Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA YANG GELAP & CINTA YANG TAK BISA DILIHAT
"ARSEEEEENNN!!"
Jeritan Keisha memecah keheningan rumah mewah itu. Tubuh kekar suaminya terkulai lemas di lantai, kedua tangannya menutup wajah yang memerah, napasnya tersengal-sengal kesakitan.
"Sayang! Bangun, Sayang! Jangan tinggalkan aku!" Keisha panik luar biasa. Dia mencoba membasuh wajah Arsen dengan air, tapi rasa perihnya makin menjadi karena semprotan merica itu sangat kuat.
"Mata... panas... gelap..." rintih Arsen lemah, matanya tidak bisa terbuka sama sekali. "Sha... bayi kita... aman?"
"Aman! Aman Sayang! Kita semua aman! Kamu jangan bicara dulu ya! Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang!"
Dengan bantuan asisten dan satpam yang akhirnya datang, Arsen segera dilarikan ke rumah sakit terbaik. Di perjalanan, Keisha duduk memeluk kepala suaminya di pangkuannya, terus menerus mencium keningnya sambil menangis.
Maafin aku, Sayang. Maafin aku yang sempat ragu sama kamu. Kamu benar. Kamu selalu benar. Mereka memang mau jahat sama kita.
Di Ruang IGD...
Dokter sibuk memeriksa mata Arsen. Cairan khusus disemprotkan untuk menetralkan racun merica itu. Wajah Arsen bengkak dan merah, matanya tertutup rapat.
"Bagaimana Dokter? Suami saya buta selamanya kan?!" tanya Keisha histeris sambil memegang tangan dokter.
Dokter tersenyum sedikit menenangkan. "Tenang Bu. Ini bukan kebutaan permanen. Mata beliau iritasi parah karena zat kimia yang sangat keras. Beliau buta sementara saja. Selama beberapa hari ke depan beliau tidak boleh melihat cahaya dan harus istirahat total. Mata akan memulihkan diri sendiri secara bertahap."
Keisha menghela napas panjang lega, tapi air matanya masih jatuh. "Syukurlah... syukurlah..."
Arsen yang terbaring lemah mendengar suara istrinya, tangannya meraba-raba mencari keberadaan istrinya.
"Sha... Sayang... kamu di sini kan?"
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini." Keisha langsung menggenggam tangan besar itu, menempelkan ke pipinya sendiri.
"Maafin aku... aku gagal lindungin kamu..." bisik Arsen sedih. "Aku jadi tidak berguna sekarang..."
"JANGAN BILANG GITU!" potong Keisha tegas, matanya menatap tajam penuh cinta. "Kamu pahlawan! Kalau bukan kamu yang tepis gelas itu, mungkin sekarang aku dan bayi kita sudah celaka! Kamu penyelamat kami! Dan sekarang... giliran aku yang lindungi kamu. Giliran aku yang jadi kuat buat kita semua."
Arsen tersenyum tipis meski matanya tertutup. "Kamu hebat, Sayang. Kamu wanita terhebat sedunia."
Malam harinya di kamar perawatan...
Suasana hening. Leo sudah dititipkan ke orang tua Arsen yang langsung datang menjaga dan menangis melihat menantunya sakit.
Keisha duduk di samping ranjang, memandangi wajah suaminya yang tertidur. Dia tahu, kejadian tadi bukanlah kecelakaan. Itu percobaan pembunuhan yang direncanakan sangat matang.
Siapa yang begitu benci sampai mau membunuh bayi yang belum lahir?
Tiba-tiba ponsel Keisha bergetar. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
[Sayang sekali ya rencananya gagal. Tapi santai saja, permainan baru saja dimulai. Arsen buta kan? Sekarang dia tidak bisa melihat wajahmu lagi. Hahaha. Ingat pesanku... anak itu TIDAK BOLEH LAHIR! 😈]
Tangan Keisha gemetar membaca pesan itu. Rasa takut perlahan berganti menjadi api kemarahan yang besar.
Kau mau main ya? Oke. Kita main.
Keisha tidak memberitahu Arsen soal pesan ini. Dia tidak mau suaminya stres dan matanya makin lama sembuhnya. Mulai detik ini, Keisha berubah. Dia tidak lagi menjadi wanita lemah yang selalu dilindungi. Dia akan menjadi singa betina yang melindungi sarangnya.
Beberapa hari berlalu...
Arsen sudah boleh pulang, tapi dia harus memakai penutup mata (eye patch) dan tidak boleh melihat cahaya terang atau layar HP. Dia benar-benar tidak bisa melihat apa-apa untuk sementara waktu.
Tapi justru di saat seperti ini, sisi cinta mereka makin terasa kuat.
"Sayang... bantu aku jalan ya," kata Arsen canggung, tangannya meraba-raba udara.
Keisha tersenyum, lalu memeluk pinggang suaminya dan menuntun langkahnya. "Iya Tuan Buta. Ayo, Mama bimbing. Pelan-pelan ya, jangan sampai jatuh."
"Hmm... suaramu terdengar sangat indah. Padahal biasanya aku suka lihat wajahmu waktu marah atau senyum. Sekarang aku cuma bisa dengar dan rasain..." Arsen mengelus pipi Keisha dengan jari-jarinya pelan, memetakan wajah istrinya lewat sentuhan.
"Arsen..."
"Aku janji, Sha. Walau mataku tidak bisa melihat, tapi hatiku dan instingku tidak akan pernah salah. Aku akan tetap lindungi kalian."
Tiba-tiba...
Ting!
Lift di lantai mereka terbuka. Seorang perawat cantik dengan wajah sangat ramah keluar membawa obat-obatan.
"Selamat sore, Tuan Arsen, Nyonya Keisha. Saya datang buat ganti obat mata Tuan ya."
Keisha mengerutkan kening sedikit. "Biasanya yang datang Bude Siti kan? Kenapa kamu yang baru ya?"
Perawat itu tersenyum manis. "Oh Bude Siti lagi sakit Bu, jadi saya yang gantiin. Nama saya Sella. Ayo silakan duduk Tuan, saya kerjakan cepat ya."
Keisha masih merasa curiga, tapi karena dia orang baik, dia mengizinkan. Lagian ini di rumah sakit, banyak orang.
Sella mendekati Arsen. Tangan perawat itu terlihat sangat lembut saat membuka perban di mata Arsen.
"Sakit tidak Tuan? Pelan-pelan ya..." bisik Sella manja.
Arsen hanya mengangguk pasrah karena tidak bisa melihat. "Terima kasih."
Tapi saat Sella sedang membersihkan area mata Arsen, diam-diam dia mengeluarkan jarum suntik kecil dari saku bajunya yang sudah terisi cairan bening!
Tangannya bergerak sangat cepat, siap menusukkan jarum itu tepat ke leher Arsen!
SIAP-SIAP...
TAPI...
Belum sempat jarum itu menyentuh kulit Arsen, tiba-tiba tangan Sella ditangkap dengan sangat kuat dan keras!
KRAK!!
"AAAAAAWWWW!!" jerit Sella kaget dan kesakitan.
Yang menangkap tangannya bukan orang lain... BUKAN Keisha!
Tapi ARSEN!
Arsen yang katanya buta dan tidak bisa melihat apa-apa... tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar! Matanya sudah tidak merah! Tatapannya tajam, dingin, dan sangat jelas melihat gerakan tangan Sella!
BRUK!
Sella terbelalak kaget, wajahnya pucat pasi. "K-Kamu... kamu bisa melihat?!"
Arsen tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan.
"Kira-kira? Kau pikir obat mata canggih secepat apa bekerja? Atau kau pikir aku benar-benar pria lemah yang tidak tahu apa-apa?"
Arsen mendorong tangan Sella hingga jarum itu jatuh.
"Kau kira aku tidak tahu bau parfum murahanmu? Kau kira aku tidak dengar detak jantungmu yang berdegup kencang karena takut? Aku pura-pura buta dan lemah... cuma buat memancing tikus-tikus sepertimu keluar dari lubang!"
Keisha di belakang memegang mulutnya kaget. Suaminya pura-pura?!
"JADI KAU YANG KIRIM PESAN ITU?! KAU YANG SURUH WANITA TADI DATANG?!" bentak Arsen, mencengkeram leher perawat itu.
Sella gemetar ketakutan, dia tahu dia sudah kalah. "I-itu... itu perintah Bos Besar! Aku cuma menjalankan perintah!"
"SIAPA BOS BESARMU?! JAWAB ATAU AKU REMUK LEHERMU SEKARANG!"
Sella menangis ketakutan. "DIA... DIA KAKAK LAKI-LAKI DARI WANITA YANG DULU TUNANGANMU! DIA BERJANJI AKAN BAYAR SAYA BANYAK JIKA BERHASIL MATIKAN KAMU DAN JANIN NYONYA!"
BRUK!
Keisha terhuyung mundur. Kakak laki-laki Natasha dan Ryan?! Jadi mereka bersaudara semua?! Keluarga gila ini memang tidak ada habisnya!
"Namanya... namanya Raka! Dia yang merencanakan semua ini! Dia mau balas dendam total! Dia mau hancurkan keluarga kalian sampai akar-akarnya!" teriak Sella histeris.
Arsen melepaskan cengkeramannya, lalu menendang tubuh wanita itu hingga jatuh tersungkur.
"Bawa dia ke polisi. Dan bilang... pada Raka... aku datang. Aku sehat. Dan aku akan hancurkan sisa-sisa keluargamu sampai tidak ada yang tersisa!"
Petugas keamanan langsung menyeret Sella yang menjerit-jerit keluar ruangan.
Kamar itu kembali sunyi.
Arsen menghela napas panjang, lalu memijat pelan matanya yang sebenarnya masih agak perih, tapi dia paksakan tetap terbuka demi melindungi keluarganya.
Dia menoleh ke arah Keisha yang masih berdiri mematung dengan mata berbinar-binar.
"Maaf ya Sayang... aku bohong. Aku cuma takut kalau aku kelihatan sehat, mereka tidak akan berani gerak. Aku harus buat mereka lengah," kata Arsen lemah.
Keisha berlari menerjang ke pelukan suaminya, memukul pelan dada bidang itu sambil menangis.
"Kamu gila ya! Kamu takutkan aku! Kamu pura-pura buta! Kamu berani bohong sama aku!"
"Hahaha... maafkan suamimu yang nakal ini. Tapi lihat kan hasilnya? Kita dapat nama dalangnya sekarang. Raka."
Keisha mendongak menatap wajah suaminya. "Dia kakak tertua kan? Pasti dia yang paling berbahaya di antara mereka semua."
Arsen mengangguk serius, lalu memegang perut istrinya dengan lembut.
"Iya. Dan kali ini... dia mainnya kotor sekali. Dia mau bunuh bayi kita. Itu artinya... dia sudah mengumumkan perang total."
Arsen menatap lurus ke jendela kaca, matanya memancarkan aura pembunuh yang sesungguhnya.
"Siap-siap Sayang. Musuh terakhir kita sudah muncul. Dan pertarungan ini... hanya akan ada satu yang pulang hidup-hidup."