Yuki, gadis belia yang terjebak dalam masalah hutang piutang keluarga, yang membuat dirinya di paksa harus menikah dengan saudagar kaya di Kampung halamannya. Saudagar yang sudah berumur, dan sudah mempunyai banyak istri.
Tak mau masa depannya berakhir menjadi istri seseorang yang tak dicintainya, terlebih dia punya impian untuk melanjutkan pendidikan, Yuki memutuskan untuk kabur dari rumah. Di sini masalah baru muncul!
Alih-alih ingin bekerja supaya bisa membatu orang tuanya melunasi hutang, tapi dia malah dihadapkan masalah baru, yaitu harus berhadapan dengan seorang BOS BESAR di tempat dia bekerja. Bos yang cuek, dingin, dan benar-benar menyebalkan, menurut Yuki.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yuki akan berhasil lolos dari Sang Saudagar? Atau malah terjebak di dalam lingkaran pesona Bos Besar?
Silahkan dibaca ya temen-temen, semoga kalian suka ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31 MALAM
Tuan Elzel tampak sedang duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah, sambil menikmati semilir angin malam.
Malam yang gelap dan sunyi tanpa kehadiran bulan dan bintang, serta keadaan cuaca yang menunjukkan sebentar lagi akan turun hujan, tampak beberapa orang saja yang melintas di jalan yang membelah kedua belah bagian Kebun teh.
Sesekali Tuan Elzel mendengus kasar, dan mengusap rambutnya, kelihatan kesal.
"Kalau terus-terusan hujan, bagaimana Proyekku mau cepat selesai?" Tuan Elzel bertanya pada dirinya sendiri.
Yuki melihat Tuan Elzel hendak menghampiri, tapi sebelum itu dia membuatkan Majikannya itu kopi, kemudian membawanya.
"Tuan," Yuki mendekat, dan menyuguhkan kopi itu di atas sebuah meja yang terletak di samping Tuan Elzel duduk.
Tuan Elzel tidak menghiraukan kehadiran Yuki, dia masih saja terlihat mengeluhkan cuaca.
Benar saja sesaat kemudian hujan turun,
"Hujan, sial!"
Yuki yang memperhatikan hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala.
"Jangan bicara seperti itu, Tuan."
"Tau apa kau?!" Tuan Elzel sedikit membentak.
"Kata Emak, hujan itu berkah, Tuan. Bayangkan kalau tidak ada hujan, gimana tanah bisa mendapatkan air, gimana kalau sungai menjadi kering, petani gak bisa mengairi sawah mereka. Lalu gimana hewan-hewan mau minum dan tumbuhan akan tumbuh? Hujan itu banyak sekali manfaatnya," jawab Yuki panjang lebar.
"Berisik...!" Jawab Tuan Elzel, tapi tidak bisa dipungkiri wajahnya menunjukkan kekagumannya kepada Yuki, karena memperhatikan hal-hal sekecil itu
Yuki lagi-lagi hanya bisa mnggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian hendak berlalu meninggalkan Tuan Elzel.
"Mau kemana?" Tanya Tuan Elzel pada Yuki yang baru saja melangkahkan satu kakinya.
"Masuk ke dalam, Tuan. Aku belum selesai beres-beres, baju-bajuku juga masih belum aku keluarkan dari tas. Aku juga belum mandi,"
"Suruh Mpok Endah saja, kau tetap di sini."
"Iya... Beres-beres rumah bisa suruh Mpok Endah, tapi mandi? Hadeh!"
"Huh!" Yuki mendengus kesal,
"Duduklah," perintah Tuan Elzel, Yuki duduk di kursi bersebelahan dengannya. Tuan Elzel kemudian menyeruput kopi yang dibawakan Yuki tadi. Sesaat Tuan Elzel diam. Yuki yang memperhatikan menjadi salah tingkah, apa kopi yang dibawakannya tidak enak.
"Ke-kenapa, Tuan?"
"Enak..." Ucap Tuan Elzel pelan, tapi terdengar jelas di telinga Yuki.
"Itu Emak yang ajarin bikinnya, kalau Bapak mau kopi, Yuki yang bikinin." Terlihat mata Yuki berkaca-kaca, ada air mata yang menggenang di sana. Hampir jatuh, tapi segara diusapnya. Lagi-lagi dia terkenang Emak dan Bapaknya.
Tuan Elzel sedikit mengangkat alisnya memperhatikan Yuki.
"Kau menangis?"
"Ti-dak, Tuan. Aku cuma rindu sama Emak dan Bapakku," Jawab Yuki yang masih saja mengusap-usap matanya.
"Kenapa tidak pulang? Aku izinkan kalau mau pulang kampung, tapi syaratnya kau harus kembali lagi ke sini."
"Pulang? Tidak, Tuan! Aku tidak mau pulang,"
"Tadi kau bilang rindu, rindu itu tidak enak. Apalagi yang dirindukan sudah tidak ada di dunia ini." Kali ini Tuan Elzel yang sedikit berbinar matanya.
"Tuan?"
"Sudahlah, kalau kau mau pulang. Pulang saja!"
"Aku tidak mau pulang, Tuan!" Yuki menatap Tuan Elzel dengan sedikit melotot.
"Apaan wajahmu itu?!" Tuan Elzel menatap wajah Yuki yang masih saja melotot ke arahnya.
"Maaf, Tuan." Yuki menundukkan pandangannya.
Andai saja keadaan di Desa baik-baik saja, tentu Yuki dengan senang hati menerima tawaran Tuan Elzel. Tapi keadaan yang sangat tidak memungkinkan, apa jadinya jika Yuki kembali ke Desa, pasti Pak Badrun akan segera menikahinya. Membayangkannya saja Yuki tidak sanggup. Tapi disisi lain, dia sangat-sangat merindukan Emak dan Bapaknya.
"Aku harus tetap kerja di sini, biar bisa melunasi hutang Bapak sama Pak Badrun, biar aku bisa berkumpul lagi dengan Emak dan Bapak, Yuki sangat rindu Emak, Bapak..."
ternyata Khanza sahabatmu itu
nyatanya menusukmu dari belakang Yuki🙁
baik diluar tapii ruwet didalam hatinya 🙁
walau tidak dipungkiri semua butuh uang""hehe apa si bahasanya ini😁😁✌️""