NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Aeryn berdiri terpaku di balik pilar balkon, napasnya tertahan di tenggorokan. Di bawah sana, di antara kabut tipis sisa hujan semalam, Hugo—pria yang selalu tampak seperti bayangan setia Xavier—tengah melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Api di tong pembakaran itu menjilat kemeja hitam yang berlumuran darah. Hugo menatap api itu tanpa ekspresi, seolah ia hanya sedang membuang sampah biasa, bukan menghapus bukti sebuah nyawa yang hilang.

"Aeryn?"

Suara Xavier di belakangnya membuat Aeryn tersentak hebat. Ia segera meremas surat kaleng di dalam sakunya dan berbalik. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba memaksakan sebuah senyuman.

"Kau mengejutkanku, Xavier," ucap Aeryn, suaranya sedikit gemetar.

Xavier mendekat, matanya menyipit menatap ke arah halaman bawah. "Apa yang kau lihat sepagi ini di luar?"

"Hanya... kabut. Sangat cantik," jawab Aeryn bohong. Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar, menjauh dari balkon. "Kau sudah mau berangkat ke kantor?"

Xavier mengangguk, namun tatapannya tetap tertuju pada Aeryn. "Hugo sedang membereskan sampah di belakang. Jangan terlalu sering keluar balkon jika kau merasa dingin. Kau baru saja pulih dari syok semalam."

Aeryn hanya mengangguk kaku. Membereskan sampah? Apakah Xavier tahu apa yang sedang dibakar Hugo? Ataukah Xavier sendiri yang memerintahkannya? Pikiran itu membuat rasa hangat dari malam yang mereka lalui bersama menguap seketika, digantikan oleh keraguan yang menggigit.

Setelah Xavier berangkat ke kantor bersama Hugo, Aeryn segera bergerak. Ia tidak bisa diam saja. Jika pembunuh Herman ada di dalam rumah ini, maka ia sedang tidur bersama musuh.

Ia menyelinap ke paviliun tempat tinggal para staf keamanan. Sebagai Nyonya di mansion ini, tidak ada yang berani menghalanginya. Ia tahu Hugo punya satu ruang kerja kecil di sudut paviliun itu.

Ruangan Hugo sangat rapi. Hampir tidak ada barang pribadi. Namun, Aeryn melihat sebuah laci meja yang sedikit terbuka. Di dalamnya, terselip sebuah ponsel lama yang layarnya retak. Aeryn mengambilnya, jantungnya berpacu kencang. Ia mencoba menyalakannya. Ponsel itu tidak terkunci.

Di dalam folder pesan terkirim, ia menemukan sederet laporan harian. Namun, laporan itu tidak ditujukan kepada Xavier.

"Subjek (Xavier) mulai menunjukkan emosi yang tidak perlu terhadap target (Aeryn). Rencana tetap berjalan sesuai jadwal. Saya akan memastikan dia tidak keluar dari jalur yang Anda tetapkan."

Aeryn menutup mulutnya. Hugo bukan hanya asisten Xavier. Hugo adalah pengawas.

Ia terus menggulir pesan-pesan itu ke bawah, hingga ia menemukan satu nama pengirim yang disimpan dengan kode "O.A". Pesan terakhir dari kode itu dikirim dua hari yang lalu, tepat di hari Herman tewas.

"Herman sudah selesai. Jangan biarkan Xavier tahu bahwa saya masih memantau setiap langkahnya dari sini. Biarkan dia percaya bahwa ayahnya sudah mati."

Tubuh Aeryn mendadak lemas. Ayah Xavier... masih hidup?

Selama ini, semua orang—termasuk Aeryn—percaya bahwa kaisar lama Arkananta, sudah meninggal karena serangan jantung lima tahun lalu. Kematiannya adalah alasan Xavier naik takhta begitu cepat. Tapi pesan ini mengubah segalanya.

"Apa yang Anda cari di sini, Nyonya?"

Suara itu dingin dan tepat di belakang telinganya. Aeryn berbalik dengan cepat, ponsel retak itu masih di tangannya. Hugo berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak lagi mengenakan jas, melainkan kaos hitam biasa. Tatapannya tidak lagi tunduk, melainkan tajam dan penuh ancaman.

"Kau... kau bekerja untuk ayahnya?" bisik Aeryn, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Xavier menganggapmu seperti saudara, Hugo. Tapi kau memata-matai dia?"

Hugo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang menyeramkan. "Saudara adalah istilah yang mewah, Nyonya. Saya adalah prajurit. Dan prajurit hanya patuh pada satu jenderal. Tuan Danu adalah orang yang membentuk saya, bukan Xavier."

"Jadi kau yang membunuh Pak Herman?" suara Aeryn meninggi. "Kau membakarnya di belakang? Kemeja berdarah itu..."

Hugo tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Herman tahu terlalu banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Maryam Valerine. Sesuatu yang bahkan Tuan Danu tidak ingin Xavier ketahui. Saya hanya membersihkan jalan agar tidak ada drama keluarga yang mengganggu bisnis Arkananta."

"Kau gila," desis Aeryn. Ia mencoba lari menuju pintu, namun Hugo menghadangnya.

"Jangan membuat saya melakukan sesuatu yang akan disesali Tuan Xavier, Nyonya," ancam Hugo. "Tuan Danu sangat menyayangi putranya. Beliau hanya ingin Xavier tetap fokus. Jika Anda tetap diam, hidup Anda akan tetap mewah di mansion ini. Tapi jika Anda bicara..."

"Xavier akan tahu," potong Aeryn. "Aku akan memberitahunya."

"Silakan," tantang Hugo. "Tapi ingat satu hal. Jika Xavier tahu ayahnya masih hidup, dia akan mencari Beliau. Dan jika itu terjadi, perang saudara di Arkananta akan pecah. Siapa yang menurut Anda akan selamat? Anda? Atau Xavier yang terluka?"

Aeryn terdiam. Hugo benar. Xavier akan sangat membenci ayahnya, namun ia juga terobsesi dengan kebenaran. Mengetahui ayahnya masih hidup dan mengendalikan hidupnya dari bayangan akan menghancurkan Xavier.

Hugo mengambil kembali ponsel retak itu dari tangan Aeryn yang gemetar. "Kembalilah ke kamar Anda, Nyonya. Lupakan apa yang Anda lihat. Biarkan Xavier tetap menjadi kaisar di istana pasirnya sendiri."

Sore harinya, Aeryn duduk di studio perhiasannya, namun ia tidak bisa menggambar satu garis pun. Pikirannya kacau. Setiap suara langkah kaki di koridor membuatnya waspada. Ia merasa setiap sudut mansion ini memiliki mata dan telinga.

Xavier pulang lebih awal. Ia tampak lebih segar, luka di punggungnya sepertinya tidak menghalangi langkahnya yang gagah. Ia masuk ke studio Aeryn dan mencium keningnya dengan lembut.

"Kau tampak pucat hari ini," ucap Xavier, suaranya penuh perhatian. "Apa ada masalah di pabrik lagi?"

Aeryn menatap mata Xavier. Ia ingin berteriak. Ia ingin bilang bahwa Hugo adalah pengkhianat dan ayahnya masih hidup. Tapi ia melihat kelelahan di mata suaminya. Ia melihat luka yang belum kering. Ia tidak tega menghancurkan satu-satunya tempat aman yang baru saja mereka bangun semalam.

"Tidak ada. Hanya kurang tidur," jawab Aeryn bohong lagi. Kebohongan itu mulai terasa seperti duri di tenggorokannya.

"Istirahatlah malam ini. Aku sudah menyuruh Hugo menyiapkan makan malam spesial untuk kita," kata Xavier tanpa beban.

Aeryn hanya bisa mengangguk pelan. Saat Xavier keluar, ponsel pribadi Aeryn yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Nomor luar negeri dengan banyak kode yang tidak ia kenali.

Aeryn ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Halo?" bisik Aeryn.

Hening sejenak. Hanya ada suara deru napas berat yang terdengar sangat tua dan berwibawa di seberang sana. Suara itu membawa aura kegelapan yang sama dengan Xavier, namun jauh lebih pekat.

"Aeryn Valerine," suara itu berat, parau, dan sangat tenang. "Atau haruskah aku memanggilmu menantuku?"

Darah Aeryn seolah berhenti mengalir. "Siapa ini?"

"Kau wanita yang cerdas. Kau sudah menemukan Hugo, bukan? Aku terkesan. Xavier memilih wanita yang lebih tajam daripada yang aku perkirakan," pria itu tertawa kecil, suara tawa yang kering.

"Danu Arkananta?" tanya Aeryn, suaranya bergetar hebat.

"Kau tidak perlu menyebut nama orang yang sudah 'mati', sayang. Itu tidak sopan," jawab pria itu. "Dengar baik-baik. Aku menyukai apa yang kau lakukan pada keluarga Valerine. Tapi jangan mencoba masuk terlalu dalam ke urusan keluargaku. Kau hanya akan terluka."

"Kenapa kau bersembunyi? Kenapa kau menyiksa putra Anda sendiri dengan kebohongan ini?" Aeryn mulai berani menantang.

"Menyiksa? Aku melindunginya. Aku membiarkan dia menjadi raja sementara aku menyingkirkan semua sampah di jalannya—termasuk Herman yang malang itu."

Aeryn mencengkeram pinggiran meja. "Kau monster."

"Kita semua adalah monster di dunia ini, Aeryn. Beberapa dari kita hanya punya jas yang lebih bagus," suara pria itu mendadak menjadi sangat dingin.

Aeryn mendengar suara langkah kaki Xavier yang kembali mendekati pintu studio. Ia panik, mencoba mematikan telepon itu, namun suara di seberang sana mengucapkan kalimat terakhir yang membekukan jantungnya.

"Sampaikan salamku pada putraku, Xavier. Bilang padanya, permainannya baru saja dimulai. Dan oh, satu lagi... berhati-hatilah dengan apa yang kau temukan di rumah sakit besok. Kebenaran terkadang lebih mematikan daripada ledakan gas."

Pip.

Telepon terputus. Aeryn menatap layar ponselnya yang hitam dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menoleh saat pintu studio terbuka dan Xavier masuk membawa segelas air putih untuknya.

"Kau bicara dengan siapa?" tanya Xavier, matanya menyipit menatap ponsel di tangan Aeryn.

Aeryn menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. "Hanya... hanya orang salah sambung, Xavier."

Xavier menatapnya cukup lama, seolah tahu ada sesuatu yang besar yang disembunyikan, namun ia memilih untuk tidak mendesak. Sementara di luar jendela, Aeryn melihat Hugo berdiri di taman, menatap langsung ke arah studio dengan pandangan yang seolah berkata: Aku mengawasimu.

1
Maria Mariati
lahhhhhh
Red Blossom
Xavier jangan kenapa2 ya thor
rasyaaa
lama2 jadi bosa sama alur ceritanya
Devie~S
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!