Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Suara dari Balik Tirai
Toko buku itu mendadak terasa seperti kotak kedap udara. Aruna bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Di depan meja kasir, gadis yang sangat mirip dengan Seraphina itu masih mempertahankan senyum misteriusnya, seolah ia baru saja memberikan teka-teki paling mematikan di semesta.
"Pembaca? Apa maksudmu mereka masuk ke sini secara fisik?" Aruna bertanya, suaranya sedikit meninggi. Ia melirik Arvand yang sudah kembali waspada, tangan pria itu mencengkeram gagang pedangnya yang patah, siap menghadapi ancaman apa pun.
Seraphina muda atau apa pun sebutannya di dunia campuran ini mengetuk sampul buku di depannya. "Selama ini, mereka hanya menonton dari balik layar ponsel atau komputer. Mereka berkomentar, mereka memuji, atau mereka menghujat. Tapi ketika kau menghancurkan mesin Arsitek Semesta, kau merobek dinding pembatasnya. Sekarang, rasa penasaran mereka berubah menjadi rasa lapar."
Di luar jendela toko, langit senja Jakarta yang tadi cantik mendadak terdistorsi. Retakan hitam di Bundaran HI meluas, mengeluarkan suara dengung yang mirip dengan jutaan bisikan orang yang sedang berdebat. Cahaya lampu kota mulai berkedip-kedip, tersedot oleh kegelapan di pusat kota.
"Ibu, Arel dengar mereka," bisik Arel sambil menutup telinganya erat-erat. "Banyak sekali suara... mereka bilang aku harus mati supaya ceritanya jadi sedih. Mereka bilang Ayah harus khianati Ibu supaya ada drama."
Wajah Arvand mengeras. Rahangnya mengatup rapat. "Tidak akan ada yang menyentuh anakku. Dan aku tidak akan pernah mengkhianati Aruna, apa pun yang mereka tulis!"
"Mereka bukan menulis lewat pena lagi, Jenderal," Seraphina muda berdiri, berjalan menuju jendela dan menunjuk ke arah kerumunan orang yang mulai muncul dari retakan hitam itu.
Sosok-sosok itu tidak seperti eksekutor atau arwah penulis. Mereka berpakaian sangat modern... kaus oblong, celana jins, memegang ponsel yang menyala, tapi wajah mereka tidak memiliki fitur yang jelas. Hanya ada sepasang mata yang bersinar putih dan mulut yang terus bergumam tanpa henti.
"Itu adalah manifestasi dari ego para pembaca yang toksik," jelas Seraphina. "Mereka ingin masuk ke sini untuk mengambil alih peranmu, Aruna. Mereka ingin menjadi tokoh utama dalam versi mereka sendiri."
BRAKK!
Pintu toko buku terbanting terbuka. Salah satu dari sosok tanpa wajah itu masuk. Ia mengenakan jaket hoodie hitam, tangannya memegang sebuah ponsel yang memancarkan cahaya ungu.
"Ratri... kenapa kamu pilih Arvand?" suara sosok itu bergema, terdengar seperti suara wanita muda yang sedang marah. "Kaelan lebih tampan! Kamu harusnya sama Kaelan! Aku akan hapus Arvand sekarang juga!"
Sosok itu mengangkat ponselnya ke arah Arvand. Sebuah gelombang energi berbentuk barisan teks hujatan melesat keluar.
Arvand dengan sigap melompat, menebas teks itu dengan pedangnya. Namun, teks itu tidak hancur; ia justru menempel di bilah pedang Arvand, membuat pedang itu terasa sangat berat hingga ujungnya menghantam lantai kayu.
"Pedangku... terasa seperti membawa beban ribuan orang," geram Arvand, berusaha mengangkat senjatanya kembali.
"Itu karena yang menyerangmu adalah opini!" Aruna teringat sesuatu. Ia membuka kipas besi pemberian Seraphina. "Sera, bagaimana cara melawan mereka kalau mereka bukan makhluk fisik?"
"Gunakan logikamu, Aruna! Kau adalah penulis aslinya! Ingatkan mereka siapa yang memegang kendali atas emosi di sini!"
Aruna melangkah maju, berdiri di depan Arvand. Ia menatap sosok berjaket hoodie itu dengan berani. "Aku tidak peduli apa maumu! Di dalam ceritaku, Arvand adalah orang yang kucintai karena keberanian dan kesetiaannya, bukan karena ketampanannya!"
Aruna mengibaskan kipas birunya, menciptakan gelombang angin yang membawa aroma kejujuran. Angin itu menghantam sosok tersebut, membuat teks-teks ungu yang menempel di pedang Arvand menguap.
Sosok itu menjerit, suaranya pecah seperti sinyal radio yang rusak, lalu ia menghilang menjadi butiran debu digital.
"Itu hanya satu," Seraphina muda memperingatkan. "Ada ribuan lagi di luar sana. Dan mereka sedang menuju ke istana."
"Kita harus ke istana sekarang," Aruna menoleh pada Arvand dan Arel. "Jika mereka menguasai istana, mereka akan mengubah sejarah Kerajaan Utara sesuai keinginan mereka."
Mereka berlari keluar toko buku. Jakarta-Novel City kini benar-benar kacau. Mobil-mobil listrik berhenti di tengah jalan karena pengemudinya mendadak hilang kesadaran. Para prajurit kerajaan mencoba menahan kerumunan sosok tanpa wajah, namun senjata mereka tidak berguna melawan energi opini yang abstrak.
"Ibu, di sana!" Arel menunjuk ke arah Monas yang kini sudah benar-benar menyatu dengan bangunan istana.
Di puncak Monas, retakan hitam raksasa itu mulai mengeluarkan tangan-tangan besar yang mencoba mencengkeram kubah emas istana. Suara-suara bisikan itu semakin keras, menciptakan badai suara yang memekakkan telinga.
"Bunuh Aruna!"
"Jadikan Arel jahat!"
"Bikin alurnya jadi sedih saja!"
"Berisik sekali!" Arvand menebas setiap sosok yang mencoba mendekat. "Aruna, kita tidak bisa lewat jalan utama! Terlalu banyak dari mereka!"
"Lewat jalur bawah tanah!" Aruna teringat jalur evakuasi yang pernah ia tulis di Bab 15. "Ada pintu rahasia di bawah stasiun kereta bawah tanah yang terhubung langsung ke gudang senjata istana!"
Mereka melompat ke dalam jalur kereta yang kini sudah mati. Di dalam kegelapan terowongan, Aruna bisa merasakan getaran dari atas. Dunia yang ia bangun dengan susah payah ini sedang diperkosa oleh imajinasi orang-orang yang hanya ingin melihat kehancuran.
"Arvand, apa kau takut?" tanya Aruna di tengah langkah cepat mereka.
Arvand berhenti sejenak, menatap Aruna dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menyentuh pipi Aruna dengan tangannya yang kasar. "Aku pernah menghadapi naga, aku pernah menghadapi ribuan pasukan pemberontak, dan aku pernah menghadapi kematian. Tapi melihatmu diragukan oleh dunia yang kau ciptakan sendiri... itulah yang paling menakutkan bagiku."
Aruna tersenyum sedih. "Mereka tidak mengenalmu seperti aku mengenalmu."
Mereka sampai di sebuah pintu besi tua yang tertutup lumut. Aruna meletakkan telapak tangannya di sana. Pintu itu terbuka, menyingkapkan tangga spiral yang menuju ke atas. Begitu mereka keluar, mereka sudah berada di dalam gudang senjata istana yang megah namun sunyi.
Namun, gudang itu tidak kosong.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan pakaian sangat formal, memegang sebuah tablet digital. Di sampingnya, berdiri Pangeran Kaelan, tapi Kaelan yang ini tampak berbeda. Matanya kosong, dan ia mengenakan pakaian yang terlalu modern untuk dunianya.
"Selamat datang, Aruna," pria itu mendongak. Aruna mengenalnya. Dia adalah kritikus sastra paling kejam yang pernah menghancurkan karier Aruna di dunia nyata sebelum ia masuk ke dunia novel ini.
"Pak Baskara?" Aruna terbelalak. "Apa yang Bapak lakukan di sini?"
"Aku bukan Baskara yang kau kenal di kantor," pria itu berdiri. "Aku adalah perwakilan dari 'Dewan Pembaca Tertinggi'. Kami merasa ceritamu ini terlalu klise. Terlalu banyak kebahagiaan. Pembaca kami bosan. Jadi, kami memutuskan untuk memberikan sedikit bumbu."
Baskara menunjuk ke arah Kaelan. "Aku sudah memprogram ulang Kaelan untuk menjadi tokoh utama yang baru. Dan tugas pertamanya adalah menghapus tokoh sampingan yang sudah tidak berguna ini."
Kaelan menghunus pedangnya, yang kini bersinar dengan cahaya ungu pekat. Ia melesat ke arah Arvand dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
TRANGGG!
Benturan dua pedang itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan rak-rak senjata di sekeliling mereka. Arvand terdorong mundur hingga menghantam dinding batu.
"Arvand!" Aruna hendak menolong, tapi Baskara menghalanginya dengan dinding energi dari tabletnya.
"Jangan ikut campur, Aruna. Biarkan penonton mendapatkan apa yang mereka mau: pertarungan berdarah antar pangeran," Baskara tersenyum puas. "Jika Kaelan menang, naskah ini akan mendapatkan rating tertinggi tahun ini."
Arvand terengah-engah, mencoba menahan serangan Kaelan yang bertubi-tubi. Kaelan tidak lagi bertarung dengan teknik manusia; gerakannya patah-patah namun sangat kuat, seolah-olah ia digerakkan oleh algoritma.
"Ayah!" Arel mencoba menggunakan energi emasnya, namun Baskara menjentikkan jarinya, dan sebuah sangkar digital mengurung Arel.
"Diam di sana, Bocah Baterai. Kekuatanmu dibutuhkan untuk bab penutup nanti," ujar Baskara dingin.
Aruna melihat suaminya mulai terdesak. Arvand sudah terluka parah di bahu, dan pedang patahnya mulai hancur menjadi serpihan kecil. Kaelan mengangkat pedang ungunya tinggi-tinggi, siap untuk membelah dada Arvand.
"Tidak... aku tidak akan membiarkanmu!" Aruna menatap kipas besinya. Ia menyadari sesuatu. Jika mereka adalah pembaca yang ingin drama, maka ia harus memberikan sesuatu yang tidak pernah mereka duga. Sebuah plot twist yang tidak ada dalam algoritma mereka.
Aruna tidak menyerang Kaelan atau Baskara. Ia justru mengarahkan kipasnya ke arah dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan, Bodoh?!" Baskara berteriak saat melihat Aruna mulai menuliskan kode di udara yang mengarah ke jantungnya sendiri.
"Kalian ingin rating, kan? Kalian ingin drama?" Aruna menatap Baskara dengan senyum menantang. "Bagaimana kalau tokoh utamanya mati di tengah cerita sebelum kalian sempat menuliskan akhirnya? Naskah ini akan rusak selamanya, dan kalian tidak akan mendapatkan apa-apa!"
Aruna menusukkan ujung kipas tajamnya ke arah dadanya sendiri.
"Ratri, JANGAN!" raung Arvand.
Tepat sebelum ujung kipas itu menyentuh kulit Aruna, seluruh ruangan membeku. Waktu berhenti. Kaelan terpaku dalam posisi menyerang, Baskara mematung dengan wajah panik, dan Arel membeku di dalam sangkarnya.
Hanya Aruna yang bisa bergerak.
Dari dalam bayangan di sudut gudang senjata, muncul seorang pria tua dengan pakaian compang-camping, memegang sebuah buku catatan kecil yang sudah sangat tua. Ia bukan Kaisar tua, bukan pula Panglima Arwah.
"Menarik," pria tua itu berjalan mendekati Aruna. "Kau adalah penulis pertama yang berani melakukan bunuh diri naratif demi menyelamatkan karaktermu. Kau tahu, itu adalah tindakan paling terlarang di semesta ini."
"Siapa kau?" bisik Aruna.
Pria tua itu membuka bukunya. Di halaman pertama, ada tulisan tangan yang sangat indah: Naskah Awal Semesta.
"Aku adalah orang yang menulis naskah sebelum ada 'Pembaca'. Aku adalah Kesunyian Sebelum Kata," ujar pria itu. "Dan karena keberanianmu, aku akan memberimu satu kesempatan. Aku bisa menghapus seluruh pembaca itu dari duniamu. Tapi harganya... kau harus menghapus kemampuanmu untuk menulis selamanya. Kau akan hidup sebagai manusia biasa di dunia ini, tanpa tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan punya kendali lagi atas takdir Arvand atau Arel."
Aruna menatap Arvand yang membeku. Menjadi manusia biasa berarti ia tidak bisa lagi memprediksi bahaya. Ia tidak bisa lagi memberikan "keberuntungan" pada suaminya lewat naskah.
"Aku terima," ujar Aruna tanpa ragu.
Pria tua itu tersenyum, lalu meniup buku catatannya. Debu-debu dari buku itu terbang memenuhi ruangan, menelan segalanya dalam cahaya putih yang murni.
Aruna membuka matanya. Ia berada di kamar tidurnya di istana. Matahari pagi masuk lewat jendela, memberikan kehangatan yang nyata. Tidak ada lagi bisikan di kepalanya. Tidak ada lagi kabel-kabel transparan di langit.
Ia menoleh ke samping. Arvand sedang tidur terlelap, napasnya teratur. Bahunya sudah sembuh total, hanya menyisakan bekas luka tipis yang menjadi saksi perjuangan mereka.
Arel masuk ke kamar sambil membawa sepiring buah-buahan. "Ibu, Ayah! Bangun! Hari ini kita harus ke pasar pusat! Katanya ada festival besar!"
Aruna tersenyum, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mencoba memikirkan sebuah kalimat puitis untuk menggambarkan momen ini, namun kepalanya kosong. Ia benar-benar tidak bisa 'menulis' lagi. Dan itu terasa sangat melegakan.
Mereka bertiga berjalan keluar istana, menuju kota Jakarta-Novel City yang kini benar-benar normal dan hidup secara alami.
Namun, saat mereka melewati sebuah gang kecil, Aruna melihat sebuah bayangan yang lewat dengan cepat. Di dinding gang itu, ada sebuah tulisan baru yang dibuat dengan cat semprot merah:
"MUSIM KEDUA AKAN SEGERA DIMULAI. PEMBACA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI."
Aruna berhenti sejenak, menatap tulisan itu. Arvand memegang tangannya, memberikan kekuatan. "Ada apa, Sayang?"
Aruna menatap suaminya, lalu menatap langit yang biru. "Bukan apa-apa, Arvand. Hanya sebuah coretan lama."
Aruna terus berjalan, namun di dalam sakunya, ponsel lamanya yang seharusnya sudah mati mendadak menyala satu kali, menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tersembunyi:
"Selamat atas kehidupan barumu, Aruna. Tapi kau lupa... seorang penulis tidak pernah benar-benar bisa berhenti menulis. Karena hidupmu sendiri adalah naskah yang sedang dibaca oleh Seseorang di atas sana."
Siapakah 'Seseorang' yang dimaksud dalam pesan misterius tersebut? Apakah kehidupan damai Aruna hanyalah sebuah 'bab jeda' sebelum konflik yang lebih besar di musim kedua? Dan benarkah Aruna sudah benar-benar kehilangan kekuatannya, ataukah kekuatan itu hanya sedang berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.