Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di gubuk belakang rumah mewah, Rasya menatap pintu gubuk dengan mata membelalak lebar. Sesosok tubuh berdiri di ambang pintu, menatap ke arahnya dengan mata yang tajam. Di tangannya membawa sabit panjang, ia mengenakan topi lebar khas yang telah usang.
Rasya memeluk tubuhnya sendiri, ketakutan datang begitu saja mendominasi. Angin yang bergemuruh di luar membawa air hujan masuk ke dalam gubuk dan membasahi dirinya. Udara dingin yang menusuk justru terasa panas bagi Rasya. Keringat dingin merembes dari pori-pori, membasahi wajahnya yang pucat.
"Ibu! Ibu!"
Hanya itu yang keluar dari bibir Rasya, meminta tolong dengan lirih. Berharap bayangan sang ibu yang sering memeluknya akan datang menolong.
Prang!
Sosok itu melempar sabit di tangan secara tiba-tiba dan tak terduga. Rasya terlonjak kaget, semakin erat memeluk tubuhnya sendiri. Detik berikutnya, sosok itu berlari masuk ke dalam gubuk menghampiri Rasya.
"Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan nada panik dan berbisik di antara gemuruh petir yang menyambar.
Rasya yang menunduk karena takut, perlahan mengangkat wajah menatap wajah tua tukang kebun di rumahnya yang terlihat panik. Kulitnya yang hampir keriput mengernyit, topi usangnya basah oleh air hujan. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket lusuh yang sudah menemaninya bekerja selama puluhan tahun di rumah itu.
Dua buah roti kukus yang dibungkus kertas ia perlihatkan kepada Rasya.
"Makanlah, Tuan Muda. Jangan sampai sakit. Bukankah Tuan Muda menunggu ibu kembali?" katanya penuh perhatian.
Ia tersenyum, hangat dan penuh kasih. Rasya menganggukkan kepala, perlahan rasa takutnya hilang bersama angin yang menderu.
"Jika begitu, makan roti kukus ini. Agar saat ibu kembali, Anda dalam keadaan sehat dan tidak membuatnya sedih," katanya lagi seraya menyerahkan dua roti kukus itu ke pangkuan Rasya.
Mata kecil Rasya menatap dua roti di pangkuan dengan nanar. Di rumah besar itu, hanya si tukang kebun yang selalu memperhatikannya. Setiap kali ia dikurung tanpa makanan, lelaki tua itu akan datang membawakannya roti kukus. Entah, dari mana ia mendapatkannya, tapi Rasya selalu merasa terharu atas perhatian kecil itu.
Aku janji, setelah semuanya berlalu akan menjadikannya orang yang berbahagia di dunia ini.
Ia berjanji di dalam hati sembari menggigit perlahan roti kukus yang hampir dingin itu. Kemudian, si Tukang Kebun merogoh jaket lusuhnya lagi dan mengeluarkan sebuah selimut tipis dari sana. Menyelimuti tubuh Rasya yang dingin.
Air menetes dari mata kecil Rasya setiap kali ia menggigit roti kukus itu. Seandainya ada ibu di sisi, hidupnya tidak akan menderita seperti sekarang ini. Tukang kebun itu tersenyum sedih melihat Rasya yang makan dengan lahap.
Dia pasti sangat kelaparan sekali. Mereka benar-benar jahat. Seandainya tuan tahu bahwa anaknya diperlakukan seperti ini, apa yang akan dia lakukan? Tapi, mereka selalu mengatakan bahwa tuan tidak menyayangi Tuan Muda. Seandainya nyonya masih hidup, dia tidak akan menderita seperti ini. Tuan Muda selalu berharap ibunya akan kembali. Aku pun berharap yang sama agar Tuan Muda bisa hidup bahagia.
Ia tersentak saat mendengar bunyi langkah mendekat, buru-buru menyembunyikan selimut dan roti kukus di balik peti mati.
"Tuan Muda, ada yang datang. Berpura-puralah tidur. Saya akan pergi sekarang," katanya berbisik seraya berjalan cepat ke bagian belakang gubuk dan pergi ke perkebunan.
Ia takut jika mereka tahu bahwa dia diam-diam menolong Rasya, maka ke depannya tak akan lagi ada yang peduli padanya. Lelaki tua itu bersembunyi di balik pagar bunga untuk melihat siapa yang datang.
Dia Monica, bibi tiri Rasya yang kejam. Dipayungi seorang pelayan layaknya nyonya besar di rumah megah itu. Di dalam gubuk, Rasya mengikuti arahan si tukang kebun untuk berpura-pura tidur. Ia memeluk peti mati seperti biasanya, mendengkur halus selayaknya orang tertidur.
Monica membuka pintu gubuk, hanya melihat dari ambang pintu tanpa berniat untuk masuk. Memastikan Rasya masih bernapas. Itu saja.
"Keluarkan dia besok pagi!" katanya seraya kembali berbalik pergi meninggalkan Rasya dan semua kedinginan yang menemaninya.
Setelah pintu tertutup, Rasya menarik selimut dari balik peti mati dan menutupi tubuhnya. Meringkuk di samping benda menakutkan itu, sambil memakan roti kukus sedikit demi sedikit. Dia sedang mengeja setiap derita yang dialaminya. Mematri kuat setiap wajah yang menyiksanya setiap hari. Memastikan mereka akan membayarnya berkali-kali lipat.
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄