NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Suasana ruang rawat itu berubah… aneh.

Evelyn kembali duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang. Entah karena terpaksa, atau karena penasaran yang tidak mau ia akui. Yang jelas sekarang ia terjebak. Terjebak dalam satu ruangan… bersama Enzo. Dan itu… bukan situasi yang nyaman sama sekali.

Evelyn duduk dengan posisi sedikit kaku, punggungnya tegak seperti murid yang sedang diawasi guru killer. Tangannya sibuk memegang ponsel, jempolnya bergerak cepat menggulir layarmeski sebenarnya ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia lihat.

Semua itu hanya… pengalihan. Karena merasa terganggu dengan tatapan Enzo.

Dari arah ranjang, Enzo sejak tadi terus menatapnya. Seolah tidak ada hal lain yang lebih menarik di dunia ini selain dirinya.

Evelyn berusaha mengabaikan. Ia pura-pura fokus pada layar ponsel, bahkan sesekali mengernyit seolah membaca sesuatu yang penting. Padahal isi kepalanya kosong.

“Kenapa dia liatin aku terus sih…” batinnya kesal.

Beberapa detik berlalu. Hanya terdengar suara napas pelan Azzura yang masih tertidur pulas di atas ranjang, tidak sadar bahwa dua orang dewasa di sekitarnya sedang berperang dalam keheningan yang canggung.

Evelyn menelan ludah. Lalu, perlahan… matanya melirik ke arah Enzo. Dna sialnya tatapan keduanya bertemu.

Cepat-cepat Evelyn kembali menunduk ke ponselnya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya.

“Kenapa aku jadi gugup?” gerutunya dalam hati. Dia seperti orang yang baru kenal, padahal sejak awal bertemu dia sudah sering memarahi Enzo.

Di sisi lain, Enzo tetap pada posisinya. Bersandar santai, satu tangan masih menjadi sandaran bagi Azzura, sementara tangannya yang lain kini sudah kosong. Namun matanya…Masih tertuju pada Evelyn.

“Matamu tidak capek terus menatap layar ponsel,” ucap Enzo tiba-tiba.

Suara itu membuat Evelyn sedikit tersentak.

Ia mendongak, menatap Enzo dengan alis terangkat. “Apa?” tanyanya, berusaha terdengar normal.

“Kamu tidak membaca apa pun,” lanjut Enzo tenang. “Dari tadi kamu hanya menggulir layar.”

Evelyn terdiam, merasa terciduk oleh pria itu. Ia mengunci ponselnya dengan cepat, lalu meletakkannya di pangkuan.

“Terus kenapa kamu memperhatikan aku?” balasnya, nada suaranya sedikit defensif.

Enzo tidak langsung menjawab. Ia menatap Evelyn beberapa detik lebih lama, seolah mempertimbangkan sesuatu.

“Membosankan,” katanya akhirnya.

Evelyn mengerutkan kening. “Apanya yang membosankan?”

“Kamar ini,” jawab Enzo singkat. “Dan kamu satu-satunya hal yang bergerak di sini selain dia, tapi malah diam" Ia melirik sekilas ke arah Azzura.

Jawaban itu terdengar aneh di telinga Evelyn. Dan entah kenapa, membuat Evelyn tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Jadi aku hiburan kamu?” tanyanya datar.

“Untuk saat ini,” sahut Enzo tanpa ragu.

Evelyn menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak melempar ponselnya. Namun di sisi lain, sudut bibirnya sedikit berkedut, antara kesal dan… geli.

“Bisa tidak kalau bicara itu di perhalus. Aku ini bukan wanita penghibur" omel Evelyn.

Enzo mengangkat bahu tipis. "Aku merasa tidak ada yang aneh dengan ucapanku." ucapnya acuh

Evelyn menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba sedikit lebih rileks. Ia melirik Enzo lagi, kali ini tidak langsung mengalihkan pandangan.

“Apa sih yang kamu lihat dari aku?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa filter, tanpa rencana.

Enzo terdiam sejenak. Matanya kembali mengunci wajah Evelyn, lebih serius dari sebelumnya. “Kamu tidak takut,” katanya pelan.

Evelyn mengernyit. “Harusnya aku takut denganmu?”

“Kebanyakan orang begitu,” jawab Enzo. “Mereka menghindar. Kamu… justru tetap di sini.”

Evelyn terdiam, Ia tidak langsung menjawab. Karena, jujur saja… ia sendiri tidak tahu kenapa.

Mungkin karena Azzura? Atau mungkin…Karena rasa penasaran yang belum terjawab?

Evelyn menghela napas pelan, lalu menyandarkan dagunya di tangan.

“Aku bukan nggak takut,” katanya akhirnya. “Aku cuma… belum punya alasan buat lari.”

Enzo menatapnya lebih dalam. Jawaban itu jelas bukan yang biasa ia dengar. Dan untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka tidak terasa canggung.

Melainkan… ganjilnya, terasa cukup nyaman.

Di tengah ruangan yang sunyi, dengan satu anak kecil yang masih tertidur lelap, dua orang dewasa itu akhirnya berhenti saling menghindari. Meski tanpa mereka sadari, Sesuatu… mulai berubah di antara keduanya.

“Memangnya kamu yakin bisa lari dariku?”

Suara Enzo terdengar rendah, tenang… tapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar pertanyaan. Lebih seperti… peringatan yang dibungkus santai.

Evelyn mengangkat wajahnya perlahan. Alisnya berkerut, menatap pria itu dengan ekspresi aneh.

“Bisa saja, memangnya kenapa? Aku mengenalmu saja tidak.” jawabnya ringan, meski jelas ia tidak benar-benar menganggap serius ucapan itu.

Nada suaranya terdengar datar, bahkan sedikit menantang meskipun di dalam hatinya, ia masih mencoba memahami arah pembicaraan yang mulai terasa… tidak jelas.

Enzo menatapnya tanpa berkedip. “Coba saja kalau bisa,” ucapnya singkat, namun seperti tantangan.

Evelyn berdecak kesal pelan, memutar bola matanya sebelum kembali menjatuhkan pandangannya ke layar ponsel. Jemarinya kembali bergerak, menggulir layar dengan sedikit lebih kasar dari sebelumnya.

“Ini orang kenapa sih…” gumamnya dalam hati.

Dari tadi pembicaraan mereka sudah cukup aneh.

Sekarang ditambah lagi dengan kalimat-kalimat ambigu yang tidak ada ujungnya. Kalau bukan karena Azzura masih tidur di sana, mungkin Evelyn sudah benar-benar pergi dari tadi.

Ia memilih diam, tidak lagi membalas ucapan Enzo. Karena satu-satunya cara agar tidak terpancing emosi adalah… tidak menanggapi.

Namun dengan Enzo, ketenangan Evelyn tidak akan bertahan terlalu lama.

“Aku lapar, mau makan” Suara itu muncul tiba-tiba, memecah keheningan yang baru saja terbentuk.

Evelyn bahkan tidak langsung menoleh. Matanya masih terpaku pada layar ponsel, seolah ucapan itu hanya angin “Makan tinggal makan. Apa urusannya denganku" ucap Evelyn tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

Nada suaranya dingin. Jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak berniat terlibat. Di atas ranjang, Enzo memiringkan sedikit kepalanya, menatap Evelyn dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kamu ada di sini,” katanya.

Evelyn langsung mengernyit. Ia menurunkan ponselnya sedikit, lalu menatap Enzo dengan wajah tidak percaya.

“Terus?” tanyanya.

“Aku tidak bisa makan dengan posisi seperti ini,” lanjut Enzo santai, melirik sekilas ke arah Azzura yang masih memeluknya erat.

Evelyn mengikuti arah pandang itu, lalu kembali menatap Enzo, lalu kembali ke Azzura. Lalu ke Enzo lagi. "Kamu bercanda, kan?” ucapnya pelan.

Enzo tidak menjawab. Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Evelyn menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa.

“Ini déjà vu ya…” gumamnya.

Tadi minum, sekarang makan. Apa selanjutnya?Minta disuapi?

Evelyn membuka matanya lagi, menatap Enzo dengan ekspresi datar penuh penilaian.

“Kamu tahu kan tangan kamu masih lengkap?” tanyanya.

“Aku tahu,” jawab Enzo tenang.

“Dan kamu juga tahu kalau makanan itu tidak akan lari?” lanjut Evelyn.

“Aku tahu.”

“Dan kamu sadar kalau aku bukan pelayan kamu?” tambahnya lagi.

“Kamu sadar kalau kamu belum pergi juga?” balas Enzo tanpa jeda.

Telak, membuat Evelyn terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

Evelyn mendecak kesal keras-keras, kali ini tidak peduli kalau suaranya sedikit lebih nyaring.

“Kamu ini…” ia menggeleng, benar-benar kehabisan kata. “Nyebelin banget, sih.”

Enzo tidak membantah. Bahkan tidak terlihat terganggu. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat tipis, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia… menikmati ini. Dia sengaja menggunakan Azzura untuk menggoda Evelyn.

Evelyn berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan tempat beberapa makanan tersimpan.

Ia mengambil salah satu kotak makanan dengan sedikit kasar, lalu membukanya.

“Aku cuma lakukan ini karena rasa terima kasihku sudah menjaga Azzura” gumamnya, lebih seperti pembelaan diri daripada pernyataan.

Ia kembali mendekat ke ranjang, membawa makanan itu. “Kalau dia bangun dan lihat kamu mati kelaparan, nanti aku yang disalahkan,” tambahnya.

Enzo menatapnya, diam.

Evelyn berhenti di samping ranjang, memandang situasi itu lagi.

Azzura masih memeluk.

Enzo masih tidak bergerak.

Dan sekarang… ia berdiri di sini, memegang makanan seperti orang bodoh.

“Kamu mau makan atau mau aku lempar ini ke wajah kamu?” tanyanya ketus.

Enzo melirik makanan itu, lalu kembali ke wajah Evelyn. “Buka,” katanya.

Evelyn berkedip. “Apa?”

“Suapi aku" pintanya.

Waktu seolah berhenti beberapa detik. Evelyn menatap Enzo tanpa ekspresi. Lalu satu alisnya naik perlahan. “Maaf… aku salah dengar atau kamu memang kehilangan akal sehat?” ucapnya pelan, berbahaya.

Enzo tetap tenang. “Kalau aku gerak terlalu banyak, dia bangun,” katanya, mengangguk ke arah Azzura.

Lagi-lagi pria itu beralasan. Evelyn menghela napas panjang, kali ini lebih berat dari sebelumnya.

Ia menatap ke arah keponakannya. Dan entah kenapa, Ia tidak langsung menolak.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mendecak pelan, lalu mengambil sendok.

“Kamu benar-benar keterlaluan,” gumamnya.

Namun tangannya tetap bergerak mengambil sedikit makanan. Mengarahkannya ke arah Enzo.

Dengan wajah yang jelas menunjukkan bahwa ini bukan sesuatu yang ia lakukan dengan sukarela.

“Buka mulutmu,” katanya ketus.

Enzo menurut tanpa protes, dia pun membuka mulutnya menerima suapan dari Evelyn.

"Kamu sangat manis" ucap Enzo sambil mengunyah makananya, menatap wajah merah Evelyn.

1
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!