"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Pagi itu kanaya keluar lebih cepat, ia tidak sarapan. Kanaya minta tolong ke mbak sri untuk menyiapkan sarapan kala, selain karena ia tak sanggup untuk bertemu dan bertatap muka dengan kala, kanaya berencana ingin mencari kost-an atau rumah sewa.
Bagaimanapun kontrak diantara mereka sudah selesai, ia sudah tidak berhak berada dirumah itu.
Tapi entah mengapa hatinya sedikit bimbang untuk minta tolong ke ferdi, padahal tadi ketika keluar dari rumah ia sudah memantapkan dirinya menerima pekerjaan dari senior baiknya itu, dan akan mengajak ferdi mencarikan hunian untuknya.
Malah kanaya terdampar disini, disebuah taman masih dekat dengan perumahan, masih dengan beribu ide yang bergelayutan dibenaknya.
Dari sekian banyak ide yang mampu ia pikirkan, entah mengapa kanaya malah terpikir untuk pulang ke kampungnya saja. Membuka usaha kecil-kecilan dirumahnya, sekalian bisa menjaga ibu.
Kanaya masih menimbang baik buruk idenya tersebut, juga menyiapkan jawaban yang sekiranya akan ditanyakan keluarganya nanti.
Mengapa ia memilih pulang kampung, dan mengapa ia bercerai, bagaimanapun yang keluarganya tahu, ia menikah dengan bosnya karena saling cinta.
Ia tak mungkin mengatakan bahwa pernikahannya hanyalah pernikahan kontrak, kanaya tak sanggup memberi tahukan alasan sebenarnya kepada ibu dan adik-adiknya.
Yah, akhirnya kanaya memutuskan untuk pulang saja, bagaimanapun kalau masih tinggal dan bekerja di kota ini, kanaya sangat yakin ia akan sering bertemu dengan kala baik sengaja ataupun tidak sengaja.
Kanaya benar-benar ingin pergi dari kota ini, meninggalkan kala, dan semua rasa sakit yang ia dapat selama mencintai pria itu.
Kanaya akan berusaha melupakan rasa dan cinta yang ia punya tentang pria itu, mungkin dengan meninggalkan kota ini, semua rasa yang ia punya perlahan akan pupus.
Hal pertama yang akan kanaya lakukan saat ini menghubungi ferdi, meminta maaf dan menceritakan niatnya.
Kanaya mengambil ponsel dari tas sandangnya, mencari nomor ferdian dan memanggil nomor pria itu.
Beberapa saat nomor ferdian dalam keadaan sibuk, kanaya menunggu dengan sabar. Lima menit lagi kanaya berencana akan menghubungi pria itu lagi, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
Belum sempat kanaya melakukannya, ponsel kanaya berdering, ia melihat panggilan dari ferdian, kanaya menarik nafas dalam sebelum menggulir panggilan itu ke mode terima.
"Assalamualaikum dek..." salam ferdian begitu kanaya menerima panggilan itu.
"Waalaikumussalam kak..."
"Ada apa dek?, kenapa kamu belum sampai juga? Kakak dah di kantor nih, masa' bosnya lebih dulu hadir dari sekretarisnya."canda ferdian riang.
Kanaya tersenyum, ada rasa sungkan di hatinya untuk menyampaikan niatnya lewat panggilan.
"Kak...bisa kita bertemu? Di cafe itu juga gak apa-apa, ada yang ingin aku sampaikan!" pinta kanaya dengan sangat hati-hati.
"Ada apa dek..?" tanya ferdi diseberang, dengan suara penasaran, suara riangnya berubah.
"Nanti aku ceritakan kak, aku tunggu kakak di cafe itu yah"
Kanaya memesan teh hijau, sembari menunggu ferdian. Ia membuka aplikasi pesan, kanaya ingin mengabarkan niat pulang kepada keluarganya.
Tapi ia mengurungkan niatnya, kanaya khawatir akan membuat ibunya kepikiran akan berita itu.
Matanya memandang ke arah luar, ia melihat ferdian yang berjalan ke arahnya.
Kakak letingnya itu mendekatinya, kanaya tersenyum menyambut ferdian yang menatapnya penuh rasa penasaran.
Ferdian duduk dengan tetap menatap kanaya yang masih tetap tersenyum manis ke arahnya.
"Kakak mau pesan apa?, biar aku pesankan..." tawar kanaya masih tetap tersenyum menatap lekat
"Ada apa dek..?" tanya ferdian cepat tanpa memperdulikan tawaran kanaya.
"Kakak cemas...ada apa..?"
"Pesan minum dulu kak.. " tawar kanaya lagi, memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk ferdian, sama dengan yang ia minum.
Kanaya menatap ferdian, yang masih kelihatan penasaran dan tidak sabar. Ia menarik nafas dalam-dalam, helaan nafas kanaya terdengar berat, ferdian yang memang sudah penasaran semakin penasaran.
"Dek...."
"Kak...kami sudah bercerai..."
Ucapan lirih kanaya itu terdengar bagai petir di telinga ferdian. mulutnya terperangah menatap kanaya tidak percaya, ingin rasanya ia bertanya lagi untuk memperjelas pendengarannya, tapi ia melihat kanaya menunduk sendu.
"Maafkan aku...sepertinya, sepertinya aku tidak bisa bekerja di kantor kakak" sambung kanaya pelan, kepalanya masih menunduk sedih.
"Maafkan aku...kak ferdi"
"Tunggu.....!" potong ferdian cepat, sorot mata pria itu kebingungan.
"Kakak masih bingung, tolong jelaskan, hmmm kakak tahu, pertanyaan kakak ini kedengaran akan sangat tidak sopan, tapi dek, kenapa kalian bisa bercerai?"
Kanaya menatap lekat mata pria itu, binar mata ferdian yang menatapnya penuh tanya.
Kanaya ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya, bola matanya mulai berkaca-kaca. mata itu, mata ferdian yang menatapnya dengan penuh tanda tanya, membuat kanaya sedih.
Ferdian semakin mengerutkan keningnya, melihat mata kanaya yang berkaca-kaca, perasaannya mulai terganggu.
Pria itu kelihatan gelisah, duduknya mulai tak tenang, dari sorot matanya yang memandang kanaya kelihatan sekali ferdian mulai tak sabar menunggu penjelasan kanaya yang semakin menundukan kepalanya semakin dalam.
"Dek...." tegurnya lagi tak sabar.
Kanaya mendongak setetes air mata jatuh ke pipinya, ferdian terperanjat kaget dengan cepat tangannya meraih tangan kanaya
"ada apa dek? Cerita ke kakak..." pinta pria itu.
Tanganya mengelus lembut tangan kanaya, seakan pria itu ingin mentransfer kekuatan kepada kanaya melalui genggaman tangannya.
Kanaya menghela nafasnya, menghapus air mata yang masih menggenang di sudut mata. Perlahan ia mulai menceritakan semuanya dari awal, beberapa kali ferdian mengerutkan keningnya, desahan berat nafasnya pun terdengar ditelinga kanaya yang masih bercerita.
Kanaya menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal, alasan ia mau menikah dengan kala, syarat-syarat yang kala berikan selama mereka di dalam ikatan kontrak.
Semua semuanya kanaya ceritakan tanpa ada yang tertinggal, hingga perasaan yang mulai tumbuh dihatinya untuk kala pun tak luput ia ceritakan.
Bagaimana sakitnya perasaan yang ia miliki, bagaimana menderitanya kanaya karena hanya mencintai sepihak.
Ferdian mendengarkan dengan penuh perhatian, beberapa kali wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit untuk kanaya pahami.
"Aku jatuh cinta padanya kak, di saat seharusnya aku tak boleh memiliki rasa itu" ujar kanaya menutup penjelasannya yang lumayan panjang.
Kanaya melihat ferdian masih terdiam, dengan sorot mata dan ekspresi yang sama.
"Itulah...sebabnya kak, aku nggak bisa menerima pekerjaan dari kakak, sebab aku tak ingin lagi bertemu atau berpapasan dengan kala, baik sengaja ataupun tidak.....aku harap—aku harap kakak paham" pinta kanaya penuh harap menatap ferdian yang mulai bisa menguasai dirinya kembali.
Ferdian tersenyum,
"kakak paham dek...dan kakak menghormati keputusanmu, tapi.......kakak harap hubungan kita jangan terputus yah, tetap jalin komunikasi yah!"
Kanaya mengangguk mantap
"kakakkan tahu...kakak tuh adalah seniorku yang paling aku hormati, makasih kak fer"
Ferdian hanya tersenyum, berjuta rasa berkecamuk dalam benaknya, ada rasa sakit yang ia rasakan mendengar bahwa kanaya jatuh cinta kepada suaminya.
Ia kecewa, dulu dan sampai sekarang ferdian masih memiliki rasa itu untuk kanaya. Matanya menatap nanar ke arah kanaya yang mulai tenang, ingin rasanya ferdian mengutarakan semua rasa dan niat yang ada dihatinya ini untuk kanaya.
Dari awal ferdian sudah menduga kalau pernikahan kanaya bukanlah pernikahan yang sebenarnya, dan ia cukup senang karena merasa masih memiliki kesempatan, tapi..tadi, ketika kanaya menangis menceritakan kesedihannya, menceritakan cintanya yang tak berbalas. Terus terang, ada yang sakit di dada ferdian.
Ia menyesal sangat menyesal, mengapa tidak dari dulu ia utarakan perasaannya ini. Namun ferdian tetap berusaha menutupi perasaannya, ia tak tega menyampaikannya sekarang, ketika kanaya masih dalam keadaan bersedih.
Mau tak mau ferdian menunjukkan wajah tersenyumnya, agar kanaya tidak berpikiran yang aneh tentangnya.
"Semoga kamu bisa segera move on yah dek...!, ingat kakak akan selalu ada untukmu"
Ia menyemangati kanaya dengan tulus, karena rasa yang ia miliki untuk wanita ini adalah rasa yang benar-benar tulus.
"Makasih kak fer", angguk kanaya diringi senyum manisnya.
"Ayoo..kakak antar pulang" ajak pria itu, sambil berjalan kearah area parkir.
Kanaya mengikuti langkah ferdian dari belakang.
Bersambung....