NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecupan Spontan di Depan Budi

Mendengar sebutan "calon Ibu Bos" atau Nyonya Adrian Bramantyo keluar begitu saja dari bibir Adrian yang biasanya irit bicara, sistem saraf Gisel rasanya langsung mengalami konsleting masal. Wajahnya yang tadi sudah merah padam, kini berubah jadi sewarna buah naga matang.

​Apalagi saat melihat Budi yang matanya sudah berbinar-binar liar siap menyebarkan berita gempar ini ke seantero grup WhatsApp kantor. Gisel langsung menyikut perut Adrian pelan dan mendongak memprotes dengan sisa-sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

"Bapak!!! Jangan ngomong yang aneh-aneh deh di depan Budi! Calon Ibu Bos, Nyonya Adrian Bramantyo apanya?! Bapak jangan ngigo di siang bolo—"

​Cup.

​Kalimat protes Gisel yang menggebu-gebu itu terputus begitu saja di udara. ​Tanpa aba-aba, Adrian menundukkan kepalanya sedikit dan mendaratkan sebuah kecupan singkat yang sangat manis di atas bibir ranum Gisel yang sedang mengomel. Hanya sekilas, namun sukses membungkam Gisel seribu bahasa.

​Waktu seolah berhenti berputar di koridor lantai 40 itu. ​Gisel langsung mematung di tempat dengan mata bulat yang membelalak sempurna. Otaknya benar-benar mati rasa. Ia tidak pernah membayangkan dalam mimpi terliarnya sekalipun kalau si Bos Kulkas 1000 pintu ini bakal senekat ini melakukan kontak fisik seintim itu di depan saksi mata.

​Sementara itu di depan mereka.

​"AAAAAAAAKKKKKKKK!!!! BUNDAAA!!! ANAKMU BUTUH AMBULANNN!!! MATAKU TEREDUKASI SECARA LIVE!!!"

​Budi histeris sejadi-jadinya. Pria itu sampai menjatuhkan dirinya ke lantai koridor dengan posisi sujud syukur saking tidak kuatnya menahan histeria melihat adegan live action romantis di depan matanya.

​Adrian melepaskan kecupan singkatnya. Ia menatap wajah Gisel yang kini benar-benar kaku seperti patung lilin dengan tatapan yang sangat puas. Adrian terkekeh pelan sebuah tawa renyah yang sangat menawan dan mematikan.

​Adrian mengusap puncak kepala Gisel yang masih membeku "Ternyata cara paling ampuh membungkam Macan Gudang yang sedang mengamuk itu memang harus pakai cara tadi. Saya permisi kembali ke ruangan dulu ya, Sela. Jangan lupa bernapas."

​Sambil terus terkekeh geli melihat mahakarya ciptaannya yang sukses membuat Gisel dan Budi kehilangan kewarasan, Adrian melangkah santai menuju ruangannya dengan senyum penuh kemenangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun.

​Tinggallah Gisel yang masih berdiri mematung memegangi bibirnya dengan tatapan kosong, sementara Budi masih berguling-guling heboh di lantai koridor sambil memeluk berkas-berkasnya.

Gisel benar-benar sudah tidak punya tenaga lagi untuk marah, berteriak, apalagi mengeluarkan jurus silat andalannya. Serangan fajar dari Adrian yang mengecup bibirnya secara langsung di depan Budi benar-benar meremukkan sisa-sisa pertahanan gengsinya sampai ke molekul terkecil.

​Kedua telapak tangan mungilnya kini menutupi seluruh wajahnya yang terasa sangat panas, bahkan mungkin saking panasnya bisa dipakai untuk merebus telur. Matanya berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa hebat.

Gisel menggumam pasrah di balik telapak tangannya, suaranya terdengar sangat nelangsa.

"Mami... tolongin Gisel... Gisel mau resign aja hari ini juga, mami... Harga diri gue sebagai Macan Gudang beneran udah terjual bebas tanpa potongan diskon..."

​Gisel rasanya ingin menangis saking bingungnya harus memasang muka seperti apa lagi setelah ini. Sementara itu, di lantai koridor, konser histeria Budi masih terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda mereda.

​Budi sambil memeluk lututnya dan berguling ke kanan dan ke kiri "Ya ampun, Gisel sayangkub! Lu beneran udah naik kasta! Dari pawang macan jadi calon ratu di hati sang Kulkas! Eke beneran saksi sejarah! Eke harus bikin tumpeng mini di kubikel eke sore ini sebagai bentuk rasa syukur!"

​Gisel yang mendengar igauan Budi langsung menurunkan tangannya dari wajah. Ia menatap Budi dengan tatapan yang sangat memelas dan tak berdaya.

​"Mami Budi... kalau lo masih anggap gue temen seperjuangan yang suka bagi-bagi gorengan, gue mohon... jangan sebarin kejadian barusan di grup kantor ya? Gue beneran belum siap jadi bahan gibah nasional..."

​Budi yang melihat mata Gisel berkaca-kaca menahan malu yang amat sangat, akhirnya menghentikan aksi hebohnya. Ia duduk bersila di lantai koridor sambil menopang dagu, menatap Gisel dengan senyuman haru yang tulus.

"Aduuuh, sayangkuh... iya deh, eke janji nggak bakal bocorin soal adegan cup manja tadi di grup besar. Eke simpen aja buat konsumsi pribadi dan eke abadikan di dalam lubuk hati eke yang paling dalam! Tapi jujur ya say, lu beruntung banget. Tatapan mata Pak Bos ke lu tadi... beuh, itu bukan tatapan bos ke bawahan lagi, tapi tatapan singa jantan yang bucin mampus sama pawangnya!"

​Mendengar kalimat tulus dari Budi, mau tidak mau setitik rasa hangat kembali menjalar di dada Gisel, menepis sedikit rasa malunya. Sialan. Bos Kulkasnya itu benar-benar sudah berhasil menjajah seluruh hati dan pikirannya hari ini.

Ucapan tulus Budi, pertahanan gengsi Gisel yang tadinya sempat mereda mendadak runtuh lagi. Tapi kali ini bukan karena baper, melainkan karena rasa kesal dan malu yang sudah menggunung sampai ke ubun-ubun.

​Gisel langsung berjongkok di samping Budi, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Ia mulai menangis histeris tentu saja tanpa air mata, alias hanya akting dramatis untuk menumpahkan segala kekesalan dan kepasrahannya pada tingkah ajaib sang bos.

​"Aaaaakkkhhh! Mami Budi, lo nggak tahu penderitaan gue! Pak Adrian itu beneran udah gila! Tadi di toilet main ancam pecat orang, terus narik-narik gue ke rooftop kayak drakor maksa! Mana di ruangan tadi dia juga nyosor duluan pakai alasan pembuktian teori segala lagi! Huhu..."

​Budi yang awalnya mendengarkan dengan penuh simpati, mendadak langsung menegakkan punggungnya. Radarnya sebagai admin lambe turah kantor langsung menangkap sinyal darurat.

​"Bentar, bentar, Say! Tadi lu bilang di ruangan nyosor duluan?! Jadi... sebelum di koridor ini, kalian udah ciuman duluan di dalam ruangan kerja?!" tanya Budi

​Gisel yang emosinya sedang meluap-luap dan otaknya sedang konslet parah, langsung mengangguk heboh tanpa menyaring ucapannya sama sekali.

​"Iya, Mi! Mana ciumannya panas banget lagi! Bibir tipisnya itu lembut banget, bener-bener bikin gue melayang sampai nggak memungkiri kalau gue juga nikmatin ritmenya! Sumpah, gue benci banget kenapa raga ini malah menikmati keahlian bibir Pak Bos Kulkas itu! Aaaaa—"

​Kalimat Gisel terhenti seketika. Matanya membelalak sempurna menyadari kebodohan mulutnya yang baru saja membocorkan rahasia paling terlarang abad ini.

​Gisel langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Mati gue! batinnya histeris.

​Sementara itu, Budi yang mendengar pengakuan super jujur dan vulgar tanpa sensor dari Gisel langsung mengalami overdosis kehebohan. Jiwa raga Budi seolah terlempar ke dimensi lain.

"DEMI APA LU NIKMATIN JUGA SAY?! AAAAAAAKKKKK!!! GUE NGGAK KUAAATTT! KAPAL EKE BERLAYAR PAKAI MESIN JET!!!"

​Budi berteriak histeris dengan lumba-lumba lumba-lumba lumba-lumba nada yang memecahkan rekor dunia. Saking tidak kuatnya menampung informasi yang terlalu panas dan menggemparkan ini, tubuh Budi refleks bergerak!

​GUBRAK! JUNGKIR! BALIK!

​Tanpa memedulikan tulang-tulangnya yang berderak, Budi benar-benar melakukan aksi jungkir balik di atas lantai koridor sebanyak dua kali bak atlet senam lantai profesional, sebelum akhirnya terkapar terlentang menatap langit-langit koridor dengan senyum paling bahagia sekaligus syok seumur hidupnya.

Gisel benar-benar pasrah. Ia terduduk lemas di lantai koridor dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang kini bukan lagi sewarna buah naga, melainkan sudah seperti udang rebus yang matang sempurna.

​Ia merutuki kebodohan mulutnya yang tidak punya rem darurat. Bagaimana bisa ia keceplosan membongkar aib bahwa dirinya juga menikmati lumatan bibir Adrian di depan Budi?! Itu sama saja dengan memberikan amunisi nuklir kepada raja gosip Bramantyo Grup.

​Sementara itu, Budi yang baru saja menyelesaikan aksi jungkir baliknya kini duduk bersila di depan Gisel. Napasnya masih terengah-engah saking hebohnya, namun matanya memancarkan binar kemenangan yang luar biasa usil.

Budi menunjuk-nunjuk Gisel dengan gaya centil yang mengintimidasi "Wah, wah, wah! Sayangkuh Gisel... ternyata lu beneran serigala berbulu domba ya! Di depan Pak Bos jual mahal teriak-teriak nggak sudi jatuh cinta, tapi di belakang... oh my god, bibir kuncup lu ikut bergoyang menikmati ritme Bos Kulkas!"

​Gisel hanya bisa mengerang pasrah di balik telapak tangannya, tidak berani membantah sepatah kata pun.

​Budi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis "Tega banget ya lu say sama eke! Lu ngerasain surga duniawi begitu sendirian, sedangkan eke di sini cuma bisa ngebayangin kapan dapet jodoh yang se-hot Pak Adrian! Mana pakai bilang 'menikmati ritmenya' lagi! Heh, lu ya! Gengsi digedein, tapi napsu jalan terus! Itu namanya munafik tapi asyik, say!"

​Omelan maut Budi yang tanpa jeda itu benar-benar menguliti habis sisa-sisa harga diri Gisel. Mulut jahil Budi kalau sudah mengomel memang luar biasa pedas melebihi cabai rawit setan.

​Gisel bicara lirih dari balik tangannya, suaranya terdengar sangat nelangsa "Udah dong Bud... jangan diomelin terus... gue beneran khilaf tadi. Otak gue mendadak korslet karena pesona Bos Modus itu. Plis, jangan bahas soal ritme lagi, gue mau tenggelam aja di laut mati sekarang..."

​"Nggak bisa! Eke bakal terus ungkit ini sampai lu traktir eke makan bakso urat plus es teler sore ini! Ini bayaran tutup mulut paling murah sedunia ya, Jeng! Kalau lu nggak mau, eke bakal bikin siaran langsung di grup WhatsApp dengan judul: 'Pengakuan Dosa Sang Macan Gudang yang Meleleh oleh Bibir Sang Kulkas'. Pilih mana?!" ancam Budi.

​Gisel langsung menurunkan tangannya, menatap Budi dengan tatapan pasrah namun penuh rasa terima kasih yang tersembunyi. Setidaknya, Budi masih bisa disogok dengan semangkuk bakso urat.

Gisel langsung melepaskan telapak tangan dari wajahnya. Ia sadar, posisinya sangat terpojok. Kalau sampai rahasia "cipokan" panas itu bocor ke seantero kantor, tamatlah riwayatnya sebagai Macan Gudang yang disegani. Ia harus menggunakan keahlian negosiasinya demi menyelamatkan harga dirinya. ​Gisel menarik napas dalam-dalam, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Budi dengan tatapan yang sangat serius.

"Oke, oke! Deal soal bakso urat plus es teler sore ini! Tapi itu cuma untuk tutup mulut soal adegan ditarik tangan di koridor dan panggilan 'Sela' tadi ya. Khusus untuk rahasia... anu... yang di dalam ruangan tadi, kita bikin kesepakatan baru!"

​Budi menaikkan satu alisnya, tersenyum miring layaknya rentenir yang sedang menagih utang.

"Wah, wah, wah! Menarik nih. Emangnya yey mau kasih penawaran apa lagi ke eke biar rahasia 'cipokan aduhai' itu nggak eke sebar luaskan?" ucap Budi dengan senang

​Gisel menelan ludah, memutar otak secepat kilat "Satu! Gue bakal gantiin jadwal lembur lo besok malam! Jadi lo bisa bebas melipir buat kencan buta atau apa pun itu! Gimana?!"

​Budi mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk "Hmm... penawaran yang menggiurkan. Tapi belum cukup untuk menebus informasi se-panas lirik lagu dangdut tadi, say, Masih kurang!"

​Gisel mengacak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar sedang diperas habis-habisan oleh intel nomor satu Bramantyo Grup ini.

​"Dua! Gue bakal kasih tahu lo skincare routine gue yang bikin muka glowing bebas kilap plus ngasih lo sisa stok parfum impor gue yang masih segel di laci meja! Gimana?! Kurang baik apa gue coba?!"

ucap Gisel ​Budi tampak menimbang-nimbang. Matanya yang tadi usil kini berbinar mendengar kata "skincare glowing" dan "parfum impor".

"Deal! Tapi ada syarat tambahannya!" ucap Budi

​"Apalagi sih, Mami Budi?! Astaga, lama-lama ginjal gue juga lo minta nih!" ucap Gisel kesal.

​"Syaratnya gampang! Lu harus ceritain secara detail gimana rasanya dicium sama CEO paling tampan se-ibukota itu! Eke butuh asupan fantasi romantis buat bekal jomblo eke malam ini, Jeng! Gimana? Deal?!" ucap Gisel.

​Mendengar syarat tambahan yang sangat tidak tahu diri itu, Gisel rasanya ingin menjitak kepala Budi saat itu juga. Namun, demi amannya rahasia besarnya, Gisel hanya bisa mengembuskan napas panjang dan pasrah.

​Gisel membisikkan kalimat dengan pasrah "I-iya... deal! Nanti gue ceritain pas makan bakso! Tapi lo beneran harus kunci mulut lo rapat-rapat ya, Bud?!"

Gisel baru saja mengembuskan napas lega dan hendak bangkit berdiri dari lantai koridor setelah kesepakatan maut itu tercapai. Namun, tepat ketika ia baru saja menegakkan lututnya.

​"Boleh saya ikut dengar ceritanya di tukang bakso nanti?"

​Suara bariton yang berat, dalam, dan sangat familier itu tiba-tiba terdengar tepat dari arah belakang mereka. Suara yang barusan membuat bibir Gisel mati rasa.

​DEG!

to be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!