NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Ruangan kecil di kantor kelurahan itu tiba-tiba terasa jauh lebih sempit.

Udara yang tadi biasa saja kini terasa berat.

Dita masih berdiri di depan meja administrasi. Tangannya memegang map berisi berkas, tapi jari-jarinya terasa kaku.

Di balik meja itu, Bakri juga tidak bergerak.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Tama yang berdiri sedikit di belakang Dita mengernyitkan kening.

Ia memperhatikan perubahan ekspresi Dita… lalu mengikuti arah pandangannya.

Pria di balik meja itu.

“Silakan?” kata Bakri akhirnya.

Suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tegang di sana.

Dita menelan ludah.

Ia melangkah maju dan meletakkan map di meja.

“Saya mau mengurus surat pengantar nikah,” katanya pelan.

Bakri membuka map itu.

Tangannya berhenti sejenak ketika melihat nama di formulir. Rahangnya mengeras sedikit.

Ia mengangkat mata.

“Ini semua sudah lengkap?” tanyanya.

“Niatnya begitu,” jawab Dita.

Bakri mulai memeriksa satu per satu berkas.

Fotokopi KTP.

Kartu keluarga.

Pas foto.

Ia membolak-balik kertas itu dengan gerakan lambat.

Sangat lambat.

Dita memperhatikannya dengan alis sedikit berkerut.

Beberapa detik berlalu.

Bakri menarik satu lembar kertas.

“Pas fotonya kurang satu.”

Dita langsung berkata, “Harusnya empat. Itu sudah saya masukkan.”

Bakri mengangkat bahu kecil.

“Yang ada di sini cuma tiga.”

Dita membuka mapnya sendiri.

Ia menghitung.

“Empat.”

Ia mengangkat satu foto lagi dan menaruhnya di meja.

“Ini.”

Bakri tidak menjawab.

Ia hanya mengambil foto itu… lalu kembali memeriksa kertas lain.

“Fotokopi KK kurang jelas,” katanya lagi.

Dita menatapnya.

“Kurang jelas?”

“Iya.”

“Padahal itu dari fotokopi baru.”

Bakri menggeser kertas itu sedikit.

“Tulisan alamatnya kurang terbaca.”

Dita menarik napas.

Kesabarannya mulai teruji.

“Kalau begitu nanti saya fotokopi lagi.”

Bakri mengangguk pelan.

“Silakan.”

Namun ia tidak mengembalikan berkas itu.

Dita memicingkan mata sedikit.

“Berkasnya?”

Bakri menatapnya sebentar.

“Masih dicek.”

Nada suaranya santai.

Terlalu santai.

Saat itulah Tama akhirnya angkat bicara.

“Berapa lama biasanya proses ini?”

Bakri baru benar-benar memperhatikan pria itu sekarang.

Ia menatap Tama dari atas sampai bawah.

“Kalau lengkap… cepat.”

“Kalau tidak?”

“Ya… menunggu.”

Nada suaranya tipis.

Seolah sengaja menggantung.

Dita akhirnya tidak tahan.

“Bakri.”

Pria itu mengangkat alis.

“Ada apa?”

“Kamu serius?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Beberapa orang yang sedang duduk di kursi tunggu mulai melirik ke arah mereka.

Dita menahan napas.

“Aku tidak percaya kamu bakal tidak profesional cuma karena dulu kita pernah punya hubungan.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Bakri menegang.

Matanya menatap Dita tajam.

“Kamu pikir aku melakukan ini karena itu?”

“Lalu karena apa?” balas Dita cepat.

“Semua berkas memang harus dicek.”

“Tapi tidak seperti ini.”

Nada suara Dita mulai bergetar.

“Kamu yang dulu mengkhianati aku. Kamu yang menikahi sepupuku sendiri.”

Beberapa orang mulai berbisik kecil.

Bakri mengepalkan tangannya di bawah meja.

Namun sebelum situasi semakin panas—

Tama mengeluarkan ponselnya.

Ia sama sekali tidak ikut dalam emosi itu.

Wajahnya tetap tenang.

Ia menekan beberapa nomor.

“Pak Hadi?” katanya singkat.

Dita dan Bakri sama-sama menoleh.

“Ya, saya Tama Pradana.”

Ia berhenti sejenak mendengarkan.

“Saya sedang di kelurahan. Mengurus surat pengantar nikah.”

Bakri mulai mengerutkan kening.

Tama melanjutkan dengan suara tetap tenang.

“Iya. Sepertinya ada sedikit kendala di administrasi.”

Ia menyebut nama kelurahan itu dengan jelas.

Beberapa detik kemudian ia mengakhiri telepon.

Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku.

Suasana kembali hening.

Hanya satu menit berlalu—

Ponsel Bakri tiba-tiba berdering.

Ia melihat layar.

Wajahnya langsung berubah.

Bakri berdiri cepat.

“Iya, Pak!”

Nada suaranya tiba-tiba sangat sopan.

“Iya, Pak… berkasnya sedang diproses.”

Ia melirik sekilas ke arah Tama.

“Iya… sekarang juga.”

Telepon ditutup.

Bakri duduk kembali.

Tangannya langsung bergerak cepat.

Sangat cepat.

Stempel dibuka.

Tinta ditekan.

Kertas ditandatangani.

Beberapa menit kemudian ia mendorong map itu ke arah Dita.

“Sudah selesai.”

Dita menatapnya beberapa detik.

Lalu mengambil map itu tanpa berkata apa-apa.

Tama berdiri.

Ia menatap Bakri dengan tenang.

“Bakri, ya?”

Pria itu menegang sedikit.

“Iya.”

Tama mengangguk kecil.

“Aku ingat namanya.”

Nada suaranya tetap datar… tapi dingin.

“Sebaiknya hal seperti ini tidak terjadi lagi ke depannya.”

Bakri tidak menjawab.

Ia hanya menatap meja.

Tama tidak menunggu respons.

Ia menoleh ke Dita.

“Ayo.”

Dita mengangguk.

Mereka berjalan keluar dari kantor kelurahan itu.

Begitu sampai di mobil… Dita akhirnya menghela napas panjang.

Seolah baru bisa bernapas lagi.

Tama menyalakan mesin.

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman kantor.

Beberapa menit pertama mereka sama-sama diam.

Akhirnya Dita berkata pelan.

“Terima kasih.”

Tama melirik sekilas.

“Untuk apa?”

“Tadi.”

Tama kembali fokus ke jalan.

“Tidak suka drama.”

Jawabannya singkat.

Beberapa detik kemudian ia menambahkan,

“Semakin cepat selesai… semakin baik.”

Dita menoleh.

“Maksudnya?”

Tama menghela napas kecil.

“Agar Mama bisa segera kembali ke kota.”

Dita sedikit terkejut.

“Bu Diana?”

“Iya.”

Tama mengangguk.

“Dia harus lanjut berobat.”

Suasana menjadi lebih tenang.

“Aku juga harus kembali kerja,” lanjut Tama. “Pekerjaan menumpuk karena ini.”

Karena pernikahan ini.

Kalimat itu tidak ia ucapkan langsung… tapi Dita mengerti maksudnya.

Dita tersenyum kecil.

“Jadi… kita memang harus cepat menikah.”

“Ya.”

Jawabannya sederhana.

Dita menatap keluar jendela lagi.

Ia sadar posisinya.

Pernikahan ini… bukan karena cinta.

Ini karena permintaan Bu Diana.

Dan ia sudah menerima itu sejak awal.

Namun tanpa Dita tahu—

Tama mencuri pandang ke arahnya.

Sekilas saja.

Lalu kembali menatap jalan.

Ada sesuatu yang lembut di matanya.

Sesuatu yang tidak pernah ia katakan.

“Ada satu tempat yang mau kita datangi,” kata Tama.

“Ke mana?”

“Cari kebaya.”

Dita terkejut.

“Sekarang?”

“Iya.”

Ia menoleh sedikit.

“Nenekmu ingin pesta sederhana di halaman rumah, kan?”

Dita mengangguk.

“Kalau begitu kita tetap butuh baju yang layak.”

Mereka berhenti di sebuah butik kecil di kota.

Pemiliknya seorang wanita paruh baya yang ramah.

“Wah… calon pengantin!” katanya riang.

Dita langsung tersipu.

Beberapa kebaya dikeluarkan.

Putih.

Krem.

Gading.

Dita mencoba satu per satu.

Tama duduk di kursi sambil memperhatikan.

Ketika Dita keluar dengan kebaya putih sederhana—

Ia terdiam beberapa detik.

Wanita itu terlihat… sangat cantik.

“Bagaimana?” tanya Dita canggung.

Tama berdiri.

Ia menatapnya sebentar lebih lama dari biasanya.

“Bagus.”

Hanya satu kata.

Namun cukup membuat wajah Dita memerah.

Mereka juga membeli beberapa barang untuk hantaran.

Kain batik.

Perhiasan sederhana.

Sepatu.

Setelah itu mereka makan di warung kecil.

Dita mengaduk sup di mangkuknya.

“Bu Diana tidak apa-apa ditinggal?”

Tama mengangguk.

“Ada yang menemani.”

“Siapa?”

“Perawat dari kota.”

Dita sedikit lega.

“Kamu jangan terlalu khawatir,” kata Tama.

Dita tersenyum kecil.

“Iya.”

Sore mulai turun ketika semua urusan selesai.

Tama mengantar Dita pulang ke rumah nenek Supinah.

Mobil berhenti di depan pagar bambu.

Namun begitu Dita membuka pintu mobil—

Ia langsung berhenti.

Di halaman rumah…

Beberapa orang berdiri.

Wajah mereka tidak terlihat ramah.

1
partini
hemmmm ayo kenapa ada sesuatu yang bisa bangun gicuhhhh
kymlove...
kenapa?? jangan2 tama ada masalah😰
Yunita Asep
kasian Dita.. y thorr..
Yunita Asep
songongnya si sari, ngerasa gk punya dosa banget.. ih..
Yunita Asep
iya tu si Bakei erangkt desa, gk cocok...
Yunita Asep
kok masih nebeng am nnek rumahnya y si sari bakri..
Yunita Asep
gila tu si perempuan jalang.. amit2 dah..
Ibrahim Efendi
modusnya, ganti rugi gagal nonton 🤭😁
Ibrahim Efendi
rasakno!!!!! 😁
Ibrahim Efendi
udaaahhh... ngaku aja 😁
Ibrahim Efendi
biar kau panas 😁
Ibrahim Efendi
gak rela dia, ma 🤭
Ibrahim Efendi
mama diana lagi bikin Tama cemburu. biar sadar... 🤭🤭🤭
Ibrahim Efendi
yessss!!!!!! akhirnyaaaaa...... caught in the act...👍💪🤭
Ibrahim Efendi
wih! mantap juga idemu Butet!!...👍👍👍
Ibrahim Efendi
cewek liar...
Ibrahim Efendi
first step. menuju lunak. sentuh hatinya. itu resep manjur.
Ibrahim Efendi
baru bab 1 udah seru. kesabaran diuji 💪
sunaryati jarum
Semoga kecanggungan kamu dan Tama segera cair
partini
semoga ga cuma kamu aja dit yg cepat cinta tamanjuga harusnya sebelum Kunti bogel datang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!