Dipusingkan oleh pekerjaan, membuat Dakota Cynthia Higgins melampiaskan rasa lelah dengan bersenang-senang di club malam bersama teman. Dia yang sedang mabuk pun ditantang untuk menggoda seorang pria yang tak lain adalah Brennus Finlay Dominique.
Dalam kondisi terpengaruh alkohol, mabuk berat hingga kehilangan akal sehat, Dakota sungguh merayu Brennus hingga terjadi satu malam penuh tragedi. Padahal sebelumnya tak pernah melakukan hal segila itu dengan pria manapun.
Ketika sadar, Dakota benar-benar menyesal. Bukan akibat kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, tapi karena pria itu adalah Brennus, salah satu keturunan Dominique. Di matanya, keluarga itu memiliki sifat menyebalkan.
Brennus berusaha untuk menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi malam itu, tapi ternyata Dakota tidak menginginkan hal serupa. Wanita itu sudah anti dengan keluarga Dominique.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Dakota mau menuruti dan menuntaskan rasa penasaran Brennus. Asalkan pria itu keluar dari ruangan sempit itu. Namun, justru tidak mau dan kian memaksanya. Pada akhirnya ia minta supaya tidak melihat ketika mengeluarkan urine, terlalu menggelikan.
Syarat itu dituruti, Brennus memunggungi dirinya. dakota pun mengeluarkan cairan yang memenuhi kandung kemih, menampung disebuah cup. Ia memasukkan lima dulu testpack ke dalam sana.
“Sudah belum?” tanya Brennus. Dia sudah tidak tahan mau melihat hasilnya.
“Sabar, ini juga baru dimasukkan.” Sembari menunggu, Dakota merasa harap-harap cemas. Ada sesuatu yang membuatnya takut. Semoga saja tidak hamil seperti firasat pria itu.
“Oh ... jadi aku sudah boleh berbalik?” Belum dijawab, Brennus telah merotasikan tubuh ke belakang. Ia dekati sang wanita.
“Jangan dilihat sendirian, sama-sama. ‘Kan buatnya berdua,” ajak Brennus, melingkatkan tangan di pinggul Dakota.
Hanya diam tanpa menyingkirkan sesuatu yang mengusap perutnya, Dakota terlalu fokus pada lima testpack digital. Ia angkat alat itu, lalu diamkan sesaat di atas wastafel.
Dada kian bergemuruh, hebat, kuat, dan membuatnya bagai ingin terserang penyakit jantung detik itu juga. Mata Dakota membulat hingga rasanya ingin dilepaskan sekarang juga. “Ini pasti ada yang salah,” gumamnya tidak terima dengan hasil yang ditunjukkan.
Kelimanya menunjukkan tulisan pregnant dan ada juga yang yes. Jelas sekali tandanya kalau di dalam perut sedang dihuni oleh makhluk lain.
Terlalu kaget dan belum bisa menerima kenyataan yang terjadi, Dakota sampai merosot ke bawah. Untung Brennus langsung merangkul dan wanita itu tidak jadi bersimpuh di lantai.
“Seharusnya kau senang, sebentar lagi mau menjadi Mommy,” ucap Brennus. Reaksinya jauh berbeda dari sang wanita. Wajahnya justru berseri senang. Ini adalah kesempatan bagus agar ia bisa ada alasan bertanggung jawab. Menikahi Dakota pasti akan lebih mudah.
“Senang?” Dakota menggelengkan kepala. Bagaimana bisa bahagia jika hamil hasil hubungan semalam atas sebuah tragedi kebodohannya sendiri? Yang ada ia justru miris. “Mana bisa.” Ia singkirkan tangan Brennus.
Pandangannya kosong, Dakota keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat kusut, berantakan.
Brennus menyusul setelah membuang cup kotor ke tempat sampah. Tidak lupa membawa testpack yang ditinggalkan Dakota begitu saja.
Aloysius dan Lindsay yang melihat wajah kusut Dakota pun mulai bertanya.
“Kau baik-baik saja?” Lindsay mengusap tangan wanita yang kini kembali duduk di ruang makan.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Dari ekspresi wajahmu, aku bisa menyimpulkan kalau kau ... sungguh hamil?” tebak Aloysius.
Kini kepala Dakota mengangguk lemah, lalu ia tempelkan dahi ke meja. “Nasibku begini sekali.” Hamil bersama pria yang tidak dicintai ataupun mencintainya.
“Welcome to the club, Dako.” Aloysius berdiri dan menepuk punggung mantan sekretarisnya. “Seharusnya kau itu senang karena bisa mudah bergabung dengan keluargaku. Hamil anak Brennus itu sudah kunci express.”
Mana bisa senang, Dakota sudah merasakan bagaimana menyebalkan keluarga itu. Pemaksa, pengancam, pongah. Mau jadi seperti apa anaknya kelak kalau hidup dengan manusia yang seperti itu?
Sejak tadi Brennus hanya mendengar gerutuan sang wanita. Sekarang barulah ia mendekat ke ruang makan.
Sebelum duduk, mengusap kepala Dakota. “Sudah, jangan sedih, tidak perlu takut kalau aku akan meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Tenang saja, aku orangnya tanggung jawab.”
Dakota menengok ke arah pria itu, bibir masih cemberut. “Kalau aku belum mau memiliki anak, bagaimana?”
gass lah Brennus maju yrs jangan mundur takut nabrak.🤣🤣