Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
***
Karung goni itu tersentak kasar ke atas oleh tangan Kaelen. Pria di bawahnya terengah-engah, wajahnya penuh keringat dingin yang membeku di janggutnya yang tipis. Ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat tanpa tanda pengenal militer standar, namun di lehernya tergantung sebuah rantai perak tipis.
Lilianne melangkah maju. Langkah kakinya seringan salju turun, namun atmosfer di sekitar tubuhnya terasa seberat dinding kastil Utara. Di tangan kanannya, belati berukir naga milik Arthur berkilat tertimpa cahaya lampu minyak yang bergoyang gelisah.
"Buka mulutmu," perintah Lilianne dingin.
Pria itu mendongak, menatap Lilianne dengan seringai meremehkan yang dipaksakan. "Seorang gadis kecil dari Utara... memegang senjata suaminya yang sudah mampus. Sungguh pemandangan yang menyedihkan."
Tanpa peringatan, Kaelen menghantam hulu pedangnya ke rahang pria itu hingga terdengar bunyi gemertak tulang dan darah segar tepercik ke lantai. Pria itu terbatuk, meludahkan satu giginya yang patah, namun tawa parau masih keluar dari tenggorokannya.
Lilianne tidak berkedip. Ia membungkuk perlahan, menahan berat perutnya dengan tangan kiri, sementara ujung belati di tangan kanannya bergerak menyusup ke balik kerah pakaian pria itu. Dengan satu sentakan cepat, ia memutus rantai perak di leher sang tawanan. Sebuah lencana emas jatuh ke telapak tangan Lilianne yang pucat.
Mata perak Lilianne menyipit menatap ukiran di atas logam mulia itu. Gambar wajah singa purba dengan rahang terbuka lebar yang sedang mencengkeram mahkota fajar.
"Singa Purba Valerieth," bisik Lilianne, suaranya nyaris tak terdengar namun sanggup membuat Kaelen di sampingnya menegang. "Kau bukan orang Aethelgard. Kau bukan milik Julian."
"Dia adalah Shadow Blade," Kaelen menyela, suaranya beralih menjadi sangat rendah dan penuh kewaspadaan. "Pembunuh bayaran pribadi yang hanya tunduk pada perintah langsung dari takhta tertinggi. Sang Kaisar Agung."
Pria berbaju hitam itu tertawa lagi, kali ini dengan kepuasan yang murni. "Kau cerdas, Komandan Kaelen. Dan kau, Putri kecil... suamimu yang malang itu mengira dia sudah menguasai dunia hanya karena memenangkan beberapa pertempuran di perbatasan. Dia tidak lebih dari seekor anjing pelacak yang dibesarkan oleh Yang Mulia Kaisar Valerius. Dan ketika anjing mulai menggigit tangan tuannya, sudah saatnya dia ditidurkan."
"Mengapa Kaisar ingin menghancurkan anaknya sendiri?" tanya Lilianne, wajahnya tetap tenang bagai permukaan danau es, menyembunyikan badai pikiran yang sedang berputar di kepalanya.
"Anak?" Pria itu meludah ke samping. "Arthur yang asli pemuda sombong yang sah itu sudah lama membusuk. Pria yang tidur di ranjangmu itu adalah naga gila yang terlalu ambisius. Dia menggalang kekuatan militer, mengontrol jalur logistik Barat, dan sekarang... dia menikahi putri dari Adipati Utara. Dia mengumpulkan terlalu banyak bidak. Kaisar menyadari bahwa dia jauh lebih berbahaya dan tak terkendali daripada saudara kembar yang digantikannya. Valerieth tidak butuh kaisar yang akan membakar seluruh benua demi egonya."
Pria itu menatap lurus ke perut buncit Lilianne. "Kaisar tidak ingin naga gila itu memiliki legitimasi. Anak di dalam rahimmu itu... jika dia lahir, faksi militer Arthur akan memiliki simbol abadi untuk melakukan kudeta. Kaisar ingin sayap Arthur dipotong di desa terkutuk ini. Sup itu seharusnya membunuh anakmu, membuat Arthur kehilangan akal sehatnya dalam kedukaan, dan memudahkan kami untuk menyeretnya kembali ke ibu kota sebagai pangeran yang cacat mental."
Mendengar konspirasi tingkat tinggi yang keluar dari mulut pembunuh itu, Kaelen mengepalkan tangannya hingga sarung tangan kulitnya berdecit. "Kita harus membunuhnya sekarang, Yang Mulia. Jika kabar ini bocor sebelum Putra Mahkota sadar—"
"Tidak," potong Lilianne tajam. Ia menatap utusan Kaisar itu dengan pandangan yang membuat pria itu berhenti tertawa. "Dia masih berguna."
Lilianne melangkah lebih dekat hingga ujung sepatunya menyentuh lutut sang pembunuh. "Bagaimana kau melaporkan hasil misimu ke ibu kota?"
Pria itu bungkam, menatap Lilianne dengan tatapan menantang. "Aku dilatih untuk mati demi rahasia Kaisar, Putri. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari mulutku."
"Aku tidak butuh mulutmu untuk bicara," balas Lilianne dengan nada yang teramat datar, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Aku hanya butuh ingatanmu."
Tanpa aba-aba, Lilianne menghujamkan belati Arthur ke bahu pria itu, tidak cukup dalam untuk membunuh, namun cukup untuk memotong serat ototnya. Pria itu menjerit tertahan saat Lilianne memutar mata pisau itu dengan perlahan.
"Kaisar menggunakan merpati pos khusus dengan sandi angka untuk para Shadow Blade, bukan?" Lilianne berbisik di depan wajah pria yang kini mandi keringat menahan sakit. "Kaelen pernah menceritakan padaku bagaimana sistem keamanan Valerieth bekerja saat aku masih di Utara. Katakan padaku sandi untuk minggu ini. Jika tidak, aku akan meminta tabib tua di dalam untuk menuangkan sisa sup beracun di lantai itu ke dalam lukamu. Aku ingin tahu apakah racun pelumpuh janin bisa membusukkan daging seorang pembunuh."
Pria itu menatap mata perak Lilianne. Di dalam bola mata gadis enam belas tahun itu, ia tidak menemukan belas kasihan. Yang ia lihat adalah keturunan murni dari para penguasa Utara yang mampu menyembelih serigala di tengah badai salju tanpa mengedipkan mata. Di bawah tekanan rasa sakit yang membakar dan ketakutan akan kematian yang menjijikkan, pertahanan mental sang pembunuh runtuh.
"T-Tiga... dua... tujuh... fajar..." bisik pria itu dengan napas tersengal. "Itu... itu sandi untuk melaporkan... keberhasilan misi pembunuhan..."
Lilianne menarik belatinya dengan satu sentakan bersih. Darah tepercik ke gaun birunya, menambah noda yang semalam ditinggalkan oleh Arthur. Ia berbalik menatap Kaelen yang berdiri mematung dengan rasa takjub yang campur aduk di matanya.
"Kaelen, ambil kertas dan pena," perintah Lilianne, suaranya kembali stabil dan penuh wibawa.
"Apa yang ingin Anda tulis, Yang Mulia?"
"Tulis pesan dengan sandi yang dia berikan," Lilianne menatap lencana singa di tangannya. "Katakan pada Kaisar Misi sukses. Janin telah gugur dalam rahim. Putri Mahkota mengalami pendarahan hebat dan Putra Mahkota Arthur dalam kondisi sekarat akibat kedukaan dan racun sekunder. Pasukan tertahan di desa perbatasan.'"
Kaelen langsung memahami arah pikiran Lilianne. "Anda ingin memberi kita waktu."
"Benar," Lilianne berjalan kembali menuju ranjang tempat Arthur masih terbaring kaku. "Kaisar adalah singa tua yang waspada. Jika kita mengirim laporan bahwa kita diserang, dia akan mengirim pasukan yang lebih besar untuk menghabisi kita sebelum kita sampai di ibu kota. Tapi jika dia mengira misinya berhasil jika dia mengira Arthur sudah lumpuh dan anak ini sudah mati dia akan mengendurkan penjagaannya. Kebanggaan atas kemenangannya akan membuatnya lengah. Kita butuh waktu di desa ini sampai Arthur siuman dan racun di tubuhnya sepenuhnya netral."
Kaelen membungkuk dalam, kali ini kepalanya hampir menyentuh lututnya sendiri. "Kecerdasan Anda melampaui usia Anda, Yang Mulia. Hamba akan segera mengirimkan merpati pos tersebut."
Setelah Kaelen keluar bersama utusan yang kembali ditutup kepalanya, pondok kayu itu kembali ke dalam keheningan yang menyesakkan. Lilianne berdiri sendirian di tengah ruangan yang berbau darah, besi, dan herba.
Ia berjalan mendekati ranjang, menatap Arthur yang masih tidak berdaya. Pria yang semalam mencengkeramnya seperti binatang buas, yang menindihnya dengan kebrutalan yang menghancurkan jiwanya, kini tampak tak lebih dari seonggok daging yang bernapas lambat.
Lilianne duduk di tepi kasur. Tangan kanannya yang masih memegang belati bernoda darah diletakkannya di atas dada Arthur, tepat di atas jantung pria itu. Ujung belati yang tajam menyentuh kulit leher Arthur yang terbuka.
"Kau lihat, Yang mulia?" bisik Lilianne, suaranya bergetar oleh perpaduan antara kebencian dan kepuasan yang dingin. "Saat kau tidak berdaya, akulah yang memegang kendali atas takdirmu. Akulah yang menjaga takhtamu yang palsu tetap tegak di depan ayahmu yang ingin membunuhmu."
Lilianne menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Arthur, membiarkan rambut peraknya yang panjang jatuh menutupi bahu suaminya.
"Kau mengurungku di Sayap Timur, menganggapku sebagai mawar yang bisa kau patahkan sayapnya kapan saja. Tapi sekarang, hidupmu berada di ujung jemariku. Ayahmu ingin membunuh anak ini karena dia takut padamu... tapi dia tidak tahu bahwa ada monster lain yang sedang tumbuh di dalam rahim ini, monster yang dibesarkan oleh kegilaanmu sendiri."
Lilianne menarik kembali belatinya, menyelipkannya ke dalam sarung di pinggangnya. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas perutnya sendiri yang buncit, merasakan gerakan halus dari dalam rahimnya yang mulai stabil setelah seminggu penuh penderitaan.
"Kita akan kembali ke ibu kota, Yang mulia," gumam Lilianne sambil menatap lurus ke arah cermin yang retak. "Kita akan kembali ke neraka itu. Tapi kali ini, aku tidak akan berjalan di belakangmu sebagai tawanannmu. Aku akan berjalan di sampingmu sebagai orang yang mengendalikan benang caturmu. Jika kau ingin menjadi tembok tertinggiku, maka biarkan dirimu menjadi tameng yang menerima semua anak panah dari ayahmu, sementara aku... aku yang akan memotong leher singa tua itu dari belakang."
Di luar, badai salju perlahan mulai mereda, menyisakan hamparan putih yang menutupi segala noda darah di atas tanah desa. Di dalam pondok, sang Mawar telah sepenuhnya menanggalkan kepolosannya, bersiap untuk memimpin faksi militer sang Bayangan menuju perang terbuka melawan takhta suci Kekaisaran Valerieth.
****
Bersambung...