Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan
“Aku tidak suka ya kamu berpelukan dengan pria lain!”
"Pria lain siapa?"
Ignazio mencubit hidung Fiona cukup kencang karena sedikit kesal. "Kamu pikir aku tidak tahu, jika kamu berpelukan dengan Anthony?"
"Aaw sakit," keluh Fiona. Ia menyingkirkan tangan Ignazio yang mencubit hidungnya sampai memerah. "Dasar Refal mulut ember," gerutu Fiona dengan nada berbisik agar suaminya tidak mendengar.
"Kamu bicara apa barusan? kenapa harus berbisik?" tatapan Ignazio penuh selidik.
"Engga kok, ah aku sampai lupa. Ayo kita makan kuenya," tangan Fiona antusias mengambil kue.
"Awas ya sekali lagi berpelukan dengan pria, ginjalmu aku cubit. Biar tau rasa!"
Bibir Fiona mengerucut mendengar ancaman suaminya. "Iya enggak, tadi tuh cuma ke enakkan aja."
"Apa?"
"Eh bukan, maksud aku kelepasan." Fiona beringsut saat melihat mata Ignazio hampir keluar.
"Udah ah, ayo kita makan kuenya," ajak Fiona. agar perhatian Ignazio teralihkan untuk tidak membahas Anthony lagi.
***
Ignazio keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya yang duduk di atas tempat tidur sambil memijat kakinya. Ia ikut bergabung dan mengambil alih tugasnya. Tangan Ignazio memijat kaki Fiona dengan perlahan. “Sakit sekali?”
Fiona mengangguk. “Sangat sakit,” keluh Fiona. Ia meringis saat Ignazio memijat kakinya sedikit kencang.
Ignazio memelankan pijatannya. “Memangnya kamu habis melakukan apa hari ini, kenapa sampai sakit?”
“Kue itu aku yang membuatnya bersama Bu Sutri hingga kakiku kebas dan kesakitan terlalu lama berdiri.”
Ignazio tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti ini. “Terima kasih atas perjuanganmu, aku sangat menghargainya. Namun aku menyesal telah membuatmu kesakitan seperti ini hanya untuk membahagiakan aku.”
Fiona memeluk tubuh Iganzio. Kini ia suka wangi segar yang keluar dari tubuh Ignazio setelah mandi. Fiona sengaja mendorong tubuh Ignazio ke belakang hingga kini ia berada di atas tubuh Iganzio. Ibu jari Fiona menelusuri rahang tegas milik Ignazio. Beralih menyentuh kelopak mata Ignazio yang tertutup. Fiona memberikan kecupan singkat di bibir Ignazio. “Aku tidak tahu kapan hati ini mulai menyukaimu, yang aku rasakan aku tidak ingin kehilanganmu. Aku merasa sedih jika melihatmu terluka ... Suamiku aku mencintaimu sebagaimana kamu mencintaiku.”
Ignazio membuka kelopak matanya, tatapan mereka bertemu. Ignazio senang bukan main mendengar penuturan Fiona. Ia menggulingkan tubu istrinya perlahan hingga kini ia berada di atas. “Kini giliranku menyelesaikan semuanya,” tanpa aba-aba Ignazio menyambar bibir Fiona. Tangan nakalnya bergerak memeriksa sentuhan lembut ke bukit kembar Fiona.
Mereka melakukan kegiatan panasnya dengan penuh cinta dan kelembutan hingga mencapai puncak nikmatnya surga dunia. Iganzio mengecup kening Fiona. “Jangan pernah berhenti mencintaiku karena hidupku akan hampa jika tanpa cintamu.” Di akhir kalimatnya Ignazio menarik tubuh lemas Fiona ke dalam dekapannya.
***
Fiona sudah kepusingan tujuh keliling menghafal seluruh isi skripsinya. Ia berjalan mondar mandir di ruang tamu dengan bibir yang terus berbicara mengenai pertanyaan yang mungkin akan muncul saat sidang.
Ignazio menghampiri istrinya dan duduk di sofa memperhatikan Fiona yang tidak diam, dan bibirnya terus mengeluarkan suara mempresentasikan isi skripsi. “Waktunya istirahat Fiona, ini sudah jam sebelah malam.”
“Tunggu sebentar sayang, aku hanya tinggal menghafal bagian akhirnya saja,” jawab Fiona tanpa sekalipun menoleh ke arah suaminya.
Ignazio menarik tubuh Fiona hingga duduk di pangkuannya. “Diamlah bayi kita akan kelelahan jika terus di ajak berjalan.”
Tangan Ignazio mengelus perut Fiona yang sedikit menonjol. Kini usia kandungannya empat belas minggu, mereka telah berhasil melewati trimester pertama. Kepala Fiona bersandar pada dada Ignazio. “Kepalaku pusing, aku sudah lelah menghafal. Otakku seperti penuh, dan ingin segera meledak. Kenapa sidangnya harus besok, aku belum siap.” Fiona sedikit frustrasi, pasalnya jadwal sidangnya mendadak di majukan, sementara Fiona belum menghafal sama sekali.
Lengan besar Ignazio membelai rambut Fiona. “Kamu pasti bisa sayang.”
***
Keesokan paginya Fiona terus menghafal bagian skripsinya yang belum ia kuasai.
Fiona menunggu gilirannya dengan perasaan gelisah. Pikirannya mulai kacau. “Tenang Fiona, konsentrasi, semuanya akan berjalan dengan lancar.” Fiona menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia terus mengulang hingga merasa tenang.
“Fiona Havelaar silahkan masuk.”
Mendengar namanya di panggil jantung Fiona berdetak tidak karuan, kepalanya seperti blank bahkan ia sampai lupa judul skripsinya sendiri.
Tubuh Fiona panas dingin. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang sidang. Mata Fiona langsung bertemu dengan dosen pembimbing serta penguji.
Di tatap sedemikian rupa membuat Fiona bingung harus melakukan apa. Pintu terdengar di ketuk dari luar. Fiona terkejut saat melihat Ignazio yang masuk dan duduk di antara dosen penguji.
Senyum menawan dari Ignazio berhasil membuat Fiona sedikit lebih tenang. Ia kembali menenangkan diri sebelum memulai sidangnya.
Sepanjang sidan berlangsung Fiona berhasil memberikan jawaban dengan lancar. Ia keluar dengan senyum di bibirnya.
“Mau makan siang bersama?”
Fiona membalikkan tubuhnya ke belakang. Bibirnya tersenyum penuh arti, tanpa rasa malu Fiona memeluk tubuh Ignazio di depan umum. Sehingga mengudang perhatian banyak orang.
“Kamu tidak malu?” tanya Ignazio. Beberapa dosen yang ia kenal tersenyum ke pada Ignazio.
Fiona mendongakkan wajahnya menatap suaminya. “Malu, tapi untuk saat ini saja aku tidak malu,” jawab Fiona sungguh-sungguh. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ignazio, tempat paling nyaman bagi Fiona.
Setelah di rasa cukup Fiona melepaskan pelukannya dan menatap ke sekeliling, para mahasiswa memilih menunduk dari pada bertatapan dengan Fiona. Jelas mereka tidak ingin terlibat masalah dengan istri dari pemilik kampus. Satu bulan yang lalu Ignazio memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan kampus tersebut, ia harus membantu Fiona lulus lebih cepat.
“Ayo kita makan di kantin,” Fiona menggandeng tangan Ignazio tanpa ragu-ragu.
Kantin siang itu cukup padat, Fiona tidak kebagian tempat duduk. “Kita makan di luar saja,” ujar Fiona. Ignazio setuju dengan keinginan istrinya.
“Fiona,” panggil Feriska bersamaan dengan tangannya yang melambai-lambai.
Fiona tidak bisa begitu saja menyetujui ke inginannya, ia mencoba bertanya pada suaminya. “Kamu mau bergabung bersama teman-temanku?”
Mata Ignazio memandang ke arah bangku yang di duduki Feriska, Anthony dan satu pria yang Ignazio tidak tahu namanya.
“Jika tidak mau, kita bisa makan di luar,” tandas Fiona kala melihat ekspresi wajah yang terlihat enggan.
“Ayo aku ingin berkenalan dengan mereka.” Ignazio dan Fiona bergandengan tangan menuju meja temannya.
Anthony hanya melirik sekilas pada Ignazio, menunjukkan rasa tidak sukanya. “Ah, pria ini sepertinya masih mencintai Fiona,” batin Ignazio.
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜