Hidup dalam kepalsuan bukanlah hal yang Safira inginkan. Menjadi sosok gadis yang sombong penuh keangkuhan bukanlah sifat aslinya. Namun keadaan memaksanya untuk menjalani kehidupan penuh manipulatif ini.
Safira jenuh dengan kehidupannya, gadis itu ingin lari dari semuanya, meninggalkan segala kepalsuan ini. Hingga dimana Safira tidak lagi sanggup, gadis itu akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan keluarganya dan teman-temannya serta kehidupan yang selalu membuat iri semua orang.
Namun siapa yang menyangka, kepergiannya ini justru membawanya kembali ke masa kelamnya. Lelaki itu, sosok bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dengan brutal, muncul di saat Safira ingin melupakannya.
Safira sangat membencinya, hingga timbul dalam hatinya ingin membalaskan dendamnya. Ya, Safira memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas kehancurannya.
Cerita ini merupakan sequel dari MY POOR WIFE. Silakan baca dulu agar lebih seri bacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Setelah menghabiskan makan malamnya, Dave akhirnya melepaskannya. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi setelah melepaskan kemejanya di hadapan Safira.
Safira mendesah panjang di atas ranjangnya. Dia benar-benar tidak tahan tinggal di sini. Dirinya bagai tawanan yang tidak boleh melakukan apa yang dia inginkan.
Safira ingin pergi, tapi Dave mengurungnya dengan ketat. Lihat saja, dari balkon ia bisa melihat beberapa pengawal yang berjaga di setiap sudut halaman penthouse yang cukup besar ini. Lain lagi dengan para pelayan yang mengawasinya di dalam rumah. Oleh karena itu, kecil kesempatan baginya untuk lari dari rumah ini.
Safira memejamkan matanya yang mulai berat. Dia mengantuk meski belum masuk waktu untuknya tidur, karena setelah masa kehamilannya, Safira selalu mudah mengantuk.
Namun, belum juga ia benar-benar nyenyak, tempat tidur di sampingnya bergerak. Safira langsung siap siaga, dan beringsut ke pinggir ranjang setelah melihat Dave berbaring di sampingnya.
"Kau! Kenapa kau di sini?" bentaknya galak.
Dave mengangkat alisnya, "Tentu saja mau tidur." jawabnya santai.
Wajah Safira semakin suram, "Turun! Aku tidak sudi tidur satu ranjang denganmu!" bentaknya lagi.
Dave mengangkat sudut bibirnya, "Tidak sudi? Tapi aku sudah tidur di sini sejak kau menginjakkan kakimu di kamar ini." ujarnya.
Sontak, Safira membelalakkan matanya. Safira tidak tahu, saat dirinya sudah nyenyak, rupanya Dave tidur di ranjang yang sama dengannya.
Karena kehabisan kata-kata, dan enggan bertengkar dengan Dave, Safira meraih bantalnya dan turun dari ranjang. Wanita itu berniat tidur di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang.
Tetapi tidak berjalan lancar, dengan gerakan cepat, Dave menariknya hingga terjatuh kembali di atas ranjang.
Dave geram, pria itu mengungkung Safira di bawah tubuhnya dan menatapnya tajam.
"Jangan coba-coba tidur di sana!" suaranya terdengar menyeramkan tapi Safira tidak takut sama sekali.
"Aku hanya akan tidur, aku berjanji tidak akan melakukan apapun padamu." ucapnya.
Safira membeku, tindakan Dave membuatnya hampir melayang. Wajah Dave begitu dekat dan intens tepat di depan matanya. Bibir mereka hampir bersentuhan, hingga Safira bisa merasakan deru nafas pria itu di permukaan kulitnya.
Wangi parfum lelaki itu menguar di indra penciumannya, membuat wanita itu terlena. Safira mengamati wajah tampan bak dewa Yunani itu. Safira terpesona. Andai Dave bukanlah lelaki brengsek bergelar Cassanova abadi, Safira pasti dengan senang hati mencium lelaki ini.
Namun sepertinya Dave juga sama. Pria itu terlena akan kecantikan bidadari di bawah kungkungannya. Bibir itu merah merona, membuat Dave tidak tahan untuk menciumnya.
Dan benar saja, jarak wajah mereka terkikis, Dave ******* bibir ranum nan seksi itu dengan rakus. Dave tidak peduli Safira memberontak dan berusaha mendorongnya.
Gairahnya tersulut hanya karena ciuman sepihak ini. Pria itu menginginkan Safira seperti yang sudah-sudah.
Safira menyadari ketika ciuman Dave semakin menuntut. Apalagi ketika tangan Dave sudah menjalar merabai tubuhnya.
"Jangan! Aku mohon.... jangan lagi..." lirihnya ketika Dave melepas ciumannya.
Wajah Safira memerah bercampur rasa takut. Tetapi ekspresi wanita itu malah semakin menyulut gairah Dave.
"Aku menginginkanmu Safira. Aku sudah menahan keinginanku dalam satu minggu ini. Kau pikir itu hal yang mudah bagiku?"
Safira menggeleng, dia tidak ingin melakukan itu lagi. Terlebih, mereka tidak memiliki ikatan apapun yang membuatnya wajib menuruti keinginan Dave.
"Aku akan segera menikahimu, jika itu yang kau khawatirkan."
knpa?
semangaat yaa othor, sehat selalu
kita semua menunggu
lanjut kaaa
penasaran bget jdina tpi g up date,gmana nie thor???