NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:59.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Menikah

Tapi wajah Kusumawati tetap tenang.

Senyumnya tetap terpasang.

Tangannya meraih tangan Jan Coen.

"Tentu." Suaranya halus berwibawa khas ningrat tinggi. "Ayo kita mulai."

‘Tidak apa-apa.’

‘Ini hanya nikah siri.’

‘Aku akan menemukan cara.’

‘Raden Ayu selalu menemukan cara.’

\~\~\~

Pernikahan itu berlangsung sederhana. Diabadikan oleh kamera komisaris.

Di ruangan belakang rumah Cornelis, penghulu tua dengan sorban putih membacakan ijab kabul. Jan Coen yang baru saja mengucapkan syahadat beberapa menit sebelumnya—mengikuti setiap kata dengan lidah yang masih kaku, mas kawin berupa uang sejumlah lima ratus gulden—tunai.

Slamet dan seorang pria Melayu—pembantu rumah tangga Cornelis yang kebetulan Muslim—menjadi saksi.

Kusumawati duduk di hadapan penghulu dengan wajah datar, tapi dalam hati sibuk menenangkan diri sendiri.

‘Ini hanya formalitas.’

‘Jangan takut.’

Penghulu mengangguk. "Sah."

Jan Coen tersenyum lebar.

Kusumawati tidak tersenyum.

Setelah penghulu dan saksi-saksi keluar, mereka pindah ke ruang kerja Cornelis.

Ruangan yang rapi. Meja kayu besar di tengah. Rak-rak penuh berkas dan buku hukum. Peta Hindia Belanda tergantung di dinding. Bendera kolonial di sudut.

Cornelis duduk di kursi utama, Jan Coen dan Kusumawati di kursi tamu.

Di atas meja, tergeletak beberapa lembar dokumen.

"Nah." Cornelis mengambil pena, mencelupkan ke tinta. "Ini surat pernyataan pernikahan. Tidak resmi secara hukum kolonial, tapi cukup kuat sebagai bukti."

Dia menandatangani dengan gerakan cepat.

"Aku sebagai saksi dari pihak pemerintah kolonial. Komisaris Besar Polisi Wilayah Selatan." Cornelis mendorong dokumen ke arah Jan Coen. "Sekarang kau."

Jan Coen menandatangani dengan semangat. Senyum tak pernah lepas dari wajah.

Lalu dokumen itu bergeser ke Kusumawati.

"Gusti Ayu?"

Kusumawati menatap kertas di depannya. Seperti menatap putusan eksekusi.

Hitam di atas putih. Nama-nama saksi. Tanda tangan. Cap jempol.

Semuanya tercatat dan terdokumentasi.

‘Sial.’

‘Ini bukan nikah siri biasa yang bisa disangkal.’

‘Dengan Komisaris Besar sebagai saksi ... dokumen ini punya kekuatan hukum.’

Tapi wajahnya tetap tenang.

‘Tidak apa-apa.’

‘Aku bisa menghabisi semua orang ini nanti kalau sudah kembali ke kadipaten.’

‘Yang penting sekarang … Jan Coen harus mengalahkan adik-adikku dulu.’

‘Setelah mereka semua disingkirkan …. barulah aku pikirkan langkah selanjutnya.’

Kusumawati mengambil pena. Menandatangani.

"Selesai." Cornelis mengambil dokumen, meniup tinta agar kering. "Mulai hari ini, kalian resmi suami istri. Setidaknya di mata Tuhan dan di mata hukum adat."

Jan Coen tersenyum puas.

Kusumawati tidak berkomentar.

Slamet dan pembantu rumah tangga sudah keluar.

Tinggal tiga orang di ruang kerja.

Cornelis menuangkan teh ke tiga cangkir, menyodorkan ke Jan Coen dan Kusumawati.

"Jadi." Dia bersandar ke kursi. "Jan sudah menceritakan situasinya padaku. Tentang adik-adik Gusti Ayu. Tentang penyelundupan opium. Tentang rencana pembunuhan."

Kusumawati menyesap tehnya. "Lalu?"

"Gudang opium sudah kami serbu pagi tadi." Cornelis melanjutkan. "Sebelum kalian datang. Barang bukti disita. Beberapa orang ditangkap."

"Kartodirjo?"

"Belum." Cornelis menggeleng. "Dia tidak ada di lokasi. Tapi kami sudah menyebar mata-mata. Cepat atau lambat, dia akan tertangkap."

Kusumawati mengangguk.

‘Bagus.’

‘Satu langkah.’

‘Singa besar ini benar-benar berguna.’

‘Tidak rugi aku menikah dengannya.’

"Ada kabar lain yang mungkin menarik untuk Gusti Ayu." Cornelis menatapnya. "Tentang pencarian."

"Pencarian?" Kusumawati menaikkan satu alis cantiknya.

"Pencarian Gusti Ayu sendiri." Cornelis tersenyum tipis. "Bupati Soedarsono memang menyembunyikan kabar menghilangnya Gusti Ayu dari publik. Tapi diam-diam, dia tetap melakukan pencarian."

Kusumawati terdiam. Raut wajahnya berubah sendu saat nama putranya disebut.

"Kami menerima permintaan resmi dari kadipaten. Meminta bantuan kepolisian untuk mencari Gusti Ayu secara diam-diam." Cornelis menurunkan suara. "Kami mengerti ada sesuatu yang disembunyikan. Untuk keamanan Gusti Ayu."

Kusumawati menatap cangkir tehnya.

‘Soedarsono mencariku.’

‘Putraku ... mencariku.’

‘Dia tidak melupakanku.’

Ada sesuatu yang berdesir di dadanya.

‘Mungkin dia tidak seburuk yang kukira.’

"Nah." Jan Coen meletakkan cangkirnya. "Sekarang kita bicara soal rencana selanjutnya."

Cornelis mengangguk.

"Dari informasi yang Jan dapat—dari mantan anak buah Gusti Ayu yang sekarang bekerja untuk kita—ada rencana menyelundupkan pembunuh ke kadipaten."

"Lewat kereta Susilowati." Kusumawati menambahkan. "Istri putraku. Putri Bupati Sumantri."

"Ya." Cornelis mengerutkan dahi. "Rencana yang cukup cerdik. Pembunuh menyamar sebagai pengawal kereta. Masuk ke kadipaten dengan alasan menjenguk mertua. Tidak ada yang curiga."

"Kecuali kalau ada yang memberitahu sebelumnya." Jan Coen tersenyum.

"Tepat." Cornelis mengangguk. "Aku akan mengirim beberapa orang ke kadipaten. Diam-diam. Bersiap di sana. Saat pembunuh mencoba beraksi—"

"Tangkap basah." Kusumawati memotong. "Di depan saksi."

"Lebih baik lagi." Jan Coen menambahkan. "Di depan Komisaris Polisi sendiri."

Cornelis mengangkat alis.

"Kau ingin aku hadir langsung?"

"Kenapa tidak?" Jan Coen mengedikkan bahu. "Kau bisa datang dengan alasan melaporkan perkembangan pencarian Gusti Ayu. Tidak mencurigakan."

Cornelis berpikir sejenak. Lalu mengangguk.

"Bisa diatur."

"Bagus." Kusumawati meletakkan cangkirnya. "Kalau Komisaris Besar sendiri yang menyaksikan penangkapan ... Bupati tidak bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan."

Cornelis menatapnya.

"Maksud Gusti Ayu?"

"Soedarsono itu anak yang baik." Suara Kusumawati sedikit bergetar. "Terlalu baik. Kalau tidak ada campur tangan pemerintah kolonial, dia akan mencoba menyelesaikan masalah ini secara internal. Diam-diam. Tanpa membuat skandal. Untuk menyelamatkan nama baik istrinya yang tidak berguna itu."

Matanya menyipit berbahaya.

"Tapi aku tidak mau begitu."

"Lalu?"

"Aku mau Sumantri dihukum." Kusumawati berkata dengan nada yang dingin. "Bupati Sumantri. Ayah Susilowati. Dia telah mengkhianatiku. Aku mau dia mendapat hukuman yang berat."

Cornelis terdiam. Melirik Jan Coen yang menatap Kusumawati dengan sorot memuja.

"Dia yang menyuruh putrinya membawa pembunuh.” Kusumawati melanjutkan tanpa ampun. "Dia yang merencanakan pembunuhanku. Kalau Komisaris Besar menyaksikan sendiri, kalau ada bukti dan saksi resmi dari pemerintah kolonial, Soedarsono tidak punya pilihan. Dia harus membiarkan hukum berjalan."

"Dan Sumantri?"

"Kehilangan jabatan." Kusumawati tersenyum tipis. "Minimal. Kalau beruntung, hanya diasingkan. Aku dulu yang membantunya mendapatkan jabatan itu, jadi aku juga yang akan membantu mengambilnya kembali."

Cornelis menatap Jan Coen.

Jan Coen mengedikkan bahu.

"Aku sudah bilang istriku ini tidak punya belas kasihan. Aku suka itu. Cocok menemaniku di hutan."

"Belas kasihan adalah kemewahan." Kusumawati mengulang kata-kata yang sama seperti tadi. "Yang tidak bisa kupunya."

Hening sejenak.

Cornelis akhirnya mengangguk.

"Baiklah. Aku akan mengatur semuanya." Dia bangkit. "Aku akan berkunjung ke kadipaten siang ini. Membawa laporan tentang pencarian. Dan ... menunggu."

"Terima kasih, Komisaris." Kusumawati tersenyum puas.

"Jangan berterima kasih dulu. Aku melakukan ini karena Jan teman lamaku. Aku berhutang budi sangat banyak kepadanya. Bahkan hutang nyawa juga. Dan karena penyelundupan opium memang harus diberantas. Bukan karena aku setuju dengan cara Gusti Ayu."

Kusumawati tersenyum, lebih licik.

"Aku tidak meminta Komisaris setuju." Suaranya halus. "Hanya meminta Komisaris melakukan tugasnya. Menegakkan hukum."

Cornelis menatapnya lama.

Lalu menghela napas panjang.

"Kau benar-benar cocok dengan Jan." Dia menggeleng. "Sama-sama mengerikan."

Jan Coen tertawa.

Kusumawati tidak.

Tapi senyumnya sedikit lebih mengembang.

‘Satu langkah lagi.’

‘Tinggal menunggu.’

1
Ricis
Duuuhhh... digantung pas lagi penting²nya
Astuti Puspitasari
Kok ngebut ndoro? seneng sih, tapi sedih juga apakah akan segera berakhir /Frown/
Haniza Putri
lanjut pinisirin bingitttttt tauuuuuu
ian
keti juga ngebut apakah sudah mau berakhir ndoro??
Ani_Sudrajat
Lanjut thor..
Anonim
Ndoro
Astuti Puspitasari
Arjo lebih muda dan ga ada yang nyetir keputusannya, ga ada yang korup juga di belakangnya. Ga kaya bupati lama yang hanya wayang, ga bisa menentukan kebijakannya sendiri, bahkan hidupnya pun ditentukan ibunya /Grievance/
Muhammad Arifin
keti gak tau...klw anak ai rou,jatuh cinta sama putri residen.jd dech PDKT ma bapaknya 😁😁😁
Ricis
subjektif ya keti, biar anak musuh jg klo bagus ya bilang bagus.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
ʟᴀɴɢɪᴛ ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©§͜¢•🦢🍒
Semakin kesini semakin seru ndoro
RJN
Keti mengira kalo anaknyaa benar2 membencinya... 🥺🥺
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhhh kan meski putra dr org lain tp lisht haslinya
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Ario Umbaran
Padahal si bupati putra ai rou itu lg patah hati cintanya ditolak anak residen..

Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
Zia Zee
Ndorooo.. aku padamu 😭😭😭
maturnuwun uda update🙏
Haniza Putri
jadi kngen arjo ama Agnes
Elsker
kandang macan jadi rumah yang nyaman yah nyai Keti
Elsker
arjo mmg lebih cekatan..apalagi udah ada something ama residennya 🤣🤣🤣
Kustri
jan coe betul
keti memuji anak tiri'a🤭🤭🤭jd malu

arjo blm up lg... kangen ulah'a yg bikin senyum"😊
Fetri Diani
akhir nya gusti ayu menemukan cinta sejati... selamat ya ndoro... semoga samawa.. bahagia selama lama nyaa.... 💃💃.. amin🙏😄
Astuti Puspitasari
Semangat beberesnya keti 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!