Rate 21+🔥🔥🔥
Harap bijak dalam memilih bacaan.
Follow IG @honey.queen174
Novel ini merupakan sekuel dari novel ONE NIGHT LOVE DEVIL (PoV Rania). Disarankan untuk membaca novel itu dulu sebelum mampir ke sini biar makin mengerti dengan alur ceritanya.
___________________________________________
Aku mencintainya, tapi dia membenciku. Maka dari itu aku harus menggunakan cara licik untuk menjebaknya agar dia bisa menjadi milikku seutuhnya. Kaaran Dirga~
💕
💕
Rania Blanco, satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hati pria cassanova sepertiku. Berawal dari penolakannya yang membuatku sangat murka, hingga akhirnya aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Namun, saat aku pertama kali menyentuhnya, aku merasa ada hal yang istimewa yang dia miliki tapi tidak dimiliki oleh gadis-gadis yang pernah menghiasi malam-malamku sebelumnya.
Seolah menjadi candu, aku selalu menginginkannya lagi, lagi, dan lagi. Bukan hanya tubuhnya, tapi aku juga menginginkan hatiny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pekerjaan kami akhirnya bisa diselesaikan dengan cepat. Hari ini aku dan Roy langsung memutuskan untuk kembali ke tanah air.
Meskipun tidak pernah makan apa-apa lagi setelah memakan makanan pemberian Raymond tadi pagi, akan tetapi aku tetap merasa bersemangat karena tidak lama lagi aku akan bertemu dengan wanitaku.
Setelah melalui perjalanan udara selama hampir 20 jam, kami akhirnya mendarat di bandara tujuan.
"Tuan, Anda mau kembali ke villa dulu atau ...."
"Kita langsung saja menuju rumah Rania Roy," jawabku.
Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu. Aku sudah sangat merindukan Raniaku. Bahkan untuk saat ini, setelah melalui perjalanan panjang, rasa lelahku pun seketika menghilang ketika membayangkan bahwa aku akan segera bertemu dengan wanita yang berhasil merebut hatiku tanpa sisa tersebut.
"Baik, Tuan."
.
Saat dalam perjalanan menuju kota tempat tinggal wanitaku, aku kemudian menghubungi William.
"Will, bagaimana? Apa unitnya sudah siap untuk ditempati?" tanyaku lewat sambungan telepon.
"Sudah siap Tuan," jawabnya.
Di kota tempat tinggal Rania, aku memang sengaja membeli satu buah unit apartemen. Tadinya aku berniat untuk mengunjungi wanitaku setiap minggunya, tapi karena sekarang aku sudah mengetahui bahwa dia sedang hamil anakku, sepertinya aku tidak perlu lagi bolak-balik mulai sekarang. Untuk saat ini yang aku pikirkan adalah, bagaimana caranya agar dia mau menikah denganku.
Jika nantinya dia menolak ajakan menikah denganku menggunakan cara baik-baik, maka terpaksa aku harus mengancamnya menggunakan surat perjanjian itu lagi.
"Roy, apa kamu sudah menghubungi dokter Santi?"
"Sudah Tuan. Saat ini dokter Santi juga sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Saya baru saja mengirimkan alamat apartemennya kepada beliau," jawab Roy.
Dokter Santi adalah dokter spesialis kandungan yang aku percayakan untuk menangani kandungan Rania mulai detik ini hingga nanti saat wanitaku itu melahirkan anak-anak kami.
.
.
Setelah melalui perjalanan darat selama beberapa jam, kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Yaitu rumah wanitaku.
"Kamu saja yang masuk Roy, aku akan menunggu kalian di sini."
"Baik, Tuan."
Setelah menunggu selama 10 menit lebih, senyumanku pun mulai mengembang ketika melihat sosok yang sangat aku rindukan akhir-akhir ini muncul bersama Roy dari balik pintu gerbang rumahnya.
Dengan bibir mengerucut, dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingku. Begitu sopir mulai melajukan mobilnya, aku pun mulai membuka topik pembicaraan dengannya.
"Bagaimana kabarmu selama 1 bulan ini? Kita sudah 1 bulan tidak pernah bertemu. Apa kamu tidak merindukanku?" tanyaku, sambil tersenyum dan melihat wajah cantiknya dari arah samping.
"Kabar saya baik, tapi saya sama sekali tidak merindukan Anda," jawabnya datar, tapi lebih mirip dengan nada ketus. Dia bahkan terlihat sangat enggan untuk menatap ke arahku. Sebegitu bencinya kah dia padaku? Bahkan saat mengandung anakku pun dia masih merasa tidak suka padaku.
"Kalau kamu sedang berbicara denganku, maka tatap aku. Jangan memalingkan wajahmu dariku. Apa kamu lupa semua itu sudah diatur dalam surat perjanjian kita? Jika kamu melanggar, maka kamu akan mendapatkan hukuman," ucapku.
Seketika dia memutar kepalanya dan menatap ke arahku. Tapi masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi, menatap tajam dengan bibirnya yang mengerucut.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu benar-benar ingin mendapatkan hukuman? Kalau kamu sedang menatapku, kamu harus terlihat senang dan tersenyum. Semua itu sudah diatur dalam surat perjanjian."
Dengan sangat terpaksa dia menggantikan ekspresinya cemberutnya itu dengan wajah tersenyum yang dibuat-buat, membuatku semakin gemas saja padanya. Sepertinya dia sedang berakting di hadapanku, tapi sayang, aktingnya itu sangat buruk.
"Nah, seperti itu. Sebenarnya lebih natural lagi malah akan terlihat lebih bagus," ucapku. Aku terus menatapnya sambil tersenyum.
B e r s a m b u n g ...
___________________________________________
...Sorry baru sempat up.🙏...
kan gak masuk akal jadinya.
kalimat itu seperti belum pasti berubah selamanya😌
kata" lu kek sdh jadi orng bener aja,😏 lu masih sama breghseknya...njimmm😌
CEO kok bodoh.