LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Keputusan Untuk Pulang & Ancaman Yang Mengintai
Hujan di Pulau Hitam masih turun deras, menciptakan tirai air yang menyulitkan pandangan. Tim kecil itu—Sabiru, Allbiru, Aldo, dan Arisendra—berlari menyusuri koridor bawah tanah menuju dermaga rahasia. Suara langkah kaki mereka bergema, bercampur dengan deru ombak di luar.
Di belakang mereka, jauh di atas, terdengar suara helikopter tempur yang semakin dekat. Lampu sorot besar menyapu permukaan laut, mencari target.
"Mereka cepat," geram Aldo, mengecek amunisi pistolnya. "Pasukan elit. Mereka menggunakan drone termal. Kita harus tetap di bawah naungan struktur beton agar tidak terdeteksi."
Allbiru mendukung Sabiru yang berjalan tertatih. "Ru, apakah kau bisa mengakses sistem pertahanan pulau lagi? Kita butuh distraksi."
Sabiru mengangguk, meski kepalanya masih berdenyut. Dia menutup mata sebentar, menghubungkan Neural Link-nya dengan jaringan lokal yang tersisa. Tidak perlu kabel kali ini; koneksinya sudah tertanam di sarafnya.
> ACCESSING DEFENSE_GRID...
> TARGETING DRONES...
> INITIATING EMP_BURST_SEQUENCE.
Di langit, tiga drone tempur yang terbang rendah tiba-tiba kehilangan sinyal. Lampu-lampu mereka padam, dan mereka jatuh terjun bebas ke laut, meledak saat menghantam permukaan air. Ledakan-ledakan kecil itu menciptakan gelombang kejut yang mengganggu sonar helikopter musuh.
"Bagus, Ru," puji Arisendra sambil berlari di depan. "Tapi jangan terlalu sering. Otakmu butuh istirahat. Simpan tenagamu untuk Jakarta."
Mereka akhirnya sampai di dermaga selatan. Di sana, terparkir sebuah kapal kargo berukuran sedang, catnya kusam, tampak seperti kapal pengangkut ikan biasa. Tapi di lambungnya, terdapat logo samar yang hanya dikenali oleh Arisendra: NAVELLA MARITIME LOGISTICS.
Seorang pria berbadan kekar dengan topi nelayan menyambut mereka di geladak. Itu adalah Kapten Haris, sekutu lama Arisendra yang setia.
"Cepat naik!" teriak Kapten Haris, membantu menarik Sabiru dan Allbiru ke atas kapal. "Mesin sudah panas. Kita berangkat dalam 2 menit."
Aldo dan Arisendra melompat terakhir ke atas kapal. Tali tambang dilepas, dan mesin kapal meraung, mendorong kapal menjauh dari dermaga dengan kecepatan tinggi, menghilang ke dalam kegelapan malam dan hujan.
Dari kejauhan, lampu sorot helikopter musuh menyapu area dermaga yang sudah kosong. Mereka terlambat.
Di dalam kabin kapal yang sempit namun nyaman, Sabiru duduk bersandar di dinding, diselimuti selimut tebal oleh Allbiru. Aldo duduk di hadapannya, membersihkan pistolnya dengan kain lap. Arisendra berdiri di jendela, menatap laut lepas dengan tatapan jauh.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Sabiru pelan.
"Jakarta," jawab Aldo tegas. "Rumah kita. Tempat di mana Rania dan Malia menunggu. Kita perlu regrouping. Kita perlu rencana."
Arisendra berbalik, menatap Sabiru. "Di Jakarta, kita tidak bisa bersembunyi lagi. The Eternity Circle tahu identitasmu sekarang. Mereka tahu kau adalah Kunci Genetik. Mereka akan mengirim pemburu bayaran, hacker elit, dan mungkin bahkan agen pemerintah yang mereka kendalikan."
"Lalu apa rencanamu, Ayah?" tanya Sabiru.
"Kita tidak bersembunyi," kata Arisendra, suaranya dingin dan penuh determinasi. "Kita menyerang. Kita akan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka, mengekspos nama-nama petinggi mereka, dan menghancurkan infrastruktur mereka dari dalam. Dan kau, Sabiru, adalah kunci utamanya. Dengan Neural Link-mu, kau bisa masuk ke sistem mereka tanpa terdeteksi. Kau bisa menjadi hantu di dalam mesin mereka."
Allbiru menggenggam tangan Sabiru. "Dan aku akan memastikan kau tetap aman. Secara fisik dan mental. Aku akan menjadi perisaimu, Ru."
Sabiru menatap Allbiru, lalu menatap Aldo dan Arisendra. Dua ayah. Satu dengan darah, satu dengan hati. Keduanya telah berkorban segalanya untuknya.
"Aku tidak sendirian," bisik Sabiru, merasa kekuatan baru mengalir di dadanya. "Aku punya keluarga. Aku punya cinta. Dan aku punya kebenaran."
Kapten Haris muncul dari kemudi. "Kita akan sampai di pelabuhan rahasia di Tanjung Priok dalam 18 jam. Siapkan diri kalian. Jakarta tidak akan sama lagi."
Sabiru menutup matanya, membiarkan dirinya tertidur lelap untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Dalam tidurnya, dia tidak bermimpi tentang data atau kode. Dia bermimpi tentang taman rumah sederhana di Jakarta, tentang hujan gerimis, dan tentang janji seorang ayah untuk melindungi anaknya.
Ketika dia bangun nanti, dia bukan lagi Sabiru Naverlla Azzura, mahasiswa IT biasa. Dia adalah Sabiru Naverlla, Pewaris Project Rambutan, dan Pemimpin Perlawanan Baru.
Perjalanan pulang telah dimulai. Dan bersama itu, dimulailah bab baru dalam hidup mereka: Bab Perang Terbuka melawan The Eternity Circle.
Di Jakarta, di sebuah apartemen mewah yang sunyi, Malia duduk sendirian di ruang tamu, menatap foto lama Sabiru saat bayi. Air matanya mengalir diam-diam.
Di sebelahnya, Rania memeluknya, memberikan kenyamanan diam.
"Mereka akan pulang, Lia," bisik Rania. "Sabiru dan Allbiru akan pulang. Dan kali ini, kita tidak akan membiarkan siapa pun mengambil mereka lagi."
Malia mengangguk, menggenggam foto itu erat. "Aku sudah menunggu 22 tahun, Ran. Aku siap. Siap untuk menjadi ibu yang sebenarnya. Siap untuk melawan siapa pun yang mencoba menyakiti anakku."
Di luar jendela apartemen, hujan Jakarta turun deras, seolah menandai awal dari badai terbesar yang akan melanda kota itu. Badai yang dibawa pulang oleh Sabiru Naverlla.