Kisah cinta antara 2 insan yang berbeda agama, akankah bertahan selamanya?
Kisah ini mengisahkan tentang seorang pria Kristen yang jatuh cinta dengan wanita Muslim, mereka berjuang mempertahankan cintanya untuk bisa sampai pelaminan, namun rintangan dan ujian terus-menerus menerpa hidup mereka, ditambah dengan restu orang tua yang sulit sekali mereka dapatkan.
Bagaimana akhir kisahnya? Apakah mereka berhasil sampai pelaminan atau justru cinta mereka kandas di tengah perjalanan?
Mari saksikan kisah cinta mereka..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Saya harap kamu tidak serius dengan Julian ya! Apa kamu tau cerita tentang ayahnya Julian?" ucap Ibu Julian.
"Engga tante." jawab Kiana sambil menggeleng.
"Ayah Julian dulunya seorang muslim, saat menikah dengan saya, saya mengajak ayah Julian untuk pindah keyakinan. Keluarga besar ayah Julian adalah keluarga muslim. Saya hanya tidak ingin Julian ikut pindah keyakinan. Saya harap kamu bisa mengerti. Untuk sementara tidak apa-apa jika kamu berpacaran dengan Julian, tapi jangan sampai berlarut-larut Kiana." kata Ibu Julian
"Iya saya mengerti tante." balas Kiana.
"Baiklah, kalau kamu mau melihat Julian, dia ada di dalam. Tapi tolong jangan dibangunkan ya!" lanjut sang Ibu.
"Iya, kalau begitu saya mohon izin untuk melihat keadaan Julian " kata Kiana.
"Iya silahkan." jawab Ibu Julian.
Kiana pun melangkahkan kakinya memasuki kamar inap Julian, diikuti dengan Antiqa di belakangnya. Sedangkan sang Ibu menunggu di luar.
Ia melihat sang kekasih yang sedang tertidur pulas. Antiqa pun berbisik, "Udah pulang yuk ka! Kak Jul lagi tidur, lagian udah malem ga enak kan disini."
Kiana mengangguk menyetujui ajakan Antiqa.
Mereka pun beranjak keluar dari kamar, Kiana kembali menemui Ibunda Julian yang sedang duduk di kursi koridor rumah sakit.
"Tante, saya pamit pulang. Sudah malam, saya takut mengganggu." kata Kiana.
"Iya, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mau datang Kiana." jawab Ibu Julian.
Kiana dan Antiqa pun berjalan menuju ke parkiran, Antiqa berkata, "kayanya ibunya Kak Jul kurang suka deh sama lu Kak!"
"Ya pastilah, gue kan beda keyakinan sama mereka. Ya sama aja posisinya kaya mama yang gak suka sama Julian." jawab Kiana.
"Iya sih ya, bener juga." balas Antiqa.
Mereka pun bergegas pulang kembali ke rumah.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Keesokan harinya, hari minggu sekitar pukul 11 siang, Resya mendatangi rumah sakit tempat Julian dirawat.
"Jul, gimana kondisi lo?" tanya Resya.
Julian hanya tersenyum, Ibunda Julian yang menjawab pertanyaan Resya, "Julian udah membaik kok Re. Nanti malam sudah boleh pulang."
"Oh gitu tante, syukurlah kalau sudah membaik." kata Resya.
"Tante titip Julian dulu ya Re, tante mau pulang. Nanti sekitar jam setengah satu kemungkinan ayah Julian datang. Tunggu sampai ayah Julian datang, baru kamu pulang ya Re." lanjut sang Ibu.
"Iya tante, siap." jawab Resya.
Resya dan keluarga Julian memang cukup dekat, orang tua Julian tahu bahwa Resya sangat berjasa terhadap karir Julian.
Setelah Ibunda pergi, Resya memulai pembicaraan dengan Julian.
"Kok bisa sih lu kaya gini? gara-gara Kiana lagi?" tanya Resya.
"Bukan kok Re." jawab Julian.
"Gausah bohong deh Jul, jujur aja sama gue. Lo nekat kaya gini pasti karna Kiana kan." Resya memaksa.
"Hehehe." Julian hanya tertawa.
"Untung semalem nyokap nemuin lo di kamar, kalau engga, mungkin sekarang lo udah gak ada." kata Resya.
Julian tidak menanggapi perkataan Resya.
"Jul, jangan nekat kaya gini lagi ya! kasian kan nyokap sama bokap lo! lo itu anak pertama Jul, buatlah mereka bangga dengan prestasi lo, bukan malah bikin mereka khawatir karena perbuatan konyol lo kaya gini. Lo kan udah dewasa, bertindaklah seperti orang dewasa Jul." ucap Resya lagi.
"Iya, gue gak akan mengulangi hal seperti ini lagi Re." jawab Julian.
"Plis lah Jul, lo tinggalin aja si Kiana itu. Dia gak pantes buat lo pertahanin. Buktinya, saat kondisi lo kaya gini, mana Kiana? apa dia perduli dengan keadaan lo saat ini? engga kan?!" kata Resya.
Julian hanya terdiam
"Jangan diem aja Jul, udah cukup ya lo jadi cowo bego kaya gini. Mau aja sih lo diperlakukan seenaknya sama Kiana. Ngapain lo sampe nekat kaya gini demi perempuan gak bener kaya gitu? perduli aja engga, apalagi sampe jengukin lo!" lanjut Resya.
"Engga Re, gue yakin Kiana gak kaya gitu." jawab Julian.
"Yakin apaan si? buktinya lo liat nih, mana Kiana? dari kemarin lo masuk rumah sakit sampe hari ini lo udah boleh pulang, dia gak nongol kan? gak muncul tuh batang hidungnya. Udah Jul, lo lupain si Kiana itu. Dia gak baik buat lo! Percaya deh kata-kata gue, gue mana pernah sih ngecewain lo Jul." ucap Resya.
"Udah Re, gak usah dilanjut ya. Gue mau istirahat, mau tenangin diri gue dulu." jawab Julian.
"Mulai sekarang lo harus rajin ibadah ke gereja ya Jul! jangan lo tinggalin Tuhan lo demi cewe yang sama sekali gak pantes lo perjuangin." kata Resya tetap nyerocos.
Julian kembali terdiam dan memalingkan mukanya dari Resya.
"Yaudah kalau lo gak mau dengerin kata-kata gue, gak masalah kok. Yang penting gue udah sampein ke lo! ini ada buah-buahan dari Ety, gue taro sini ya." ucap Resya sambil meletakkan bawaannya ke meja yang tersedia di ruangan VIP itu.
"Gila ya si Ety baik banget, perhatian banget dia sama lo. Walaupun dia gak bisa jenguk lo karena ada acara di gereja hari ini, dia tetep nitip buah-buahan buat lo. Beda banget sama Kiana, gak ada perdulinya sama sekali." kata Resya bicara sendiri.
Julian pun merenungkan kata per-kata yang diucapkan Resya. Terbesit dalam pikirannya, "Kenapa Kiana kejam banget? bahkan sampe gue nekat kaya gini pun dia gak perduli sama gue. Buat dateng jenguk gue pun dia gak mau. Segitu marahnya dia sama gue? dia lebih mentingin emosinya daripada keselamatan diri gue?"
"Mau gue potongin gak nih buahnya?" tanya Resya.
Julian yang sedang termenung pun terpecah konsentrasinya, "apa Re?"
"Yah malah bengong, kesambet tar lo! ini mau gue potongin gak buahnya?" tanya Resya kembali.
"Gak usah Re, gue lagi gak nafsu makan gituan." jawab Julian.
"Yaudah yang penting nanti dimakan ya, kasian nih Ety udah cape-cape titipin beginian ke gue masa gak dimakan." kata Resya.
"Iya." jawab Julian singkat.
Julian yang awalnya sudah agak tenang, hatinya kembali carut-marut karena perkataan Resya yang membuat panas dirinya. Ia terus memikirkan perkataan Resya tentang Kiana.
Sedangkan di sisi Kiana, ia memikirkan kembali perkataan Ibunda Julian untuk tidak terlalu serius dengan anaknya. Dalam benaknya terbesit pikiran, "lalu buat apa gue terus melanjutkan hubungan kaya gini? kayanya semua ini gak akan ada gunanya. Gue cuma buang-buang waktu aja deh. Cuma bikin cape hati dan cape pikiran aja kalau kaya gini terus. Gue kan pengen kaya orang-orang normal, pacaran kaya yang lain, gak perlu ngumpet-ngumpet terus kaya gini. Cape banget terus-terusan begini."