Kehidupan yang enggan berpihak? atau pernikahannya yang salah? apakah takdir lebih senang mempermainkan hidupku? atau memang tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang tersisa untukku?
Saat aku mulai membuka hati.
Saat aku mulai jatuh cinta padanya.
Dia mengkhianati dan mencampakkanku seperti barang usang dan pergi dengan wanita lain.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk simak. jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerai
Perlahan Ansel membuka matanya, yang pertama di lihatnya adalah Aleah. Ia langsung bangun dan memeluk Al dengan erat.
"Momy...jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih, lalu terisak kembali mengingat mereka akan bercerai.
"Sayang, kau anakku satu satunya. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah." Jawab Al pilu, hatinya teriris perih.
Ansel tengadahkan wajahnya menatap wajah Al. "Berjanji padaku," ucap Ansel menelan air liurnya. "Berjanjilah, Momy...."
"Jangan menangis sayang, sudah cukup. Aku berjanji." Al semakin mengeratkan pelukannya, memberikan ketenangan untuk Ansel hingga berhenti menangis. "Sekarang kau istirahat, aku tidak kemana mana, ada di sini bersamamu."
Ansell menganggukkan kepala, dan membiarkan Aleah membringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur. Mencium keningnya sekilas lalu turun dari atas tempat tidur menuju kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar pribadi, Al melihat Samudra tengah mengemasi pakaian dan barang barangnya ke dalam koper yang berukuran cukup besar.
"Aku sudah menandatangani surat cerai, sekarang kau bebas. Aku memang tak pantas buatmu," ucap Samudra dengan entengnya.
"Jangan kau katakan, kau bukan terbaik buatku. Karena kau hanya menjadi yang terbaik buat dia!" pekik Aleah marah.
"Cukup Al! tunjuk Samudra. "Aku tidak mau berdebat denganmu lagi, aku akan pergi dari rumah ini." Selesai bicara seperti itu, Samudra keluar dari kamar dengan membawa kopernya.
Al mengejar Samudra hingga lantai dasar. "Sam!"
"Aku akan mengurus surat hak waris rumah dan perusahaan buat Ansel. Dan kau, terserah kau mau tinggal di mana," ucap Samudra tanpa menoleh ke arah Aleah sedikitpun.
"Sam!!" panggil Al, namun Samudra tidak menggubrisnya.
"Saaammmm!!!" Jerit Al terus memanggil hingga teras rumah, namun Samudra terus berlalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Aleah yang menangis memanggil namanya.
Raditya, Barra dan Raka hanya berdiri terpaku memperhatikan tanpa bisa berbuat apa apa.
"Saaamm!!" Al menjatuhkan tubuhnya dilantai, terduduk dan meraung menangis sesegukan. Sakit yang di rasakan Al terlalu dalam, pedih. Samudra berubah pada saat Al benar benar mencintai Samudra. Pria itu mencampakkan saat Al benar benar sudah membuka hatinya untuk Samudra.
"Saaamm!!!" Aleah terus menjerit, sesekali menepuk Dadanya untuk menghentikan tangisannya.
"Momy!!"
Ansel berlari dari kamarnya memeluk Al dari belakang.
"Momy...!"
Aleah menoleh ke arah Ansel lalu memeluknya dengan erat.
"Mom.." ucap Ansel menangis sesegukan.
"Sayang..." sahut Al.
Raditya menyeka air matanya yang hampir jatuh. "Bagaimana jika aku sudah tiada, pada siapa aku titipkan Al dan Ansel." Gumamnya pelan, namun jelas terdengar Raka dan Barra.
Mereka berdua menoleh ke arah Raditya, lalu saling merangkul.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi percayalah. Aku akan tetap ada di samping mereka, selama yang di butuhkan," timpal Barra.
Raka mengangguk, saling menguatkan satu sama lain. Samudra, yang dulu menjadi panutan, yang dulu menjadi sandaran, yang dulu bisa di andalkan. Semua telah musnah, hancur seketika, kepercayaan, seketika semuanya menjadi hilang kendali. Bagai kapal di tengah laut tanpa nahkodanya.
***
Satu hari setelah perceraian, Al masih tetap tinggal di rumah itu karena tidak bisa meninggalkan Ansel dan Raditya yang membutuhkan perhatian dan perawatan.
Pagi itu mereka kedatangan Dion dan Nanda yang berkunjung untuk bertemu dengan Raditya. Bersamaan dengan kedatangan dua anggota Polisi ke rumah untuk menjemput Al yang sudah di tetapkan menjadi tersangka karena kasus penganiayaan yang di lapirkan ketua RT dan Marisa.
"Ada apa ini pak?" tanya Dion belum mengerti situasi yang terjadi. "Tolong jelaskan."
Salah satu anggota Polisi menjelaskan apa yang terjadi dan maksud kedatangan mereka untuk membawa Aleah ke kantor Polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Al, benarkah itu?" tanya Dion menatap tak percaya.
Al menganggukkan kepalanya. "Ya, benar."
"Al, kau bisa melaporkan balik Samudra dan Marisa." Usul Dion.
Al menggelengkan kepalanya. "Kalau aku masuk penjara, terus Sam juga masuk penjara. Bagaimana dengan Ansel? bukan aku tak tega melaporkan balik, tapi yang aku pikirkan masa depan Ansel."
Dion kembali terdiam, lalu menoleh ke arah Raditya dan yang lain. "Kita harus melakukan sesuatu, ini tidak bisa di biarkan."
"Kau tenang, aku juga tidak akan tinggal diam, tapi untuk memudahkan Aleah. Kita harus bersabar." Timpal Raditya.
"Aku akan mendatangkan pengacara terbaik untuk membantu Al," usul Dion. Di sambut anggukan kepala oleh Raditya dan yang lain.
Dion kembali terdiam, dan membiarkan Polisi membawa Aleah, dengan tatapan nanar.
"Al..." ucap Dion.
Al menoleh, menatap kedua bola mata Dion yang berkaca kaca. Al tersenyum tipis, menganggukkan kepala. "Aku baik baik saja."
"Mari, Bu. Ikut kami!"
Al mengangguk, lalu berjalan bersama kedua anggota Polisi.
"Momy!!!" jerit Ansell dari dalam kamar berlari hendak menyusul Al. Namun tubuh Ansel di tahan lalu di peluk Raka dan Barra.
"Tenanglah sayang, momy hanya pergi sebentar!" ucap Raka.
"Momy! Momy!" Ansel terus memberontak, menangis, berusaha melepaskan diri dari pelukan Raka dan Barra.
"Momy!!" Ansell terus berteriak hingga suaranya serak, tak lama tubuhnya terkulai lemas dan jatuh pingsan.
"Bawa ke ruanganku!" perintah Raka.
Barra menggendong Ansel, lalu di bawa ke ruangan medis bersama Raka.
"Dit, kau baik baik saja?" tanya Dion menyentuh pundak Raditya.
"Aku tidak baik baik saja, Di. Lihat, keluargaku hancur begitu saja, dan aku tidak dapat betbuat apa apa."
"Aku akan membantu semampuku, tenangkan dirimu." Ucap Dion menenangkan.
selamat buat dion dan al...
brasa masih gantung thor..
ditunggu undangannya bwt raka sm barra ya