Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi yang dinanti pun tiba. Sinar matahari yang cerah seolah ikut merestui niat tulus keluarga ini.
Di dalam kamar, Jati membantu Lintang merapikan kebaya modern berbahan brokat lembut berwarna krem yang sengaja dipilih agar longgar dan nyaman untuk perutnya yang mulai sensitif.
"Kamu cantik sekali, Lintang," bisik Jati sambil menyematkan bros mutiara di bahu istrinya.
Lintang tersenyum malu, wajahnya yang kini jauh lebih segar terpantul di cermin besar apartemen mereka.
Di ruang tamu, Papa dan Mama Jati sudah tampil rapi dan elegan.
Mama mengenakan kebaya senada dengan Lintang, sementara Papa tampak gagah dengan batik tulis motif parang yang klasik.
"Sudah siap semua? Anak-anak yatim pasti sudah tidak sabar menunggu kalian," seru Papa Jati dengan semangat yang meluap.
Wajahnya berseri-seri, bangga melihat putranya kini sudah bisa melangkah mantap meski sesekali masih memerlukan tumpuan ringan.
Mereka berempat segera turun menuju lobi, di mana mobil sudah disiapkan.
Perjalanan menuju gedung pertemuan tidak memakan waktu lama.
Sepanjang jalan, Lintang terus menggenggam tangan Jati, ada rasa gugup sekaligus bahagia yang membuncah di dadanya.
Begitu mobil memasuki halaman gedung, pemandangan mengharukan langsung menyambut mereka.
Puluhan anak dari panti asuhan, dengan baju koko dan gamis bersih, sudah berbaris rapi.
Sebuah spanduk besar bertuliskan "Syukuran dan Doa Bersama Keluarga Jati & Lintang" terbentang indah di depan pintu masuk.
"Ayo, Sayang. Ini hari kita," ucap Jati pelan sambil menuntun Lintang turun dari mobil.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam gedung yang telah didekorasi dengan bunga-bunga segar dan nuansa putih yang suci, suara selawat dan tabuhan rebana mulai menggema.
Lintang tidak bisa menahan air matanya saat melihat mata-mata polos anak-anak itu menatapnya dengan penuh binar kebahagiaan.
Papa dan Mama Jati segera menyapa pengurus panti, sementara Jati dan Lintang duduk di kursi yang telah disiapkan di depan.
"Mas, terima kasih sudah mewujudkan ini," bisik Lintang di tengah riuhnya suasana.
Jati merangkul bahu istrinya erat. "Ini baru permulaan, Lintang. Kebahagiaan kita akan jauh lebih besar dari ini."
Acara dimulai dengan pembacaan doa yang sangat khusyuk.
Seluruh ruangan mendadak hening, hanya terdengar suara lantunan doa yang meminta keberkahan untuk rumah tangga mereka, kesehatan untuk Lintang dan janinnya, serta kesembuhan total bagi Jati.
Di saat itulah, Lintang merasa bahwa semua penderitaan masa lalunya bersama Dery benar-benar telah digantikan dengan kemuliaan yang tak terhingga.
Suasana di dalam gedung semakin hangat saat tiba waktunya untuk membagikan bingkisan.
Jati, yang kini berdiri dengan tegak di samping Lintang, memberikan isyarat kepada petugas untuk membawa tas-tas berwarna-warni yang mereka siapkan semalam ke depan.
Satu per satu anak-anak yatim itu maju dengan tertib.
Lintang menyerahkan setiap bingkisan dengan tangan gemetar karena haru.
Ia tidak hanya memberikan tas berisi jajanan, tetapi juga menyelipkan senyum tulus dan usapan lembut di kepala setiap anak.
"Terima kasih, Ibu Cantik," ucap seorang anak laki-laki kecil saat menerima bingkisannya.
Lintang hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa bahagia.
Tiba-tiba, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar lima tahun dengan kuncir dua yang lucu berdiri di depan Lintang.
Anak itu tidak langsung mengambil bingkisannya, melainkan menatap Lintang dengan mata bulat yang bening.
"Ibu, bolehkah aku memeluk Ibu?" tanya anak itu dengan suara cilik yang polos.
Lintang tersentak pelan, lalu perlahan ia berlutut agar tingginya sejajar dengan anak itu.
"Tentu saja, Sayang. Sini..."
Tanpa ragu, anak kecil itu menghambur ke pelukan Lintang, melingkarkan lengan kecilnya di leher Lintang dengan sangat erat. Aroma sabun bayi dan bedak dari anak itu seketika menyeruak, membangkitkan getaran hebat di rahim Lintang.
Di dalam pelukan itu, Lintang teringat kembali pada masa-masa kelam saat ia dituduh mandul dan tidak berguna oleh keluarga Dery.
Air mata Lintang luruh, jatuh tepat di bahu kecil anak itu.
Pelukan ini seolah menjadi obat penawar bagi segala luka masa lalunya.
Ia merasakan tendangan halus di perutnya, seolah janin yang ia kandung ikut menyapa kakak kecil yang sedang memeluk ibunya.
Jati yang berdiri tepat di belakang Lintang menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia meletakkan tangannya di bahu Lintang, ikut merasakan energi cinta yang mengalir di sana. Impian Lintang untuk menjadi seorang ibu kini bukan lagi sekadar angan-angan yang dihina orang, melainkan kenyataan yang sedang ia jalani dengan penuh kemuliaan.
"Ibu harum sekali, seperti Ibu yang ada di mimpinya Nisa," bisik anak itu sebelum melepaskan pelukannya sambil tersenyum lebar.
Lintang menghapus air matanya, lalu mengecup kening Nisa dengan penuh kasih.
"Nisa harus jadi anak yang pintar dan kuat ya. Doakan Ibu dan calon adik bayi di sini juga."
Nisa mengangguk mantap, mengambil bingkisannya, lalu kembali ke barisan dengan riang.
Lintang berdiri kembali dengan bantuan tangan Jati. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Terima kasih, Mas. Hari ini aku merasa benar-benar menjadi wanita seutuhnya," bisik Lintang.
Jati mengecup punggung tangan istrinya di hadapan semua orang, sebuah pernyataan tanpa kata bahwa Lintang adalah ratu di hatinya dan ibu bagi anak-anaknya kelak.
Suasana di dalam gedung mendadak hening ketika Papa Jati melangkah mantap menuju podium.
Ia merapikan letak kacamatanya, menatap ke arah Jati dan Lintang yang masih tampak terharu setelah momen pelukan dengan Nisa tadi.
Papa Jati berdehem pelan, suaranya bergema penuh wibawa namun hangat melalui pengeras suara.
"Hadirin sekalian, anak-anakku yang saya cintai," buka Papa Jati dengan senyum kebapakan.
"Hari ini bukan sekadar syukuran atas kesehatan putra saya, Jati, atau kebahagiaan menantu saya, Lintang. Hari ini adalah awal dari sebuah dedikasi yang lebih besar."
Lintang mendongak, menatap Papa mertuanya dengan rasa penasaran.
Jati pun tampak sedikit terkejut, karena rupanya sang ayah menyimpan kejutan besar di balik rencana resepsi ini.
"Kami menyadari bahwa di luar sana, banyak perempuan hebat yang sedang berjuang sendirian melawan ketidakadilan, kekerasan, dan keputusasaan—persis seperti apa yang pernah dilalui Lintang sebelum ia menemukan jalannya pulang ke keluarga kami," lanjut Papa Jati.
"Oleh karena itu, hari ini saya secara resmi mengumumkan pembentukan 'Yayasan Lintang Kasih'."
Lintang menutup mulutnya dengan tangan, air mata yang tadi sempat kering kini kembali merebak.
Ia menatap nama yang terpampang di layar besar di belakang podium: Yayasan Lintang Kasih.
"Yayasan ini akan fokus pada dua hal utama: memberikan beasiswa pendidikan penuh bagi anak-anak yatim agar mereka punya masa depan cerah, serta menyediakan pusat pemberdayaan dan perlindungan hukum bagi perempuan korban kekerasan rumah tangga. Saya ingin Lintang sendiri yang menjadi pembina utama yayasan ini, agar pengalamannya bisa menjadi lentera bagi mereka yang masih berada dalam kegelapan."
Tepuk tangan riuh pecah di seluruh penjuru gedung. Anak-anak yatim bertepuk tangan dengan riang, sementara beberapa pengurus panti tampak mengusap air mata haru.
Jati merangkul pinggang Lintang, menariknya lebih dekat.
"Kamu dengar itu, Sayang? Sekarang kamu bukan hanya penyembuhku, tapi kamu akan menjadi penyembuh bagi banyak orang di luar sana."
Lintang hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya bergetar karena emosi yang meluap.
Ia teringat saat-saat ia dihina sebagai tukang pijat yang tidak punya masa depan, saat ia dianggap sampah oleh keluarga Dery. Kini, namanya justru diabadikan sebagai simbol kekuatan dan kasih sayang bagi perempuan lain.
"Terima kasih, Pa. Terima kasih, Ma," bisik Lintang saat Papa Jati turun dari podium dan menghampirinya untuk memberikan pelukan hangat.
"Jangan berterima kasih pada Papa, Lintang. Kamulah yang menginspirasi kami semua untuk menjadi manusia yang lebih baik," jawab Papa Jati dengan tulus.
Di sudut gedung, tanpa diketahui siapa pun, salah satu staf dokumentasi segera mengirimkan klip pengumuman tersebut ke media sosial perusahaan.
Dalam hitungan menit, nama Lintang dan Yayasan Lintang Kasih mulai menjadi pembicaraan, sebuah awal yang indah sekaligus benteng yang kokoh untuk melindungi Lintang dari siapa pun yang berniat jahat di masa depan.