DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.32 Perfect honeymoon part.2
Hari kedua, Zia berada di hotel ini untuk honeymoon. Seharian ini Shakti tidak mengijinkannya keluar untuk jalan-jalan, ataupun sekedar makan. Mereka benar benar menghabiskan waktunya di kamar hotel.
Mungkin, selain terlalu lama berendam, Zia juga terlalu lelah. Karena pas hari pertama tiba di kota ini, dia menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan. Karena itu, Shakti ingin Zia istirahat dengan mengurungnya di kamar ini.
Zia hanya duduk di sofa menonton televisi, sambil memainkan ponselnya untuk menghabiskan harinya. Atau seperti sore tadi, duduk di pinggir kolam renang, tapi tidak berniat berenang, hanya sekedar bermain air dengan kakinya.
Begitulah, seharian ini yang Zia lakukan. Bosan?Tentu saja dia sangat bosan. Karena dia melakukannya sendirian.
Sejak berciuman tadi pagi, Shakti berusaha menghindarinya. Berusaha menjauh dari Zia, Shakti memang tidak kemanapun. Dia ada di kamar hotel menemani Zia, tapi dia menyibukkan diri dengan urusan bisnisnya. Setiap libur, memang selalu Shakti ambil untuk memantau bisnisnya yang tak dia jalankan sendiri. Zia tidak marah dengan sikap Shakti, karena dia tau apa alasan suaminya itu menjauhinya.
"Shak, please ... kita keluar yuk. Aku sudah sehat, badan ku juga sudah tidak panas," Zia merengek pada Shakti yang sedang duduk di depan laptopnya.
"Besok kita harus pulang pagi-pagi sekali, jadi kamu harus istirahat supaya nggak kesiangan. Kamu kan kalau tidur kayak kebo, susah di banguninnya."
"Ini kan malam terakhir kita di kota ini, dan kita ke sini kan, buat honeymoon, bukan buat pindah tidur. Masak nggak ada kenangan romantis."
"Please ... kita dinner romantis malam ini, biar punya kenangan. Ya kali, honeymoon seharian di kamar aja."
Shakti mengalihkan perhatiaan dari laptop untuk menatap Zia.
"Bukannya honeymoon itu memang menghabiskan waktu seharian di kamar, ya?"
"I-iya, itu kalau kita beneran honeymoon. Ini kan, kita cuma pura-pura," sungut Zia.
"Kita nggak pura-pura, kita memang beneran honeymoon. Berdua menghabiskan waktu seharian di kamar. Begitu kan yang namanya konsep perfect honeymoon," jawab Shakti.
Melihat Zia yang memberengut kesal, Shakti terlihat berpikir sejenak, mempertimbangkan keinginan istrinya.
"Kamu mau dinner romantis?"
Zia mengangguk.
"Ok." Shakti tersenyum penuh arti.
"Sekarang kamu ganti baju sana!"
"Beneran, kita dinner?"
Shakti mengangguk yakin.
Setelah berapa saat, Zia keluar dengan gaun hitamnya, yang sangat kontras dengan kulitnya. Gaun hitam yang sengaja ia persiapkan untuk acara dinner romantis honeymoon-nya. Gaun yang memiliki belahan tinggi hingga bisa menampakkan paha mulusnya itu, melekat pas di tubuh ramping Zia. Dia menyanggul rambutnya, memperlihatkan kulit lehernya yang putih mulus. Zia tak banyak memakai aksesoris hanya anting berlian kecil hadiah dari Mami Laura saat pernikahannya.
Shakti yang melihat penampilan Zia malam itu, langsung terpana, tak bisa berkata-kata. Seolah mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depannya ini.
"Shak ... hallo!" Zia menggerak-gerakkan tangannya di depan mata Shakti yang tak menyahut saat di panggil.
"Dokter Shakti!!!" akhirnya Zia sedikit teriak agar suaminya itu tersadar.
"I-iya, kenapa?" jawab Shakti tergeragap.
"Katanya mau dinner romantis?" Zia mulai berubah mood.
Shakti tersenyum, dan langsung menggandeng tangan Zia menuju ke kolam renang.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Zia yang merasa heran. Katanya tadi mau dinner romantis, kok malah dibawa ke kolam renang.
"Katanya dinner romantis, itu!" tunjuk Shakti pada meja di pinggir kolam renang.
Shakti tidak ingin membawa Zia keluar kamar. Karenanya, tadi dia memesan makanan dari hotel, dan menyiapkan makan malam mereka di pinggir kolam renang. Lengkap dengan lilin dan bunga, seperti dinner romantis pada umumnya.
"Kenapa di sini! aku maunya kita dinner di restoran. Aku bosan di kamar terus!" Zia mengerucutkan bibirnya supaya Shakti tau kalau ini bukan seperti yang dia inginkan.
Dia ingin keluar melihat suasana yang berbeda, juga orang yang berbeda. Karena seharian ini hanya Shakti lah yang ia lihat.
"Aku sedang banyak pekerjaan, tidak bisa kalau harus keluar, kita dinner di sini saja. Ok!"
Zia melirik Shakti, memperhatikan Shakti dari ujung rambut hingga kaki.
"Terus, kenapa kamu berpenampilan seperti ini, sementara kamu nyuruh aku ganti baju." Protes Zia, yang melihat Shakti hanya memakai celana selutut dan kemeja lengan pendek, baju yang dari tadi dipakainya.
"Aku hanya memintamu ganti baju, aku tidak menyuruhmu berdandan, tapi ... kamu cantik," puji Shakti.
Pipi Zia langsung bersemu merah mendengar pujian dari suaminya, seingatnya ini pertama kalinya suaminya itu memujinya. Meskipun senang karena dipuji, tapi tak juga menghilangkan rasa jengkelnya pada suaminya itu, Zia merasa dia dikerjai.
"Sudah, ayo kita makan! nanti keburu dingin makanannya."
Dengan malas Zia mengikuti Shakti duduk di bangku pinggir kolam renang.
Selesai makan malam yang Shakti sebut sebagai dinner romantis, Zia memilih untuk meninggalkan suaminya itu, untuk tidur. Sebelumnya, dia mengambil baju ganti di lemari. Saat membuka lemari, dilihatnya paper bag yang kemarin diberikan pak Joko di bandara. Zia tidak tahu apa isinya, karena memang belum ia buka, pemberian dari mama mertuanya itu.
Di bukanya paper bag itu, dan diambilnya apa yang ada di dalamnya. Zia melongo melihat isinya yang ternyata beberapa lingeri, tidak cuma satu, tapi ada tiga. Yang sengaja mama Kinan berikan untuknya. Ada pesan tertulis juga di dalamnya.
Pakai ini untuk menyenangkan suami, sengaja mama kasih tiga. Supaya suami kamu nggak bosan.
~ mama tunggu hasil kerja keras kalian ❤
Membaca pesan dari Mama Kinan membuat Zia mengerutkan keningnya. Tak percaya, kalau mama mertuanya bahkan memikirkan hal seperti ini.
Di letakkan nya kembali lingeri itu kedalam paper bag dan menaruhnya di lemari. Saat menutup pintu lemari, Zia terpikirkan oleh sesuatu. Dibukanya lagi lemari itu, dan diambilnya barang yang ia inginkan.
Setelah mengganti bajunya di kamar mandi, Zia menghampiri Shakti yang masih asyik dengan laptopnya.
"Sayang," panggilnya dengan suara menggoda. Untuk membuat Shakti mengalihkan perhatiannya pada Zia.
Zia tidak pernah memanggil Shakti seperti itu. Dan yang lebih mengagetkan Shakti, adalah pakaian yang Zia kenakan saat ini.
Zia mulai melangkah, mendekati Shakti dengan lingeri warna merah, yang terlihat mencolok saat melekat di tubuhnya. Rambut yang tadi ia sanggul ia lepaskan, dan ia biarkan tergerai menutupi punggungnya. Dengan kaki telanjangnya, Zia berdiri tepat di depan Shakti.
"Apa yang kamu pakai?" tanya Shakti gugup.
Zia hanya tersenyum, tak menjawab. Tanpa ijin, Zia langsung duduk di pangkuan Shakti. Terlihat jelas wajah Shakti yang ketakutan akan sikap Zia. Hal yang selalu Shakti takutkan adalah, jika Zia sudah bersikap agresif. Bukan apa-apa, Shakti hanya takut tak bisa mengontrol hasratnya.
"Kenapa, kamu pakai itu?" tanya Shakti lagi.
"Buat nyenengin, kamu," bisiknya di telinga Shakti.
Suara Zia yang parau, terdengar lembut di telinga Shakti. Membuat tubuh Shakti seketika terpancing.
"Turunlah, aku tidak ingin melakukannya sekarang!" pintanya yang masih bisa mengendalikan diri.
Terdengar kasar memang, penolakan Shakti ini, tapi ini yang harus ia lakukan, agar Zia tidak melanjutkan aksinya. Zia tidak peduli dengan penolakan Shakti, tidak juga sakit hati dengan penolakannya yang kasar. Zia justru mengalungkan lengannya ke leher suaminya itu.
Zia mulai mendekatkan wajahnya untuk menyentuh wajah suaminya, tapi Shakti justru menjauhkan wajahnya untuk menghindar.
Zia tersenyum melihat penolakan Shakti. Dipegangnya kedua pipi suaminya seolah mengunci agar tak lepas. Zia mendekatkan kembali wajahnya, hingga hidungnya menyentuh hidung suaminya. Saat bibirnya menyentuh bibir suaminya, Zia diam di sana. Menunggu reaksi suaminya. Seperti dugaannya, Shakti tidak akan meresponnya.
Zia menarik bibirnya, dan tertawa keras. Mentertawakan ketakutan suaminya itu.
"Bagaimana, apa kau senang?"
Melihat sikap Zia, Shakti tersadar kalau ia di permainkan.
"Itu balasan untuk mu! karena sudah mempermainkan aku dengan dinner romantismu itu."
Zia lantas berdiri dari pangkuan suaminya, meninggalkannya dengan tawa puas. Dia berhasil membalas Shakti, yang telah menipunya dengan dinner romantis ala Shakti. Dinner yang tak sesuai harapannya. Namun, sekarang Zia sangat puas setelah menikmati wajah ketakutan Shakti.
.
.
.
.
.
.
.
.
Like ... komen ... dan Vote yak.
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?