"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Hadiah Poin Sistem
Ngmong-ngomong, biar kalian nggak bingung dengan sistem keuangan di cerita ini, aku kasih sedikit info ya.
Di sini, mata uangnya ada tiga jenis, semuanya dalam bentuk uang kertas:
1 Dolar – warna merah. Desainnya simpel dengan gambar bola dunia penyatuan di kedua sisi. Tulisan '1 Dolar' ada di sudut kiri atas dan kanan bawah. Uang sehari-hari yang paling sering dipakai.
100 Dolar – warna ungu. Desainnya mirip dengan 1 Dolar, tapi tentu saja nominalnya lebih besar. Tulisan '100' menggantikan angka 1 di bagian sudutnya.
1000 Dolar – warna biru muda dengan sentuhan premium. Ini dia yang spesial. Tulisan '1000 Dolar' pakai huruf emas, gambar bola dunianya terasa nyata dengan efek transparan. Teknologi anti kusutnya bikin uang ini selalu rapi meskipun dilipat berkali-kali. Daya belinya sangat tinggi, sampai-sampai banyak keluarga biasa menyimpannya seperti pusaka. Kalau ada di dompet seseorang, itu udah jadi tanda kalau orang tersebut benar-benar kaya.
Nah, kurang lebih seperti itu sistem uang di novel ini. Semoga membantu membayangkan dunia ceritanya ya!
Jangan lupa dukung terus cerita Sistem Yang Mengubah Hidupku dengan like dan komen kalian. Makasih banyak, semangat membaca!
~ ~ ~
Saat ini, melihat Liam mengeluarkan uang 1000 Dolar itu, bukan hanya pramuniaga itu, bahkan Nona Sylvie yang memiliki gaji tinggi sebagai manajer pun membuka mulutnya karena terkejut.
"Apa yang tadi kau katakan?" tanya Liam lagi.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi melihat reaksi pramuniaga itu membuatnya sangat senang.
Wajah pramuniaga itu memerah karena malu dan iri. Kecemburuan terlihat jelas saat ia memandang uang 1000 Dolar itu dengan rakus.
Pada saat yang sama, layar sistem tiba-tiba muncul di hadapan matanya.
Ding!
[Kau telah berhasil membalaskan penghinaan: +10 Poin Sistem]
[Kau telah berhasil membalaskan penghinaan dengan dua orang saksi: +10 Poin Sistem]
Dengan informasi yang sebelumnya dipaksakan masuk ke dalam pikirannya, Liam sudah memiliki sedikit gambaran tentang hal ini. Namun, ia memilih untuk mengabaikannya terlebih dahulu karena ia menikmati situasi di depannya.
"Itu… itu pasti palsu. Ya, benar, itu pasti palsu. Ha, memalsukan uang adalah pelanggaran serius. Sekarang kau dalam masalah besar," pramuniaga itu kembali dari keterkejutannya.
Wajahnya masih merah karena malu, tetapi ia tidak menyerah dan langsung meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah uang 1000 Dolar palsu.
Dalam pikirannya, tidak mungkin seseorang dengan penampilan gelandangan seperti Liam bisa memiliki uang sebesar itu.
Padahal ia sendiri hanya menghasilkan sekitar 9 Dolar per hari atau rata-rata 260 Dolar per bulan jika ia bekerja lembur. Setelah dikurangi pengeluaran dan tagihan, ia hanya akan memiliki sisa sekitar 100 Dolar untuk sebulan penuh.
Karena itu, ia tidak bisa menerima bahwa Liam yang berpakaian kotor memiliki uang lebih banyak darinya.
Lagipula, 1000 Dolar sudah merupakan jumlah yang sangat besar. Itu setara dengan hampir penghasilannya selama satu tahun.
"Kau… berikan itu padaku kalau kau tidak ingin masalah," saat mengatakan itu dengan wajah memerah, ia bahkan mencoba meraih uang 1000 Dolar di tangan Liam.
Untungnya, jarak di antara mereka sekitar satu meter, sehingga Liam masih bisa menghindari tindakan tidak tahu malunya dengan mudah.
Mendengar alasan dan fitnahnya, serta melihat tindakannya yang tidak tahu malu, Liam hanya bisa terdiam.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, Nona Sylvie tiba-tiba menyela setelah pulih dari keterkejutannya.
"Cukup! Apa kau belum cukup mempermalukan dirimu sendiri?" Nona Sylvie menatap tajam pramuniaga yang kini memerah karena malu.
Kata-kata pramuniaga itu kembali tersangkut di tenggorokannya. Namun, melihat Nona Sylvie sudah marah, ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun lagi. Baru sekarang ia menyadari betapa tidak tahu malunya tindakannya. Menyadari hal itu, wajahnya menjadi semerah tomat karena malu.
Di sisi lain, berbeda dengan pramuniaga itu, Nona Sylvie bukan wanita yang bodoh. Ia tahu bahwa uang 1000 Dolar itu asli.
"Aku akan mengurusmu nanti," tambahnya sebelum ia menoleh ke arah Liam.
Kali ini, ia tidak bisa menahan diri untuk mengamati Liam dengan lebih saksama.
Sekilas, ia langsung bisa melihat bahwa Liam terlihat sangat biasa. Satu-satunya hal yang menonjol darinya mungkin hanyalah wajahnya yang tampan.
Selain wajahnya, ia memiliki rambut panjang yang berantakan hingga hampir menyentuh bahunya. Tubuhnya juga kurus dan bahkan memiliki postur yang buruk.
Kesan pertamanya? Sangat biasa.
Namun, Nona Sylvie tidak berani meremehkan pria ini. Meskipun ia terlihat seperti ini, fakta bahwa ia bisa mengeluarkan uang 1000 Dolar berarti ia tidak sesederhana kelihatannya.
Dan seseorang yang bisa dengan santai mengeluarkan uang sebesar itu, koneksi yang ia miliki tentu tidak kecil. Meskipun ia memiliki posisi yang cukup baik di toko, ia tetap hanya seorang manajer dan bisa dipecat dengan satu kata dari orang-orang berkuasa.
Ia teringat sebuah novel yang pernah ia baca, di mana seorang pewaris keluarga kaya sedang menjalani pelatihan dengan berpura-pura miskin. Ia tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa mungkin pemuda biasa di depannya ini juga sedang menjalani hal seperti itu. Nona Sylvie tidak bisa menahan rasa bersemangat saat memikirkan kemungkinan yang menarik tersebut.
Pada saat yang sama, cara ia memandang Liam menjadi jauh lebih hormat.
"Aku meminta maaf atas perilaku buruk karyawan kami, pelanggan terhormat. Aku harap kau berbesar hati dan memaafkan kesalahpahaman ini," katanya dengan rendah hati sambil membungkuk.
Ia kemudian melirik ke arah pramuniaga dan petugas keamanan, dan melihat tatapan isyaratnya, keduanya tidak berani bersikap sombong lagi dan langsung menundukkan kepala kepada Liam.
Bahkan manajer mereka saja harus membungkuk meminta maaf kepada Liam, bagaimana mungkin mereka tetap berdiri diam begitu saja?
"Mohon maafkan ketidaksopanan kami," keduanya berkata bersamaan.
Suara pramuniaga itu sedikit ragu, namun karena takut dimarahi manajer, atau bahkan dipecat, ia tidak berani lagi bersikap seperti sebelumnya. Ia hanyalah karyawan biasa.
Sementara itu, petugas keamanan terlihat lebih tenang. Lagipula, ia tidak secara langsung menyinggung Liam dan hanya mengikuti perintah pramuniaga.
Melihat mereka menundukkan kepala seperti itu, kegembiraan Liam perlahan mereda.
"Lupakan saja. Aku bukan orang yang suka mempermasalahkan hal-hal kecil. Bantu saja aku dengan barang-barang ini. Aku ingin segera pergi dari tempat ini," katanya sambil melambaikan tangan.
Nona Sylvie mengangguk. Ia kemudian memberi isyarat kepada pramuniaga dan petugas keamanan untuk membantu Liam membawa barang-barang yang ia pegang.
Liam tidak menolak dan membiarkan mereka membawakan barang-barangnya saat mereka berjalan menuju kasir terdekat.
Dari interaksi ini, Liam mempelajari sebuah pelajaran berharga. Selama kau memiliki uang, kau bisa melakukan apa saja.
Lihat saja pramuniaga yang tadi begitu sombong dan percaya diri, setelah melihat uang 1000 Dolar, bukankah ia menjadi panik? Yang lebih tidak masuk akal adalah betapa tidak tahu malunya ia di hadapan uang.
Pada akhirnya, ia hanya bisa menundukkan kepala dan meminta maaf.
Namun, jika ia tidak memiliki uang, ia yakin hasil akhirnya akan berbeda.
Hal ini juga membuat Liam menyadari bahwa uang seperti pedang bermata dua.
Kau bisa melukai orang lain dengannya, tetapi orang lain juga bisa mencoba melukaimu karena itu.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berhati-hati dalam menggunakan sisa uang di rekeningnya.
Pada saat yang sama, saat berjalan menuju kasir terdekat, Liam mengabaikan keberadaan ketiga orang itu dan diam-diam memanggil layar sistem di depan matanya.
"Sistem, tunjukkan poin yang kudapat tadi.”