Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Ibu
Dengan perasaan yang kacau, Angkasa kembali ke rumah orang tuanya. Meski perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja... Namum ia sangat pintar menyembunyikannya, dibalik wajah datar dan tatapan dingin yang sudah menjadi kebiasaannya setiap hari.
Setelah seorang satpam mengambil alih mobilnya untuk diparkirkan ke garasi. Angkasa masuk dengan langkah lebar, tegas, dan terukur. Seolah-olah ia sudah mengerti, apa maksud dari permintaan Ayahnya yang memintanya untuk datang hari ini. Padahal pada kenyataannya, ia sama sekali tidak bisa menebak. Karena ayahnya, terlalu misterius dan sangat sulit untuk diketahui apa keinginannya.
"Eh Mas Angkasa sudah pulang!" senyum hangat dan ramah dari mbok Siti, asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Felix... menjadi orang pertama yang selalu menyapa dirinya ketika pulang ke rumah ini.
"Papa di mana mbok?" Angkasa melonggarkan dasi, membuka jas dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
"Tuan besar ada di ruang kerjanya, Mas. sama nyonya besar juga!" jawab mbok Siti, terlihat sedikit gurat kecemasan yang tersirat dari kedua mata tuanya.
Tanpa berbicara apapun lagi. Angkasa menuju ke ruang kerja milik ayahnya yang berada di lantai 2. Suasana yang sepi dan nyaris tanpa suara, menambah kesan intimidasi di rumah mewah dengan nuansa klasik yang menggunakan tema kayu sebagai bahan dekorasi utamanya. Ketukan sepatu pantofel miliknya, menambah tekanan dalam lorong menuju pintu kayu yang ada di ujung. Namun semua itu sama sekali tidak mempengaruhi langkahnya yang tegap dan pasti.
Tok! Tok! Tok!
Setelah tiga kali mengetuk pintu, terdengar balasan dari dalam ruangan yang memberi perintah untuk masuk.
Angkasa membuka pintu, di dalam sana... Ia melihat ayahnya, lelaki tua dengan rambut putih dan sorot mata yang tajam. Sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menghisap cerutu favoritnya. Disampingnya, ada sang ibu yang tetap terlihat cantik dan anggun, di usianya yang sudah senja. Namun ia kembali melihat gurat kecemasan dan kekhawatiran disana.
"Ma, Pa!" Angkasa duduk di sebrang meja, dengan salah satu kaki yang bertumpu di kaki yang satunya. Punggungnya bersandar, sorot matanya terlihat tenang, santai. Namun ia tidak bisa membohongi perasaannya yang mulai terasa tidak enak. Seperti akan terjadi sesuatu hal besar yang mengubah hidupnya.
"Masih ingat pulang kau rupanya!" ucap Persimon, ayahnya yang masih asik menghisap cerutu yang mengeluarkan asap putih yang mengepul di udara.
"Maaf aku sibuk!" selalu itu, dan hanya satu kalimat itu yang menjadi alasan Angkasa... setiap kali ia tidak kembali pulang ke rumah keluarga Felix.
Ciih!
Persimon berdecih sambil mematikan cerutu tersebut ke dalam asbak. Tidak perlu diperjelas, ia sudah tahu jika kalimat sibuk... hanya alasan klasik yang selalu Angkasa kemukakan untuk menghindari ayahnya.
"Langsung to the point saja, apa yang ingin Papa katakan?" ucap Angkasa, merasa tidak perlu terlalu banyak berbasa-basi dihadapan orang Ayahnya.
Persimon tersenyum semirk. Reaksi yang dapat Angkasa simpulkan, jika permintaan kepulangannya pada hari ini... pasti ada maksud dan tujuan tertentu.
"Anak pintar!" Persimon terlihat bangga. Namun Angkasa tahu jika rasa bangga itu sama sekali bukan ditujukan untuknya. Melainkan untuk dirinya sendiri, yang merasa bangga karena sudah berhasil mendidik Angkasa menjadi pengusaha top dan terkaya nomor satu.
Angkasa diam dan tidak berkomentar. Karena ia terlalu malas untuk terlibat banyak percakapan dengan ayahnya yang diktator, egois, dan selalu mendahulukan serta mementingkan keinginannya sendiri.
"Papa akan menjodohkan kamu!" lanjut Persimon, membuat Angkasa terkejut meski hanya beberapa detik.
"Aku menolak!" balas Angkasa cepat. Secepat kereta api express yang melaju menuju ke stasiun berikutnya.
Persimon yang sudah bisa menebak penolakan dari putranya hanya tersenyum. Melalui satu gerakan dari salah satu jarinya saja, membuat istrinya... Anna maju menghampiri putra semata wayang mereka.
"Angkasa, anak Mama!" suara lembut ibunya, menjadi salah satu suara yang mampu meluluhkan seorang Angkasa selain kekasihnya Harleya.
Angkasa berdiri, dengan lembut ia membantu ibunya yang sejak tadi terus berdiri di sisi ayahnya, agar duduk nyaman di kursinya.
Anna sama sekali tidak menolak, wanita tua itu tersenyum dengan kedua mata yang terus menatap putranya dengan penuh kerinduan yang selama ini tidak bisa ia luapkan.
"Mama apa kabar? Mama baik-baik saja kan?" wajah datar Angkasa, berubah menjadi penuh kekhawatiran saat melihat ibunya yang terlihat lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.
"Mama baik-baik saja!" Anna berusaha terlihat untuk meyakinkan. Meskipun Angkasa sendiri sudah tahu, jika kehidupan ibunya tidak sebaik dan sebahagia berita yang sering tersiar.
Persimon kembali mengambil dan menghisap cerutunya. Tanpa sedikitpun berniat untuk melihat apalagi ikut merasakan kerinduan antara ibu dan anak yang ada di hadapannya.
"Jangan terlalu banyak basa-basi!" ucapan yang lebih tepat disebut dengan peringatan, membuat Anna tersentak.
Ketakutan terlihat jelas di kedua mata tuanya, meskipun Anna berusaha mati-matian untuk menutupi semua itu.
"Ma!"
Angkasa ingin berbicara. Namun Anna yang sudah tahu ke mana arah dan apa yang akan putranya katakan... membuat Anna dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka.
"Angkasa sayang Mama kan?" ucapan lembut dan tatapan mata teduh ibunya, membuatnya mengangguk dengannya mantap.
"Tentu! Aku sangat menyayangi Mama!" jawab Angkasa tanpa kebohongan sama sekali.
Anna tersenyum, lega. Senyum paling tulus, yang Angkasa lihat sejak beberapa waktu lalu ia masuk ke dalam ruangan ini.
"Kalau Angkasa sayang sama Mama! Angkasa mau ya menikah sama Putri keluarga Hardiman?" pinta Ibunya, sambil memegang kedua tangan Angkasa yang berjongkok di hadapannya.
"Putri keluarga Hardiman? maksud Mama Sukma?" sahut angkasa terkejut. Karena ia tahu, keluarga Hardiman adalah keluarga dari kekasihnya, Leya.
Anna mengangguk dengan ibu jari yang mengusap lembut punggung tangan putranya. "Angkasa mau ya? usia kamu kan sudah tidak lagi muda, kapan lagi kamu akan menikah? Mama sudah tua dan sering sakit-sakitan. Mama hanya ingin melihat kamu menikah dan membangun keluarga yang bahagia?"
Angkasa diam, mendengar dan melihat begitu tulus dan penuh harapnya permintaan sang ibu. "aku tahu Ma, usiaku sudah tidak muda. Tapi aku bisa memilih pasangan hidupku sendiri?" Angkasa menolak dengan lembut dan sekarang ia mengerti... alasan mengapa Leya ngotot ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Tidak dak bisa!" sela persimon. "hanya Putri keluarga Hardiman yang pantas menjadi menantu di keluarga ini!" lanjutnya, kembali memperlihatkan sisi egoisnya.
Angkasa ingin membantah. Namum gelengan kepala pelan dari sang ibu, membuatnya dengan terpaksa diam. Karena Angkasa yang terlalu menyayangi ibunya, membuatnya tidak bisa menolak apapun keinginan dan perintah dari wanita tua yang sudah melahirkannya dengan penuh perjuangan. Dan membesarkannya dalam keadaan sakit-sakitan, efek dari persalinan yang ibunya lakukan dulu.
"Mama mohon, Angkasa mau ya menikah menikah sama Sukma? Mama ingin sekali melihat kamu menikah, sebelum Mama meninggal?" mohon Anna dengan sangat.
Angkasa dilema. Ia tidak mau menikah dengan Sukma, apalagi ia juga sangat mencintai Harleya. Tetapi ia juga tidak bisa menolak permintaan ibunya, yang jarang sekali memohon padanya.
"Angkasa...!" Anna ingin kembali memohon. Namum pandangannya seketika berubah gelap dan ia tidak sadarkan diri di dalam pelukan putranya.
"MAMA!" Angkasa panik. Ia dengan cepat menggendong ibunya, meninggalkan sang ayah yang tetap duduk dengan tenang. Lalu mengikuti langkah Angkasa yang terburu-buru ingin membawa ibunya ke rumah sakit.
"Mama harus bertahan! Mama tidak boleh kenapa-napa!" mohon Angkasa dengan suara parau, sambil menggendong tubuh ibunya yang sangat ringan dan terlihat ringkih.