NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Suasana di dalam apartemen yang tenang perlahan terisi oleh alunan instrumen piano yang lembut dan menenangkan.

Jati meredupkan lampu utama, menyisakan cahaya temaram yang hangat, lalu menghampiri Lintang yang masih duduk termenung di tepi ranjang.

Jati mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat sopan, seolah sedang mengajak seorang putri di lantai dansa.

Lintang mendongak, menyambut tangan suaminya, dan membiarkan Jati menariknya berdiri perlahan.

"Mari berdansa sebentar, Sayang. Buang semua pikiran buruk itu keluar jendela," bisik Jati.

Ia melingkarkan tangannya di pinggang Lintang dengan sangat protektif, sementara Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Jati.

Mereka bergerak sangat pelan, mengikuti irama musik klasik yang mengalir halus. Namun, pikiran Lintang rupanya masih tertinggal pada wanita hamil yang tadi bersujud di depan pintu mereka.

"Mas, aku sebenarnya kasihan melihat Mbak itu tadi. Perutnya sudah besar sekali," gumam Lintang dengan suara yang sedikit bergetar.

"Aku terpikir, bagaimana kalau dia harus melahirkan tanpa didampingi suami? Rasanya pasti berat sekali."

Jati menghentikan gerakan dansanya sejenak. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap mata Lintang yang tampak berkabut karena rasa iba.

"Sayang, sudah cukup. Kamu sudah sangat baik," potong Jati dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Jangan biarkan kebaikan hatimu justru membuatmu merasa bersalah atas kesalahan yang dibuat orang lain. Dery yang memilih jalan ini, bukan kamu."

Jati merapikan anak rambut yang menutupi kening Lintang.

"Kamu sudah memberikan bantuan finansial yang lebih dari cukup untuk persalinannya. Itu adalah tindakan yang sangat mulia bagi seseorang yang pernah disakiti seperti kamu. Sekarang, tugasmu bukan memikirkan nasib Dery, tapi memikirkan nasib si kecil yang ada di sini."

Jati menurunkan tangannya, mengusap perut Lintang yang masih terasa sangat rata dengan gerakan melingkar yang lembut.

"Anak kita butuh Ibu yang tenang dan bahagia. Kalau kamu stres memikirkan mereka, dia juga akan ikut merasakan stresnya. Paham?"

Lintang menghela napas panjang, mencoba melepaskan beban yang menghimpit dadanya.

Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa suaminya benar.

"Iya, Mas. Maaf, aku terlalu terbawa perasaan."

"Tidak perlu minta maaf untuk hati yang tulus," jawab Jati sambil mengecup kening Lintang dengan lama.

"Sekarang, lupakan Dery, lupakan Mila, lupakan butik tadi. Malam ini hanya ada aku, kamu, dan musik ini. Mengerti?"

Jati kembali mengajak Lintang bergerak pelan, kali ini Lintang memejamkan matanya, benar-benar menikmati aroma parfum Jati dan rasa aman yang hanya bisa ia dapatkan di dalam pelukan suaminya.

Alunan musik klasik yang tadinya menenangkan seketika terasa berhenti di telinga Jati saat Lintang mendongak dengan mata berbinar. Pelukan hangat di pinggang Lintang pun mengendur sejenak karena keterkejutan Jati.

"Mas, tiba-tiba aku pengen manisan mangga," gumam Lintang dengan nada manja yang tak terbantahkan.

"Yang segar, yang masih garing, terus bumbunya ada pedas-pedasnya sedikit..."

Jati terdiam. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.

Di luar, hujan rintik mulai turun membasahi kaca jendela apartemen mereka yang tinggi.

Plak!

Jati menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan kanan, membuat suara yang cukup nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Ia mengembuskan napas panjang antara ingin tertawa dan pasrah.

"Manisan mangga? Jam sepuluh malam lewat begini, Sayang?" Jati bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tadi di mall kita lewat toko buah, kamu bilangnya mual mencium bau mangga arumanis. Sekarang malah minta manisannya?"

"Ya itu kan tadi, Mas. Sekarang si kecil katanya mau yang asam-asam segar. Boleh ya?"

Lintang merapatkan tubuhnya, memberikan tatapan maut yang selalu membuat pertahanan Jati runtuh seketika.

Jati memijat pangkal hidungnya, mencoba berpikir cepat.

Di mana ia bisa mencari manisan mangga di tengah malam begini yang terjamin kebersihannya?

Ia tidak mungkin membiarkan Lintang memakan sembarang manisan pinggir jalan yang belum tentu higienis.

"Oke, oke. Jangan pasang muka sedih begitu," ujar Jati akhirnya sambil meraih ponselnya di atas nakas.

"Mas coba hubungi manajer restoran langganan Mas. Kalau mereka tidak punya, Mas suruh orang cari sampai dapat ke pasar induk sekarang juga."

Lintang langsung bersorak kecil dan mengecup pipi Jati singkat. "Makasih, Mas Jati paling ganteng!"

Jati hanya bisa tersenyum kecut sambil mulai mengetik pesan dengan cepat. "Ganteng-ganteng begini jadi kurir manisan mangga tengah malam ya demi kamu. Tunggu di sini, jangan tidur dulu sebelum manisannya datang."

Melihat Lintang yang kembali ceria, Jati menyadari bahwa hidupnya sebagai pengusaha sukses tidak ada artinya jika ia tidak bisa memenuhi keinginan sederhana istrinya yang sedang mengidam.

Baginya, "berburu" manisan mangga malam ini adalah misi paling penting melebihi penandatanganan kontrak mana pun.

Jati menghela napas panjang, namun bibirnya tak bisa berhenti tersenyum tipis.

Setelah tiga asistennya dan para manajer rumah makan melapor bahwa manisan di supermarket besar sudah habis atau teksturnya terlalu lembek, Jati memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya sendiri.

Ia tidak akan membiarkan Lintang kecewa, apalagi kriteria "garing" itu sepertinya menjadi harga mati bagi istrinya malam ini.

"Mas, aku ikut ya? Jangan ditinggal di apartemen sendirian," pinta Lintang dengan suara serak khas orang mengantuk namun tetap keras kepala.

Jati tidak tega menolak. Ia membawakan bantal kecil dan selimut tipis ke dalam mobil mewah mereka.

Namun, alih-alih duduk di samping kemudi, Lintang memilih meringkuk di kursi belakang.

Katanya, ia ingin merasa seperti sedang diayun-ayun agar mualnya tidak kambuh lagi.

Jati melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang karena rintik hujan.

Sesekali ia melirik melalui spion tengah, memastikan Lintang baik-baik saja.

"Mas, sudah dapat belum?" suara Lintang terdengar semakin menjauh, sayup-sayup ditelan rasa kantuk.

"Sabar ya, Sayang. Ini Mas sedang menuju daerah yang jualan manisan buah musiman. Katanya di sana masih ada yang buka," jawab Jati lembut.

Namun, tidak ada sahutan lagi. Saat Jati kembali melirik ke spion tengah beberapa menit kemudian, ia melihat Lintang sudah tertidur pulas.

Kepalanya bersandar nyaman di bantal, dengan selimut yang membungkus tubuhnya hingga ke dada.

Napasnya terdengar teratur, sangat kontras dengan hiruk-pikuk pencarian manisan yang sedang Jati lakukan.

Jati memelankan laju mobilnya agar tidak ada guncangan yang membangunkan sang istri. Ia tersenyum geli. Dia yang minta, dia yang tidur duluan, batin Jati.

Setelah berputar-putar hampir tiga puluh menit, Jati akhirnya menemukan sebuah kedai manisan legendaris yang hampir tutup.

Ia turun dari mobil dengan sangat hati-hati agar suara pintu tidak mengejutkan Lintang.

"Pak, saya mau manisan mangga. Harus yang paling garing, yang potongannya tebal," ucap Jati pada penjualnya, seolah sedang melakukan transaksi bisnis bernilai miliaran.

Setelah mendapatkan satu toples besar manisan mangga yang sesuai kriteria—lengkap dengan bumbu garam pedas yang dipisah—Jati kembali ke mobil.

Ia menatap Lintang yang masih terlelap. Wajah istrinya tampak begitu damai dalam tidurnya, membuat Jati merasa bahwa lelahnya berkeliling kota terbayar lunas hanya dengan melihat ketenangan itu.

Jati tidak langsung menyalakan mesin. Ia diam sejenak, memandangi Lintang dari kursi kemudi.

Ia berjanji dalam hati, sesulit apa pun permintaan Lintang ke depannya, ia akan selalu menjadi orang pertama yang turun tangan untuk memenuhinya.

Mobil mewah itu berhenti dengan halus di parkiran bawah apartemen.

Jati mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang. Baru saja ia hendak membisikkan nama istrinya agar terbangun, Lintang sudah mengerjapkan mata. Indra penciumannya seolah memiliki radar khusus; aroma asam segar dari manisan di kursi depan langsung menembus kesadarannya.

"Mas, sudah dapat?" suara Lintang serak, namun matanya langsung berbinar saat melihat toples di tangan Jati.

"Sudah, Sayang. Ini paling garing sesuai maumu," jawab Jati sambil membukakan pintu belakang.

Begitu sampai di dalam apartemen, Lintang tidak membuang waktu.

Ia duduk di meja makan dan langsung menyantap manisan mangga itu dengan lahap.

Suara kriuk dari tiap gigitan mangga muda yang garing itu memenuhi ruangan.

Jati hanya bisa berdiri bersandar di tembok, melipat tangan di dada sambil geleng-geleng kepala melihat kecepatan makan istrinya.

"Enak banget, Mas! Pas sekali rasanya," seru Lintang riang.

Kemudian ia mengambil sepotong yang paling besar, mencocolnya ke bumbu garam pedas, dan menyodorkannya ke arah Jati.

"Nih, hadiah buat supir paling baik sedunia. Buka mulutnya, Mas."

Jati terkekeh, namun tetap menerima suapan itu. Rasa asam yang meledak di lidahnya membuatnya sedikit mengernyit, namun melihat senyum puas Lintang, rasa asam itu jadi terasa manis baginya.

Setelah rasa ngidamnya terpenuhi, Lintang menyadari guratan lelah di wajah Jati.

Kantung mata suaminya tampak sedikit menebal karena seharian ini berurusan dengan Mila, Andre, drama di butik, dan terakhir berburu mangga tengah malam.

"Mas, sini duduk di sofa. Biar aku pijat sebentar," pinta Lintang lembut.

"Eh, jangan. Kamu harus istirahat, Lintang. Mas nggak apa-apa," tolak Jati, teringat janjinya sendiri untuk tidak membiarkan istrinya bekerja kasar.

"Hanya sebentar, Mas. Ini tanda terima kasihku. Ayolah," bujuk Lintang sambil menarik tangan Jati menuju sofa panjang.

Jati akhirnya menyerah. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.

Lintang mulai memijat pundak dan punggung Jati dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perasaan.

Sentuhan tangannya yang hangat dan ahli perlahan-lahan mengurai ketegangan di otot-otot Jati.

"Enak, Mas?" bisik Lintang.

"Sangat enak, tanganmu memang ajaib, Lintang..." suara Jati terdengar semakin mengecil.

Keheningan malam dan pijatan lembut istrinya menjadi pengantar tidur yang paling sempurna.

Tak butuh waktu lama, napas Jati mulai terdengar berat dan teratur.

Sang penguasa bisnis yang biasanya selalu siaga itu akhirnya kalah oleh rasa lelah dan kenyamanan yang diberikan Lintang.

Jati tertidur pulas di atas sofa, bahkan sebelum Lintang menyelesaikan pijatannya.

Lintang berhenti sejenak, menatap wajah suaminya yang tampak sangat damai saat tidur.

Ia menarik selimut tipis yang tadi mereka bawa dari mobil dan menyelimuti tubuh besar Jati dengan penuh kasih.

"Terima kasih sudah menjagaku sehebat ini, Mas," bisiknya pelan sebelum mengecup pipi Jati dan ikut berbaring di sampingnya, menjaga sang suami dalam tidurnya.

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!