Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menikah
Tapi wajah Kusumawati tetap tenang.
Senyumnya tetap terpasang.
Tangannya meraih tangan Jan Coen.
"Tentu." Suaranya halus berwibawa khas ningrat tinggi. "Ayo kita mulai."
‘Tidak apa-apa.’
‘Ini hanya nikah siri.’
‘Aku akan menemukan cara.’
‘Raden Ayu selalu menemukan cara.’
\~\~\~
Pernikahan itu berlangsung sederhana. Diabadikan oleh kamera komisaris.
Di ruangan belakang rumah Cornelis, penghulu tua dengan sorban putih membacakan ijab kabul. Jan Coen yang baru saja mengucapkan syahadat beberapa menit sebelumnya—mengikuti setiap kata dengan lidah yang masih kaku, mas kawin berupa uang sejumlah lima ratus gulden—tunai.
Slamet dan seorang pria Melayu—pembantu rumah tangga Cornelis yang kebetulan Muslim—menjadi saksi.
Kusumawati duduk di hadapan penghulu dengan wajah datar, tapi dalam hati sibuk menenangkan diri sendiri.
‘Ini hanya formalitas.’
‘Jangan takut.’
Penghulu mengangguk. "Sah."
Jan Coen tersenyum lebar.
Kusumawati tidak tersenyum.
Setelah penghulu dan saksi-saksi keluar, mereka pindah ke ruang kerja Cornelis.
Ruangan yang rapi. Meja kayu besar di tengah. Rak-rak penuh berkas dan buku hukum. Peta Hindia Belanda tergantung di dinding. Bendera kolonial di sudut.
Cornelis duduk di kursi utama, Jan Coen dan Kusumawati di kursi tamu.
Di atas meja, tergeletak beberapa lembar dokumen.
"Nah." Cornelis mengambil pena, mencelupkan ke tinta. "Ini surat pernyataan pernikahan. Tidak resmi secara hukum kolonial, tapi cukup kuat sebagai bukti."
Dia menandatangani dengan gerakan cepat.
"Aku sebagai saksi dari pihak pemerintah kolonial. Komisaris Besar Polisi Wilayah Selatan." Cornelis mendorong dokumen ke arah Jan Coen. "Sekarang kau."
Jan Coen menandatangani dengan semangat. Senyum tak pernah lepas dari wajah.
Lalu dokumen itu bergeser ke Kusumawati.
"Gusti Ayu?"
Kusumawati menatap kertas di depannya. Seperti menatap putusan eksekusi.
Hitam di atas putih. Nama-nama saksi. Tanda tangan. Cap jempol.
Semuanya tercatat dan terdokumentasi.
‘Sial.’
‘Ini bukan nikah siri biasa yang bisa disangkal.’
‘Dengan Komisaris Besar sebagai saksi ... dokumen ini punya kekuatan hukum.’
Tapi wajahnya tetap tenang.
‘Tidak apa-apa.’
‘Aku bisa menghabisi semua orang ini nanti kalau sudah kembali ke kadipaten.’
‘Yang penting sekarang … Jan Coen harus mengalahkan adik-adikku dulu.’
‘Setelah mereka semua disingkirkan …. barulah aku pikirkan langkah selanjutnya.’
Kusumawati mengambil pena. Menandatangani.
"Selesai." Cornelis mengambil dokumen, meniup tinta agar kering. "Mulai hari ini, kalian resmi suami istri. Setidaknya di mata Tuhan dan di mata hukum adat."
Jan Coen tersenyum puas.
Kusumawati tidak berkomentar.
Slamet dan pembantu rumah tangga sudah keluar.
Tinggal tiga orang di ruang kerja.
Cornelis menuangkan teh ke tiga cangkir, menyodorkan ke Jan Coen dan Kusumawati.
"Jadi." Dia bersandar ke kursi. "Jan sudah menceritakan situasinya padaku. Tentang adik-adik Gusti Ayu. Tentang penyelundupan opium. Tentang rencana pembunuhan."
Kusumawati menyesap tehnya. "Lalu?"
"Gudang opium sudah kami serbu pagi tadi." Cornelis melanjutkan. "Sebelum kalian datang. Barang bukti disita. Beberapa orang ditangkap."
"Kartodirjo?"
"Belum." Cornelis menggeleng. "Dia tidak ada di lokasi. Tapi kami sudah menyebar mata-mata. Cepat atau lambat, dia akan tertangkap."
Kusumawati mengangguk.
‘Bagus.’
‘Satu langkah.’
‘Singa besar ini benar-benar berguna.’
‘Tidak rugi aku menikah dengannya.’
"Ada kabar lain yang mungkin menarik untuk Gusti Ayu." Cornelis menatapnya. "Tentang pencarian."
"Pencarian?" Kusumawati menaikkan satu alis cantiknya.
"Pencarian Gusti Ayu sendiri." Cornelis tersenyum tipis. "Bupati Soedarsono memang menyembunyikan kabar menghilangnya Gusti Ayu dari publik. Tapi diam-diam, dia tetap melakukan pencarian."
Kusumawati terdiam. Raut wajahnya berubah sendu saat nama putranya disebut.
"Kami menerima permintaan resmi dari kadipaten. Meminta bantuan kepolisian untuk mencari Gusti Ayu secara diam-diam." Cornelis menurunkan suara. "Kami mengerti ada sesuatu yang disembunyikan. Untuk keamanan Gusti Ayu."
Kusumawati menatap cangkir tehnya.
‘Soedarsono mencariku.’
‘Putraku ... mencariku.’
‘Dia tidak melupakanku.’
Ada sesuatu yang berdesir di dadanya.
‘Mungkin dia tidak seburuk yang kukira.’
"Nah." Jan Coen meletakkan cangkirnya. "Sekarang kita bicara soal rencana selanjutnya."
Cornelis mengangguk.
"Dari informasi yang Jan dapat—dari mantan anak buah Gusti Ayu yang sekarang bekerja untuk kita—ada rencana menyelundupkan pembunuh ke kadipaten."
"Lewat kereta Susilowati." Kusumawati menambahkan. "Istri putraku. Putri Bupati Sumantri."
"Ya." Cornelis mengerutkan dahi. "Rencana yang cukup cerdik. Pembunuh menyamar sebagai pengawal kereta. Masuk ke kadipaten dengan alasan menjenguk mertua. Tidak ada yang curiga."
"Kecuali kalau ada yang memberitahu sebelumnya." Jan Coen tersenyum.
"Tepat." Cornelis mengangguk. "Aku akan mengirim beberapa orang ke kadipaten. Diam-diam. Bersiap di sana. Saat pembunuh mencoba beraksi—"
"Tangkap basah." Kusumawati memotong. "Di depan saksi."
"Lebih baik lagi." Jan Coen menambahkan. "Di depan Komisaris Polisi sendiri."
Cornelis mengangkat alis.
"Kau ingin aku hadir langsung?"
"Kenapa tidak?" Jan Coen mengedikkan bahu. "Kau bisa datang dengan alasan melaporkan perkembangan pencarian Gusti Ayu. Tidak mencurigakan."
Cornelis berpikir sejenak. Lalu mengangguk.
"Bisa diatur."
"Bagus." Kusumawati meletakkan cangkirnya. "Kalau Komisaris Besar sendiri yang menyaksikan penangkapan ... Bupati tidak bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan."
Cornelis menatapnya.
"Maksud Gusti Ayu?"
"Soedarsono itu anak yang baik." Suara Kusumawati sedikit bergetar. "Terlalu baik. Kalau tidak ada campur tangan pemerintah kolonial, dia akan mencoba menyelesaikan masalah ini secara internal. Diam-diam. Tanpa membuat skandal. Untuk menyelamatkan nama baik istrinya yang tidak berguna itu."
Matanya menyipit berbahaya.
"Tapi aku tidak mau begitu."
"Lalu?"
"Aku mau Sumantri dihukum." Kusumawati berkata dengan nada yang dingin. "Bupati Sumantri. Ayah Susilowati. Dia telah mengkhianatiku. Aku mau dia mendapat hukuman yang berat."
Cornelis terdiam. Melirik Jan Coen yang menatap Kusumawati dengan sorot memuja.
"Dia yang menyuruh putrinya membawa pembunuh.” Kusumawati melanjutkan tanpa ampun. "Dia yang merencanakan pembunuhanku. Kalau Komisaris Besar menyaksikan sendiri, kalau ada bukti dan saksi resmi dari pemerintah kolonial, Soedarsono tidak punya pilihan. Dia harus membiarkan hukum berjalan."
"Dan Sumantri?"
"Kehilangan jabatan." Kusumawati tersenyum tipis. "Minimal. Kalau beruntung, hanya diasingkan. Aku dulu yang membantunya mendapatkan jabatan itu, jadi aku juga yang akan membantu mengambilnya kembali."
Cornelis menatap Jan Coen.
Jan Coen mengedikkan bahu.
"Aku sudah bilang istriku ini tidak punya belas kasihan. Aku suka itu. Cocok menemaniku di hutan."
"Belas kasihan adalah kemewahan." Kusumawati mengulang kata-kata yang sama seperti tadi. "Yang tidak bisa kupunya."
Hening sejenak.
Cornelis akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Aku akan mengatur semuanya." Dia bangkit. "Aku akan berkunjung ke kadipaten siang ini. Membawa laporan tentang pencarian. Dan ... menunggu."
"Terima kasih, Komisaris." Kusumawati tersenyum puas.
"Jangan berterima kasih dulu. Aku melakukan ini karena Jan teman lamaku. Aku berhutang budi sangat banyak kepadanya. Bahkan hutang nyawa juga. Dan karena penyelundupan opium memang harus diberantas. Bukan karena aku setuju dengan cara Gusti Ayu."
Kusumawati tersenyum, lebih licik.
"Aku tidak meminta Komisaris setuju." Suaranya halus. "Hanya meminta Komisaris melakukan tugasnya. Menegakkan hukum."
Cornelis menatapnya lama.
Lalu menghela napas panjang.
"Kau benar-benar cocok dengan Jan." Dia menggeleng. "Sama-sama mengerikan."
Jan Coen tertawa.
Kusumawati tidak.
Tapi senyumnya sedikit lebih mengembang.
‘Satu langkah lagi.’
‘Tinggal menunggu.’
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏
keti memuji anak tiri'a🤭🤭🤭jd malu
arjo blm up lg... kangen ulah'a yg bikin senyum"😊