NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Pulang

Pukul 01.00 pm.

Sudah empat puluh menit lebih, Luthfie menunggu Shasha di ruang tamu. Mereka bicara banyak hal tentang hari-hari yang mereka lewat di masa kuliah dulu. Namun, pandangan Luthfie tak lepas dari jam tangannya yang hampir menunjukkan pergantian angka. Sementara gadis yang ditunggunya belum juga turun dari kamar.

"Ketiduran apa, ya? Kok, lama banget."

"Santai ajalah. Mungkin dia masih betah."

"Bukan gitu, Dan. Besok kan sekolah, kalau pulangnya telat, nggak bisa istirahat dia. Belum lagi masih harus belajar," terang Luthfie, membuat Zidan menggelengkan kepala karena ucapan dan perhatiannya mengalahkan dia sebagai kakaknya Shasha.

Anita berinisiatif untuk menemui Shasha di kamarnya. Namun, belum sempat ia beranjak dari tempat duduk, Zidan sudah terlebih dahulu melihat kemunculan Shasha yang sudah berpakaian rapi sambil menenteng sepatu.

"Gak usah, Sayang. Tuh Shasha udah datang," ucap Zidan

"Iya, aku dah siap. Buruan yuk, Kak. Telat dikit, bisa kena macet kita nanti." Sementara dirinya mendudukkan diri karena harus memakai sepatunya dulu.

"Yang bikin telat kan kamu, Sha. Gak tau apa, dia nunggu ampe lumutan," kelakar Zidan sambil menunjuk Luthfie.

"Masa? Nggak papa deh, lumayan ada lumut buat kasih makan ikan." Shasha nyengir sambil menatap Luthfie yang tengah menopang dagu menghadap tepat ke arahnya.

"Agak cepetan pake sepatunya. Kalau enggak, aku yang pakein."

"Gadis mandiri kalau gak bisa pake sepatu sendiri, apa kata dunia?" ucapnya bangga sambil fokus pada tali-tali sepatu yang mulai dia ikatkan.

"Dunia mana kenal sama kamu. Kamu kan kuper, Anak manis." Sambil mengusap ujung kepala Shasha lalu Luthfie beranjak dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Shasha mengejarnya setengah berlari sambil mendengkus, begitu pun dengan Zidan dan Anita, mereka turut menyusul di belakang dengan santai.

"Aku pulang dulu, ya. Jangan kangen-kangen." Shasha memeluk Zidan dan Anita bergantian sebelum dia naik ke mobil.

"Baik-baik di sana ya, Sha," pesan Anita sambil merapikan kerudung adik iparnya. Disambut Shasha dengan senyum manis seraya mengangguk.

"Gue juga pamit pulang ke Bandung. Zidan, lo harus sering pulang. Gak takut apa kalau adik lo gue apa-apain?" Kali ini Luthfie sedikit berbisik.

"Gue pasti sering pulang ke Bandung. Jagain adik gue, awas aja kalau diapa-apain."

"Jangan ngajarin gue buat jagain dia. Lo tuh, yang gak pernah jagain dia." Luthfie sibuk membukakan pintu mobil buat Shasha lalu dia pun duduk rapi di belakang kemudi. Siap berangkat. Namun, dia masih saja sempat berkelakar dengan sahabatnya yang sejak kemarin itu berubah seperti musuh bebuyutan.

"Kalian kalau masih mau adu mulut, mending selesaikan di dalam rumah. Gak usah pulang dulu."

"Bener, Teh. Mereka kaya anak kecil, ya." Shasha ikut menimpali dari dalam mobil.

Luthfie tertawa. Dirinya juga tidak tahu, apakah sejauh dia menginginkan Shasha, Zidan akan menjadi seperti musuhnya. Bahkan, di detik-detik kepulangannya, mereka masih saja berdebat soal gadis itu.

"Bikin rame dulu soalnya abis ini kan rumah kalian bakalan sepi, lagi."

"Ya udah, berangkat sana! Nanti kemalaman nyampe rumah." Dengan berat hati, Zidan memberi isyarat supaya mereka cepat pergi. Luthfie pun tancap gas setelah keduanya sama-sama melambaikan tangan sebagai tanda pamit.

 

*********

 

"Ampun, dah! Nunggu kamu hampir sejam tadi, padahal biasanya kamu gak ribet kalau dandan. Ini udah kayak aktris mau konser aja." Di sela-sela melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Luthfie berkali-kali berdecak protes.

"Kamu...." Luthfie berkali-kali melirik ke samping sambil menelisik wajah Shasha.

"Apa?" Shasha membalas lirikan mata Luthfie.

"Jangan-jangan, pengen banget keliatan cantik di depan aku. Bener apa bener?" godanya membuat Shasha salah tingkah.

"Ish!" Spontan Shasha memukul lengan Luthfie yang tengah berada di atas kemudi. "Aku kan pake jilbab sekarang. Belum ngerti cara pakenya, jadi ya lama." Dengan hati-hati, Shasha menunjuk pashmina di kepalanya. Khawatir akan berubah posisinya jika terlalu banyak bergerak.

"Susah payah pake jilbab, apa untuk menutupi kepalamu yang botak itu?" Luthfie melirik sekilas. "Kamu malu dilihat teman-temanmu, ya?"

Shasha terdiam menatap pria tampan di sampingnya. "Emangnya gak boleh aku tutupin pake jilbab?"

"Bukan gak boleh. Maksudku, kalau nanti rambut kamu tumbuh lagi, apa jilbabnya juga mau dilepas lagi?" Luthfie balas menatap hanya sekilas.

"Rambutku bisa tumbuh lagi?" Wajah Shasha kembali berseri. Sementara Luthfie menghela napas sambil mengendikkan bahu membuat Shasha kecewa karena mengira bahwa jawaban Luthfie tak sesuai dengan harapannya.

"Gak papa juga sih, kalau rambutku habis." Shasha kembali meluruskan pandangannya ke depan. "Paling ... kepalaku kayak alien."

"Pasti tumbuh lagi, dong. Cuma rontok sebagian, nggak mungkinlah rontok semua. Cuman, sayang aja kalau nanti jilbabnya dibuka lagi, jadi banyak cowok yang liat rambutmu." Luthfie pura-pura kecewa dengan wajahnya yang datar.

"Aku juga mikir gitu, Kak. Nggak rela kalau rambutku dilihat sama kamu nanti. Jadi, mau aku tutupin aja selamanya."

"Suami kan boleh lihat semuanya? Doaku kenceng, loh, biar bisa nikahin kamu." Dengan tampang serius dia terus merayu.

"Doaku juga kenceng, biar nanti aku nikahnya gak sama kamu," balas Shasha tak kalah serius.

Seketika Luthfie membungkam mulut Shasha dengan telapak tangannya. Gadis itu kaget sambil menjauhkan diri.

"Eh! Tolong, ya. Kita bukan mahram, tangannya jauh-jauh sana!" Refleks, Shasha menepis tangan dokter muda di sampingnya.

"Hati-hati sama doa kamu. Aminin doa aku aja, udah. Siapa tau, ada malaikat lewat."

"Tau, ah. Fokus nyetir ajalah pokoknya, gak usah ngomong lagi." Wajah kesal Shasha membuat Luthfie terkekeh.

"Eh, nanti kita belanja dulu ya, sebelum nyampe rumah. Stok makanan kita pasti sudah habis," ajak Luthfie.

Shasha hanya menggerakkan alisnya tanda ia setuju.

 

********

 

Pukul 03.00 sore, mereka sampai di kota Bandung. Menyempatkan turun di sebuah supermarket yang paling dekat dengan rumahnya. Tepat ketika mereka turun dari mobil, tiba-tiba seseorang memanggil Shasha. Dia juga melambaikan tangan. Setengah berlari menghampiri tempat Shasha berdiri. Tepatnya, di samping sebuah mobil mewah milik Luthfie.

"Kak Rena?"

Rena masih sibuk mengamati tampilan Shasha yang baru dengan kerudungnya. "Ternyata beneran kamu. Aku kira tadi salah orang."

Shasha hanya tersenyum seraya menyipitkan matanya, lalu mengangguk.

"Kamu dari mana Sha? Tumben, loh." Rena menatap heran.

"Anu ... aku lagi nganter Kak Luthfie. Tau kan, Kak Luthfie? Dia yang sewa rumahku," terang Shasha.

"Kenalin, Kak, ini—" Baru saja Shasha ingin mengenalkan Rena pada Luthfie. Namun, sebelum ucapannya selesai, Luthfie sudah menyela.

"Aku tau, anakknya Tante Mira, 'kan?"

"Bet—" Lagi-lagi, ucapan Shasha terpotong. Karena Luthfie tiba-tiba memberikan kartu debitnya.

"Banana, kamu aja yang belanja keperluan rumah. Aku tunggu di sana sambil ngopi." Tanpa menunggu jawaban, Luthfie segera melangkah menuju kedai kopi, di sebrang jalan.

"Tunggu, Kak!" Panggilan Shasha tidak dihiraukan. Akhirnya, Shasha mengajak Rena masuk ke pusat perbelanjaan.

"Kak Rena mau masuk juga? Bareng aja."

"Iya, Sha. Peralatan mandiku abis." Mata Rena yang masih mengikuti ke mana Luthfie pergi, langsung merengkuh bahu Shasha. Mereka berjalan masuk ke tengah riuhnya suasana pasar swalayan. Sebenarnya, Shasha lebih sering belanja di pasar tradisional, tetapi karena hari sudah sore, Luthfie mengajaknya ke swalayan.

Rena yang berbeda dari biasanya, lebih hangat dan ramah kali ini. Banyak hal yang dia tanyakan pada Shasha, karena sebelumnya tidak pernah terlihat ada lelaki yang menemani Shasha. Apalagi lelaki itu seorang dokter, tampan, baik dan ... bermobil pula. Tentu saja mengundang rasa penasaran Rena.

"Pantesan rumah kamu sepi dari kemarin."

"Iya, Kak Luthfie ngajak aku ketemu Kak Zidan."

"Dia ... mau ketemu Zidan? Ngapain?"

"Jadi gini ...."

Shasha mulai menceritakan, seperti apa kebetulan yang terjadi hingga ia tahu persahabatan Luthfie dengan kakaknya yang lumayan dekat. Dan itu adalah alasan Luthfie ingin menemui Zidan.

"Oh, gitu." Rena manggut-manggut. Dia bisa paham, kenapa saudara sepupunya bisa sedekat itu dengan Luthfie. Ia juga berkali-kali melirik Shasha yang baru pertama kali mengenakan jilbab. "Kamu pake jilbab, sejak kapan?"

"I-iya, Kak. Jelek, ya?"

"Enggak. Cuman, tadi aku hampir gak bisa ngenalin, apalagi kamu turun dari mobil mewah. Keren kamu, Sha. Kaya Tuan Putri." Rena mencubit gemas tangan Shasha, di sela-sela mendorong troley belanjaan, sambil memilih barang keperluannya masing-masing yang tertata rapi di dalam rak.

"Tuan Putri apa? Cuma numpang mobil orang, kok." Shasha tertawa sampai lupa banyak orang yang melirik ke arahnya.

"Ya, maksudku mobil dr. Luthfie itu yang keren, Sha."

"Bukan punya dia juga mobilnya. Dokter Luthfie cuma punya sepeda. Boro-boro mobil, rumah aja dapet sewa."

Rena menatap Shasha. Pikirnya, sudut pandang gadis itu terlalu sederhana. Berbeda dengan Rena yang hanya sepintas saja sudah bisa membedakan mana orang yang benar-benar kaya, dan mana orang yang hanya berpura-pura kaya. Itu adalah keahliannya.

"Sha, jadi selama ini kamu tinggal serumah bareng dr. Luthfie ?"

"Mau gimana lagi?"

"Mau tinggal di rumahku?" Tiba-tiba, Rena menawarkan bantuan yang dulu pernah sangat di harapkan Shasha. Sayangnya, kali ini Shasha tidak membutuhkannya lagi.

"Kalau aku minta, Sita juga mau bantu aku, kok. Tapi ... ada dr. Luthfie juga tulus bantu aku. Dia gak mau aku keluar dari rumahku sendiri."

Rena terdiam. Dia sedikit menyesal telah mengabaikan Shasha waktu itu. Namun, Shasha segera mengikis kecanggungan di antara mereka dengan menanyakan kabar Tante Mira yang belum kembali dari kampung halamannya. Shasha bahkan menyarankan Rena tidur di rumahnya, seandainya dia kesepian selama Tante Mira tidak ada.

"Kamu kok, baik banget, sih."

"Kita saudara, Kak. Gak ada yang bisa merubah hubungan saudara."

Shasha yang tengah fokus memasukkan barang keperluannya ke dalam troley, dikagetkan dengan pelukan Rena dari sisinya.

"Iya, kita saudara. Aku gak punya saudara lain selain kamu, Sha."

Shasha merasa terhibur karena selain ada Luthfie, hubungannya dengan Rena pun sedikit mencair. Mereka sudah bisa bercanda dan tertawa meskipun yang yang menjadi topik pembicaraan masih tentang Luthfie, dokter tampan yang aneh dan misterius.

"Eh, Sha, dokter Luthfie itu udah punya pacar apa belum, sih? Orang kek dia gak mungkin kalau gak ada ceweknya."

"Aku ... gak pernah lihat dia bawa cewek ke rumah." Ada perasaan menyesal telah mengatakan hal itu, tetapi kenyataannya, hanya dirinyalah satu-satunya gadis yang selalu Luthfie bonceng di sepedanya.

"Dia orang baik, kan, Sha?" tanya Rena lagi. Shasha hanya menjawab dengan anggukan singkat.

"Kakak udah selesai belum? Aku mau ke kasir sekarang."

"Udah, Sha. Yuk, biar cepet pulang."

Tak lama, Luthfie muncul tiba-tiba sambil menghampirinya.

"Belanjaannya udah masuk semua? Gak ada yang lupa, kan?" Mata Luthfie fokus pada barang yang memenuhi troley."

"Dicek aja. Kalo ada yang kurang, Kakak ambil sendiri."

"Makanan yang kurang baik buat kesehatanmu, sebaiknya jangan dibeli." Luthfie mendorong troley ke tempat semula, karena harus mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya.

Shasha hanya menggelengkan kepalanya. Hampir semua barang yang dia pilih, ternyata salah.

BERSAMBUNG ....

#jgn lupa like, vote and rate 5 nya, thanks#

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!