Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Devan dan Noora
4 Hari pun berlalu, hari yang di tunggu-tunggu Noora dan Devan pun akhirnya tiba, yaitu hari mereka akan menikah, dan menempuh hidup baru. Di ruangan yang tidak terlalu besar, Noora masih duduk di depan kaca rias dengan beberapa orang sedang merapikan rambutnya yang di cemol cukup tinggi terdapat hiasan bunga di atasnya.
"Wah.. nona benar-benar sangat cantik." puji salah satu wanita yang masih sibuk merapikan rambut Noora.
"Makasih mbak." jawab Noora sambil tersenyum melihat wanita itu dari pantulan kaca.
"Bagaimana dia tidak cantik, secara nona Rara adalah seorang model papan atas, kalau tidak cantik ya tidak laku, gimana kamu ini." sahut ibu Wina selaku pemilik rias manten papan atas di kota Jakarta.
Noora yang mendengar ucapan para wanita tersebut hanya tersenyum, karena Noora merasa masih ada yang lebih cantik darinya di luar sana.
Saat sedang bergurau di dalam ruangan, tiba-tiba Safa masuk ke dalam ruangan, dengan menggunakan baju kebaya yang sama dengan keluarga Devan. Safa tidak kalah cantik dengan kakaknya, bahkan Safa juga terlihat begitu menawan.
"Apa kak Rara sudah siap?." tanya Safa yang berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Sudah nona." jawab ibu Wina.
Noora seketika berdiri tepat di depan Safa. "Wah kakakku cantik sekali?." Puji Safa. "Apa kakak sudah siap?."
"Sudah dek." jawab Noora kembali tersenyum.
"Kakak jangan lupa tersenyum nanti saat mendekat pada kak Devan." Safa yang sedang merapikan gaun yang di kenakan Noora.
Namun seketika Noora berkaca-kaca ia seketika mengingat orang tuannya, yang mungkin saja sudah bahagia di surga sana. Noora terharu di saat hari bahagianya harus tanpa seorang Ayah dan ibu di sampingnya.
Safa yang melihat kakaknya sebentar lagi akan menjatuhkan air mata langsung meraih tisu di atas meja. "Kakak kenapa menangis?." tanya Safa yang memberikan beberapa lembar tisu kepada kakaknya.
"Tidak.. kakak hanya teringat sama papa dan mama, di saat kakak menikah lagi, mereka tidak ada di samping kakak." Noora yang seketika langsung menitihkan air matanya.
Safa langsung saja memeluk kakaknya, dan mengusap pundak sang kakak dengan lembut. "Safa masih di sini kak, di samping kakak dan menemani kakak, mungkin Safa tidak pantas berbicara seperti ini kepada kakak, setelah apa yang Safa lakuin kepada kak Rara, tapi Safa benar-benar minta maaf dengan semua kesalahan Safa yang begitu banyak kepada kak Rara, dan mungkin kak Rara tidak bisa memaafkan itu, tapi dari lubuk hati Safa yang paling dalam Safa benar-benar minta maaf dan Safa menyesal kak, sekarang Safa ingin melihat kak Rara bahagia dengan kak Devan, dan hidup menua bersama." Safa yang seketika juga menitihkan air mata.
"Kakak sudah memaafkan kamu dari dulu dek, dan sudah melupakan kenangan pait tersebut, anggap semua kejadian kemarin menjadi pelajaran buat kita berdua agar menjadi wanita yang lebih kuat dan dewasa." ucap Noora menatap sang adik di depannya.
"Terimakasih kak, terimakasih sudah mau memaafkan Safa." Safa yang kembali memeluk tubuh sang kakak dengan air mata sudah membasahi pipinya.
Ruangan Make up pun menjadi mengaharu biru, dengan pemandangan kakak ber adik sedang berpelukan dan mencurahkan isi hati mereka masih-masih.
Pak penghulu yang akan menikahkan Devan dan Noora pun sudah datang. Noora pun segera keluar dari rungan untuk menuju Devan dan pak penghulu yang sudah menunggunya. Dengan jalan hati-hati Noora keluar dari ruangan, dengan Safa masih mendampingi sang kakak di sampingnya, dan terdapat dua wanita sedang memegangi gaun milik Noora yang begitu sangat panjang di belakangnya.
Devan pun seketika melihat Noora sudah keluar dari ruangan melewati karpet berwarna merah terdapat bunga warna-warni di sepanjang jalan. Devan kembali terkesima melihat kecantikan Noora yang tiada tara, bahkan Noora menampilkan senyum begitu manis memperlihatkan gigi putihnya.
"Apakah dia wanita yang akan menjadi istriku, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, dan wanita yang akan menemani hidupku hingga tua nanti." ucap Devan di dalam hati terus menatap Noora yang berjalan ke arahnya.
Noora pun telah tiba dan sudah duduk di samping Devan, acara ijab Qobul pun segera di mulai, semua keluarga Devan sudah duduk di belakang Devan dan Noora untuk menyaksikan ijab Qobul anaknya, begitupun dengan Safa.
"Apa bapak sudah siap?." tanya pak penghulu kepada Devan.
"Siap pak." jawab Devan dengan tegas.
"Baiklah mari kita mulai sekarang." ucap pak penghulu lalu berjabatan tangan dengan Devan.
"Saya nikahkan engkau Devan Nugraha Perwira bin Agra Perwira dengan Noora Agatha William binti Almarhum William Nugraha, dengan seperangkat alat sholat dan mahar senilai 2 Miliyar di bayar tunai." ucap pak penghulu dengan lantang.
"Saya terima nikahnya Noora Agatha William binti Almarhum William Nugraha dengan seperangkat alat sholat dan mahar 2 miliyar di bayar tunai." jawab Devan tidak kalah lantang.
"Sah." ucap pak penghulu.
"Sah.. Sah.. Sah..." sahut para tamu undangan yang menghadiri pernikahan mereka berdua.
"Alhamdulilah hirobil alamin." semua yang sudah mengusap wajah dengan telapak tangan.
Noora pun lalu mencium punggung tangan suaminya, dan Devan juga mengecup kening sang istri. Mereka ber dua pun sudah sah menjadi suami istri. Devan begitu bahagia, Noora pun tak kalah bahagia, hingga ia kembali menitihkan air matanya.
"Terimakasih sudah mau menikah denganku." Devan yang kembali mengecup kening Noora.
"No. Aku yang berterimakasih karena sudah menerima kekuranganku, dan masalaluku." sahut Noora.
Setelah acara ijab Qobul selesai, Devan dan Noora pun segera menuju ke tempat resepsi untuk menemui para tamu undangan yang memberi selamat kepada mereka berdua. Acara begitu sangat ramai dan meriah, para tamu undangan sudah memenuhi hotel bintang 5 yang di sewa untuk acara pernikahan Devan dan Noora, bahkan penjagaan pun di perketat di area hotel untuk meminialisir terjadinya kekacaun. Devan juga takut bila Adam tiba-tiba datang untuk merusak acara pernikahannya.
"Selamat menempuh hidup baru Brother?." sapa Nendra adik kandung Devan yang selama ini menetap di Perancis, dan pulang ke tanah air untuk menghadiri pernikahan kakaknya.
"Thank You Sister." Devan yang sudah memeluk adiknya lalu melepaskannya kembali.
"Happy Wedding kakak cantik." Nendra yang juga memberi selamat kepada Noora.
Nendra dengan lamat-lamat menatap istri kakaknya yang begitu sangat cantik dan menawan. Bahkan Nendra melihat senyum Noora begitu sangat manis.
"Terimakasih Nendra." Noora yang tersenyum kepada adik iparnya.
"Jandamu benar-benar cantik." bisik Nendra kepada Devan, dan Devan hanya tersenyum mendengar ucapan apsrut adiknya.
Nendra pun sudah kembali turun dari tempat resepsi, namun dengan dua mata masih menatap Noora yang terus menyapa para tamu undangan, Nendra benar-benar kagum dengan kecantikan Noora, apa lagi dia mengetahui bahwa Noora adalah Model papan atas dan pengusaha wanita tersukses di kota Jakarta.
"Happy Wedding kak Devan."Giliran Safa yang memberi selamat kepada Devan dan Noora.
"Than you adik iparku." jawab Devan sambil tersenyum.
"Selamat menempuh hidup baru, dan selamat berbahagia kakakku yang cantik dan luar biasa." Safa yang sudah memeluk kakaknya.
"Terimakasih adikku yang cantik, cepet nyusul ya." jawab Noora yang mengecup pipi adiknya.
"Pasti kak."
biasanya cerita begini pemain nya pasti tegas dan pintar
katanya Dirut kan seharusnya pada pinter bukan bego semua