NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Pertemuan Yang Disusun

Hari belum terlalu siang ketika rencana yang Lisa susun mulai bergerak satu per satu dengan presisi yang hampir tidak menyisakan celah, karena setiap orang yang terlibat sudah berada pada posisi yang ia inginkan tanpa benar-benar menyadari bahwa langkah mereka sedang diarahkan, dan di dalam ruang kerjanya, Lisa duduk dengan tenang sambil memeriksa dokumen yang sebenarnya tidak lagi menjadi fokus utamanya, sebab pikirannya jauh lebih tertuju pada pertemuan yang akan segera terjadi—pertemuan yang tidak hanya sekadar percakapan antara dua sahabat lama, melainkan awal dari retakan yang sengaja ia ciptakan.

Pintu diketuk pelan.

“Masuk,” ucap Lisa tanpa mengalihkan pandangan.

Nina Kartika masuk dengan langkah rapi, membawa tablet di tangannya.

“Pertemuan dengan Clara sudah diatur, Nona,” katanya.

Lisa akhirnya mengangkat pandangan.

“Kapan?” tanyanya.

“Satu jam lagi, di lounge lantai atas,” jawab Nina.

Lisa mengangguk pelan.

“Sempurna,” katanya singkat.

Nina sempat ragu sejenak sebelum berkata, “Apakah ada hal khusus yang perlu saya siapkan?”

Lisa tersenyum tipis.

“Tidak perlu,” jawabnya, “yang akan terjadi nanti… tidak ada dalam jadwal resmi.”

Nina mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti, lalu keluar dari ruangan dengan tenang.

Begitu pintu tertutup, Lisa bersandar ringan di kursinya, matanya menatap kosong ke depan namun pikirannya bergerak cepat, mengulang setiap kemungkinan yang bisa terjadi dalam pertemuan itu, karena ia tahu Clara bukan tipe yang mudah dipancing tanpa perlawanan, tetapi justru itulah yang ia butuhkan—reaksi.

Sementara itu…

Di tempat lain…

Clara Wijaya duduk di dalam mobilnya dalam perjalanan menuju kantor Lisa, ekspresinya terlihat tenang di luar, namun tangannya yang menggenggam ponsel sedikit lebih erat menunjukkan bahwa pikirannya tidak benar-benar santai, terutama setelah percakapannya dengan Riko dan Luna yang semakin memperjelas bahwa situasi ini tidak bisa dianggap sepele.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Dari Luna Priscilla.

> Dia menghubungiku.

Clara langsung membaca itu dengan cepat.

> Siapa? balasnya.

Beberapa detik kemudian…

> Devan.

Clara terdiam.

Matanya menyempit perlahan.

> Dan?

Balasan datang lagi.

> Aku akan temui dia.

Clara menarik napas pelan.

Lalu mengetik dengan cepat.

> Hati-hati. Dia bukan target biasa.

Luna membalas hampir seketika.

> Aku juga bukan wanita biasa.

Clara menatap layar itu beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Namun senyum itu…

Tidak hangat.

Di sisi lain kota…

Di sebuah lounge eksklusif, Devan Alexander sudah duduk lebih dulu, posisinya tenang namun jelas menguasai ruang, dan beberapa menit kemudian, Luna masuk dengan langkah percaya diri, menarik perhatian tanpa perlu berusaha terlalu keras.

“Kamu tidak suka menunggu, ya?” kata Luna sambil duduk di hadapannya.

Devan menatapnya sekilas.

“Aku tidak suka membuang waktu,” jawabnya singkat.

Luna tersenyum.

“Kalau begitu kita langsung ke inti saja,” katanya, “kenapa kamu mencariku?”

Devan tidak terburu-buru menjawab, ia justru menatap Luna dengan lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat.

“Aku ingin tahu… kamu bermain untuk siapa,” katanya akhirnya.

Luna tertawa kecil.

“Itu pertanyaan yang cukup berani,” balasnya.

Devan tidak bereaksi.

“Jawabannya?” tanyanya lagi.

Luna menyandarkan tubuhnya.

“Aku bermain untuk diriku sendiri,” katanya santai, lalu menambahkan, “tapi kadang… aku membantu teman.”

Devan mengangguk pelan.

“Clara,” katanya.

Luna tidak terlihat terkejut.

Justru tersenyum.

“Kamu cepat,” ucapnya.

Devan bersandar ringan.

“Tidak cukup cepat kalau dibandingkan dengan seseorang yang sedang mengatur semua ini dari belakang,” katanya.

Luna menatapnya dengan lebih serius sekarang.

“Kamu bicara tentang Lisa?” tanyanya.

Devan tidak langsung menjawab.

Namun itu sudah cukup menjadi jawaban.

Di waktu yang hampir bersamaan…

Lisa berjalan menuju lounge lantai atas kantornya, langkahnya tenang dan penuh kendali, dan saat ia sampai, ia sudah melihat Clara duduk di sana lebih dulu dengan sikap yang terlihat santai, namun mata yang terlalu fokus menunjukkan bahwa ia datang bukan hanya untuk sekadar berbincang ringan.

“Tidak biasa kamu datang lebih dulu,” kata Lisa sambil mendekat.

Clara tersenyum.

“Aku tidak ingin membuatmu menunggu,” jawabnya.

Lisa duduk di hadapannya.

“Sejak kapan kamu jadi sebaik ini?” tanyanya ringan.

Clara tertawa kecil.

“Sejak aku mulai merasa kita perlu bicara serius,” katanya.

Lisa mengangguk pelan.

“Bagus,” jawabnya, “aku juga berpikir begitu.”

Beberapa detik hening.

Namun bukan hening yang kosong.

Melainkan hening yang penuh dengan perhitungan.

Clara akhirnya membuka percakapan dengan nada yang lebih dalam.

“Lisa,” katanya, “apa yang sebenarnya kamu lakukan sekarang?”

Lisa tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Clara dengan tenang.

Lalu berkata pelan…

“Apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu.”

Clara mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

Lisa tersenyum tipis.

“Melihat siapa yang benar-benar ada di pihakku,” jawabnya.

Kalimat itu terasa sederhana.

Namun langsung mengenai sesuatu yang lebih dalam.

Clara terdiam sejenak.

Lalu berkata dengan nada yang sedikit berubah.

“Kamu meragukanku?”

Lisa menatapnya tanpa berkedip.

“Haruskah aku tidak meragukanmu?” balasnya.

Pertanyaan itu menggantung.

Dan untuk pertama kalinya…

Clara tidak langsung punya jawaban.

Sementara di tempat lain…

Luna menatap Devan dengan senyum yang mulai berubah.

“Kalau kamu datang untuk memperingatkanku…” katanya pelan.

Devan memotong.

“Aku datang untuk melihat… kamu berada di sisi mana.”

Luna memiringkan kepalanya.

“Dan kalau aku tidak di sisimu?” tanyanya.

Devan tersenyum tipis.

“Kalau begitu… kamu akan berada di sisi yang kalah.”

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi.

Namun justru itu yang membuatnya terdengar lebih berbahaya.

Dan di saat yang sama…

Lisa menatap Clara dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

Karena ia tahu…

Benih kecurigaan sudah mulai tumbuh.

Dan begitu itu berkembang…

Tidak ada yang bisa menghentikannya lagi. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!