Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi pemahaman Kepada Galang
Raya menarik napas. colokkan strika sudah dicabut, Dia jalan ketengah, nyender dimeja." Mas Raka,biar aku bicara."
Raka mengangguk," Bicara baik baik Ray, ada anak kamu disini."
" Iya mas." Raya menatap Bagas. " Gas, aku tidak melarang kamu untuk bertemu dengan anak anak. Tapi kamu datang tiba tiba seperti ini, Kamu buat Galang ingat lagi. Ingat kamu pergi, Ingat kamu sama wanita itu. Dan semua jadi kacau karena kamu, Dia butuh waktu."
Bagas menatap pintu kamar, disana ada Galang." Aku..Apa aku boleh minta maaf ke Galang?"
Bu Sri datang dari dapur membawa nampan dengan gelas diatasnya. " Jangan sekarang!" Bu Sri menaruh gelas dimeja. " Galang sedang menangis, Gas. Dia takut kamu datang kesini dan membuat mamanya sedih lagi. Kamu mau Dia tenang atau trauma?"
Kalimat Bu Sri membuat Bagas semakin merasa bersalah. Raya juga melihat kearah kamar. Betapa beratnya rasa kecewa dihati Galang.
Gilang menarik baju Bagas. " Kenapa abang Galang sedih? apa karena Papa lama pulang, Ya?" Pertanyaan polos Gilang.
Bagas tersenyum ke Gilang " Iya sayang, Maafkan papa,Ya."
Seandainya Gilang sudah besar seperti Galang, pasti dia juga akan terluka dengan kesalahan yang dibuat oleh Bagas. Tapi untungnya Gilang belum mengerti dan Gilang masih menganggap papanya pahlawan yang harus ditunggu kedatanganya.
" Lebih baik kamu pulang sekarang, Gas." Raka menumpuk pundak Bagas .
Bagas langsung berdiri, Dia cukup tahu diri. Untuk saat ini dia bukan siapa siapa lagi bagi keluarga Raya.
Bagas menaruh Bola yang tadi belum disentuh oleh Galang. " Ini buat Galang, titip, Ray. Maaf aku sudah buat keributan disini. Maafkan aku Bu, belum bisa menjadi suami yang baik untuk Raya." Suaranya terasa berat.
Raya diam seribu bahasa. Sudah cukup semuanya sekarang. Kesalahan kecil itu tidak akan bisa membuat dia kembali seperti dulu. Hatinya sudah sakit, sangat sakit. Mau bagaimanapun Bagas meminta maaf. Luka dihati Raya tidak akan pernah bisa terobati.
" Iya." Jawab Bu Sri.
" Sayang, Papa pulang dulu, ya. kapan kapan kita main lagi." Bagas berpamitan kepada Gilang sambil memeluk tubuh kecil Gilang.
Rasanya enggan sekali Bagas untuk melepaskan pelukkannya, Bagas mencium kening Gilang lama.
" Kalau Papa mau datang lagi, nanti Gilang bakalan bujuk Abang Galang, supaya dia mau bertemu dengan Papa, Gilang janji."
Bagas menganguk sambil mengacak rambut Gilang, Anak sekecil itu sudah bisa berjanji untuk membujuk Abangnya.
" Mas Raka, aku pamit." Bagas juga berpamitan dengan Raka.
" Iya." angguk Raka.
Dipintu, Gilang lari, peluk lagi. kencang. " Papa sering sering datang kesini, ya."
Bagas kembali cium pucuk kepala Gilang, Bagas tidak menjawab hanya tersenyum saja. Senyum pahit tentunya.
Gilang melepaskan pelukkan, dadah. Bagas keluar lalu naik ke mobil. Dia melihat di spion Gilang masih melambaikan tangan kearahnya. Dibelakangnya ada Raya. Bayangan Galang mengintip dari gorden kamar. Tidak ada lambaian tangan. Hanya mengintip.
Hal itu membuat airmata Bagas jatuh seketika. Bagas segera menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana dengan hati kecewa.
" Ayo masuk, dek." Ajak Raya.
Gilang yang masih melambaikan tangan kearah mobil Bagas. Mulai mengikuti Raya masuk kedalam lagi.
Didalam rumah. Raka kembali masuk kedalam kamar. Sementara Bu Sri masuk kedalam kamara Galang.
Nisa dikamar sudah duduk, tidak selimutan lagi, Raka menutup pintu kamar, lalu duduk disamping Nisa." Udah sayang. Bagas sudah pulang."
Nisa menyender dibahu Raka." Aku lebay ya, Mas? Raya cuma kebawa emosi. Aku malah baper."
" Tidak sayang." Raka kecup kepala Nisa." Kamu sayang sama Galang dan Gilang. Wajar. Raya juga sayang sama kamu. Betul katamu . Raya mungkin sedang emosi."
" Aku harus minta maaf sama Raya, Mas. Aku salah." Nisa menatap pintu.
Raka mengangguk," Kamu memang istri yang baik, sayang."
Raya duduk disofa bersama dengan Gilang, Sebenarnya Raya ingin meminta maaf kepada Nisa dan juga ingin menghibur Galang, Tapi Gilang ada disini bersamanya.
" Ma, papa sudah pergi lagi? kenapa papa tidak tidur disini saja bersama kita, kita bisa tidur bersama seperti dirumah. Nanti Gilang tidak akan berebut lagi untuk tidur dekat mama." Pertanyaan polos Gilang.
Raya mengangkat tubuh Gilang untuk naik kepangkuannya." Tidak sayang, Papa sibuk. Dia tidak bisa tidur disini." Jelas Raya yang merasa kasihan dengan Gilang.
" Papa selalu sibuk, tidak bisa lagi menemani Gilang main. Tidak bisa lagi antar Gilang sekolah."
Raya hanya membelai lembut rambut Gilang, airmatanya menetes di pipi. Namun Raya buru buru menghapusnya dengan tangan. Takut Gilang melihatnya.
Bu Sri keluar dari kamar. bisik ke Raya." Galang bertanya. Apa papanya sudah pulang? Apa papa buat mama sedih lagi?"
Raya menutup mata. Anak anak itu hatinya sangat luas. Lebih luas dari dendamnya. Lukanya masih belum bisa hilang, ketakutan akan papanya menyakiti mamanya selalu membekas dihati Galang.
Nisa keluar dari kamar, dibelakangnya ada Raka. Nisa langsung memeluk Raya." Ray, Mbak minta maaf ya. Tadi mbak sudah lancang."
Raya peluk balik." Mbak tidak salah. Aku yang salah mbak, tadi aku yang marah saat melihat Bagas datang. Tanpa sadar aku bentak Mbak. Aku minta maaf mbak."
Mereka berdua saling berpelukkan. Bu Sri sangat senang melihat anak dan menantunya akur. Tidak ada dendam diantara mereka.
Galang keluar dari kamar. " Mama." Memanggil Raya.
Raya melepaskan pelukkan Nisa." Sayang ." Raya menghampiri Galang dan langsung memeluknya . Erat.
" Maafkan mama sayang, Mama selalu membuat kamu khawatir.."
" Apa papa membuat mama sedih lagi?" Tanya Galang yang kini berada dalam pelukan Raya.
Raya mengeleng." Galang, Papa tidak lagi menyakiti mama, mama tidak sedih lagi sekarang. Jadi apa Galang mau berjanji satu hal kepada mama."
" Apa ma?"
" Kalau Papa datang kesini untuk menemui Galang sama Gilang. Galang tidak boleh lari dan marah sama papa, Galang mau janjikan?" Raya tidak ingin Galang menyimpan dendam kepada papanya sendiri. Karena hubungan ayah dan anak itu tidak akan pernah putus sampai kapanpun.
Meskipun Bagas sudah jahat kepadanya. Tapi dia tetap papa yang baik untuk anak anak. Tidak seharusnya anak sekecil Galang menyimpan dendam. Yang nantinya dendam itu hanya akan merusak mentalnya.
" Tapi ma.." Galang masih ingin tahu alasannya.
" Papa itu baik sayang, Papa hanya melakukan kesalahan kecil kepada mama, seperti Galang atau Gilang buat kesalahan, Mama selalu memaafkan. Jadi Galang juga harus memaafkan papa, ya" Jelas Raya lagi.
" Galang mengerti ma."
Raya kembali memeluk Galang erat. Mental anaknya tidak boleh rusak hanya karena hal ini. Masa depan mereka masih panjang.
Raka tersenyum." Siapa tadi yang dapat hadiah dari papanya? ayo sekarang kita main.." Ajak Raka sambil mengambil bola yang ada dilantai.
Gilang langsung berlari memeluk Raka. Diikuti Galang yang melepaskan pelukkan Raya.
Malam itu Raya sadar. Luka tidak selamanya harus disimpan, terkadang luka harus di buang untuk mendapatkan hal yang penting. Yaitu senyuman anak anaknya.
TAK APA JIKA KAMU MENGHARAPKAN PADA YANG LAIN.. BUNUH SEMUA MUSUHMU BUNUH SEMUA ORANG YANG MEMBUNUH IBU MU
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN