NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Perasaan Aneh

Pagi itu rumah keluarga Wijaya terasa lebih ramai dari biasanya, suara langkah pelayan dan percakapan ringan bercampur menjadi satu di ruang makan yang luas. Aroma makanan hangat memenuhi udara, menciptakan suasana yang terlihat hidup meskipun tidak sepenuhnya akrab. Di tengah semua itu, Daren Wijaya berjalan turun dari lantai dua dengan langkah tenang, ekspresinya tetap sulit dibaca seperti hari-hari sebelumnya.

Namun perhatiannya langsung tertuju pada satu hal yang tidak ia rencanakan untuk ia perhatikan. Alyssa duduk di meja makan di posisi yang berbeda dari biasanya, tidak lagi di ujung yang jauh, melainkan lebih dekat ke tengah. Di hadapannya ada secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis, dan di sampingnya duduk Arvin dengan sikap santai.

Mereka tidak berbicara keras dan tidak menarik perhatian secara berlebihan, tetapi suasana di antara keduanya terasa ringan dengan cara yang jelas terlihat. Alyssa sedikit menunduk saat mendengarkan sesuatu, lalu menjawab pelan tanpa tergesa, dan sesaat ada bayangan senyum tipis yang muncul di wajahnya. Senyum itu singkat, tidak mencolok, tetapi cukup untuk terlihat berbeda dari sikapnya yang biasanya.

Langkah Daren melambat tanpa ia sadari, dan tatapannya tertahan pada pemandangan itu lebih lama dari yang seharusnya. Ia berhenti beberapa detik di tangga, seolah tubuhnya enggan melanjutkan langkah meskipun tidak ada alasan jelas untuk berhenti. Perasaan yang muncul kembali terasa tidak nyaman, kali ini lebih mudah dikenali meskipun ia belum ingin mengakuinya.

Ia akhirnya berjalan mendekat dan menarik kursi, lalu duduk tanpa mengatakan apa pun, membuat suara gesekan kursi terdengar sedikit lebih keras dari biasanya. Beberapa orang menoleh karena suara itu, termasuk Alyssa yang sempat mengangkat pandangan ke arahnya.

Namun hanya sekilas.

Setelah itu, ia kembali pada cangkir tehnya, seolah kehadiran Daren tidak membawa perubahan yang berarti. Sikap itu terasa biasa bagi orang lain, tetapi tidak bagi Daren yang masih memperhatikan tanpa terlihat jelas.

Arvin menoleh dengan ekspresi santai, seolah tidak ada ketegangan yang ia rasakan dari arah seberangnya.

“Pagi.”

Daren hanya mengangguk singkat tanpa memberikan respon tambahan, tangannya langsung mengambil sendok dan mulai makan. Gerakannya terlihat normal, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di meja itu.

“Alyssa, buku yang kemarin sudah kamu baca?”

Alyssa mengangguk kecil sebelum menjawab, matanya tidak sepenuhnya terangkat.

“Sudah.”

“Bagaimana?”

“Menarik.”

Jawaban itu tetap singkat, tetapi nadanya tidak sedatar biasanya, ada sedikit perubahan yang sulit dijelaskan namun cukup terasa. Arvin tersenyum seolah sudah menduga respon itu sejak awal.

“Aku tahu kamu akan suka.”

Alyssa tidak menambahkan apa-apa lagi, tetapi ia juga tidak terlihat ingin mengakhiri percakapan. Ia tetap di tempatnya, sesekali melirik buku yang ia letakkan di samping cangkir.

Hal kecil itu cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Daren terasa semakin mengganjal, karena perbedaan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Ia meletakkan sendoknya perlahan, suara kecil yang dihasilkan terdengar lebih tajam dari yang seharusnya.

“Kalau sudah selesai makan, ada yang harus kamu kerjakan.”

Nada suaranya tenang, tetapi cukup untuk memotong suasana yang sebelumnya terasa ringan. Alyssa menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang tetap sama seperti sebelumnya.

“Baik.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan dan tidak ada keberatan yang ditunjukkan. Ia kembali pada tehnya dan melanjutkan makan dengan ritme yang tidak berubah, seolah ucapan itu hanya bagian dari rutinitas biasa.

Arvin melirik Daren dengan senyum tipis yang tidak terlalu jelas maksudnya.

“Tenang saja, aku tidak menculiknya.”

Daren tidak menanggapi, tetapi rahangnya terlihat sedikit mengeras sebelum ia kembali fokus pada piringnya.

---

Hari itu, Daren mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Berkas demi berkas ia buka dan periksa dengan teliti, berusaha menjaga fokus seperti biasanya.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana, karena bayangan yang sama terus kembali tanpa diminta. Alyssa dan Arvin muncul berulang kali dalam ingatannya, terutama cara mereka berbicara dan sikap Alyssa yang terasa berbeda.

Ia tidak menyukai bagaimana Alyssa terlihat lebih hidup saat berada di dekat pria itu, meskipun perubahan itu tidak mencolok bagi orang lain. Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan kini terasa lebih jelas dan sulit diabaikan.

Ia mengingat bagaimana Alyssa berbicara padanya selama ini, singkat dan datar, seolah setiap kata hanya disampaikan karena harus. Tidak ada ruang yang diberikan, tidak ada tanda bahwa percakapan itu memiliki arti lebih.

Namun dengan Arvin, meskipun tetap tenang, ada sesuatu yang berbeda yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah. Seperti ada jarak yang lebih longgar, ruang yang tidak pernah ia dapatkan selama ini.

Daren menghela napas pelan, mencoba meredakan pikirannya yang mulai terasa berat. Ia tidak mengerti kenapa hal itu mengganggunya, karena secara logika itu bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.

Bukankah selama ini ia sendiri yang menjaga jarak dan membuat batas itu tetap ada. Namun pemikiran itu tidak cukup untuk menghapus rasa tidak nyaman yang terus muncul.

---

Sore hari, cahaya matahari mulai meredup dan suasana taman belakang kembali tenang seperti biasa. Daren berjalan melewati area itu dengan langkah yang tidak terburu, berniat kembali ke dalam rumah setelah menyelesaikan beberapa urusan.

Langkahnya melambat saat melihat dua sosok yang sudah ia kenal berada di tempat yang sama seperti beberapa hari lalu. Alyssa duduk di bangku kayu dengan buku di tangannya, sementara Arvin duduk di sampingnya dengan posisi santai.

Kali ini percakapan mereka terlihat lebih panjang dan lebih mengalir, tidak lagi sekadar pertukaran kalimat singkat. Alyssa sesekali menunjuk bagian tertentu dari buku yang ia pegang, lalu mengatakan sesuatu dengan nada yang lebih jelas.

Arvin mendengarkan dengan perhatian penuh, lalu menanggapi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ada momen kecil ketika Alyssa tertawa pelan, suaranya tidak keras tetapi cukup jelas terdengar di tengah keheningan taman.

Daren berhenti.

Tatapannya mengeras tanpa ia sadari, dan tubuhnya tetap di tempat meskipun tidak ada yang menahannya. Ia berdiri cukup jauh, tetapi cukup dekat untuk melihat setiap detail yang terjadi di depan matanya.

Perasaan itu kembali muncul dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya, membuatnya sulit untuk mengabaikan apa yang ia lihat. Ia tidak suka melihat itu, bukan karena ia ingin melihat Alyssa tetap tertekan, tetapi karena sisi itu tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Dan entah kenapa, hal itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak terjadi tanpa keterlibatannya.

Daren akhirnya berjalan mendekat, langkahnya terdengar jelas di atas kerikil yang kering. Suara itu membuat Alyssa dan Arvin menoleh secara bersamaan, menghentikan percakapan yang sedang berlangsung.

“Ada yang kamu lakukan di sini?”

Nada suaranya datar, tetapi ada ketegangan tipis yang tidak sepenuhnya tersembunyi. Alyssa menutup bukunya sebelum menjawab.

“Tidak ada.”

Jawaban itu singkat seperti biasa. Arvin berdiri, tidak terlihat terganggu oleh kehadiran Daren.

“Kami hanya mengobrol.”

Daren menatapnya sekilas, lalu kembali mengalihkan perhatian pada Alyssa.

“Masuk.”

Satu kata yang terdengar seperti perintah. Alyssa berdiri tanpa membantah, sikapnya tetap tenang seperti sebelumnya.

Namun sebelum pergi, ia menoleh pada Arvin.

“Terima kasih.”

Nada suaranya terdengar lebih lembut dibandingkan saat ia berbicara dengan Daren. Hal kecil itu tidak luput dari perhatian.

Alyssa berjalan melewati Daren tanpa berhenti, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tetap stabil. Daren dan Arvin tertinggal di taman tanpa percakapan selama beberapa detik.

Arvin menghela napas kecil, lalu melirik ke arah Daren.

“Kamu terlalu serius.”

Daren tidak menjawab, tatapannya masih tertuju pada arah pintu yang baru saja dilewati Alyssa.

“Aku hanya berbicara dengannya, tidak ada yang aneh.”

Daren akhirnya menoleh.

“Jaga jarak.”

Kalimat itu keluar dengan nada dingin yang tidak berubah. Arvin tersenyum tipis, seolah memahami sesuatu yang tidak diucapkan.

“Kamu yakin itu yang kamu inginkan?”

Daren tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berbalik dan meninggalkan taman, tetapi langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

---

Malam hari, suasana rumah kembali tenang dengan lampu-lampu yang menyala redup di beberapa ruangan. Alyssa berada di ruang tamu kecil, duduk di sofa dengan buku yang sama di tangannya.

Ia membaca dengan tenang, sesekali membalik halaman tanpa tergesa. Ruangan itu terasa nyaman dengan pencahayaan yang lembut, cukup untuk membuat siapa pun betah berlama-lama.

Arvin datang beberapa menit kemudian, langkahnya tidak tergesa dan tidak berisik.

“Membaca lagi?”

Alyssa mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

“Kamu tidak bosan?”

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup jelas. Arvin duduk di kursi seberangnya, menjaga jarak yang sama seperti sebelumnya.

“Kamu berubah.”

Alyssa menutup bukunya perlahan sebelum mengangkat pandangan.

“Maksudnya?”

“Waktu pertama aku datang, kamu terlihat jauh. Sekarang masih begitu, tapi ada sesuatu yang berbeda.”

Alyssa tidak langsung menjawab, matanya kembali ke buku yang ia pegang seolah mencari kata yang tepat.

“Tidak semua hal harus tetap sama.”

Arvin tersenyum kecil.

“Setuju.”

Percakapan itu berhenti tanpa terasa dipaksakan, dan suasana tetap nyaman meskipun tidak ada kata yang diucapkan.

Di luar ruangan, seseorang berdiri tanpa berniat terlihat. Daren memperhatikan dari jarak yang cukup, cukup untuk melihat tanpa terdengar.

Alyssa terlihat lebih hidup dibandingkan saat ia berada di dekatnya, dan hal itu kembali memunculkan perasaan yang sama. Ia tidak masuk ke dalam, hanya berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.

Langkahnya menjauh tanpa suara.

---

Di kamarnya, Daren berdiri di depan jendela dengan satu tangan berada di saku celana. Tatapannya mengarah ke luar, tetapi pikirannya tidak benar-benar melihat apa yang ada di depan.

Semua kejadian hari itu kembali muncul dengan jelas, dari pagi hingga malam, setiap detail kecil yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Ekspresi Alyssa, cara ia berbicara, dan interaksinya dengan Arvin terasa lebih menonjol dari yang seharusnya.

Ia mencoba mencari alasan yang masuk akal, mencoba memahami apa yang sebenarnya mengganggunya. Namun semakin ia memikirkan, semakin sulit menemukan jawaban yang sederhana.

Ia mengusap wajahnya pelan, napasnya terasa sedikit berat meskipun tidak ada aktivitas yang melelahkan. Tatapannya kembali ke luar jendela, melihat gelap yang tidak memberikan jawaban apa pun.

Pikirannya tetap bergerak, mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bukan tentang Alyssa atau Arvin secara langsung, melainkan tentang dirinya sendiri dan reaksi yang ia rasakan.

Pertanyaan itu akhirnya muncul tanpa perlu dicari.

Kenapa aku tidak suka melihatnya seperti itu?

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!