Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang bawah tanah
"Bangun!"
Pria paruh baya itu mulai membuka matanya perlahan. Ia terbaring dengan tubuh yang sangat lemah; tampak tulang-tulangnya seolah hanya tertahan oleh lapisan kulit yang tipis. Tubuhnya begitu kurus, bahkan sudah terlihat seperti mayat hidup. Rambutnya panjang tak terurus dan berantakan, kulitnya kusam, serta wajahnya dipenuhi kotoran.
Saat matanya terbuka, rasa sakit seketika menyerang karena silau cahaya yang masuk dari pintu. Ia kembali memejamkan mata dengan rapat, tak mampu menggerakkan tubuhnya yang sudah terlalu rapuh.
"Kau ternyata masih bisa bertahan hidup, ya? Aku pikir kau akan mati jika terlalu lama berada di sini," ujar sosok pria yang baru saja masuk. Suaranya terdengar kejam tanpa empati.
"Ternyata nyawamu cukup tangguh. Bahkan setelah delapan tahun aku mengurungmu di ruang bawah tanah ini, kau ternyata masih bisa bernapas," lanjutnya dengan nada meremehkan, menatap sosok tak berdaya di bawahnya itu seperti melihat seonggok sampah.
Pria yang biasa disapa Sebastian itu merendahkan tubuhnya, duduk berjongkok di samping pria paruh baya yang tak berdaya tersebut. Hawa dingin seolah berpindah dari tubuh Sebastian saat ia mendekatkan wajahnya. Dengan perlahan, ia membisikkan sesuatu tepat di telinga pria yang malang itu. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan ular.
"Kau tahu... putrimu sudah keluar dari penjara?" bisik Sebastian. "Dia bahkan tidak membusuk di sana sesuai dengan hukuman yang telah dijatuhkan. Dan kau pasti tahu bagaimana kelanjutan napas putrimu setelah dia menghirup udara bebas itu, bukan?"
Bisikan itu bagaikan sengatan listrik bagi pria paruh baya tersebut. Mata yang tadinya terpejam rapat kini dipaksa terbuka lebar, meski rasa perih akibat cahaya lampu langsung menusuk bola matanya. Dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis, ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang tinggal tulang belulang. Ia ingin bangkit, ingin meraih leher pria di hadapannya, namun tubuhnya terlalu rapuh.
Sambil terengah-engah, ia menyeret tubuhnya di atas lantai dingin, berusaha menyandarkan punggungnya pada tembok yang lembap. Dalam posisi antara duduk dan berbaring, napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik-turun dengan cepat seolah oksigen di ruangan itu tiba-tiba menghilang.
"Ka... kalian..." Suaranya terdengar sangat parau, nyaris habis, seolah pita suaranya telah berkarat karena bertahun-tahun tidak digunakan.
Pria paruh baya itu terbatuk kecil, dadanya terasa sesak saat mencoba mengeluarkan kata-kata. "Kalian... apakan putriku? Bagaimana dia bisa keluar dari penjara? Apa sebenarnya yang sudah kalian lakukan padanya?!"
Setiap kata yang keluar dari bibir pecah-pecahnya terdengar seperti rintihan penuh luka. Matanya yang cekung menatap Sebastian dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, menuntut jawaban atas nasib Adira. Ia tahu, kebebasan putrinya di tangan orang-orang ini bukanlah sebuah anugerah, melainkan jerat baru yang mungkin jauh lebih menyakitkan daripada jeruji besi.
Pria itu tertawa, suaranya menggema kasar di ruangan bawah tanah yang lembap tersebut. "Hahaha! Kenapa kau bertanya padaku?"
Ia menghentikan tawanya sejenak, lalu menatap pria paruh baya itu dengan pandangan meremehkan yang sangat tajam. "Tanyakan saja pada menantumu!"
Senyum licik terukir di wajahnya saat melihat ekspresi hancur di wajah sang ayah. "Putrimu yang cantik itu... sekarang sudah menjadi milik Arlan Erlangga. Jadi, kau tidak perlu khawatir, dia mendapatkan 'perawatan' yang sangat spesial dari suaminya sendiri," lanjutnya dengan nada bicara yang penuh racun.
"A-pa?!" Suara pria paruh baya itu bergetar, bercampur dengan isak tangis dan amarah yang meluap. "Jangan bercanda, Sebastian!"
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim