Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Pluk pluk.
Rendra menepuk nepuk bahu Jenny, dengan terbahak, “Ahahhaha Jen Jen, kamu itu sudah nyaman dengan Alan! Mau cari alasan apa lagi untuk menolaknya?”
Jenny menegakkan punggungnya, gak peduli dirinya yang masih berada dalam gendongan Alan.
“Si- siapa bilang aku nyaman? Om salah mengartikan itu namanya!” protes Jenny, masih gak sadar, kedua tangannya melingkar di leher Alan.
Alan menghembuskan nafasnya kasar, “Gak usah ngelak lagi kenapa, mbak? Semakin mbak ngelak! On Ren makin gencar godain mbak!”
“Kamu! Ini semua pasti karena kamu kan? Tadi kan aku udah bilang! Tunggu di luar! Kenapa pake ikutan masuk?” cerocos Jenny, dengan nada menantang Alan.
Rendra terkekeh, memilih kembali pada kursi yang semula ia duduki, “Kalo Alan menunggu mu di luar! Siapa yang akan menggendong mu sampai ke sini, Jen? Lagi nih ya! Kalo om lihat, kamu itu udah kebangatan nyaman di gendong Alan!”
Jenny berdecak, menatap Alan kesal, “Ihs! Kepala Jen pusing om! Dan itu semua karena dia! Dia bawa mobil gak tau aturan! Di kata jalan itu udah kaya sirkuit buat balapan mobil apa!”
Rendra mengibaskan tangannya di depan wajah gak percaya. Pria paruh baya itu justru menyudutkan Jenny, “Alah bilang aja kamu yang pengen di ratukan Alan! Tapi om rasa, Alan gak akan menolak setiap perkataan kamu, Jen! Jauh berbeda dengan Joseph!”
“Om benar! Melewati batasan pun, akan aku lakukan untuk mu, mbak!” bisik Alan di akhir kalimatnya.
Jenny melototi Alan, “Kamu pikir aku akan percaya? Semua pria itu sama! Penipu!”
Alan mendudukkan Jenny di kursi, yang sebelumnya sudah di tarik ke belakang oleh salah seorang pria yang ada di dalam ruangan.
“Gak semua pria, penipu seperti suami mu mbak! Kamu hanya mencintai pria yang salah. Dan aku yang akan mengobati luka yang suami mu toreh itu! Aku yang akan mengobatinya! Hingga mbak lupa, rasanya sakit karena cinta!” gumam Alan dengan serius.
Rendra mengacungkan jempolnya, “Om sependapat dengan mu, Alan!”
Salah satu dari 2 pria berdehem, di ikuti dengan Alan yang duduk di sisi Jenny.
“Ehem, jadi kita mau langsung bahas strategi untuk menghadapi pak Joseph di pengadilan sekarang? Atau mau membahas hal lain bapak bapak, Non Jenny?” beo Renal dengan tegas.
Jenny menatapnya penuh tanya, ‘Nih cowok siapa sih? Belum di kasih waktu buat ngomong, tapi udah ngoceh! Tapi aku kaya gak asing dengan wajahnya! Aku pernah liat dia di mana ya?’
“Dia putra om, Jen! Renal, kamu ingat?” sela Rendra, seakan menjawab pertanyaan batin Jenny.
Jenny mengerutkan keningnya gak percaya, netranya mengamati wajah Renal, ‘Ini serius Renal, bocah gembul yang punya 4 mata? Ko bisa berubah ganteng? Di mana dia buang lemak berlebih nya?’
Renal mengerdik kan dagunya, “Apa yang kamu pikirkan, Nona Jenny?”
Jenny menggeleng, “Bukan apa apa!”
Alan menatap Jenny dan Renal bergantian dengan kilatan cemburu. Alan bersuara dengan nada gak senang.
“Ehem, jangan lupa tujuan utama kita datang ke sini, mbak!” sentaknya dengan tangan terkepal.
Jenny memutar bola matanya malas, saat beradu pandang dengan Alan, “Gak perlu di ingetin! Aku juga ingat tujuan datang ke sini itu karena apa!”
“Kamu benar siap untuk berpisah dari Joseph, Jen? Apa kamu gak akan menyesalinya kelak?” tanya Rendra.
“Gak ada yang bisa Jen pertahankan dari hubungan yang udah retak, om! Jen minta, secepatnya om urus perpisahan Jen dengan mas Jo!” terang Jenny dengan serius tanpa ragu.
“Baik, kalo itu yang menjadi keinginan kamu, Jen! Om rasa pengadilan pasti akan mengabulkan gugatan kamu, mengingat bukti yang kita miliki. Rasanya sulit membuat Joseph untuk menolak keinginan mu untuk berpisah darinya!” terang Rendra, gak kalah serius.
“Bukti apa yang kita punya, om?” beo Jenny penuh tanya.
Bukannya menjawab, Rendra justru balik bertanya, “Papa mu belum memperlihatkan buktinya pada mu?”
Jenny menggeleng, seakan menjawab pertanyaan Rendra.
Rendra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, "Ya kalo begitu, om juga gak bisa kasih tau kamu, Jen! Biar nanti kita sama sama lihat, sekacau apa Joseph saat di perlihatkan bukti yang om punya di pengadilan!"
"Iya tapi Jenny mau melihatnya, om! Bukti apa itu?" desak Jenny, hanya membuat Rendra menggeleng mantap.
"Gak ada yang perlu kamu lihat sekarang ini, Jen! Nanti saja di pengadilan! Joseph mu itu, pasti akan kehilangan wajah! Mana berani dia memperlihatkan wajahnya di depan mu lagi!" ujar Rendra meyakinkan.
Renal mengerdik kan bahunya, saat Jenny menatapnya, "Aku juga gak tau bukti apa yang papa miliki untuk melawan Joseph di pengadilan!"
"Gak usah maen teka teki, om! Kasih tau Jen, kasih liat Jen. Bukti apa yang papa kirim ke om!" cecar Jenny penasaran.
Grap.
Bersambung…