Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31- CKOD 31
Perawat Mega tergesa-gesa menemui dokter Lutfi.
"Dokter, dokter!" perawat Mega sangking paniknya sampai menarik lengan dokter Lutfi yang sedang melakukan kunjungan pasien.
Melihat perawat Mega yang panik. Dokter Lutfi minta perawat yang ikut bersamanya kembali lebih dulu. Lalu keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat Mega.
"Ada apa?" tanyanya dengan ekspresi serius.
"Tuan Oscar, dia minta jarum yang besar. Dia juga menyiratkan kalau sebaiknya aku tidak bersekongkol dengan tuan Bagas. Dokter, apa yang harus kita lakukan? bagaimana kalau tuan Oscar menyakiti tuan Bagas. Jarum besar, itu pasti akan digunakan untuk menyakiti tuan Bagas!"
Dokter Lutfi mendengus pelan.
"Sudah ku duga. Kasus ini sudah di buka, mereka pasti curiga pada tuan Bagas. Kamu cari jarum yang besar seperti yang diperintahkan oleh Oscar itu. Aku akan cari obat yang bisa aku gunakan untuk membuat tuan Bagas tidak merasa sakit! tapi tunggu di koridor, setelah aku masuk satu menit, kamu baru datang, dan panggil Oscar untuk mengalihkan perhatian!" jelas dokter Lutfi.
"Baik dokter!" angguk perawat Mega yang segera meninggalkan tempat itu.
Dokter Lutfi terburu-buru pergi ke ruangannya. Dia punya obat itu, obat yang harganya lumayan. Bisa di bilang obat itu adalah kombinasi terbaik antara Lidocaine dan Ethyl chloride. Satu plesternya saja harganya bisa membeli satu buah sepeda motor. Sesuatu yang membuat seseorang akan mati rasa selama beberapa saat. Obat yang butuh ijin khusus untuk mendapatkannya.
Dokter Lutfi membuka plester itu, menjaga dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam kantong. Karena jika sudah masuk ke dalam ruangan. Tentunya dia tidak mungkin bisa membuka pembungkus plester itu.
Dokter Lutfi bergegas menuju ke ruangan Bagas di bangsal 298.
Begitu dia melihat para penjaga, dokter Lutfi juga menyapa mereka dengan sopan.
"Selamat sore!"
"Sore dokter!"
Melihat pintu terbuka, Oscar yang sejak tadi masih mengawasi Bagas menoleh ke arah pintu.
"Selamat sore tuan Oscar" sapa dokter Lutfi.
"Sore!"
"Saya akan lakukan pemeriksaan rutin!" kata dokter Lutfi.
"Silahkan!"
"Tuan Oscar tidak bertanya tentang kondisi pasien?" tanya dokter Lutfi yang memeriksa mesin medis yang terhubung pada Oscar.
"Dia koma! pasti itu yang akan dokter katakan kan?"
Dokter Lutfi mengangguk perlahan.
"Benar, lukanya sangat parah. Aku tidak tahu bagaimana pertama kali dia datang, tapi melihat laporan medis dokter sebelumnya. Aku merasa ada yang janggal, jika perkelahian antara narapidana seperti yang tertulis dalam laporan, mungkin tidak kalau lukanya akan separah itu baru di bawa petugas. Seharusnya di penjara itu kan ada pengawasan ketat, baru terdengar suara ribut saja, seharusnya sudah terdengar oleh petugas bukan? ini agak aneh..."
"Anda seorang dokter!" sela Oscar, "Obati saja pasien dengan benar! tidak usah berspekulasi macam-macam!" lanjutnya memberi peringatan pada dokter Lutfi.
Dokter Lutfi mengambil posisi di samping kepala Bagas. Sudah satu menit berlalu, saat perawat Mega membuka pintu. Dia akan segera menempelkan plester itu di tengkuk Bagas.
Ceklek
"Tuan Oscar..."
Oscar menoleh ke arah pintu, saat itu dengan cepat dokter Lutfi menempelkan plester mati rasa itu ke tengkuk Bagas.
Setelahnya dokter Lutfi kembali memeriksa selang infus.
"Apa itu?" tanya dokter Lutfi pada perawat Mega.
"Dokter, ini tuan Oscar..."
"Kalian berdua keluar!" pekik Oscar.
"Tuan, ini rumah sakit. Kondisi pasien adalah tanggung jawab kami. Apa yang mau tuan lakukan?" tanya dokter Lutfi mulai terlihat tegas.
Karena memang apapun yang terjadi pada pasien adalah tanggung jawab mereka. Meski bukan anak buah Bagas, dia juga harus melindungi pasien, sebagai seorang dokter.
"Aku tidak akan membuatnya mati. Ada kecurigaan dia hanya pura-pura. Aku sudah mendapatkan ijin dari kepala penjara untuk melakukan ini. Kalian bisa lihat, kalau kalian mau!"
Perawat Mega tidak tega, tapi dia juga tidak bisa membantah lagi.
"Tuan Oscar, anda yakin mau melakukan ini? saya adalah dokter yang bertanggung jawab pada pasien ini. Anda meragukan saya? saya tidak mengatakan pasien ini koma, berdasarkan omong kosong. Ada beberapa pemeriksaan..."
"Tidak sulit membungkam mu, dokter!" sela Oscar mengancam.
"Baiklah, silahkan! tapi kalau kecurigaan tuan Oscar tidak terbukti, dan pasien memang koma. Apalagi setelah apa yang akan tuan Oscar lakukan ini, kondisi pasien bertambah buruk. Saya sebagai dokter juga tidak akan tinggal diam!" balas dokter Lutfi.
Memangnya hanya mereka saja yang bisa menggertak.
Oscar terkekeh pelan.
"Kita lihat saja nanti!" katanya yang begitu percaya diri.
Oscar mengambil satu jarum besar yang di bawa di wadah aluminium di tangan perawat Mega.
Ujung jarum itu sangat tajam. Oscar mendekat ke arah Bagas. Perawat Mega yang melihat itu sampai mengernyitkan wajahnya ketakutan. Sementara dokter Lutfi juga terus mengawasi.
Oscar meraih jari telunjuk Bagas. Lalu menusukkan jarum itu tepat di bawah lapisan kuku Bagas.
Tsukk
Perawat Mega benar-benar merasa khawatir. Tapi dokter Lutfi tampak biasa saja.
Oscar menekan jarum itu, menggoyangnya dengan kuat sampai ada darahh yang keluar dari sana.
"Sudah berdarah, jangan keterlaluan tuan Oscar!" kata dokter Lutfi.
Plester mati rasa itu sungguh tidak mengecewakan. Bagas sungguh mati rasa, dia sungguh tidak merasakan rasa sakit ketika jarum itu menusukk kukunya.
Sementara Oscar terlihat tidak senang. Dia masih belum menyerah. Dia mengambil jari tengah Bagas dan melakukan hal yang sama.
Tapi tetap saja, Bagas bahkan tidak menunjukkan satu gerakan pun. Bahkan alisnya tidak bergerak sama sekali. Bola matanya juga. Oscar makin kesal. Dia mencabut jarum itu dari jari tengah, dan bergegas menarik tangan yang sebelahnya.
"Cukup tuan Oscar. Anda benar-benar keterlaluan. Kedua jari pasien saya sudah berdarahh. Masih mau melukainya?" tanya dokter Lutfi dengan tegas, "saya bisa adukan ini ke kepala rumah sakit!" gertaknya.
Oscar kesal, dia membanting tangan Bagas itu. Dan melemparkan jarum itu ke lantai. Lalu dengan kesal keluar dari ruangan itu. Sambil meraih ponselnya. Dia ingin tahu, apa yang selanjutnya dilakukan dokter itu di dalam. Benarkah mereka tidak bersekongkol membantu Bagas.
"Dokter, aku akan ambilkan alkohol dan obatnya!" kata perawat Mega yang meraih jarum itu dan membawanya pergi.
Dokter Lutfi mengangguk. Dia yang tahu kalau Oscar pasti mengawasinya sengaja bicara dengan lantang.
"Dasar orang tidak berperikemanusiaan. Sudah koma masih disiksa, jangan-jangan dia terluka seperti ini juga ulah mereka!" ucapnya sengaja supaya terdengar oleh Oscar.
***
Bersambung...
Namun terlihat biasa saja, di mata mereka yg tak pandai menjaga dan tak punya hati..
Dan kau terlihat berharga, ketika kau telah menjauh pergi..
Astaghfirullah.. Pengen aja suami Bella & keluarga nya ku maki².. 🤣
masa cuma seekor leo yg lagi kesurupan udah KO
masih ada yg lebih baik dari Leo yg pasti nya cinta tulus