Para makhluk masih bergentayangan, misteri yang terselubung menyelimuti sekitar gedung sekolah. Desas-desus para makhluk ghaib yang menggangu dan meresahkan.Tidak bisa di pungkiri bahwa setiap tempat pasti ada makhluk halus yang bersemayam.
Sebut saja gedung A, Sekolah Menengah Atas favorit. Mengisahkan berbagai teror misterius yang membuat ribuan para anak-anak murid kesurupan. Bulan seorang anak indigo, salah satu siswa yang selalu melihat kejadian demi kejadian yang menimpa teman-temannya. Dia selalu dan selalu berusaha menyelamatkan teman sekelasnya dari kejahatan para makhluk di tempat tersebut. Akan tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Salah satu sahabatnya telah pergi selamanya. Di sisi lain, Makhluk berwujud manusia yang bernama Ikhsan belum tau pasti sebenarnya bersikap baik atau buruk kepada Bulan. Apakah Bulan akan menjadi korban selanjutnya? Tanpa di duga pula ada gangguan mistis di gedung lainnya.
🔥Jangan lupa dukung terus author ya. Salam santun. Syukron, terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati bermental baja
...Siapa yang memuliakan mu, maka muliakan lah dia. Dan siapa yang meremehkan mu maka jauhilah dirimu darinya....
...🔥🔥🔥...
Hanya segelintir teman yang dapat memahami kekurangan para anak indigo dan hanya Keluarga yang mau memahami semua yang telah kau lihat dengan nyata. Indera keenam, tidak semua bisa menerima segala penglihatan mengenai Makhluk astral. Kebanyakan teman dan sahabat berkhianat, membully, mengejek, mengucilkan dan menjauh. Hanya rumah dan ibu tempat para anak indigo berpulang.
Nai padi antara masak,
Esok jangan layu-layuan,
Intai kami antara nampak,
esok jangan rindu-rinduan.
Jangan merindukan lagi seorang teman atau sahabat yang tulus kepadaku mu.
Karena angin yang berhembus tidak lagi sama, Detik Waktu yang berganti hari esok tak lagi serupa. Roda rotasi bumi berputar pada porosnya, semua kadang di atas dan kadang di bawah. Hanya tinggal menunggu waktu, maka bersiaplah.
...----------------...
"Ya, aku melihatnya."
"Sebelumnya kau lihat, bagaimana wujudku"
Wujud Ikhsan yang terlihat aneh dan misterius. Bulan enggan mengucapkan, dia juga tidak ingin mengatakan apapun dan memberikan dikte kepadanya. Di pikiran yang timbul adalah sebuah kalimat yang jujur yang keluar dari perkataan Ikhsan. Bulan hanya terdiam memandangi temannya yang kini ternyata teman dari bangsa Makhluk ghaib.
"Jika kau mengetahui semuanya. Apakah kau masih mau menjadi temanku?"
"Aku sama sekali tidak mau."
Senyum tipis Bulan mencubit lengan Ikhsan. Sentuhan tangan yang menyentuh kulit Ikhsan terasa sangat dingin. Dia bahkan hari ini sedikit beraroma daun pandan. Bulan menggelengkan kepala dan memukul pelan keningnya sendiri.
"Ini nyata, aku sekarang tau jawabannya."
Batin Bulan melihat Ikhsan berwajah murung dan lebih pucat dari biasanya.
"Apakah kau salah satu korbannya dari kekejaman para tentara Belanda itu?"
"Asumsi engkau sedikit lagi tepat, yang benar adalah korban kekejaman tentara Jepang."
"Jadi, kau?"
Ikhsan mengangguk kan kepala dan tersenyum. Dia seperti sesosok arwah atau Makhluk salah satu penghuni gedung sekolah yang baik dan tidak mau mengganggu juga ikut campur semua kegiatan manusia. Hanya saja karena Bulan dapat melihatnya, sepertinya itu adalah terkecuali.
"Aku turut prihatin dan bersedih."
"Pematik pemberianku. Apakah masih kau simpan?"
"Untuk apa sebenarnya fungsi pematik itu?"
"Hei Bulan, sedang apa kau disitu? ibu guru Fera memanggil mu."
Jeritan Roni dari jendela kelas. Dia melihat Bulan sedang berdiri di samping gudang sambil berbicara sendiri.
Ketika Bulan telah pergi, Roni menghampiri tempat tersebut dan memandangi sekitar. Tidak ada seorangpun yang ada disana. Sekujur bulu kuduk merinding, ranting-ranting pohon di dekatnya bergoyang tanpa ada angin yang menerjang. Roni berlari-lari kecil menjauhi tempat itu, dia terlalu gemuk untuk bisa lari secepat kilat. Keringat bercucuran menebar bau badannya. Dia menemui Coki yang sedang duduk di kantin bersama ketika siswa lain.
"Ampun, bau banget badan Lo!"
"Ha, ha, hantu..."
Desah nafas dan suara Roni terbata-bata. Kelas telah usai namun Roni, coki dan ketiga teman lain masih berada di kantin. Mereka telah menyiapkan diri jika esok mendapat panggilan dari hukuman guru.
Diskusi pembicaraan anak laki-laki sepertinya lebih histeris dari pembicaraan perempuan. Tidak tanggung-tanggung lagi, sendok semakin panas, pukulan spatula yang sedang memasak di kantin memasak lima porsi pesanan mereka semakin kuat terdengar. Bersama iringan nada dering kerasnya suara siswa yang tertawa dan bercerita.
"Bulan? Siswi aneh itu? aku sudah menduga bahwa dia adalah perempuan yang misterius."
Kata Coki memukul-mukul meja.
"Ya benar, bahkan gue nggak selera mengajak dia berkencan. Ahahah."
Sahut Dana, memukul pundak Coki.
"Apakah kau benar melihat dia berbicara sendiri?."
Tanya Hendra sambil pandangan mata membaca komik. Dia ingin menimpali segala perkataan keterlaluan mereka di pikirannya.
"Ya benar, aku tidak bohong. Aku berani diet selama satu jam kalau aku berbohong."
Roni mengangkat lalu mengepal kedua tangan.
"Tidak boleh mengatakan anak itu aneh, bisa saja dia memang benar melihat dan bisa melihat makhluk halus."
Hendra merapikan komik-komiknya dan menyusun ke dalam Ransel.
"Gadis itu memang aneh, bahkan dia seperti detektif yang mengetahui segala isu tindakan kriminal Beni."
"Ah sudahlah aku pulang saja."
"Udah lah Bro, santai aja dong. Gimana pesanan makanan lu?"
"Buat Roni aja, gue capek."