Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Novita sebenarnya sudah mencoba menghindar, tetapi tatapan Andra yang menunggu membuatnya tidak punya banyak pilihan. Dengan sedikit ragu ia mengambil sepotong semangka dari kotak di atas meja, lalu menyodorkannya ke arah pria itu.
"Cepat sedikit," kata Andra santai sambil tetap menatap layar komputernya.
Novita menghela napas pelan. "Pak Andra ini seperti anak kecil saja."
Meski menggerutu pelan, akhirnya ia tetap menyuapkan potongan semangka itu ke mulut Andra. Pria itu memakannya tanpa memalingkan pandangannya dari layar laptop. Beberapa detik kemudian Novita juga mengambil satu potong semangka dan memakannya sendiri dengan ragu-ragu, seolah masih merasa aneh dengan situasi itu.
Andra menelan potongan buah itu lalu berkata, "Perhitungan yang sedang aku kerjakan ini jauh lebih kompleks daripada yang biasa kamu tangani di administrasi."
Novita menoleh sedikit. "Memangnya beda di bagian mana, Pak?"
Andra menunjuk layar laptopnya. Di sana terlihat tabel panjang berisi angka-angka dan beberapa kolom tambahan yang tidak biasa dilihat Novita.
"Aku juga meng-handle biaya pengeluaran perusahaan," kata Andra. "Bukan hanya pemasukan. Jadi perhitungannya harus lebih detail. Kalau salah sedikit saja, laporan bulanan bisa berantakan."
Novita yang memang selalu tertarik dengan hal-hal baru langsung mendekat sedikit ke meja itu. Ia memperhatikan tabel yang dibuat Andra dengan serius.
"Kolom ini untuk apa?" tanyanya sambil menunjuk salah satu bagian.
Andra melirik sekilas lalu menjelaskan, "Itu untuk pembagian biaya operasional. Dari sana nanti dihitung lagi ke laporan akhir."
"Oh… jadi dari sini nanti diringkas lagi?" tanya Novita.
"Benar," jawab Andra. "Makanya harus teliti. Kalau satu angka saja salah, semuanya ikut berubah."
Novita mengangguk-angguk kecil. Matanya mengikuti setiap baris angka yang ada di layar. Ekspresinya terlihat sangat fokus.
Melihat wajah serius itu, Andra tiba-tiba tersenyum tipis. Senyum yang muncul begitu saja tanpa ia sadari.
"Kamu memang tidak berubah dari dulu," katanya pelan.
Ucapan itu keluar begitu saja, seolah refleks.
Novita langsung menoleh dengan bingung.
"Dari dulu?" ulangnya.
Andra yang baru menyadari apa yang ia katakan langsung terdiam sesaat.
"Maksudnya apa?" tanya Novita lagi. "Saya bahkan baru satu bulan bekerja di sini, Pak."
Andra tidak langsung menjawab. Ia menatap layar laptopnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak usah dipikirkan," katanya singkat.
Lalu ia kembali menunjuk layar. "Lihat bagian ini."
Namun Novita tidak langsung melihat layar itu. Tatapannya justru masih tertuju pada wajah Andra.
Di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus muncul.
Dari dulu?
Kenapa Andra mengatakan kalimat itu?
Novita memperhatikan wajah pria itu dengan lebih teliti. Semakin lama ia melihat, semakin kuat pula perasaan yang muncul di hatinya.
Wajah itu.
Sangat mirip.
Sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya.
Arya.
Nama itu tiba-tiba terlintas di pikirannya.
Novita tidak sadar bahwa ia terus memandangi Andra dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Andra yang merasakan tatapan itu akhirnya menoleh.
"Kenapa?" tanyanya.
Novita sedikit terkejut lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Tidak apa-apa," jawabnya cepat.
Andra mengangkat alis sedikit.
"Kalau tidak apa-apa, ambilkan aku satu potong lagi," katanya sambil menunjuk kotak semangka.
Novita menghela napas kecil tetapi tetap mengambil satu potong semangka lagi.
"Pak Andra benar-benar seperti anak kecil," gumamnya pelan.
"Aku dengar itu," kata Andra santai.
Novita hanya mendengus kecil lalu menyuapkan potongan semangka itu ke mulut Andra.
Namun kali ini matanya masih memandangi wajah pria itu dengan rasa penasaran yang belum hilang.
Apakah mungkin…
Apakah Andra sebenarnya Arya?
Kemiripan wajah mereka terlalu jelas untuk diabaikan.
Belum lagi ucapan tadi.
"Kamu tidak berubah dari dulu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Namun sebelum Novita sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Bu Rika masuk dengan langkah cepat.
Ia langsung berhenti ketika melihat pemandangan di depan matanya.
Novita berdiri di samping meja Andra.
Tangannya memegang potongan semangka yang baru saja ia suapkan.
Sementara Andra duduk santai di kursinya.
Wajah Bu Rika langsung berubah.
"Novita!" panggilnya dengan nada tajam.
Novita langsung menoleh dengan kaget.
"Iya, Bu?"
"Kamu sedang apa di sini?"
Novita langsung gugup. "Saya…"
Belum sempat ia menjelaskan, Bu Rika sudah lebih dulu memotong.
"Kembali ke bagian administrasi sekarang juga!" katanya tegas.
Novita terdiam sesaat.
"Sekarang," ulang Bu Rika dengan suara lebih dingin.
Novita tidak berani membantah. Ia segera meletakkan kotak buah di meja Andra.
"Permisi, Pak," katanya pelan.
Lalu ia cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
Begitu pintu tertutup, suasana di ruangan langsung berubah tegang.
Bu Rika menatap Andra dengan kesal.
"Kamu masih saja mengerjai Novita?" katanya tajam.
Andra bersandar di kursinya dengan santai.
"Saya hanya makan buah," jawabnya.
"Jangan bohong!" potong Bu Rika.
Andra menghela napas.
"Saya memang meminta dia menyuapi saya," katanya jujur.
"Lihat!" kata Bu Rika semakin kesal. "Itu namanya mengganggu karyawan."
"Saya sedang bekerja dan tangan saya penuh dengan laporan," kata Andra membela diri. "Saya hanya meminta bantuan sebentar."
Bu Rika menyilangkan tangan di dada.
"Kamu pikir saya akan percaya alasan itu?"
Andra menatap wanita itu sebentar lalu berkata tenang.
"Saya tidak melakukan hal aneh kepada Novita."
"Kamu sudah sering membuatnya kesulitan," balas Bu Rika. "Dan saya sudah memperingatkanmu."
Andra mengusap pelipisnya sebentar.
"Kalau memang saya salah," katanya pelan, "apa ada cara untuk menebusnya?"
Bu Rika menatapnya tajam.
"Menebus?"
"Ya," jawab Andra. "Kalau saya ingin memperbaiki semuanya dengan Novita."
Bu Rika masih tidak terlihat percaya.
"Saya bisa minta bantuan Ibu," lanjut Andra.
"Bantuan apa?"
"Saya hanya ingin memperbaiki kesalahpahaman," kata Andra. "Saya tidak punya niat buruk kepada Novita."
Bu Rika terdiam beberapa detik.
Namun ekspresi wajahnya tetap keras.
"Saya tidak percaya dengan kata-katamu," katanya akhirnya.
Andra tidak menjawab.
"Dan dengarkan saya baik-baik," lanjut Bu Rika dengan nada tegas. "Kalau sampai Novita kesulitan lagi karena kamu…"
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan suara dingin.
"Saya akan membuat kamu benar-benar menyesal."
Ruangan itu kembali hening.
Andra hanya duduk diam di kursinya.
Sementara di luar ruangan, Novita berjalan kembali ke bagian administrasi dengan pikiran yang masih penuh pertanyaan.
Satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Apakah mungkin…
Andra benar-benar Arya?
Namun pikiran itu segera ia singkirkan. Novita menggeleng kecil sambil kembali duduk di mejanya. Ia mencoba memfokuskan diri pada berkas-berkas yang harus diselesaikan.
"Sudahlah, Novita," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga, sekarang ia sedang bekerja. Bukan waktunya memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.
Namun jauh di dalam hatinya, perasaan itu tetap ada.
Harapan kecil yang tidak ia akui.
Harapan untuk mengetahui kebenaran.
Karena jauh di masa lalu, ada seseorang yang pernah sangat berarti baginya.
Seseorang yang pernah mengatakan bahwa ia mencintainya.
Namun orang itu juga yang kemudian pergi tanpa penjelasan.
Sejak saat itu Novita tidak pernah benar-benar percaya pada cinta.
Apalagi melihat bagaimana kedua orang tuanya berakhir.
Perceraian.
Perpisahan.
Dan rumah yang tidak lagi terasa seperti rumah.
Semua itu membuat Novita belajar satu hal.
Jangan terlalu berharap.
Namun entah kenapa…
Ketika melihat wajah Andra hari ini, perasaan lama itu kembali muncul.
Dan itu membuatnya sedikit takut.