NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengungkap Kebenaran

Laras sengaja berangkat lebih awal dari biasanya. Kabut pagi itu bukan sekadar hiasan alam; udara dingin merayap masuk melalui sela-sela kain hoodie hitamnya, namun getaran di dadanya jauh lebih membekukan. Saat deru mobil Pak Joko menghilang di kejauhan, Laras berbalik arah. Ia bukan lagi siswi teladan yang patuh pada bel sekolah.

Laras menarik tudung hoodie hitamnya hingga menutupi sebagian wajah, lalu menunduk dalam. Matanya melirik ke arah jam tiga. Di sana, di bawah naungan pohon trembesi yang rimbun, Bara duduk di atas motornya. Laras mempercepat langkah. Jantungnya berdebar, karena aksi "bolos" spontan ini. Begitu jarak mereka merapat, Bara menegakkan tubuh, sorot matanya yang tajam perlahan melembut saat menangkap sosok kecil yang bersembunyi di balik hoodie itu.

"Siap untuk pergi?" bisik Bara saat Laras sudah berdiri di samping motornya.

Laras hanya mengangguk kecil di balik tudungnya, lalu tanpa ragu naik ke boncengan motor Bara. Bara memacu motornya membelah jalanan yang masih sepi. Di belakangnya, Laras duduk dengan kaku, memberikan jarak beberapa sentimeter karena rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. Ia hanya berpegangan pada besi belakang motor, berusaha menjaga martabatnya sebagai "gadis baik-baik" meski jantungnya sudah bergedubal tidak karuan. Bara melirik dari kaca spion. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di sudut bibirnya.

​Citttt!

​Tiba-tiba, di sebuah persimpangan yang sebenarnya cukup lengang, Bara menarik tuas rem depannya dengan sentakan yang cukup mengejutkan. Tubuh Laras terdorong ke depan dengan keras. Tanpa sempat berpikir, kedua tangannya langsung melingkar erat di pinggang Bara, wajahnya menabrak punggung tegap cowok itu hingga aroma parfum woody merasuk ke indra penciumannya.

​"Eh! Kenapa, Bar?!" seru Laras panik, jantungnya kini berdegup dua kali lebih cepat.

Ia tidak melepaskan pelukannya, malah semakin erat karena takut jatuh. ​Bara tidak langsung menjalankan motornya. Ia membiarkan keheningan mengambil alih selama beberapa detik.

​"Ada kucing lewat," jawab Bara pendek.

Bohong besar. Jalanan di depan mereka benar-benar kosong melompong.

​"Kucing? Mana? Nggak ada tuh," gumam Laras, mulai sadar dan hendak menarik tangannya kembali.

​Namun, sebelum jemari Laras menjauh, tangan kiri Bara bergerak cepat—menahan tangan Laras tetap berada di pinggangnya.

"Pegangan yang benar, Sayang."

​Laras terpaku. Ia bisa merasakan kehangatan tangan Bara yang besar menggenggam jemarinya di atas perut cowok itu. Di balik helmnya, pipi Laras memanas, merah padam seperti kepiting rebus. Ia tidak memprotes, tidak juga menarik tangannya. Akhirnya, ia menyandarkan kepalanya perlahan di punggung Bara.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Suasana manis itu seketika menguap saat motor Bara memasuki halaman rumah minimalis yang asri. Begitu mesin mati, Laras turun dari motor dengan perasaan campur aduk. Bara menggandeng tangan Laras, mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, seorang pria renta duduk dengan punggung tegak.

Kakek Tedjo menoleh. Sorot matanya yang tajam langsung terpaku pada Laras. Ada keheningan panjang yang menyesakkan dada sebelum Kakek Tedjo akhirnya menghela napas, sebuah embusan napas yang seolah membawa beban puluhan tahun. Laras terpaku di tempatnya berdiri.

​"Duduklah, Nduk," suara Kakek Tedjo bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.

Kakek Tedjo menceritakan semuanya kepada Laras tentang yang menimpa keluarganya. Laras termenung mendengarnya. Di hadapannya, Bara membuka sebuah laptop. Jemarinya menari di atas trackpad, membuka sebuah file video rekaman CCTV.

"Ini adalah bukti sabotase mobil eyang kakungmu," suara Bara terdengar dingin, kontras dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Laras menutup mulutnya dengan tangan. Keheningan di ruangan itu pecah saat Bara mulai menceritakan tragedi keluarganya. Tentang ayahnya—seorang mekanik jujur—yang dijadikan kambing hitam atas kecelakaan itu.

​"Papaku dituduh sengaja lalai. Semua aset kami ludes hanya untuk membayar denda yang sengaja dibuat tidak masuk akal oleh keluargamu," isak Bara pecah.

Ketangguhan yang ia tunjukkan di sekolah selama ini runtuh seketika.

"Papa meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, Ras. Dia pergi membawa luka yang tidak pernah dia buat."

​Laras merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia memeluk Bara, membiarkan air mata mereka bersatu dalam duka yang saling bersilangan. Bara mengusap air matanya dengan kasar, lalu memutar klip video kedua. Ia mengenali sosok itu.

​"Mbah Kung?" suara Laras nyaris tak terdengar, hanya sebuah bisikan lirih yang penuh kengerian.

​Kakek Tedjo mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu.

"Dia yang merancang semuanya agar dia bisa mengambil alih semua aset keluarga."

​Laras merasa mual. Sosok yang selama ini dianggap sebagai pahlawan keluarga—ternyata adalah seorang iblis yang menyamar menjadi malaikat demi kekuasaan. Kebenaran ini terasa seperti racun yang merayap di nadinya.

​"Kita harus laporkan ini ke polisi," tegas Laras.

Suaranya kini tidak lagi bergetar. Kesedihannya telah mengkristal menjadi amarah yang dingin menantang Sang Iblis.

​"Tidak semudah itu, Nduk," Kakek Tedjo memperingatkan.

"Brotojoyo memiliki pengaruh besar karena kedua anaknya, yang seorang hakim dan satunya lagi polisi." lanjutnya

​"Tapi kita punya saksi," balas Laras sambil menatap Kakek Tedjo dan Bara bergantian.

"Dan kita punya hati nurani yang dia tidak miliki."

​Mereka menghabiskan sisa hari itu untuk menyusun rencana. Kemudian, mereka mendatangi seorang pengacara, rekan Bapak Laras.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

​Pagi berikutnya, kota itu digemparkan oleh sebuah berita tentang penyerahan diri seorang saksi kunci dan bukti digital yang tersebar di media sosial secara anonim. ​Suasana kediaman keluarga besar yang biasanya tenang dan angkuh itu seketika pecah berkeping-keping. Suara sirene polisi yang meraung di halaman depan terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasi keluarga Widjaya.

​Eyang Putri berdiri mematung di ambang pintu jati yang megah. Wajahnya mendadak pias, saat melihat Brotojoyo—kakak ipar yang selama ini ia hormati—digelandang oleh dua petugas polisi.

​Di sudut lain, Bapak dan Ibu berdiri terpaku dengan raut kebingungan yang nyata. Sedangkan Laras berdiri dengan rasa lega yang hambar melihat wajah Brotojoyo yang meyakinkan semua orang bahwa seolah dia sedang difitnah. Namun, Laras melihat matanya liar mencari tahu siapa yang telah melaporkannya. Bara dan Kakek Tedjo memantau dari kejauhan segera memacu motornya pergi sebelum ada anggota keluarga Widjaya yang menyadari kehadirannya.

1
Wawan
Hadir
penavana: thingkiuuuu
total 1 replies
Carzenogenik
Hehehehehehehehehhe senyum2 sendiri dari tadi🌝
Carzenogenik
Bau2nya.... Tipuan yg gagal menipu😅
Carzenogenik
Jawab dengan singkat. "Gpp, sans"😶 Belom nyari buku juga, wkwk
Carzenogenik
Hmm... Segitunya kah? Bara lu baru aja guling2 di aspal?😭
Carzenogenik
CK. Iya2! Darah lo lebih kotor dari darah ayam! Cepet pakek dan jangan ngedumel!🙂
Carzenogenik
Hmm... Yahh, gw pun masih percaya sampe sekarang kalo bogem lebih manjur buat nunjukin berandalan dan sejenisnya. wkwk😌
Carzenogenik
Woooohh~😯
Carzenogenik
...Baru selangkah menuju kebebasan, tapi rasanya kebebasan itu makin jauh 🙂
Carzenogenik
Ugh... Tiba-tiba diriku cemas. Nggak akan ada apa-apa kan ini????😵‍💫
Carzenogenik
G-Gila... Apalah diriku yg suka bangun tengah malem dan bikin mie gegara keroncongan😅
Carzenogenik
Waah... Pasti nggak enak banget tuh bangun gragapan kek gini😅
Carzenogenik
Tiran... Eyangnya kayak TIRANN!! Ngeri banget! 😭😭
Carzenogenik
Se-Sebaiknya jangan gegabah 😵‍💫
Carzenogenik
Yah. Bagian ini mungkin dia juga salah. Kita nggak boleh ngediemin panggilan orang, apalagi ortu. Tapi... kalo tiap telpon isinya ngeselin, yaa...😶
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci kamu Den 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
mana setuju pula, ketahuan gawat ini
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
tapi Laras kayaknya gak se...mirip itu sama kamu deh
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini modelan 2 orang dalam satu raga pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!