Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 31
Setelah Dokter keluarga Eza datang memeriksa lalu memutuskan untuk membawa kepala pelayan ke rumah sakit karena membutuhkan perawatan intensif Pak Don pun di bawa ke rumah sakit.
Eza kembali ke kamarnya untuk berpamitan dengan Nilo. Ia akan menyusul pak Don ke rumah sakit. Tanpa sadar kening Nilo bergerak saat mendengar ucapan Eza. Ia bersimpati pada suaminya yang peduli dengan kepala pelayan.
“Kau lolos hari ini.” ujar Eza sebelum berbalik dan keluar dari kamarnya.
“Arrghh dasar mesum.” Gerutu Nilo keras ketika suaminya telah menutup pintu kamar.
Di rumah Divine.
“Jerry belum siap untuk mencintai, namun ia sudah terlanjur masuk ke dalamnya.” cakap Nilo kepada Gara dan Ben yang tengah menemaninya menonton TV.
“Aku prihatin terhadapnya.” ujar Ben.
“Karena itu saat umur ku sepertinya tidak ingin dekat dengan wanita.” timpal Gara.
Mereka pun terus membicarakan Jerry “kenapa harus Eza?” ucap Divine seraya memukul bantal sofa, tak menyangka kisah yang rumit terjadi di antara mereka. Gara memicingkan matanya ke arah Divine tak setuju dengan ucapannya “apa kau tak suka Eza menikah?” tanya Gara yang sepertinya salah fokus otak bucin ini memang sedikit berbeda. Divine melebarkan mulutnya yang tertutup tak habis pikir dengan ucapan Gara.
“Kemana fokus mu Tuan Bos?” Kesal Ben. Terukir senyum di wajah Ben, sepertinya ia telah menemukan sesuatu.
Ben bergegas pergi meninggalkan pasangan suami istri itu menuju seorang pria yang sedang patah hati.
“Jaukan tangan mu sayang?” ucap Divine lembut meminta Gara menjauhkan tangan Gara dari perut Divine yang sejak tadi terus mengelusnya dengan memasukkan tangannya ke dalam baju Divine.
Gara menuruti permintaan Divine lalu menaikkan tangannya beberapa senti dari perut.
“Aah. sayang.” Divine mendesah saat tangan Gara menggerayangi buah montok nan kenyal miliknya. Gara tak menghiraukan penolakan Divine. Ia malah membuka pengait bra Divine yang berada di antara kedua bolanya, Gara sudah sangat lihai membuka bra istrinya itu.
Gara semakin tertarik mendengar sedikit desahan Divine dan berniat untuk terus membuatnya mendesah, kini buah montok terpampang begitu saja Gara siap untuk melahapnya.
Gara kembali menciumi seluruh bagian leher Divine, hingga ke telinga Divine dengan menjulurkan sedikit lidahnya semakin membuat Divine pun menginginkannya.
“Ahh, Kita sedang aahh tidak di kamar uhh.” Divine sudah tidak dapat berbicara dengan lancar mulutnya meracau tak karuan kini menjabak rambut Gara.
Gara naik ke wajah Divine mencium Divine dengan gaya tarik ulur khasnya, mencium saat terasa perlawanan dari Divine Gara melepas ciumannya membuat Divine tidak sabar.
Divine menarik leher suaminya itu untuk melanjutkan ciumannya dan kini tubuh Gara sudah masuk di antara kedua kaki Divine yang terbuka dan menindih tubuh Divine yang sudah terbaring di sofa.
Gara yang mengerti keinginan istrinya itu langsung mendekatkan bibirnya dengan bibir Divine saat semakin dekat dengan tiba-tiba Gara dan Divine saling menyambar hingga bibir mereka terpaut dan berciuman dengan lembut penuh kemesraan.
Sesekali terukir senyum di wajah Divine. “Aku mencintaimu.” mendengar ucapan istrinya itu Gara semakin memanas dan kembali menggerayangi 2 bola kenyal milik Divine, di sentuhnya dengan lembut dengan tangannya sedangkan bibirnya menyusuri leher Divine hingga meninggalkan bekas.
Divine menggigit bibir bawahnya agar erangan enaknya tidak menjalar ke seluruh ruangan meremas sofa yang tak bersalah meluapkan rasa yang tak dapat di ucapkan.
Gara bermain dengan 2 bolanya silih berganti menyesap dan meremas hingga desah Divine semakin terdengar dengan napas yang memburu.
Kaki Divine mulai bergerak-gerak tak menentu arah, liangnya sudah tak sabar ingin segera bertemu alat ukur kedalaman miliknya.
“Aaaauughh...aughh... sayang.. cepat” racau Divine meminta suaminya agar segera mengukur kedalaman liang enaknya.
Gara bukannya menuruti perkataan Divine ia malah turun bermain di perut Divine dan meraba halus pipi enak Divine membuat Divine semakin mendesah.
Aaaaaaaaaahh.. akhirnya Gara mengukur kedalaman liang Divine yang sudah sejak tadi minta di ukur.
______
Rona senja sudah menampakkan dirinya, matahari sudah tidak terlihat.
Nilo baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah yang di bungkusnya dengan handuk setelah menghabiskan waktunya menonton drama.
Dering telpon terdengar saat Nilo hendak masuk ke dalam ruang pakaiannya. Ia pun menghampiri ponselnya terlebih dahulu.
“Papa.” ucap Nilo setelah menekan icon berwarna hijau di ponselnya.
“Ya nak, bagaimana kabar mu?” tanya ayah Nilo di balik telpon.
“Baik pa, apa papa masih rajin bertemu dokter?” tanya Nilo.
Ayah Nilo pun memberitahu pada Nilo tentang ke adaannya tak ada maksud khusus saat menelpon putrinya.Ia hanya ingin tau bagaimana nasib putrinya yang sudah ia korbankan. Nilo berpesan pada ayahnya untuk selalu menjaga kesehatan dan ia berjanji akan berbahagia di sini.
Cklek.
Pintu kamar terbuka Eza masuk ia baru saja tiba dari rumah sakit. Melihat istrinya yang hanya memakai piyama handuk dengan leher terbuka Eza tidak menyia-nyiakan kesempatannya.
Dengan cepat Eza mencium tengkuk Nilo dengan lembut.
Aaaaa... teriak Nilo tepat setelah menekan icon merah di layar ponselnya. Ia tidak sadar kalau suaminya itu telah masuk ke dalam kamar.
Nilo terkejut lalu memukul pundak Eza karena sudah mengagetkannya.
Ku pikir ia akan mengomel karena aku menciumnya tengkuknya, apa dia sudah menyukai ku. Batin Eza.
Nilo berlalu pergi menuju ruang pakaiannya, namun Eza mengikutinya.
“Jangan sekarang.” ucap Nilo tanpa melihat ke arah Eza, namun ia tahu Eza berada di belakangnya.
“Apanya?" tanya Eza bingung dengan pakaian di tangannya. Eza mengambil baju ganti untuk ia bawa ke kamar mandi, ia ingin segera membersihkan diri.
Nilo yang melihat baju di tangan suaminya itu tersadar bahwa Eza bukan mengikutinya karena ingin menggodanya.
“Ahh kamu sudah mau melakukannya ya?” Eza mereka-reka dengan wajah sumringah tangannya memegang ikat pinggang yang siap untuk ia buka sekarang.
“Tidak.” ucap Nilo cepat, seraya menutup wajah Eza dengan sesuatu di tangannya, ia malu wajahnya terlihat memerah. Berjalan keluar.
“Ahhh apa aku benar memesan ukurannya?” ucap Eza sambil membentangkan bra Nilo di depan wajahnya.
Tak sadar Nilo telah memberikan Eza pakaian dalam penyanggah buah melonnya untuk menutup wajah Eza tadi.
Nilo berjalan kembali mendekati Eza untuk meraih bra-nya itu. Namun Eza tidak memberikannya begitu saja. Ia menyembunyikan di balik tubuhnya, Nilo terus berusaha untuk mengambilnya dari Eza.
Eza terus beringsut mundur saat Nilo hendak meraih bra-nya tak sengaja kaki Eza menabrak ujung sofa hingga ia jatuh terlentang reflek Eza berpegang pada pinggang Nilo yang mengakibatkan tali piyama handuk Nilo terlepas dan Nilo jatuh menimpa Eza dengan tubuh polos menindih tubuh suaminya di atas sofa.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁