Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Tidak apa-apa Bintang, mungkin dengan cara lain kita bisa kembali membangkitkan Alena." Bintang menunduk, air matana kini kembali jatuh berlinangan.
"Jangan khawatir, aku memiliki cara lain. Apa kamu mau tahu?" Kill tersenyum, Bintang mengangguk setuju.
"Biarkan aku yang menjaga Bintang untuk sementara," Kill mengajak Bintang ke luar ruangan, tangis Alix tiba-tiba terdengar kencang.
"Sebentar!" Bintang berbalik dan menyentuh tangan kecil Alix.
"Alix, Kakak pergi dulu ya? Hanya sebentar kok, nanti Alix sama Ayah jangan nakal ya?" Pinta Bintang dan mengecup kening Alix.
Seketika Alix menjadi tenang, Bintang tersenyum dan kembali berjalan di belakang Kill. Kill kembali terkejut melihat bagaimana kedekatan Bintang dan Alix.
.
.
.
"Hai Bintang?" Gin nampak berada di sebuah rungan khusus bersama dengan Al.
"Selamat pagi." Bintang menundukkan kepalanya memberi hormat, sikap dewasa yang di tunjukkan oleh Bintang membuat ketiga pemimpin itu menjadi kaku.
"Bintang, apa kamu mau belajar sesuatu?" Gin membuka sebuah peta besar yang merupakan titik tiga benua besar berada.
"Apa kamu tahu kita sekarang di mana?" Tanya Gin, sebenarnya Gin sangat yakin bila Bintang tak akan mengerti bentuk peta seperti itu.
"Kita di sini, dan aku adalah duke dari Udon. Ini adalah wilayah kekuasaan ku, dan ini adalah Lapileon yang sekarang menjadi Altair. Ini kota Nordin, dan ini adalah wilayah kekuasaan para iblis." Bintang menunjuk satu demi satu wilayah dalam peta itu.
"Wilayah iblis terbagi menjadi 4 bagain, yang ini adalah wilayah luar di mana para iblis kecil biasanya menggila. Ini adalah wilayah obat dan monster. Di sebelah sini adalah wilayah inti kekuasan iblis, dan ini adalah tempat di mana 12 pilar iblis berdiri." Bintang menunjuk satu demi satu wilayah Iblis.
"Untuk wilayah manusia, saat ini terbagi menjadi tiga wilayah." Bintang hendak menunjuk lagi wilayah manusia.
"Ini kota Nordin, di mana 5 pilar manusia berdiri. Ini adalah wilah damai bagi manusia termasuk Altair yang tinggal di dalamnya, sedangkan ini adalah wilayah perbatasan di mana benteng lima pilar yang sesungguhnya berdiri." Ucap Bintang lagi, ke tiga orang di sana tertegun dan tak bicara apa-apa.
"Luar biasa," Puji Gin tanpa di sadari, Al yang jarang terpesona juga kini nampaknya merasa takjub dengan kemampuan Bintang.
"Itu biasa saja, aku sudah mempelajari peta yang jauh lebih rumit dari ini." Ucap Bintang, Gin dan dua temannya menelan saliva merasa takjub.
"Apa kamu juga tahu mengenai dewa para bintang?" Tanya Gin, dia penasaran pengetahuan macam apa yang sudah di serap bocah sekecil itu.
"Tentu saja, dalam buku kuno tercatat. Meski hanya tinggal mitos saja, dewa para bintang lahir dengan 12 bintang yang terukir dalam lautan spiritualnya. Adapun trntang kemapuannya yang sudah menjadi legenda agaknya hanya dongeng tidur saja." Ucap Bintang tenang, Kill menatap Bintang sekali lagi.
"Siapa yang mengajari mu semua itu?" Tanya Kill merasa penasaran.
"Ibu ku, dia menajari ku banyak hal saat dia mengandung Alix. Kak Elektra juga sudah memeriksa lautan spiritual ku," ucap Bintang, dia seolah mengatakan bila 'aku sudah tahu maksud kalian semua.'
"Aih, informasi yang di miliki bocah sepertinya terlalu banyak. Aku tidak yakin bila bocah berusia 10 tahun sekalipun akan mengetahuinya." Ucap Gin, dia menatap Bintang dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Paman, apa aku bisa masuk ke akademi di kota Nordin meski usia ku masih kecil? Aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Bintang, ke tiga orang di sana mengangguk setuju.
"Baiklah, kami akan berangkat besok. Kamu sebaiknya meminta izin pada Ayah mu." Kill akhirnya setuju, Bintang mengangguk dan menunduk sebelum akhirnya dia pergi.
.
.
.
"Ayah?" Bintang masuk ke kamarnya, dia tak mendapati Mattias. Dia berjalan menuju kamar Mattias dan akhirnya nampaklah mattias yang tengah menyuapi Alix dengan susu.
"Bintang? Lihat, Alix lahap sekali." Mattias meminta Bintang untuk mendekat, Bintang melihat Alix yang menikmati susunya dengan nikmat.
"Ayah, aku akan pergi ke kota Nordin." Ucap Bintang, Mattias tertegun.
"Ikut bersama mereka?" Tanga Mattias, Bintang menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak akan langsung masuk ke akademi, mereka akan mengajari mu di pilar terlebih dahulu." Mattias menjelaskan, Bintang mengangguk setuju dengan ucapan Mattias.
"Bintang, bisakah kamu berhenti memanggil ku Ayah?" Bintang nampak berkaca-kaca mendengar permintaan Mattias.
"Bukan maksudku melarang mu begitu Bintang, suatu hari kamu juga akan tahu bila yang aku lakukan ini demi kamu sendiri." Bintang masih berkaca-kaca.
"Berhentilah memasang wajah seperti itu, setelah usia Alix mencukupi, mintalah izin darinya. Apakah dia setuju untuk berbagi Ayah dan Ibu dengan mu?" Mattias tersenyum, Bintang tertegun dan mulai mengartikannya.
"Anda benar, tidak seharusnya aku mengambil Ayah dan Ibunya Alix tanpa izin darinya terlebih dahulu." Ucap Bintang, Mattias tersenyum dan mengangguk setuju. Meski Mattias sebenarnya menghindari konflik di masa depan yang mungkin akan berefek panjang.
"Panggil aku apa?" Tanya Mattias, Bintang nampak sejenak berfikir.
"Mamat Nakal?" Ucap Bintang, Mattias seketika tertegun dan terkekeh mendengarnya. Mamat, berasal dari kata Ma-tias di mana menggunakan pengulangan dan di sangkutkan pada huruf berikutnya.
"Kata siapa itu?" Tanya Mattias merasa gemas. Selain Alena yang dulu sering mengejeknya Lalat karena bernama Alta, tak ada yang berani mengejeknya seperti itu.
"Kata yang mulia Alena, saat dia marah dia akan bilang seperti itu." Ucap Bintang, Mattias terkekeh dan mengecup kening Bintang.
"Yang benar manggilnya, jangan sembarangan begitu!" Mattias tersenyum tak kala melihat Alix yang terlelap.
"Yang mulia Kaisar." Ucap Bintang, Mattias menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Paman Kaisar, agaknya itu lebih keren." Ucap Mattias, Bintang mengangguk setuju.
.
.
.
Keesokan harinya, Bintang akhirnya ikut bersama 3 orang pemimpin kuil untuk melakukan pelatihan. Mattias dan Alix setara benerapa orang memberikan banyak persiapan untuk Bintang.
Elektra bahkan sampai menangis dan memberikan sabuk berharganya yang merupakan tempat penyimpanan barang yang sangat langka, bahkan dalam lelang sekalipun barang itu jarang muncul.
Pemimpin dari para manusia suci juga memberikan sebuah kantong penyimpanan, di mana terdapat banyak obat di dalamnya. Selain itu, kantong yang di berikan oleh Pemimpin manusia suci dapat menampung benda hidup.
Kakek Daisy juga memberikan beberapa benda-benda sihir yang dapat menjaga Bintang, para penyihir memberikan banyak jimat dan batu mulia. Sedangkan para manusia suci memberikan banyak makanan nikmat.
Para pandai besi juga membuatkan sebuah belati kecil dan panah kecil untuk Bintang, para prajurit juga nampak bersedih meski mereka semua terluka parah.
Bintang akhirnya pergi meninggalkan tanah Altair menuju ke kota Nordin, Mattias lega melihatnya. Alix juga tidak rewel saat mendapatkan mantra perpisahan dari Bintang, sebuah kata-kata yang di ucapkan Bintang pada Alix seolah menjadi mantra penenang bagi bayi mungil itu.