NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:119.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak perlu risau : 13

Jantung Intan rasanya seperti melompat dari relung dada, wajah berkulit bersih, mulus, kuning langsat perlahan-lahan pias. Cepat-cepat dia menggigit pipi bagian dalam agar rasa sakit mengembalikan lagi rona pipi.

“Kemarin sewaktu Kamal menjemputku, kami sempat mampir ke mal, pergi nonton bioskop. Aku menggigil karena AC terlalu dingin, dan dia pinjamkan jaket itu, tak tahu kalau kepunyaannya bang Danang,” dustanya, berkata sangat hati-hati.

Jaket tersebut memang milik Danang, hadiah pemberian Intan saat wisuda pria yang disukainya beberapa tahun silam sebelum menikah dengan Siron.

Intan tidak ingin menjadi duri dalam rumah tangga kakak sepupunya, diam-diam mencuri jaket tersebut di jemuran hunian pasangan pengantin baru menikah beberapa bulan.

Dia ingat pernah memberikan hadiah dalam bentuk barang, bukan untaian doa selalu dipanjatkan selepas sholat. Kemudian cepat-cepat mencari cara mengambil lagi kado pernah diberikan.

Jika masuk malam, Intan suka memakai jaket itu, lalu setelahnya digantungkan pada belakang pintu ataupun lemari kamar pribadinya.

Siron langsung percaya, tak lagi menaruh curiga ataupun merasa aneh. “Pantasan saja, sudah lama kakak cari jaket ini tapi tak ketemu. Tanya ke abang, dia bilang lupa. Ternyata dipinjamkan ke Kamal.”

Hati Intan merasa lega sekaligus bersalah, dia membohongi kakak sepupunya. Bukan disengaja, tapi cuma itu satu-satunya cara agar hubungan harmonis setiap insan tetap terjaga.

“Bawa pulang saja kalau memang kakak sayang sama jaketnya,” ucapnya pelan, sepelan menghela napas.

“Tak usahlah, biar Kamal sendiri yang memulangkan. Bukankah hukum meminjam memang seperti itu, asal jangan sampai merasa mempunyai yang bukan haknya.” Siron tersenyum lembut.

Sementara Intan merasakan kejanggalan pada kata-kata dalam tadi. Ia balas senyum dengan perasaan mulai tidak nyaman.

“Kakak benar. Nanti ku bilang ke dia, supaya cepat-cepat mengembalikan barang yang bukan miliknya,” penuh kepasrahan ia berkata.

Siron membawa masuk jaket tadi ke dalam kamar, menggantungkan pada gagang pintu lemari. Kemudian dia keluar, duduk di sebelah sofa tunggal.

“Dek, sebenarnya kedatangan kakak kesini bukan cuma ingin melepas rindu, tapi juga perwakilan dari keluarga besar kita. Berhubung abang belum pulang dari masjid, boleh tak kita mengobrol sebentar secara pribadi?” pintanya sungguh-sungguh, menumpukan tangan pada sandaran samping sofa.

Sudah Intan duga kalau kedatangan mendadak pasangan suami istri ini memiliki tujuan lain. “Silahkan, Kak.”

Sejenak Siron terdiam, mencari kata-kata yang pas agar tidak menyinggung perasaan sepupunya. “Intan, kamu ada niat membawa hubungan pertunanganmu dengan Kamal ke jenjang pernikahan, tidak?”

"Kak, aku paham jika kalian mengkhawatirkan hubungan kami seperti mengambang, berhenti di tempat. Namun, aku dan Kamal telah sepakat tak ingin cepat-cepat menikah. Kakak sendiri tadi bilang, jangan terburu-buru kalau masih ragu. Kurang lebih seperti itulah perasaan kami,” katanya tenang, padahal hati bergemuruh, tangan mulai dingin.

Ekspresi Siron seperti seseorang bersalah. “Maaf, Dek. Kalau kesannya kakak terlalu ikut campur, tapi didalam keluarga kita, tak ada yang tunangan selama itu.”

Intan segera menyanggah. Menyebut nama salah satu tante dan sepupunya. “Ada. Bunda Nur Amala, dulu dia pernah bertunangan selama lima tahun, dan Hazeera sudah dipinang sejak umur tujuh belas tahun, sampai kini belum menikah karena calon suaminya masih menyelesaikan pendidikan magister di Kairo.”

“Kak.” Intan menatap teduh, kata-katanya tegas. “Kau tenang saja, aku tahu batasan! Setiap keputusan telah ku pikirkan matang-matang, baik-buruknya diri ini siap menerima konsekuensinya.”

Siron mau berkata, tapi disela Intan yang tak memberikan kesempatan kepadanya.

“Tolong katakan kepada keluarga besar kita – tak perlu risau. Jika sudah waktunya, aku pasti menikah dengan Kamal. Ini cuma perkara waktu, diapun belum menyelesaikan pendidikannya. Biarlah Nuha fokus dulu,” suara Intan melembut.

“Maaf, Dek.” Siron menggenggam tangan kiri Intan, dia terlihat menyesal.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku paham akan kekhawatiran kalian, malah bersyukur sudah diperhatikan sedemikian rupa.”

Sama-sama mereka mendengar langkah kaki, otomatis pembahasan serius ini disudahi.

“Kakak dan bang Danang mau menginap disini atau pulang?” tanyanya serius bukan sekadar basa-basi.

"Pulang saja, nanti kami menginap di kota kecil.”

“Assalamualaikum.” Danang masuk, langsung tersenyum, memandang penuh cinta ke kekasih halalnya. “Tak perlu berdiri, biar Abang yang menghampiri.”

Siron tidak jadi beranjak, dia mencium takzim punggung tangan suaminya, langsung mendapatkan balasan kecupan sayang pada kening.

Diam-diam Intan pergi dari sana, tidak lagi sanggup melihat kemesraan tepat di depan matanya.

Intan menghampiri dua rekannya sedang menumis sayur kangkung, menggoreng ikan kembung yang disimpan pada freezer.

"Aku bantu apa ini?”

"Bantu doa saja bu bidan, supaya cita rasa masakan kami tak seperti bubur tim anak bayi,” celetuk Irda.

Lepas tawa Intan, dia memiliki alasan untuk menjatuhkan buliran air mata sudah sedari tadi menggenang pada pelupuk. Baru setelahnya diusap terburu-buru agar tidak mengundang rasa curiga berakhir ditanyai macam-macam.

“Nasinya sudah matang belum?” Intan membuka lemari aluminium tempat penyimpanan alat makan – mengambil lima piring, sendok, lalu meletakkan di atas meja makan.

“Sudah, Bu,” jawab Ririn.

“Tak usah repot-repot, Dek. Kakak sama Abang mau pamit pulang.” Siron menyusul ke dapur.

“Mana bisa macam itu, kami sudah masak banyak, Kak. Ayo makan dulu meskipun lauknya sederhana!” Intan memaksa, dan didukung kedua rekan sebayanya.

Mau tak mau, Danang dan Siron ikut makan malam di rumah dinas Intan.

Lagi dan lagi Intan disuguhi pemandangan yang mampu membuat perasaannya kian pilu. Memandang sekilas pasangan suami istri makan sepiring berdua. Sang pria memisahkan duri ikan dari daging, lalu menyuapi istrinya.

Nasi putih milik Intan hampir tidak abis, dia menelan makanan seperti menelan batu. Setiap selesai mengunyah, langsung di dorong air putih.

Diam, menunduk, adalah pilihan untuk menyembuhkan luka agar tidak tampak pada sorot mata.

Bukan salah mereka, tapi dirinya. Mencintai tak tahu tempat, tak melihat kepada siapa perasaan itu berlabuh. Lebih mirisnya, masih belum berhasil memupuskan nya.

Irda dan Ririn makan dengan khidmat, biasanya diselingi bercengkrama, kini menghargai pasangan suami istri terlihat serasi, sholeh dan sholehah.

Setengah jam kemudian, Siron bersama suaminya sudah pulang. Tinggal lah Intan duduk sendirian di teras rumah.

“Mungkin ini saatnya, agar semua orang tak lagi cemas tentang masa depanku.” Intan menyalakan layar handphone, menghubungi sang tunangan yang untuk sementara waktu tinggal di rumah milik keluarganya di kota tempat dia menimba ilmu.

Pada panggilan pertama, kedua, sampai ketiga, tidak dijawab. Awalnya Intan mau menyudahi, berpikiran mungkin Kamal sibuk seperti biasanya.

"Assalamualaikum kak Intan,” sapa sebuah suara lemah lembut di ujung sana.

“Lanira?!”

.

.

Bersambung.

1
lyani
pak Nugraha ini mah
chichi illa🍇
hancur sekarang gpp intan mumpung brlum terlambat
chichi illa🍇
cocok lah kalian
mamaqe
kamu mang hebat..biar kecilnya bikin jengkel si paok dg kata emohnya ..remaja jd pelindung kelg kala ayah ikram hilang ...besar ketika pun sdh mengenal cinta pun kau sll berusaha sadar diri dan membatasi lakumu..kamu seorang dg komitmen tinggi ..wanita mang mahluk lemah tp bukan berarti ta bisa kuat dan kamu telah membuktikan walau air mata mengalir deras😍
R.@RDioN@
yang di tunggu2 ayah tua ngamuk😁,,,
Wanita Aries
bener2 sifat kamal gk jauh dari bpk kandungnya yg menyakiti perempuan.
siap2 tu di marah ayah tua
Etty Rohaeti
semangat kak
mamaqe
sama2 otorr
Fahmi Rahmawati
layak untuk dibaca, suka sma jalan cerita nya.
mamaqe
iya..betul sabgat
Nuryanto Yanto
Aamiin semoga retensinya selalu naik semangat kak,terima kasih upnya
Al Fatih
Suka sekali AQ baca komennya emak2...,, nambah semangat utk menyalakan 🔥🔥🔥

Ayah tua...,, hajar saja dulu si Nuha noga2 itu,, babak belur dulu baru minta penjelasan 🤭
Ruwi Yah
semoga retensi selalu baik kak cublik dan masih terus berkarya di platform ini ya
Ayani Lombokutara
ayah tua dah ni 🤣🤣
Ruwi Yah
dasar Nuha egois pasti kamu nggk pernah berfikir gimana hubungan kedepannya 3 keluarga besar yg dulu selalu rukun akan menjadi kurang baik karena perbuatan kamu
Ayani Lombokutara
alahhh paok intan yg gagal itu si nihaii
Al Fatih
Aamiin....,, aamiin yaa Allah.
semoga retensi Kaka d bab 40, 80, 120 terbaik semuanya .. Aamiin.

Hanya orang yang mqkn otaknya jauh lebih parah dari anggora kewarasannya kalo baca ceritamu harus lompat2 bab. Lha wong setiap bab mu d tunggu kayak lagi nunggu cuan dari paksu😅,, sangat begitu d nantikan🤣.

Deg deg AQ nunggu sidang ini,, semuanya akan terkuak dengan begitu jelas dan gamblang....,, akan banyak hati yang sedih,, kecewa...,, tapi ini yang terbaik...
Ruwi Yah
kamal difinisi anak tiri tidak tau diri dulu waktu kecil hidup kamu nelangsa diangkat dan dilimpahi kasih sayang dan harta melimpah oleh byakta beginikah balasanmu
Aprisya
semangat intan semoga ini jalan yang terbaik buat kamu dan kita tunggu hasil keputusan sidang para tetua
🌷💚SITI.R💚🌷
semangaaat thoooor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!