"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri Aku Kesempatan
Sementara Rajendra menghabiskan malamnya dengan penuh kecemasan hingga tertidur di pinggir jalan, Cya justru tidur nyenyak dengan perasaan tenang.
Sepulang dari kampus, awalnya Cya memang berniat pergi ke rumah orang tuanya. Namun di tengah perjalanan, ia berubah pikiran. Ia meminta sopir taksi untuk mengarah ke rumah mertuanya.
Ia tau… kalau pulang ke rumah orang tuanya, ia hanya akan menemukan kesunyian. Berbeda dengan di rumah mertuanya. Di sana, ia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia rasakan—kehangatan.
“Cya sayang…”
Suara lembut Bu Kiran terdengar bersamaan dengan ketukan pelan di pintu kamar tamu yang ditempati Cya.
Sebenarnya, Bu Kiran sudah menawarkan Cya untuk tidur di kamar Rajendra yang ada di lantai atas. Namun, karena masih kesal, Cya memilih kamar tamu. Bahkan sekadar melihat kamar Rajendra saja ia enggan… meski di sisi lain, ada rasa penasaran kecil yang ia sembunyikan.
“Cya, bangun, Nak. Kita sarapan yuk,” ajak Bu Kiran dengan suara sedikit lebih keras.
“Iya, Mah!” sahut Cya ceria dari dalam.
Tak lama, pintu terbuka.
Cya muncul dengan wajah segar. Bu Kiran langsung menyambutnya dengan senyuman hangat—senyuman yang otomatis membuat Cya ikut tersenyum.
“Gimana tidurnya, Nak? Nyenyak?”
“Nyenyak banget, Mah,” jawab Cya jujur.
Tangan Bu Kiran terangkat, mengelus lembut puncak kepala menantunya itu. “Baguslah. Tapi pasti lebih nyenyak kalau dipeluk suami, kan?” godanya sambil menaik-turunkan alis.
Cya malah menjawab polos, tanpa beban. “Lebih enak tidur sendiri, Mah.”
Senyum Bu Kiran langsung memudar. Tatapannya berubah sedikit tajam, penuh selidik. “Kamu lagi ada masalah sama Rajendra, ya?”
Cya sedikit terdiam, lalu cepat-cepat menggeleng. “Enggak kok, Mah.”
“Yakin?” Bu Kiran memicingkan mata, tidak sepenuhnya percaya.
“Yakin,” jawab Cya lagi, mencoba terdengar meyakinkan.
Padahal… kenyataannya jauh dari itu.
Namun, Cya memilih diam. Ia tidak ingin dianggap mengadu.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Bu Kiran, meski masih menyimpan rasa curiga. “Nanti siang Mama telepon Rajendra ya, suruh dia jemput kamu.”
“Enggak usah, Mah. Aku pulang naik taksi aja.”
“Jangan dong, sayang. Masa menantu Mama pulang naik taksi?” Bu Kiran langsung menolak. “Di rumah ini banyak kendaraan. Kamu pilih saja yang kamu mau. Tapi jangan nyetir sendiri, ya. Nanti Mama carikan sopir.”
Cya menunduk, memainkan jari-jarinya. Ia tampak ragu.
“Enggak apa-apa, bilang saja,” bujuk Bu Kiran lembut. “Kalau di garasi enggak ada yang kamu suka, Mama belikan yang baru hari ini juga.”
Cya mengangkat kepala, berpikir sejenak… lalu berkata polos, “Sebenarnya aku mau kuda, Mah. Kayaknya enak kalau ke mana-mana naik kuda.”
Bu Kiran terdiam. Benar-benar di luar dugaan permintaan menantunya itu.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum kecil, sedikit menahan tawa.
“Sayang… bukannya Mama enggak mampu beliin kamu kuda,” ucapnya sabar, “tapi di kota besar kayak gini… kayaknya enggak boleh deh naik kuda ke mana-mana.”
Bahunya Cya langsung merosot. “Oh… ya sudah, gapapa Mah.”
“Maaf ya, sayang,” ucap Bu Kiran sambil mengelus punggungnya.
Cya buru-buru tersenyum, menenangkan. “Gapapa, Mah.”
***
Rajendra datang ke kantor dengan kondisi yang jauh dari biasanya.
Kemeja yang biasa tersetrika rapi kini tampak kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat lelah dengan lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya.
Danish memperhatikan sahabatnya itu dari atas sampai bawah, lalu mengernyit.
“Kenapa penampilan lo kayak gini? Hari ini kita mau ketemu klien penting, Jendra,” tegurnya.
“Jangan banyak tanya. Kepala gue lagi pusing,” jawab Rajendra singkat.
Danish menyipitkan mata. “Lo lagi ada masalah?”
Rajendra menghela napas berat, lalu akhirnya menjawab, “Cya hilang… dan gue gak tau dia ke mana.”
Danish langsung serius. “Hilang gimana? Dia kabur atau… ada yang nyulik?”
Ucapan itu membuat Rajendra terdiam sejenak. Ia memang belum berpikir sejauh itu… tapi sekarang pikirannya jadi semakin kacau.
“Gue… gak tahu,” ucapnya pelan.
“Kapan terakhir lo lihat dia?”
“Pas dia masuk ke gerbang kampus.”
“Dan sebelum itu? Kalian berantem?”
Rajendra menggeleng pelan. “Bukan berantem… cuma mungkin dia tersinggung sama omongan gue.”
Danish menghela napas panjang. “Berarti dia bukan hilang. Dia cuma butuh waktu buat nenangin diri.”
“Tapi gue tetap khawatir,” sahut Rajendra frustasi. “Gue gak tau dia di mana. Kalau orang tuanya nelpon, gue harus jawab apa?” Ia memijat pelipisnya yang terasa semakin berat.
Belum sempat Danish menjawab, tiba-tiba suara lain terdengar. “Jendra, Danish, kenapa kalian masih di sini?”
Keduanya menoleh. Pak Mahardika baru saja datang.
“Ini kita mau ke ruang meeting, Om,” jawab Danish cepat.
“Oh, bagus. Lebih baik kalian sudah siap sebelum klien datang.”
“Iya, Om.” Danish lalu menyenggol lengan Rajendra. “Jen, ayo.”
Namun langkah Rajendra terhenti saat Pak Mahardika kembali bicara.
“Kenapa muka kamu kusut begitu?”
Rajendra hendak menjawab, tapi—
“Dia lagi mikirin Cya yang dari kemarin belum pulang, Om,” potong Danish tanpa dosa.
Rajendra langsung melotot tajam ke arah Danish.
Kalau bukan karena situasi, mungkin sudah ia hajar temannya itu.
“Ya ampun…” Pak Mahardika justru terlihat santai. Ia menepuk pundak Rajendra. “Kamu ini gimana sih? Kamu sendiri yang ngizinin istri kamu menginap di rumah, tapi malah panik sendiri.”
Rajendra mengernyit. “Maksud Papa… Cya nginep di rumah Papa sama Mama?”
“Iya, lah.”
Seketika itu juga, beban di dada Rajendra seperti terangkat.
Ia bisa bernapas lega. Ternyata… Cya aman. Dan selama ini… ia hanya tidak tau.
“Setelah meeting selesai, aku akan jemput dia,” ucap Rajendra tegas.
Kini raut wajahnya sedikit berubah. Tidak sepenuhnya tenang, tapi setidaknya tidak sekacau tadi.
Danish meliriknya sekilas, tersenyum tipis.
“Kamu baru ditinggal sehari aja sama istri, udah segitunya,” goda Pak Mahardika.
Rajendra tidak menanggapi. Ia memilih berjalan lebih dulu menuju ruang meeting.
Namun kali ini, langkahnya lebih ringan. Setidaknya sekarang ia tau—Cya baik-baik saja.
***
Setelah selesai meeting, Rajendra langsung menuju rumah orang tuanya.
Tujuannya hanya satu—menjemput Cya.
Meski tubuhnya lelah, pikirannya tak bisa tenang sebelum bertemu dengan gadis itu. Semalaman ia tidak tidur, hanya berkeliling mencari Cya tanpa hasil. Dan sekarang, setelah tahu Cya ada di rumah orang tuanya, ia tidak ingin menunda lagi.
Rajendra masuk tanpa mengetuk.
Begitu langkahnya sampai di ruang tamu, ia langsung melihat Cya duduk lesehan di depan sofa, tengah mengelus seekor kucing bernama Kitty—peliharaan kesayangan Bu Dinar.
Seketika itu juga, dada Rajendra terasa lega.
Akhirnya… ia menemukan Cya.
Ia melangkah lebar mendekat.
“Ternyata kamu di sini.”
Cya mendongak. Tatapan mereka bertemu sesaat, sebelum Cya kembali mengalihkan pandangannya dengan dingin.
Tanpa izin, Rajendra duduk di hadapan Cya, lalu merebut Kitty dari pangkuannya dan melepaskannya begitu saja.
Kucing itu langsung berlari menjauh.
“Ih, kenapa dilepas?” protes Cya kesal. Ia masih ingin bermain.
Rajendra tak menanggapi. Tatapannya lurus ke wajah Cya. “Kamu marah sama aku?”
Cya tetap membuang muka. “Untuk apa saya marah?” jawabnya datar. “Mendingan Om pulang deh sebelum Mama lihat Om ada di sini.”
“Ini rumah aku juga, Cya. Kalau kamu lupa.”
“Hm, ya sudah. Kalau begitu biar saya yang pergi.”
Cya berdiri hendak melangkah, tapi dengan cepat Rajendra mencekal pergelangan tangannya dan menariknya.
“Aaa!” pekik Cya saat tubuhnya jatuh tepat di pangkuan Rajendra.
Rajendra langsung melingkarkan tangannya di pinggang Cya, menahannya agar tidak kabur.
“Setelah kamu bikin aku uring-uringan sampai nggak tidur semalaman cari kamu, sekarang kamu mau pergi lagi?” ucapnya dengan nada tertahan. “Jangan harap aku bakal biarin kamu pergi.”
“Lepas, Om! Saya mau pergi!” Cya memberontak.
Namun Rajendra justru mengeratkan pelukannya.
Tubuh mereka saling menempel erat. Detak jantung Rajendra tak beraturan, tapi ia tidak berniat melepaskan.
“Ya ampun, Jendra…” Suara Bu Kiran tiba-tiba terdengar. “Kamu kangen banget ya sama istri kamu sampai dipangku dan dipeluk kayak gitu?”
Bu Kiran tersenyum gemas melihat mereka. Dalam pandangannya, keduanya terlihat sangat mesra.
Padahal kenyataannya… jauh dari itu.
“Iya, Mah. Aku kangen banget sama istri aku,” jawab Rajendra tanpa ragu.
Bahkan ia mengecup pipi Cya di depan ibunya.
Tubuh Cya langsung menegang. Ia tidak memberontak lagi, bukan karena mau—tapi karena malu.
“Ya ampun…” Bu Kiran menutup mulutnya, gemas. “Mama gak nyangka kamu bakal seblak-blakan gitu.”
Ia lalu berkata, “Udah, bawa istri kamu ke kamar sana. Jangan di sini. Nanti kalau kebablasan, pelayan bisa lihat.”
“Iya, Ma.”
Tanpa menunggu lagi, Rajendra langsung menggendong Cya seperti koala.
Refleks, Cya melingkarkan tangannya di leher Rajendra dan kakinya di pinggangnya agar tidak jatuh.
Rajendra membawa Cya ke kamar.
Namun bukan ke kamar utamanya—melainkan ke kamar tamu tempat Cya menginap semalam.
Ia sendiri tidak sadar itu kamar yang dipilih Cya.
Alasannya sederhana… ia belum siap membawa Cya ke kamar yang masih penuh kenangan tentang Aurel.
Begitu sampai, Rajendra menjatuhkan Cya ke atas ranjang.
Cya hendak bangkit, tapi Rajendra langsung menindih tubuhnya.
Dan tanpa memberi kesempatan, ia membungkam bibir Cya.
“Mpphh…!”
Cya mencoba melawan, tapi sia-sia.
Ciuman itu dalam, penuh emosi yang campur aduk—rindu, kesal, dan sesuatu yang bahkan Rajendra sendiri tak bisa jelaskan.
Ia baru melepaskan saat Cya hampir kehabisan napas. “Hah… huh… hah…” napas Cya tersengal.
Namun saat Rajendra hendak kembali mendekat—
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Rajendra terdiam.
Ia pun bangkit, memberi ruang.
Cya segera duduk, napasnya masih tidak teratur.
“Jangan pernah sentuh saya lagi,” ucapnya tegas.
Rahang Rajendra mengeras. “Kamu istri aku. Aku berhak menyentuh kamu kapan pun aku mau,” balasnya dingin. “Bahkan kalau aku mau meniduri kamu sekarang juga, itu bukan masalah.”
Ucapan itu membuat mata Cya memanas.
“Istri kamu cuma Aurel!” bentaknya. “Saya cuma istri yang ggak pernah kamu inginkan!”
Rajendra menahan napas, khawatir suara mereka terdengar keluar. “Aku memang cinta sama Aurel,” katanya, lebih pelan. “Tapi kamu tetap tanggung jawab aku. Kamu istri aku sekarang. Untuk apa kamu cemburu sama orang yang sudah gak ada?”
Cya tertawa getir. “Saya capek, Om,” ucapnya lelah. “Kayaknya lebih baik kita hidup masing-masing.”
Ucapan itu langsung membuat Rajendra menegang. “Kamu mau pisah cuma karena kamu mau dekat sama mahasiswa itu?” nada suaranya mulai naik. “Si Brian itu?”
“Jangan asal ngomong!” balas Cya geram.
“Aku gak asal ngomong!” Rajendra semakin emosi. “Kalau bukan karena dia, buat apa kamu minta pisah?”
“Saya capek!” ulang Cya, suaranya bergetar.
“Kamu capek apa? Kamu gak kerja apa-apa di rumah! Masak aku, bersih-bersih juga aku! Kalau kamu masih capek, aku bisa sewa pembantu!”
Cya tersenyum miris. “Saya capek hati, Om… bukan capek badan.”
Kalimat itu membuat Rajendra terdiam sesaat.
“Lagipula… Om masih sangat mencintai Aurel,” lanjut Cya lirih. “Harusnya Om nggak keberatan kalo kehilangan saya.”
Rajendra menghela napas panjang. “Aku sudah bertahun-tahun sama Aurel,” ucapnya. “Dia ngerti aku. Dan waktu kita nikah… dia baru meninggal dua bulan. Wajar kalau aku masih mengenang dia.”
“Om serakah!” bentak Cya. “Nggak mau kehilangan saya, tapi juga gak mau melupakan Aurel!”
“Aku hak bisa melupakan dia,” jawab Rajendra jujur. “Tapi kalian berdua punya tempat masing-masing di hati aku. Dan itu gak akan sama.”
Cya tertawa pahit. “Memang nggak akan sama. Karena Om cinta Aurel… bukan saya. Dan Om terpaksa menikah dengan saya."
Rajendra menatapnya tajam. “Aku nggak pernah terpaksa menikahi kamu.”
“Kalau gak terpaksa, kenapa Om nikahin saya?” serang Cya. “Harusnya dari awal Om tolak aja!”
Cya memukul dada Rajendra berkali-kali. “Jawab, Om!”
Rajendra tidak menahan.
Ia membiarkan.
Lalu, dengan suara rendah, ia berkata—“Karena kamu menarik… aku belum pernah menemukan perempuan lain seperti kamu, Cya.”
Ucapan itu membuat tangan Cya yang semula memukul dada Rajendra perlahan terhenti.
Gadis itu terdiam.
Matanya menatap Rajendra, mencoba mencari kebohongan di wajah laki-laki itu.
“Sekarang kita pulang, ya,” bujuk Rajendra pelan. “Aku akan belajar mencintai kamu. Tapi tolong jangan memaksaku, Cya. Perasaan itu butuh waktu.”
Cya menunduk. Jemarinya saling bertaut gelisah. “Kalau… sampai kapan pun Om nggak bisa cinta sama saya gimana?”
Rajendra terdiam sesaat, lalu menatapnya lebih dalam. “Kita gak akan pernah tau kalau kita gak mencoba.”
Hening sejenak menyelimuti mereka.
Saat Rajendra menggenggam tangan Cya, gadis itu tidak menolak. Namun, ia juga belum sepenuhnya membalas.
“Tolong kasih aku kesempatan,” ucap Rajendra, kali ini dengan nada yang lebih tulus.
Cya mengangkat kepalanya. Tatapannya masih menyimpan ragu..“Kalau sikap Om ke saya di depan mertua Om tetap kayak kemarin… saya gak bisa, Om.”
Rajendra mengangguk pelan. “Oke. Aku janji akan berusaha berubah. Aku nggak akan terus-terusan membela mereka kalau memang mereka salah.”
Cya menyipitkan matanya. “Om yakin? Om bisa pegang omongan Om?”
“Kalau aku ingkar…” Rajendra menarik napas sejenak, “kamu bebas tinggal di sini selama yang kamu mau.”
Cya langsung menimpali cepat, “Oke. Tapi Om jangan ikut nginap di sini.”
Rajendra tersenyum tipis, sedikit pasrah. “Iya, baiklah. Aku setuju.”
Ada rasa lega yang perlahan menjalar di dadanya. Setidaknya, Cya masih mau memberi kesempatan.
“Sekarang kita pulang, ya,” ajaknya lagi, masih menggenggam tangan Cya.
Cya mengerucutkan bibir. “Harus banget sekarang?”
Sejujurnya, ia merasa nyaman di rumah itu. Kehangatan Bu Kiran membuatnya merasa… dianggap.
“Iya, Cya. Aku capek. Semalam aku baru tidur jam empat, terus bangun setengah enam.”
Cya menghela napas kecil. “Makanya jangan begadang, Om.”
Rajendra tersenyum samar. “Aku begadang karena nyari kamu, Cya. Aku bahkan gak mau tidur… tapi takut kecelakaan karena ngantuk, jadi aku berhenti sebentar.”
Cya terdiam. “Ngapain juga Om cari saya?” gumamnya pelan. “Harusnya Om senang… kalau saya gak ada.”
Rajendra menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya tertahan di tenggorokan.
Rumah terasa kosong tanpa kamu, Cya.
Namun, lagi-lagi kalimat itu hanya berani ia ucapkan dalam hati.
“Cya…” suaranya melembut, “aku gak mau kita terus-terusan bertengkar.”
Cya menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan..“Iya… iya.”
***
“Akhirnya Cya nggak ada lagi di rumah ini. Semoga dia gak pulang-pulang aja ya, Mas.”
“Iya, aku juga harap begitu. Bahkan… aku harap dia meninggal aja." sahut Pak Sammy dingin.
Keduanya tertawa pelan, merasa puas dengan ketidakhadiran Cya.
Namun, tawa itu mendadak terhenti saat suara pintu terbuka terdengar.
Krek…
Bu Riska dan Pak Sammy menoleh bersamaan—dan seketika wajah mereka menegang.
Di ambang pintu, Cya dan Rajendra berdiri. Bergandengan tangan.
Ekspresi keduanya langsung berubah kaku.
“Cya… kamu dari mana aja?” tanya Bu Riska, buru-buru berdiri dan menghampiri dengan nada yang dibuat seolah penuh kekhawatiran.
Cya memutar bola matanya malas, tapi tetap berusaha menahan diri. “Dari rumah mertua saya.”
Ia sengaja menjawab singkat. Tidak ingin memperpanjang urusan.
“Ya ampun, kamu kok gak bilang-bilang? Kasihan loh suami kamu. Dari kemarin dia nyariin kamu terus,” lanjut Bu Riska. “Lain kali kalau mau pergi, pamit dulu sama suami.”
“Iya,” jawab Cya datar.
“Dulu Aurel, waktu masih sama Rajendra, ke mana-mana pasti izin dulu loh,” tambah Bu Riska, seperti biasa—tak pernah melewatkan kesempatan untuk membandingkan.
“Iya kan, Nak?” ia menoleh pada Rajendra.
Rajendra menghela napas pelan..“Iya, Mah. Tapi Cya dan Aurel itu dua orang yang berbeda. Mama gak bisa menyamakan mereka. Kepribadian mereka beda… umur mereka juga beda jauh. Wajar kalau Aurel terlihat lebih dewasa, sementara Cya masih… belajar.”
Kalimat itu membuat ekspresi Bu Riska berubah.
Ia tak menyangka Rajendra justru tidak sepenuhnya membenarkan dirinya.
“Mungkin kamu memang lebih cocok dengan perempuan yang lebih dewasa, Nak,” balas Bu Riska, masih berusaha menjatuhkan Cya secara halus. “Karena umur kamu juga sudah matang. Sedangkan Cya… ya begitu.”
Cya mengepalkan tangannya, tapi tetap diam. Ia menepati janjinya pada Rajendra untuk tidak ribut duluan.
“Aku capek, Mah. Aku mau istirahat,” potong Rajendra singkat, jelas tak ingin melanjutkan percakapan itu.
Lalu ia melirik Cya. “Ayo.”
Tanpa menunggu jawaban, Rajendra kembali menggenggam tangan Cya dan menariknya menuju kamar.
Saat berjalan, Cya sempat menoleh ke belakang. Tatapan Bu Riska penuh kekesalan.
Dengan iseng, Cya menjulurkan lidahnya. Seketika wajah Bu Riska makin memerah menahan emosi.
Awas kamu… batinnya geram.
Begitu Cya dan Rajendra menghilang di lantai atas, Bu Riska menghentakkan kaki dan kembali duduk di samping suaminya. “Sumpah, si Cya itu makin ngeselin. Ngapain sih dia balik lagi ke rumah ini?” gerutunya.
“Mana aku tau,” sahut Pak Sammy santai. “Tapi yang lebih bikin aku kesal itu Rajendra. Dia malah belain Cya. Padahal biasanya dia selalu di pihak kamu.”
Bu Riska terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya juga ya… mungkin karena Cya sempat hilang.”
“Iya, tapi tetap aja aneh,” lanjut Pak Sammy. “Harusnya dia marah, bukan malah jadi lembek begitu.”
Bu Riska menyipitkan matanya. “Ada yang berubah dari Rajendra…” gumamnya pelan. “Dan itu gara-gara Cya.”
Tatapannya berubah tajam. “Kalau dibiarkan… bisa-bisa Cya benar-benar mengambil hati Rajendra.”
Pak Sammy menoleh. “Terus kamu mau apa?”
Bu Riska tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan niat baik. “Kita lihat saja nanti…” bisiknya.
***
“Cya, sini!” Rajendra yang sudah berbaring di kasur melambaikan tangan, memanggil Cya yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.
“Kenapa, Om?” tanya Cya sambil duduk di tepi kasur.
“Kamu harus tanggung jawab.”
Cya mengernyit. “Tanggung jawab apa? Saya enggak pernah hamilin Om kok.”
Rajendra langsung menatapnya datar. “Laki-laki mana bisa hamil, Cya.”
“Enggak adil dong kalau gitu,” balas Cya polos.
Rajendra menghela napas, lalu mencoba menjelaskan dengan sabar. “Adil itu enggak harus sama. Misalnya kita punya dua anak—yang satu sudah SMP, yang satu masih bayi. Kalau kita kasih ayam ke yang SMP, bukan berarti bayi juga harus dikasih ayam. Bayi butuhnya ASI. Nah, kalau kita kasih sesuai kebutuhan masing-masing, itu baru adil.”
Cya mengangguk-angguk pelan, tanda mengerti.
“Terus saya harus tanggung jawab apa, Om?” tanyanya lagi.
“Kamu harus temenin aku tidur. Aku capek, kurang tidur karena semalaman nyari kamu.”
“Oke,” jawab Cya tanpa banyak protes.
Rajendra tersenyum tipis. “Sini, peluk.”
Ia membuka kedua tangannya, seolah tanpa sadar ingin dimanja. Cya pun menurut, masuk ke dalam pelukan Rajendra.
“Harum,” gumam Rajendra pelan sambil menghirup aroma rambut Cya.
Cya mendongak. “Apanya yang harum?”
“Rambut kamu.”
“Oh…”
Tak butuh waktu lama, napas Rajendra mulai teratur. Ia benar-benar tertidur dalam pelukan Cya, seolah semua lelahnya runtuh begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Cya mencoba melepaskan diri. Tangannya mulai pegal, dan perutnya juga lapar karena belum sempat makan sejak tadi.
Namun sebelum benar-benar bangkit, Cya menatap wajah Rajendra sejenak. Tangannya terangkat, mengelus lembut puncak kepala laki-laki itu.
“Kalau lagi tidur gini… Om kelihatan ganteng banget,” gumamnya pelan. “Tapi kalau lagi ngomel… bikin kesel.”
Cya tersenyum tipis, lalu perlahan berusaha melepaskan diri tanpa membangunkan Rajendra.