jeevan, ia bisa menemukannya. Dan Rania mencoba mengecek batrei laptopnya apakah masih full atau tidak.
Namun betapa terkejutnya Rania saat membuka laptop milik Kenzie, pertama kali yang dilihatnya bukanlah jumlah batrei tapi sebuah wallpaper yang menjadi penghuni laptop Kenzie. Sebuah foto yang membuat Rania terdiam terpaku tidak bisa berkata apa-apa. Kedua bola mata Rania membulat sempurna melihatnya, ternyata itu adalah foto dirinya dengan Kenzie yang diambil oleh Angel saat mencoba pakaian pengantin milik Biyan.
Sesuai mencoba pakaian pengantin milik Biyan, mereka berdua difoto untuk memberitahu Biyan jika bajunya sudah selesai dipakai. Angel mengirimkan foto mereka berdua yang diambil di butik kemarin kepada Kenzie. Siapa sangka foto itu sangat berharga baginya dan sampai menjadi penghuni wallpaper laptopnya.
bagus² nama tokohnya.
maaf sebelumnya
narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang
mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak
sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh
cuma saran teknis aja kak 👍
semangat ya.