Update setiap : Rabu, Sabtu, dan Minggu.
Agatha Rosseta terlahir kembali tepat pada saat malam pertama dia menikah dengan Duke Coldine. Di kehidupan keduanya itu dia berniat untuk menjalani kehidupan dengan baik dan dapat bercerai dengan Duke Coldine secara baik-baik.
Namun, semuanya sedikit melenceng dan ada beberapa fakta yang Agatha dapatkan. Bagaimana akhir dari kehidupan kedua Agatha Rosseta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[31] Sihir dan Henry (4)
......................
Saat itu adalah siang hari yang terik, tapi suara gesekan antara dua pedang tidak pernah berhenti dari pagi hari. Tentu saja bukan para ksatria yang sedang berlatih, tapi Henry dan Pangeran Liam.
Pangeran Liam meminta bantuan dari Henry untuk menjadi teman sekaligus gurunya dalam berlatih pedang. Sebenarnya dia berlatih dengan para ksatria belakangan ini. Namun karena dia masih pemula, dan porsi latihan para ksatria yang terlalu sedikit tapi cukup berat untuk pemula sepertinya. Dan lagi, ksatria di kediaman Duke Coldine dikenal yang paling malas untuk latihan.
"Satu ronde lagi ... hah hah, kumohon," kata Pangeran Liam kepada Henry. Henry telah memutuskan untuk memberinya waktu istirahat, tapi Pangeran Liam terus memintanya untuk melakukan satu ronde lagi, lagi, lagi, dan lagi sampai-sampai Henry bosan mendengarnya.
Manusia memang sangat egois, mereka menginginkan sesuatu secara berlebih. Padahal Henry sendiri juga harus mendampingi Agatha untuk melatih sihir. "Ini yang terakhir Pangeran, setelah itu saya harus kembali kepada Duchess. Anda setuju bukan?" kata Henry memberi tawaran, kemudian disetujui oleh Pangeran Liam.
Sementara itu, para ksatria malah asik menonton pertarungan kedua bocah kecil itu sambil memakan beberapa camilan yang sempat dibeli di luar. Mereka terpukau, terutama kepada Henry, anak kecil yang baru saja datang ke kediaman Duke Coldine. Mereka juga bertanya-tanya sejak kapan Tuan mereka suka memungut anak kecil?
Bruk! Pangeran Liam jatuh berlutut, tubuhnya gemetaran tidak kuat dengan latihan hari ini. Namun dia sangat menikmatinya, latihan yang keras, mirip dengan apa yang dia alami di istana di masa lampau. "Te-terima kasih ... mohon bantuannya untuk besok," katanya.
"Tidak perlu berterima kasih, kalau begitu sampai besok," Henry segera mengembalikan pedang yang dia gunakan di tempat semula dan pergi dari area latihan. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Agatha.
Setelah sampai di kamar Agatha, Henry segera masuk. Dia lihat Agatha sedang berlatih. "Master! Selamat siang!" sapanya kemudian berlari memeluk Agatha.
"Selamat siang, Henry. Bagaimana? Apa semua berjalan lancar?" tanya Agatha sembari membalas pelukan Henry.
"Ya, semua berjalan lancar. Aku harap Master melihatku mengajari Pangeran Liam,"
"Yah ... kamu tahu sendiri kan Henry, aku sedikit sibuk dan mungkin akan lebih sibuk lagi. Ngomong-ngomong aku sudah bisa mengeluarkan api kehidupan dan kematian sesuai dengan yang kuinginkan. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?" Henry mengkerucutkan bibirnya, membuat Agatha tersenyum melihat tingkah Henry yang seperti anak kecil.
"Ayolah Henry, jangan seperti anak kecil,"
"Aku kan memang masih kecil, Master," balas Henry masih dengan mengkerucutkan bibirnya. "Master," panggil Henry pada akhirnya.
"Ya?" balas Agatha.
"Apa Master takut meninggal?" Agatha mematung sebentar. Pertanyaan itu sudah jelas jawabannya. Ya, Agatha takut meninggal. Apalagi jika dibunuh. "Sebenarnya Master itu kuat, hanya saja Master takut bukan? Master takut mati. Bagaimana kalau pelajaran selanjutnya adalah menghilangkan rasa takut akan kematian?"
Agatha terkesiap, pelajaran selanjutnya yang harus dia pelajari adalah menghilangkan rasa takut akan kematian, mungkin caranya adalah dengan dibunuh berkali-kali. Membayangkannya saja Agatha sudah merinding, dia juga teringat bagaimana dia kehilangan nyawa di kehidupan sebelumnya.
Sementara itu, Henry mengamati Agatha yang mematung. Kemudian dia berkata, "Seseorang yang memperoleh sihir tentunya memiliki tujuan tertentu bukan? Misalnya merawat hewan, menjadi pembuat obat atau ramuan, menjadi pengajar disebuah akademi, atau yang lainnya. Begitu pula dengan Master,"
"Tapi aku sudah menikah, aku terkurung di sini. Em ... bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Agatha kemudian dibalas dengan anggukan kepala Henry. "Duke mencintai seorang pelayan, nama pelayan itu adalah Shanon. Setelah aku berhasil membuat mereka bersama, aku akan menjauh dan mencari hal yang menarik,"
Mata Henry membulat, dia merasa kasihan kepada Masternya. "Tidak apa-apa, jika Master berkata demikian, aku akan mendukung Master. Tidak, aku akan mendukung apapun Master lakukan meski itu adalah hal yang salah," ujar Henry penuh dengan semangat. Agatha mengelus puncak kepala Henry lembut dan meneruskan kegiatannya.
Angin sore hari yang cukup dingin, Agatha menutup jendela kamarnya. Dia menoleh ke kursi yang terletak di dekatnya, Henry sedang tertidur pulas. Agatha mendekatinya dan memberikan kecupan ringan di kepalanya, dia merasa seperti mempunyai adik baru lagi.
"Uhm .... Master?" panggil Henry.
"Ya? Apa yang kamu butuhkan?" jawab Agatha.
"Aku lapar, apa ini sudah malam?" Henry mulai duduk dan mengusap matanya berkali-kali.
"Makanlah kue yang ada di meja, aku akan membuatkan teh untukmu," ujar Agatha, dia segera membuatkan teh untuk Henry, sedangkan Henry mulai memakan kie yang ada di atas meja.
Kemudian Agatha dan Henry mendengar pintu diketuk oleh seseorang, dengan sihirnya, Henry membuka pintu itu. Di sana ada Duke Coldine, Felix, dan Felicia. "Silahkan masuk," ujar Agatha dengan senyuman dan mempersilahkan ketiga orang itu masuk.
Ketika masuk, mereka disambut oleh tatapan tajam Henry yang membuat mereka tidak merasa nyaman. Agatha yang ikut merasakan hal tersebut segera menenangkan Henry dengan mengelus kepalanya berulang kali. Beruntungnya Henry cepat sekali luluh kepada Agatha.
"Apa yang membuat kalian datang kemari?" tanya Agatha kemudian.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih dan juga ingin membahas tentang rapat tadi pagi," jawab Duke Coldine.
"Baiklah, silahkan duduk dan mari membahasnya," Duke Coldine pun duduk dan mulai menjelaskan keadaan, tentang penduduk imigran yang bertambah, protes dari para Baron, pendapat dan laporan Baron Bryony yang teramat tidak masuk akal, serta rasa keberatan jika menghapus pajak untuk sementara waktu.
Agatha mendengarkannya sambil meminum teh miliknya. Sebenarnya pendapat Baron Bryony tidak salah, karena Agatha cukup menyetujuinya. "Bolehkah saya mengatakan pendapat juga?" tanya Agatha setelah Duke Coldine selesai bicara.
"Ya, silahkan,"
"Secara umum wilayah Coldine lebih luas dari wilayah yang dipimpin oleh Duke Marva dan enam puluh persen adalah hutan. Tanah di wilayah Coldine sangat subur, banyak tanaman yang dapat hidup di sini. Namun apa yang menjadikan para penduduk enggan mengolah tanah? Khususnya di daerah sekitar hutan?"
Agatha menatap lurus Duke Coldine, mata mereka saling bertemu. Agatha yang terus menantikan jawaban dari Duke Coldine terus menatap pria itu. "Hewan buas," jawab Duke Coldine pada akhirnya.
Sudut bibir Agatha tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. "Pernahkah Anda menjumpai hewan buas di hutan? Saya dengar Anda dan beberapa pasukan melakukan pencarian beberapa tahun lalu,"
"Ti-Tidak ada sama sekali, kami tidak menemukan apapun," jawab Duke Coldine lagi.
"Mungkin itu adalah makhluk sihir, yang disebut monster oleh para penduduk sekitar hutan dan Baron Bryony," wajah Duke Coldine, Felix, dan Felicia mengatakan rasa ketidaksetujuan mereka dengan apa yang diungkapkan oleh Agatha.
"Itulah mengapa orang biasa dengan penyihir tidak pernah bisa bersatu di kerajaan ini. Kalian tidak pernah memiliki niat untuk percaya satu kalimat yang kami ucapkan,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yups! Terima kasih sudah kembali membaca novel ini. Terima kasih sudah membaca bab 31. Nantikan kelanjutannya di bab selanjutnya ya. Jangan lupa untuk support aku😚
Beri :
▪Like
▪Komentar
▪Vote
▪Rating
▪Follow (jika berminat ya hehe🤣🤣)
▪Dan share juga jika menurut kalian cerita ini bagus.
Okay, sampai jumpa di bab selanjutnya. Danke