Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Retakan di Balik Senyum
Pasar pusat Novel-City pagi ini benar-benar semarak. Aroma sate ayam yang dibakar dengan arang beradu manis dengan wangi roti panggang dari kedai modern di seberangnya. Aruna berjalan perlahan, menikmati sensasi aspal yang terasa nyata di bawah sandalnya. Di sampingnya, Arvand tampak jauh lebih santai dengan kemeja katun ringan, meski cara berjalannya tetap tegap. Insting seorang jenderal yang tidak akan pernah hilang meski zirah bajunya sudah disimpan di lemari kaca istana.
"Ibu, lihat! Es krimnya bisa berubah warna!" seru Arel sambil menunjuk sebuah kedai kecil yang dijaga oleh seorang pria tua berpakaian penyihir.
Aruna tersenyum, mengacak rambut putranya. "Boleh, tapi satu saja ya. Nanti sakit gigi."
Sejak kejadian di gudang senjata tempo hari, hidup mereka terasa sangat... normal. Aruna benar-benar kehilangan kemampuannya untuk memanipulasi kode. Saat ia mencoba membayangkan sebuah plot atau menuliskan deskripsi indah di kepalanya, yang muncul hanyalah pikiran sederhana seperti: apa menu makan malam nanti? atau apakah cucian sudah kering?
"Kau melamun lagi, Sayang," bisik Arvand sambil merangkul bahu Aruna.
"Hanya... masih merasa aneh," jawab Aruna jujur. "Kepalaku rasanya sangat sepi. Tidak ada bisikan pembaca, tidak ada alur yang menuntut untuk diselesaikan. Hanya ada kita."
Arvand mengecup keningnya lembut. "Itu artinya kau sudah benar-benar bebas. Kau bukan lagi pelayan naskah, Aruna. Kau adalah pemilik hidupmu."
Mereka duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke air mancur Bundaran HI. Di sana, patung Selamat Datang kini berdampingan dengan patung ksatria naga yang gagah. Orang-orang berlalu-lalang, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada juga yang membawa pedang kayu untuk latihan pagi. Semuanya tampak harmonis, sebuah utopia yang berhasil mereka pertahankan dengan darah dan air mata.
Namun, ketenangan itu terusik saat seorang pria berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu memegang sebuah koran fisik, sesuatu yang sangat jarang di kota modern ini. Di halaman depan koran itu, terpampang judul besar: "HILANGNYA SANG PENULIS: APAKAH DUNIA KITA MASIH AMAN?"
Aruna merasa tenggorokannya tercekat. Ia mencoba mengabaikannya, namun pria itu justru mendekat dan duduk di ujung bangku yang sama.
"Beritanya semakin liar, bukan?" pria itu bersuara, suaranya parau dan berat.
Arvand langsung menegang. Tangannya secara otomatis bergerak ke arah pinggang, tempat ia biasa menyimpan pedang, meski sekarang kosong. "Siapa kau?"
Pria itu menurunkan korannya, menyingkapkan wajah yang penuh bekas luka bakar. "Hanya seorang pengagum karya istrimu, Jenderal. Atau setidaknya, pengagum versi lama dari dunia ini."
"Kami tidak ingin diganggu," ujar Aruna tegas. Ia menarik Arel lebih dekat ke arahnya.
"Tentu, tentu. Siapa yang ingin diganggu di hari yang cerah ini?" pria itu terkekeh sinis. "Tapi tahukah kalian? Di pinggiran kota, tepat di perbatasan antara hutan pinus dan jalur tol, tanahnya mulai membusuk. Bukan karena sihir, tapi karena kehilangan tujuan."
"Apa maksudmu?" tanya Arvand, matanya menyipit tajam.
"Dunia ini dibangun dari imajinasi dan konflik, Jenderal. Tanpa ada 'Penulis' yang memberikan bumbu, dunia ini perlahan akan menjadi tawar. Dan sesuatu yang tawar biasanya akan segera dibuang oleh pemilik aslinya," pria itu berdiri, meletakkan korannya di bangku. "Sampaikan salamku pada Seraphina jika kalian bertemu dengannya di 'Sisi Lain'."
Pria itu melangkah pergi dan menghilang di antara kerumunan orang sebelum Arvand sempat mengejarnya. Aruna segera mengambil koran yang ditinggalkan pria itu. Di balik halaman depan, ada sebuah peta yang digambar dengan tangan. Sebuah titik merah ditandai di area gedung tua yang dulu merupakan kantor penerbitan tempat Aruna bekerja.
Di bawah peta itu ada tulisan pendek: "Naskah yang tidak tamat adalah rumah bagi para antagonis yang terlupakan."
"Arvand, aku punya firasat buruk," bisik Aruna.
"Aku juga. Orang itu bukan manusia biasa. Auranya terasa seperti tinta yang tumpah," Arvand berdiri, wajahnya kembali serius. "Kita harus memeriksa tempat itu, tapi Arel harus tetap di istana."
"Tidak mau! Arel mau ikut!" protes bocah itu, matanya mulai berkaca-kaca.
"Arel, dengarkan Ayah," Arvand berlutut di depan putranya. "Kali ini Ayah tidak punya pedang sihir. Ayah butuh kamu untuk menjaga istana. Jika terjadi sesuatu, gunakan kekuatan emasmu untuk melindungi orang-orang di sana. Bisa?"
Arel terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Tapi Ayah dan Ibu harus janji akan pulang sebelum makan malam."
Setelah mengantar Arel kembali ke pengawalan ketat di istana, Aruna dan Arvand memacu sebuah mobil listrik menuju pinggiran kota. Perjalanan yang biasanya memakan waktu singkat terasa sangat lama bagi Aruna. Ia menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung yang tadinya megah kini tampak sedikit kusam di bagian bawahnya, seolah-olah warnanya mulai luntur.
Mereka sampai di depan gedung tua itu. Bangunan tujuh lantai itu tampak seperti kerangka raksasa di tengah kabut yang mendadak muncul. Pintu depannya sudah miring, dan papan namanya... Penerbitan Cakrawala sudah jatuh ke tanah dan tertutup lumut.
"Ini tempatnya," gumam Aruna. "Tempat di mana aku menyerahkan draf pertamaku sepuluh tahun lalu."
Mereka masuk ke dalam. Suasana di dalam gedung sangat kontras dengan keramaian pasar tadi. Di sini dingin dan lembap. Tumpukan kertas berserakan di lantai, dan yang mengejutkan, kertas-kertas itu tidak berisi tulisan cetak, melainkan tulisan tangan yang berantakan.
Aruna memungut selembar kertas. “Bab 1: Kematian yang Sia-sia.”
"Ini tulisanku... tapi aku tidak pernah menulis ini," Aruna mengerutkan kening. "Ini adalah versi alternatif dari bab pertama novelku."
"Aruna, lihat ini," Arvand menunjuk ke arah lift di ujung lobi.
Pintu lift itu terbuka dan tertutup sendiri dengan bunyi dentangan logam yang memekakkan telinga. Di atas pintunya, penunjuk lantai tidak menunjukkan angka, melainkan kata-kata: Konflik, Penderitaan, Pengkhianatan, Kematian.
Tiba-tiba, suara tawa anak kecil terdengar dari lantai atas. Tapi itu bukan suara Arel. Suara itu terdengar lebih melengking dan jahat.
"Siapa di sana?!" teriak Arvand.
Sesosok bayangan melesat menuruni tangga darurat. Arvand segera mengejarnya dengan kecepatan yang luar biasa. Aruna mengikuti dari belakang, napasnya tersengal-sengal. Mereka sampai di lantai tiga, yang dulu merupakan ruang editor.
Di sana, di tengah ruangan yang dipenuhi meja-meja kosong, berdiri seorang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Arel, namun rambutnya berwarna putih perak dan matanya berwarna merah darah.
"Halo, Ibu. Halo, Ayah," sapa anak itu dengan senyum miring.
"Siapa kau? Kenapa kau memakai wajah anakku?!" Aruna berteriak, amarahnya memuncak.
"Aku adalah 'Arel' yang asli," anak itu tertawa, suaranya terdengar seperti gesekan pisau. "Aku adalah karakter yang kau hapus di draf awal karena kau pikir aku terlalu kejam. Kau menggantiku dengan Arel yang manis dan cengeng itu hanya untuk menyenangkan pembaca, bukan?"
"Aku tidak pernah menghapusmu... aku hanya memilih jalan yang lebih baik!" balas Aruna, meskipun hatinya ragu. Ia teringat pernah merombak total karakter anak kecil di novelnya karena editor bilang karakter yang terlalu gelap tidak akan laku.
"Dan sekarang, jalan yang kau pilih mulai hancur," anak berambut perak itu melangkah maju. "Sistem ini butuh keseimbangan. Jika ada satu anak emas yang dicintai, maka harus ada satu anak buangan yang dibenci. Dan aku sudah bosan berada di dalam tong sampah naskah ini."
Anak itu menjentikkan jarinya. Seketika, kertas-kertas di ruangan itu terbang dan membentuk pusaran tajam yang mengelilingi Aruna dan Arvand.
Arvand mencoba melindungi Aruna dengan tubuhnya, namun kertas-kertas itu bukanlah kertas biasa. Setiap lembarannya memiliki kekuatan untuk memotong kulit sekeras apa pun jika berisi kalimat yang menyakitkan.
"Arvand, menunduk!" Aruna melihat sebuah meja kayu besar dan mendorong suaminya ke sana.
"Kau tidak punya kekuatan lagi, Aruna!" anak itu mengejek. "Kau hanyalah manusia biasa yang terjebak di dalam duniamu sendiri. Tanpa pena, kau tidak lebih dari sekadar figuran!"
Aruna mencoba mencari sesuatu untuk melawan. Di pojok ruangan, ia melihat sebuah mesin tik tua yang masih terhubung dengan selembar kertas kosong. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju mesin tik itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau sudah tidak bisa menulis!" teriak anak itu.
Aruna menekan tombol-tombol mesin tik itu dengan gila-gilaan. Ia tidak mencoba menulis takdir baru, ia mencoba menuliskan sesuatu yang paling mendasar: Namanya sendiri.
A-R-U-N-A.
Seketika, ruangan itu bergetar hebat. Mesin tik itu mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan. Bukan karena kekuatan Aruna, tapi karena mesin itu adalah objek asli dari dunia nyata yang tertinggal di sana.
Cahaya itu menghancurkan pusaran kertas tajam dan mementalkan anak berambut perak itu ke dinding. Namun, anak itu justru tertawa semakin keras saat tubuhnya mulai memudar.
"Kau pikir kau menang? Ini baru permulaan, Ibu!" anak itu menghilang ke dalam bayangan. "Editor yang asli sudah bangun. Dan dia sangat tidak suka dengan cara kau mengakhiri Musim Pertama."
Tiba-tiba, ponsel di saku Aruna bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aruna mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Halo?"
"Aruna... ini aku, Seraphina," suara di seberang sana terdengar sangat lemah dan penuh gangguan. "Jangan percaya pada kedamaian ini. Kota ini sedang dikemas untuk dibakar. Mereka akan melakukan 'Reboot' total."
"Sera? Di mana kamu? Apa itu Reboot?!"
"Mereka akan menghapus seluruh data dan memulai dari Bab 1 lagi, tapi kali ini tanpa kamu. Kamu harus menemukan 'Titik Hapus' di pusat Monas sebelum tengah malam, atau Arvand dan Arel akan kembali menjadi karakter asing yang tidak mengenalmu sama sekali!"
Sambungan terputus. Aruna menatap Arvand yang sedang membersihkan luka sayatan kertas di lengannya.
"Arvand, kita harus kembali ke istana," ujar Aruna dengan wajah pucat pasi.
Saat mereka keluar dari gedung, pemandangan di luar sudah berubah drastis. Jakarta-Novel City tidak lagi berwarna-warni. Langitnya kini berwarna hijau neon yang tidak alami, dan orang-orang di jalanan mulai berjalan mundur secara serentak, seolah-olah waktu sedang ditarik ke belakang dengan paksa.
Aruna melihat ke arah jam tangannya. Jarum jamnya berputar sangat cepat ke arah kiri.
"Kita kehabisan waktu," bisik Aruna.
Namun, rintangan terbesar baru saja muncul. Di tengah jalan raya menuju istana, berdiri sesosok raksasa yang mengenakan setelan jas editor rapi, namun kepalanya adalah sebuah bola lampu besar yang memancarkan cahaya merah yang menyakitkan. Di tangannya, ia memegang sebuah penghapus raksasa yang setiap kali menyentuh tanah, bangunan di sekitarnya langsung menghilang menjadi putih polos.
"Pelanggaran Kontrak Terdeteksi," suara raksasa itu menggelegar ke seluruh kota. "Memulai Proses Penghapusan Karakter Ilegal: Aruna."
Dapatkan Aruna mencapai Titik Hapus sebelum waktu benar-benar kembali ke Bab 1? Siapakah sebenarnya sosok 'Arel Berambut Perak' yang mengaku sebagai naskah buangan? Dan mampukah Arvand melawan Raksasa Editor yang memiliki kekuatan untuk menghapus eksistensi seseorang hanya dengan satu sentuhan?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.