Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Salah Lihat
Sudah satu minggu Damar menghilang tanpa kabar setiap kali Kirana mengirim pesan, jawabannya selalu sama.
“Aku lagi di luar.”
“Nggak di apartemen.”
“Lagi sibuk.”
Balasan pesannya singkat bahkan selalu kirana yang insiatif mengirim pesan kepada Damar. Kirana menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Dia menghela napas panjang.
“Kenapa selalu aku,” gumamnya pelan.
Namun seperti biasa dia memilih menahan diri tidak memaksa dan tidak menuntut Damar untuk memberikan perhatian seperti yang Kirana lakukan.
Untuk mengalihkan perhatiannya Kirana menenggelamkan diri dalam kesibukan hari itu, Kirana pergi ke perpustakaan kota.
Suasananya tenang rak-rak buku berjajar rapi aroma kertas tua bercampur pendingin ruangan menciptakan ketenangan semu.
Kirana mengambil beberapa buku referensi, menumpuknya di pelukannya.
“Sepertinya ini cukup,” ucapnya pelan dia berjalan ke salah satu meja di sudut ruangan duduk membuka buku satu per satu. Laptopnya menyala jari-jarinya mulai mengetik.
Kirana mulai fokus atau setidaknya berusaha fokus.
waktu berlalu tanpa terasa, langit di luar mulai gelap, lampu-lampu perpustakaan menyala lebih terang. Kirana meregangkan tubuhnya punggungnya terasa pegal.
“Akhirnya selesai juga…” gumamnya lega Kirana menutup laptop perlahan.
Namun begitu hening datang pikirannya kembali ke satu nama Damar. Kirana langsung meraih ponselnya menatap layar masih tidak ada pesan Kirana menghela napas.
“Dia lagi apa sih…” bisik Kirana lemah.
“Sebegitu sibuknya sampai nggak bisa ngabarin?” katanya lagi dia menatap kosong ke depan.
“Apa dia nggak kangen sama aku ya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, dan terasa lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Kirana menggeleng pelan. “Enggak aku nggak boleh mikir aneh-aneh.” Kirana mencoba tersenyum.
“Kalau dia sudah nggak sibuk pasti dia hubungi aku.”
Kirana mengulang kalimat itu seperti mantra.
Meyakinkan dirinya sendiri, akhirnya Kirana keluar dari perpustakaan udara malam menyambutnya dingin dan sepi.
Lampu jalan menerangi trotoar Kirana berjalan perlahan pikirannya kembali di penuh tentang Damar.
Tentang sikapnya yang tidak se efort dirinya tentang perasaan yang mulai terasa tidak seimbang Kirana hanya merasa dia yang cinta sendiri.
Lalu langkah Kirana tiba-tiba terhenti di seberang jalan dia melihat seorang pria dari belakang tubuhnya tinggi posturnya tegap cara jalannya yang sangat familiar jantung Kirana berdetak lebih cepat.
“Damar…?” bisik Kirana pelan sedikit tercengang.
Sosok itu berjalan dan masuk ke sebuah restoran tidak sendiri ada seorang perempuan di sampingnya.
Kirana membeku matanya mengikuti mereka langkahnya hampir maju namun berhenti Kirana menggeleng cepat.
“Ah, bukan,” gumamnya. “Itu bukan Damar.” katanya lagi.
Kirana memaksakan senyum kecil. “Banyak kok orang yang mirip.”
Namun matanya masih tertuju ke pintu restoran itu tangannya mengepal pelan.
“Bukan Damar” Kirana mengulanginya.
Seolah ingin meyakinkan hatinya sendiri malam itu Kirana kembali ke apartemennya namun pikirannya tidak tenang. Bayangan pria tadi terus muncul posturnya cara jalannya terlalu mirip dengan Damar.
Kirana duduk di tepi ranjang lalu mengambil ponselnya menekan nama itu lagi.
Calling…
Tidak diangkat Kirana mencoba lagi masih sama tidak ada respons. Kirana menatap layar ponselnya lama.
Lalu berbisik pelan “Kalau itu bukan kamu…”
“Kenapa aku merasa itu kamu?”Air matanya mulai menggenang namun Kirana cepat-cepat menghapusnya.
“Enggak,” katanya tegas pada diri sendiri. “Itu bukan Damar.” Kirana menarik selimut berbaring menatap langit-langit.
Namun malam itu tidurnya tidak tenang Kirana merasa ditinggalkan dan diabaikan selain itu juga Kirana mulai merasa curiga.