Pernikahan Serena dan Sabir terjalin karena keduanya sepakat untuk pulih bersama setelah dikhianati kekasih masing-masing. Terbiasa berteman selama ini membuat perasaan cinta tumbuh serta-merta. Namun, di saat semua nyaris sempurna, Tuhan memberikan Sabir cobaan dalam urusan kerja. Di mulai dari sini, akan mereka temukan arti cinta, pertemanan dan keluarga yang sebenarnya.
Mari, ikuti lika-liku perjalanan Bapak Masinis dan Ibu Baker yang ingin menjadi pasutri apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redchoco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pesan tak diharapkan
Sabir terlihat aneh di mata Ajie dan Umang sang penjaga ternak. Sejak datang dengan motor tua yang bunyi knalpotnya saja sudah bisa mematikan hasrat cicak yang mau bercinta di langit-langit kandang, pria itu senantiasa bersenandung. Bahkan yang mengherankan, tidak biasanya Sabir sampai menyapa bebeknya satu per satu. Serius. Ada lebih dari 130 bebek petelur, dan itu yang sejak tadi disapanya. Tak lupa, Sabir juga menyalami Umang dan Ajie sampai tiga kali. Katanya, lagi pengin salaman aja. Mempererat kekeluargaan, juga.
"Jadi kenapa ini bebeknya banyak yang mati?" Sabir mulai mengintrogasi pekerja andalannya. "Apa yang salah?"
"Enggak tahu juga, Mas. Awalnya kejang-kejang begitu, kirain bakal baik-baik aja kalau dibiarin. Ternyata pas dua jam ditinggal, bebeknya mati. Terus pelan-pelan yang lain pada ngikut kejang. Sama Ajie tadi ditelpon lah ibu Sulastri. Katanya, kelumpuhan dan kejang itu gejala penyakit botulism. Penyebabnya barangkali karena makanan yang basi, tapi rasa-rasanya pakan ternak selalu kami cek kondisinya dan selalu baik kualitasnya, Mas. Enggak tahu apa yang dimakan bebek-bebek itu. Mungkin ada serangga atau apa gitu yang ke-makan. Terus, solusinya harus diberi antiracun, kayak minyak kelapa, sama diberi minum yang banyak kalau lihat ada bebek yang kejang lagi."
Sabir manggut-manggut. Setidaknya mereka telah bertanya ke orang yang bisa dipercaya : ibu mertuanya yang kebetulan penyuluh peternakan.
"Mas Sabir, maaf banget ya, Mas. Kami enggak becus rawatnya. Lain kali akan kami perhatiin lagi dengan jeli kalau ada yang enggak beres sama bebek di kandang."
"Oh iya, iya. Enggak apa-apa. Mungkin memang udah ajalnya juga, kan, ya." Sabir tersenyum saja. Benar-benar keliatan bahagia seolah bebek yang mati lebih dari 50 ekor bukanlah kerugian besar.
Sontak saja Ajie dan Umang jadi bertanya-tanya. Bos mereka salah makan apa? Sampai-sampai tidak menangis padahal biasanya kalau bebeknya sakit satu aja, dia ikutan sakit.
"Udah engga soulmate lagi sama bebeknya," bisik Ajie pada Umang.
"Ya iyalah, ya. Soulmate-nya yang asli udah ada, kan. Istri. Lebih wajib disayang daripada bebek."
Keduanya manggut-manggut. Mungkin memang istrilah penyebab bos mereka baik-baik saja walaupun bebek yang konon dianggap anak itu telah terkapar kehilangan nyawa.
Di lain sisi, Sabir sedang heran dengan pesan yang tidak diharapkan muncul di layar. Dari Janu Baskara. Rasa-rasanya ia tidak punya nomor Janu.
Eh?!
Tergesa ia memerhatikan wallpaper serta case ponsel. Ini milik Serena!
***
Lonceng bergemerincing tatkala pintu masuk bakeri dibuka. Janu melangkah dengan percaya diri. Tanpa ba-bi-bu, menuju Serena yang kebetulan lagi duduk diam di salah satu kursi.
"Hai."
Serena yang sedang memainkan sedotan pada gelas berisi matcha, tersentak kaget.
"Eh, hai."
"Aku tadi kirimi pesan di WA, mungkin kamu belum baca, ya."
Sang puan mengerutkan dahi. Lantas membulatkan mulut begitu teringat mereka memang telah bertukar kontak kemarin.
"Oh ya? Bilang apa?"
"Mau nanya kamu di toko atau enggak, itu aja, sih. Ternyata kamu beneran di sini."
"Enggak ada tempat lain selain ini yang aku kunjungi, Jan." Perihal panggilan, Janu sendiri yang meminta dipanggil dengan nama. Katanya, dengan adanya embel-embel Mas, membuatnya jadi terkesan terlalu tua dari Serena. "Memangnya perlu apa nanyain keberadaan aku?"
"Enggak ada. Cuma mau mampir ke mari. Tapi malas kalau kamunya enggak ada. Jadi enggak punya teman ngobrol."
Serena mengangkat alis beberapa detik, sebelum mengangguk saja. Malas menanggapi karena sejujurnya ia sedang menahan nyeri di pangkal paha. Di depan Sabir tadi, boleh saja ia sok kuat. Padahal aslinya mau pingsan. Yang benar saja! Ini dibawa berjalan pun rasanya seakan menyengat. Kalau bukan pasangan sah, Serena pasti menyesal telah melakukannya. Untung ia dan Sabir suami-istri.
"Ngomong-ngomong, asisten kamu di mana?"
"Ningsih? Ada, tadi di dapur. Kenapa tiba-tiba nyariin dia?"
Janu tersenyum, lalu menggeleng singkat. Sejujurnya ada yang tidak Janu mengerti tentang Ningsih. Dia terlihat tidak asing di matanya, tapi bukan golongan orang yang Janu pernah bersinggungan, juga. Hanya... cukup familiar. Penampilannya sederhana, tapi kalau orang-orang mampu menilainya lebih, pasti menyadari dia punya aura berbeda.
"Ren, aku mau beli pain au chocolat," cetus Janu tiba-tiba, begitu melihat Ningsih kembali ke balik counter. "Sebentar, ya."
Serena mempersilakan. Lamat-lamat memerhatikan ruangan yang pada jam sepuluh pagi ini sedang diisi seorang ibu tua berambut uban, dengan pak tua yang sepertinya ialah suaminya. Mereka menikmati secangkir kopi hangat dengan croissant butter. Pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat. Dalam khayalan, ia membayangkan apakah nanti bisa sampai setua mereka, bersama suaminya, atau tidak. Nasib ke depannya tak ada yang tahu. Tetapi kalau boleh meminta, ia ingin merasakan tahapan menua itu dengan suaminya.
Janu siap membayar roti yang diambilnya. Tatkala kartu debitnya dikembalikan oleh Ningsih, ia menyeletuk, "Sri Asih Atmodjo?"
Perempuan di depannya, diam. Mata berkedip sesekali, kemudian menyahut, "Maaf, maksudnya apa, Mas?"
Mendapati reaksi itu, Janu menggeleng. "Ah, hanya menyebutkan nama random yang ada di kepala. Ini sudah selesai ya pembayarannya?"
Ningsih mengangguk.
Janu berlalu. Kembali mendudukkan diri di hadapan Serena.
"Mau?" tawarnya, menyodorkan pain au chocolat.
Serena menggeleng.
"Kamu enggak ada kegiatan apa pun selama di sini, Jan?"
"Ada. Ini lagi makan roti."
"Enggak, maksudku... di Jakarta. Kamu katanya cuma sebulan aja di sini."
"Jujur, aku pulang tanpa tujuan apa pun. Eh, ada deh. Yang waktu itu aku bilangin. Mau hadir ke nikahan temanku. Tinggal beberapa hari lagi acaranya."
"Setelah itu?"
"Kenapa tiba-tiba penasaran soal aku, Ren?"
Serena menyandarkan punggungnya ke kursi. "Enggak bermaksud. Cuma mau nanya aja, biar ada yang dibahas."
Mana mungkin Serena mengatakan dengan gamblang bahwa tujuannya bertanya adalah untuk membuat Janu berhenti hadir di hidupnya. Semacam... kalau dia punya kegiatan, kenapa tiap hari harus datang ke Serena? Jujur saja, sekali dua kali karena alasan sourdough, ia terbantu. Tapi kalau sampai mengulanginya, untuk sekadar mengajak ngobrol, Serena rasa mereka tidak sedekat itu. Entahlah, mungkin karena semalam, ia jadi merasa bersalah jika terus-menerus berkomunikasi dengan Janu di belakang Sabir seperti ini.
Janu berdiam cukup lama di Memoria. Lagi dan lagi, Serena tergugah begitu pria itu menawarkan untuk mengajari membuat macaron sebab Serena mengatakan hasil yang dibuatnya lebih sering keras, jadi sulit dinikmati. Akhirnya keduanya asyik di dapur. Yang mereka bahas pun tidak jauh dari roti-roti. Kadang Serena bertanya juga bagaimana pekerjaan chef yang dipangku laki-laki itu. Tidak terasa, sekarang sudah nyaris jam dua-belas.
"Ren, sudah mau tengah hari. Aku pamit, ya. Maaf banget selalu menganggu waktu kamu."
"Oh, aku yang ngerasa merecoki kamu dengan ngajarin bikin ini." Sebuah plastik berisi macaron yang telah jadi, Serena tunjukkan. "Ini lembut, resep kamu memang terbaik. Aku jadi bingung. Kamu sebenarnya chef atau justru seorang baker? Rasa-rasanya lebih handal dari aku yang baker ini."
Janu tertawa saja.
Kemudian keduanya membereskan dapur sejenak. Melepas apron yang sudah berubah warna karena beberapa kali terkena tepung, kemudian kembali menuju ruang utama. Namun, sebelum benar-benar melangkah, lengan Serena dicekal pria itu.
"Maaf." Serena melepas segera, agak tidak enak. Janu seharusnya tidak terlalu banyak menyentuh, karena dia tahu Serena sudah punya suami.
"Eh, iya, sori." Janu jadi kikuk. "Sebenarnya aku cuma mau bilang satu hal, soal Ningsih."
Lantas, Serena melirik ke arah asistennya yang sibuk melayani pembeli.
"Kenapa dengan dia?"
Ragu-ragu, Janu berbisik, "Aku enggak tahu apa motif dia, tapi beberapa kali saat aku ke mari, dia sering motoin kita diam-diam."
Mendengar informasi itu, tentu saja Serena terkejut. "Ningsih? Motoin aku sama kamu?"
Janu mengangguk.
"Dan satu hal lagi..." Sesaat, Janu menatap punggung wanita yang rambutnya diikat tinggi itu. "Ningsih enggak kelihatan berasal dari keluarga biasa, Ren."
"Maksudnya?"
"Kalau kamu bisa menilik lebih dalam, kamu pasti nyadar kalau Ningsih punya sesuatu tersembunyi." Dia... si Ningsih itu, seperti orang kaya gabut yang bosan dengan harta, kemudian memilih bekerja. Setidaknya itu yang ditangkap Janu. Terlebih begitu ia merasa amat familiar dengan wajahnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Memoria bakery dua hari lalu.
Ucapan Janu masih terngiang-ngiang di kepala Serena bahkan sampai pria itu telah pamit dari sini.
Awalnya Serena tidak mau berpikir berlebihan. Hingga sesuatu mendesaknya untuk bertanya-tanya ketika menyadari ia telah salah membawa ponsel, dan sebuah pesan muncul di layar : dari Ningsih, untuk suaminya, Sabir.
Mas, hari ini Mbak Eren sama pria itu, lagi.
***
sehat selalu ya othor biar bisa update tiap hari 😍
Sabir kecelakaan kereta dahlah gabisa dilanjutkaaah selallu menunggu lho update mu🤦♀️
jadinya berkhayal kan akunya🤣
eh btw thor km nulisnya di PF mana nih aku mau baca karya2 mu nih masha allah 😍
maapkeun ya Ning ternyata km anak baik2 weei 🤣🔨
akankah terjadi huru hara.. semoga tyduuck😂
good job thor sukses selalu yaaakk🤗
beruntung nya kamu Serena dapet Sabir duuuuh pak suami idaman istri dan menantu idaman mertua weeeiii 🤣
𝒂𝒌𝒖 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒄𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒋𝒂 𝒎𝒍𝒆𝒚𝒐𝒐𝒐𝒕𝒕... 𝒂𝒑𝒂𝒍𝒈𝒊 𝑺𝒆𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒉𝒊𝒉𝒊 😂
𝒃𝒂𝒊𝒌𝟐 𝒚𝒂 𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏.. 𝑺𝒖𝒌𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒑𝒂𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒐𝒗𝒆𝒍 𝒕𝒑 𝒌𝒆𝒌 𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒂𝒔𝒕𝒂𝒈𝒂𝒂𝒂 🥰
𝒔𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒐𝒕𝒉𝒐𝒐𝒓 𝒖𝒑𝒅𝒂𝒕𝒆𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 ❤