NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPAT

Beberapa hari berlalu,...

Kanaya menatap puas surat-surat penting di

hadapannya yang terjejer di atas ranjang, bibir penuhnya yang seksi tersenyum menyeringai.

Semua harta kekayaaan dan asset milik Andra kini telah resmi berganti atas nama dirinya, menjadi miliknya, tanpa terkecuali.

"Naya? Kanaya,... Kanaya?!" Senyum di wajah Kanaya seketika hilang saat mendengar suara nyaring yang tidak lain dan tidak bukan adalah suara ibu mertuanya.

Cepat-cepat Kanaya merapikan semua surat-surat penting di atas ranjang dan kembali memasukannya ke dalam laci lemari kemudian menguncinya rapat.

"Iya, Bu. Kenapa?" Tanya Kanaya sambil membuka pintu kamar.

Ia menatap wajah Samira dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak memutar bola matanya dengan sinis.

"Sebentar lagi Andra pulang ke sini sambil bawa Nisrin, kamu siapin makanan dan camilan gih. Ada tamu itu harus disambut sebaik mungkin. Apalagi ini adik madu kamu,..."

Rasanya Kanaya ingin menjambak rambut Samira dan membenturkannya ke dinding keras-keras setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita tua itu.

Enteng sekali lidah wanita tua itu berbicara.

"Iya, Bu. Aku siapin." Lidahnya terasa berat dan kelu saat menjawab.

Kanaya menutup pintu kamar dengan sedikit keras dan berlalu ke arah dapur, menyiapkan makanan dan minuman untuk disajikan sesuai dengan permintaan ibu mertua menyebalkannya.

"Apa aku masukin racun tikus aja kali ya,.."

Ucap Kanaya sambil terkikik geli, wanita itu menutup mulutnya dengan punggung tangan berusaha untuk meredam suara tawa gelinya.

"Tapi nanti aku malah masuk penjara, males ah.

Nggak worth it. Nggak sudi aku terkurung dan nggak bisa nikmatin hidup cuma gara-gara curut kaya mereka. Mending ku buat mereka menderita dengan cara yang lebih seru, biar sekalian bisa ku tonton." Ucap Kanaya lagi sambil mengangkat kedua bahunya.

"Kanaya,...." Suara familiar itu membuyarkan monolog Kanaya.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Andra yang tengah tersenyum menjijikkan ke arah dirinya.

Di samping pria itu berdiri seorang wanita yang tanpa dikenalkan padanya pun Kanaya sudah tau.

Wanita itu pasti adalah Nisrin, istri kedua Andra.

Dada Kanaya bergemuruh, meski ia sudah bertekad untuk mematikan perasaan cintanya pada Andra, pemandangan di hadapannya kini tetap lah menyakitkan.

Bagaimana mungkin pria itu bisa berdiri sambil

menggandeng perempuan lain lalu tersenyum tanpa merasa bersalah atau sungkan sama sekali ke padanya seperti orang idiot?!

"Sayang, Kenalin, ini Nisrin. Nisrin, salim dulu sama kakak madu kamu. Kamu udah tau kan siapa namanya? Ayo, sapa dulu."

Di dalam kepalanya saat ini, Kanaya tengah membayangkan dirinya yang sedang memukul-mukul kepala Andra hingga kepala pria itu persis sama seperti semangka yang pecah setelah jatuh dari ketinggian.

"Naya,.... Kanaya? Sayang?! Kanaya, kamu nggak apa-apa?" Kanaya berjengit kaget saat Andra mengguncang lengannya dengan cukup kuat.

Sangking emosinya ia, Kanaya bahkan tak sadar bahwa sejak tadi dirinya tengah melamun dan meremas gelas di tangannya kuat-kuat hingga ujung jarinya tampak memutih.

Wanita itu menatap wajah suaminya, berdecak penuh kecewa saat wajah menyebalkan itu masih utuh tanpa luka sama sekali.

Seandainya saja imaginasinya tadi bukan hanya sekedar khayalan, pikir Kanaya di dalam hatinya yang penuh dengan amarah.

"Sayang, kamu nggak apa-apa? Dari tadi kamu nggak jawab pertanyaan aku lho,.."

"Euhm, ya,... iya. Aku nggak apa-apa, aku baik-baik saja. It's okay,..."

Kanaya mengangkat tangannya dan menepis halus tangan Andra yang sejak tadi mencengkeram lengannya dengan erat. Jujur saja, sentuhan tangan Andra membuat Kanaya merasa jijik.

"Yakin nggak apa-apa? Ya udah kalau gitu, ayo sapa dulu Nisrin. Nisrin, ayo salim dulu."

Wanita yang dipanggil dengan nama Nisrin itu kembali mengangguk kecil dan tersenyum manis bak kucing penurut, ia menjulurkan tangannya ke arah Kanaya. Meminta untuk bersalaman.

"Salam kenal ya, Mbak. Mohon bimbingannya supaya aku bisa jadi istri yang baik juga buat Mas Andra. Kita bisa sama-sama saling berusaha buat membahagiakan dia,..." Ucap Nisrin membuat imaginasi psikopat Kanaya semakin menggila.

Jika sebelumnya Kanaya membayangkan kepala Andra yang ia buat berantakan, kini wanita itu berkhayal mencekik Nisrin dan memotongnya menjadi beberapa bagian lalu membuangnya di tempat-tempat yang berbeda.

Sudah tidak waras memang, Kanaya benar-benar dibuat kehilangan akal.

"Hmm,..."

Kanaya hanya menjawab ucapan Nisrin dengan gumaman pelan, ia tengah berusaha sekuat mungkin menahan diri agar tak menjambak rambut Nisrin dan benar-benar merealisasikan khayalan brutalnya.

"Semoga kalian bisa akur ya, kita bangun keluarga yang harmonis dan bahagia sama-sama sampai ke surga." Suara Andra mendadak terdengar begitu menyebalkan di telinga Kanaya.

Sangking menyebalkannya, Kanaya ingin merobek bibir pria itu sehingga dia tidak akan pernah bisa lagi berbicara atau sekedar membuka mulut manisnya yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan.

"Ya udah, Nisrin pasti capek banget kan perjalanan jauh dari rumah ke sini. Ayo kita ke ruang tengah dan santai-santai, biarin aja Kanaya yang siapin semuanya. Dia yang mau dan suka rela menawarkan diri kok."

Samira membuka mulut dan berucap konyol membuat Kanaya benar-benar hampir kehilangan kendali diri dan kesabarannya.

Sejak kapan ia sukarela menawarkan diri untuk menjadi babu di keluraga ini?!

Terlebih untuk istri kedua suaminya?!

Jelas-jelas Samira lah yang memintanya untuk menyiapkan semua hidangan konyol ini.

Kali ini Kanaya benar-benar mempertimbangkan untuk memasukkan racun tikus berdosis tinggi ke dalam semua hidangan ini agar mereka mati mengenaskan bersama.

"Oh, iya kah? Wah, Sayang. Aku nggak nyangka kalau kamu bisa terima Nisrin sepenuhnya dengan secepet ini. Makasih ya, Sayang. Makasih karena kamu udah mau menurunkan ego dan perasaan kamu demi kebahagiaan kita bersama. Kamu luar biasa, Sayang. Kamu memang istri terbaik,..."

Andra mencium puncak kepala Kanaya dengan cepat sebelum wanita itu bisa menghindar.

"Ya udah, kalau gitu aku sama Nisrin tunggu di ruang

tengah ya. Kamu jangan lama-lama, supaya kita bisa ngobrol bareng."

Tanpa menunggu jawaban dan balasan dari Kanaya, pria itu kembali menggandeng Nisrin dan membawanya pergi bersama ke ruang keluarga mereka.

Samira mengekor di belakangnya seperti buntut kucing. Lalu Kanaya, ia ditinggalkan sendirian di dapur seolah-olah dirinya adalah pembantu mereka.

"Sialan!"

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!