NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Militer / Thriller
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Kemarahan lebih mudah ditanggung daripada rasa kehilangan."
Letnan Raditya tahu itu lebih baik dari siapapun. Sampai seorang dokter bernama Nayla datang ke Karang Wilis — dan tanpa sengaja, tanpa izin, mulai mengisi ruang yang sudah lama ia jaga tetap kosong.
Di antara luka yang belum sembuh, konflik yang belum selesai, dan waktu yang terus berkurang — keduanya belajar satu hal yang tidak ada dalam buku panduan militer manapun:
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan sendirian.



Di medan yang salah, pada waktu yang tidak tepat — tapi perasaan tidak pernah menunggu instruksi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kedatangan letda Nara perwira medis militer

~{31}~

Kabut pagi yang tadi menyelimuti sawah kini perlahan bergeser ke arah lapangan pos Karang Wilis.”

Nayla berdiri di depan tenda medis, tas kecil masih menggantung di bahunya. Ia masih mengingat suasana pagi tadi—burung-burung yang terbang rendah di atas padi, dan suara Sari yang terus mengajaknya berjalan.

ia sekarang sedang menatap ke arah lapangan. “oh ya Patroli jam berapa tadi…?” gumamnya pelan.

Belum sempat ia menjawab dirinya sendiri, suara kendaraan terdengar dari arah jalan tanah di sisi pos.di sana, Sebuah mobil dinas berhenti—bukan kendaraan logistik biasa. Lebih rapi. Lebih “resmi”. Lalu Pintu itu terbuka, dan seorang perempuan turun lebih dulu.

Letda Nara

Rapi. Tegap. Seragam medis militer yang berbeda dari prajurit lapangan biasa. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Wajahnya cantik dan tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa memasuki tempat asing tanpa ragu.

Di belakangnya, dua prajurit ikut turun membawa tas peralatan. Nayla memperhatikan tanpa sadar. Perempuan itu menatap sekeliling sebentar, lalu tersenyum kecil—bukan senyum basa-basi, tetapi senyum orang yang sudah tahu apa yang akan dihadapi.

ia bertanya ke sala satu di antara dua prajurit Itu 'letnan Raditya ada di mana?” tanyanya pada salah satu di antara dua prajurit Itu. Suaranya jelas dan tenang.

Sari yang baru keluar dari tenda berhenti di samping Nayla. “Dok… itu siapa?” bisiknya pelan. Nayla tidak langsung menjawab. Matanya masih mengikuti perempuan itu.

“Entahla aku juga baru lihat,” jawabnya akhirnya.

Di sisi lain lapangan, Raditya muncul dari arah pos komando. Langkahnya seperti biasa—tenang dan pasti. Namun begitu perempuan itu melihatnya, ia langsung melangkah maju.

“Letnan Raditya,” ucapnya.

Raditya berhenti. Satu detik. Dua.

“Letda Nara,” balas Raditya singkat.

Tidak ada nada keterkejutan dari suaranya. Seolah kehadiran itu sudah diperkirakan. Nara mengangguk kecil. “lapor let Saya ditugaskan sebagai pendamping medis dan evaluasi lapangan. Kita akan bekerja sama. Ucap nara

“baik Diterima,” jawab Raditya. Singkat, cepat.

Nayla yang berdiri agak jauh dari tenda medis melihat semua itu tanpa berkedip. Sari meliriknya. “Dok… itu kayaknya tim baru ya?” ucap sari.

“Iya kali,” jawab Nayla cepat.

Lalu Nara melangkah lebih dekat ke arah pos medis. Matanya menangkap Nayla yang sedang menatap nya juga.

“Oh, jadi ini dokter yang bertugas di sini?” Ucapnya.

Nayla tersadar dari diamnya. “Iya betul Saya Nayla .”

Nara tersenyum. Sopan. Namun ada sesuatu di caranya memandang—bukan meremehkan, bukan menantang, tetapi… terlalu percaya diri.

“Senang bertemu. “Saya Letda Nara, tim evaluasi medis operasional dari pusat komando wilayah.” Jabat tangan terjadi cepat " selamat datang di karang wilis dokter". Ucap Nayla.

Raditya berdiri beberapa langkah di belakang Nara.

“Mulai hari ini, evaluasi kondisi medis dan keamanan akan disinkronkan,” ucap Nara tanpa menoleh terlalu lama. “Saya akan butuh data pasien dan kondisi lapangan.”

“Laporan ke dokter,” jawab Raditya dengan matanya singkat ke arah Nayla.

Nayla mengangguk refleks. “Baik, Pak.”

Nara menatap mereka bergantian, lalu mengangguk kecil. “oke sekarang, Kita mulai dari tenda medis.” ucap nara

Sari menarik ujung baju Nayla pelan. “Dok… dia kelihatan pinter,” bisiknya. Nayla tidak langsung menjawab.

“Ya,” katanya akhirnya. Singkat lagi. Namun tangannya terlihat tanpa sadar merapikan tali tasnya lebih kencang dari biasanya.

Di dalam tenda medis, Nara masuk lebih dulu. Matanya langsung menyapu ruangan. Empat ranjang. Peralatan sederhana. Obat yang terbatas.

“Ini kondisi standar lapangan,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Nayla berdiri di samping meja. “Iya. Kami berusaha maksimal dengan yang ada.”

Nara mengangguk. “Baik.” Lalu tanpa banyak basa-basi, ia mulai membuka catatan.

Raditya terlihat berdiri di dekat pintu tenda, mengamati. Tidak banyak bicara, seperti biasa. Namun Nayla memperhatikan sesuatu—Nara tidak ragu bertanya pada Raditya, dan Raditya menjawab. Cepat. Tepat. Seolah mereka sudah berbicara dalam satu bahasa.

“Rute patroli diperpanjang ke utara, benar?” tanya Nara.

“Ya.”

“Jam rawan?” tanya Nara

“Pukul 02.00 sampai 04.00.”

“Distribusi warga?”

“Sudah mulai stabil.”

Singkat. Padat. jelas, Nayla berdiri diam, tangan di sisi tubuhnya. Sari di belakangnya bahkan tidak berani untuk bersuara.

Kenapa mereka terdengar… cocok? Batin Nayla

Nara menutup catatannya. “ Saya akan ikut patroli siang ini."

Raditya tidak menjawab ia hanya mengangguk.

Nara menoleh sedikit. “Dokter Nayla ikut juga?”

Nayla tersadar. “Iya. Saya ikut.”

“Bagus,” jawab Nara. Senyumnya tetap sama, tetapi kali ini, bagi Nayla… senyum itu terasa sedikit lebih dekat ke Raditya daripada ke dirinya.

**Siang itu**, sebelum berangkat patroli, Nayla berdiri di depan tenda medis, merapikan peralatan. tetapi matanya sesekali melirik ke arah lapangan. Melihat Raditya dan Nara yang sedang berdiri berdampingan.

Tidak dekat. Tapi juga tidak jauh. Sari muncul di sampingnya. “Dok,” panggil nya pelan.

“apa?”

“Dokter kenapa dari tadi diam aja?”

Nayla langsung menjawab. “Aku nggak diam.”

Sari mengangkat alis. “…enggak, dokter kelihatan banget kayak lagi mikirin sesuatu.

tatapan dokter itu, Lo kayak enggak lagi di sini.”

Nayla tidak menjawab. Tangannya berhenti merapikan tas. Dari kejauhan, Raditya menoleh sekilas. Sekilas saja. Tapi cukup untuk membuat mata mereka bertemu. Nayla langsung mengalihkan pandangan. Cepat. Terlalu cepat.

Di saat yang sama, Nara tertawa kecil—entah karena apa yang dikatakan Raditya barusan. Suaranya ringan. Natural. Nayla mendengarnya, tetapi tidak menoleh. Tidak mau.

1
Oom Kusmiati
lanjut
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
Oom Kusmiati: koq blm lanjut ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!