Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Malam Pertama Yang Dingin
Pintu kamar pengantin tertutup pelan di belakang Alyssa, menyisakan bunyi klik yang terasa lebih keras dari seharusnya di telinganya. Ia berdiri di ambang pintu beberapa detik, jemarinya masih menyentuh gagang, seolah ada bagian dari dirinya yang ingin membukanya kembali dan keluar dari ruangan itu. Namun ia tidak bergerak, hanya menarik napas pelan sambil memandang ke dalam kamar yang kini resmi menjadi bagian dari hidupnya.
Ruangan itu luas dan tertata sempurna, jauh berbeda dari kamar sederhana yang selama ini ia tempati. Lampu temaram memantulkan cahaya hangat ke dinding berwarna krem, sementara ranjang besar di tengah ruangan dihiasi kelopak bunga yang disusun rapi, seakan menunggu dua orang untuk memulai kisah baru. Semua terlihat indah dan nyaris seperti gambar di majalah, tetapi keindahan itu terasa asing, bahkan sedikit menekan.
Alyssa melangkah masuk dengan hati-hati, seolah takut mengganggu kesempurnaan yang sudah disiapkan. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya terasa semakin berat, bukan hanya karena lapisan kainnya, tetapi juga karena semua hal yang terjadi sepanjang hari. Ia berhenti di dekat ranjang, menatapnya beberapa saat dengan perasaan yang sulit dijelaskan, lalu mengalihkan pandangan dengan cepat seakan tidak ingin terlalu lama memikirkannya.
Ia tahu ruangan ini seharusnya menjadi awal dari kehidupan baru, tempat di mana kebahagiaan dimulai dan kenangan dibangun bersama. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya, seperti seseorang yang tersesat di tempat yang tidak pernah ia pilih. Tidak ada rasa hangat, tidak ada antusiasme, hanya kehampaan yang perlahan merambat di dadanya.
Alyssa akhirnya duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Keheningan memenuhi ruangan, begitu tebal hingga suara detak jam di dinding terdengar jelas dan teratur, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski ia merasa terhenti di tempat. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang masih dihiasi cincin pernikahan.
Cincin itu terpasang dengan sempurna, berkilau di bawah cahaya lampu, seolah melambangkan sesuatu yang utuh dan indah. Namun bagi Alyssa, benda kecil itu terasa seperti pengikat yang tidak pernah ia inginkan. Ia mengusapnya pelan dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
“Aneh sekali,” gumamnya lirih.
Suara itu hampir tidak terdengar, tenggelam dalam sunyi yang mengelilinginya. Ia mengangkat wajah sedikit, mencoba menenangkan diri, lalu menghembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Hari ini terlalu panjang, terlalu penuh, dan terlalu cepat berlalu tanpa memberinya kesempatan untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Beberapa menit berlalu tanpa perubahan, dan Alyssa mulai merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Ia bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju jendela di sudut ruangan. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin dari ventilasi, menciptakan gerakan lembut yang kontras dengan kegelisahan di dalam dirinya.
Di luar, lampu kota berkilau terang, kehidupan terus berjalan seperti biasa tanpa terpengaruh oleh apa yang ia alami. Kendaraan berlalu lalang, gedung-gedung tinggi berdiri kokoh, dan semuanya tampak begitu hidup. Ia memeluk lengannya sendiri, merasakan dingin yang entah berasal dari mana, lalu menatap keluar lebih lama dari yang ia sadari.
Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia akui. Salah satu di antaranya muncul perlahan, mengendap tanpa diminta, lalu menetap di benaknya.
Mungkin dia tidak akan datang.
Alyssa menutup matanya sejenak, mencoba menyingkirkan pikiran itu, tetapi kalimat tersebut tetap bertahan. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru kecewa jika hal itu benar terjadi. Perasaan itu bercampur, membingungkan, membuatnya semakin tidak yakin dengan apa yang sebenarnya ia harapkan.
Ia kembali ke ranjang, kali ini dengan langkah yang lebih pelan. Tangannya mulai membuka satu per satu aksesoris yang menempel di tubuhnya, dari anting hingga jepit rambut yang menahan sanggulnya sejak pagi. Rambut panjangnya akhirnya terurai, jatuh lembut di bahu, memberikan sedikit rasa ringan yang sudah lama ia butuhkan.
Setiap gerakan ia lakukan dengan hati-hati, seolah ingin memperlambat waktu agar tidak sampai pada momen yang ia hindari. Ia menaruh aksesoris itu di meja dengan rapi, lalu duduk kembali sambil menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang.
Waktu terus berjalan tanpa memberi jawaban, hingga akhirnya suara klik dari gagang pintu memecah keheningan yang ada. Tubuh Alyssa langsung menegang, napasnya tertahan tanpa sadar saat pintu perlahan terbuka.
Daren masuk dengan langkah tenang, masih mengenakan jas yang sama seperti sebelumnya. Dasinya sudah dilepas, memberikan kesan sedikit lebih santai, tetapi ekspresinya tetap datar dan sulit ditebak. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu berjalan masuk tanpa menoleh ke arah Alyssa yang berdiri beberapa langkah darinya.
Alyssa berdiri refleks, mencoba menjaga sikap meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan sebelum sempat keluar. Daren melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja, gerakannya rapi dan teratur, seolah semuanya sudah menjadi kebiasaan.
Suasana kembali sunyi, kali ini terasa lebih berat karena kehadiran dua orang yang tidak saling berbicara. Alyssa menggigit bibirnya pelan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan yang terasa canggung sejak awal.
“Acara tadi sudah selesai semua?” tanyanya hati-hati.
“Sudah.”
Jawaban singkat itu datang tanpa emosi, tanpa tambahan apa pun. Alyssa mengangguk pelan, meski ia tahu pria itu bahkan tidak melihatnya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, menciptakan jarak yang terasa semakin nyata.
Alyssa mencoba lagi, meski suaranya sedikit ragu.
“Tentang kita…”
“Aku akan langsung ke intinya.”
Kalimat itu memotong ucapannya dengan tegas, membuat Alyssa terdiam seketika. Daren akhirnya menoleh, tatapannya lurus dan dingin, seperti seseorang yang sedang menyampaikan kesepakatan, bukan berbicara dengan pasangan.
“Aku tidak suka membuang waktu, jadi dengarkan baik-baik.”
Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Alyssa hanya bisa mengangguk kecil, merasakan ketegangan yang kembali mengisi dadanya.
“Ada beberapa hal yang harus kamu pahami sejak awal. Pertama, jangan pernah mengganggu hidupku.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu, seolah sudah dipikirkan sejak lama. Alyssa menelan ludah, mencoba memahami maksud di balik kata-kata tersebut.
“Aku punya pekerjaan dan rutinitas yang tidak ingin berubah. Pernikahan ini tidak akan memengaruhi itu.”
Alyssa mengangguk lagi, kali ini lebih pelan. Ia tidak menyela, tidak bertanya lebih jauh, hanya menerima setiap kata yang diberikan kepadanya.
“Kedua, jangan berharap apa pun dariku. Kita menikah karena situasi, bukan karena keinginan, jadi jangan mengharapkan perhatian atau hal lain yang tidak perlu.”
Kata-kata itu jatuh dengan jelas, tidak menyisakan ruang untuk salah tafsir. Alyssa merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan, tetapi ia tetap berdiri dengan wajah tenang.
“Aku tidak akan mencampuri urusanmu, selama kamu juga melakukan hal yang sama.”
“Baik,” jawab Alyssa pelan.
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi ia harus menahan banyak hal agar bisa mengucapkannya tanpa gemetar. Daren mengangguk singkat, seolah itu sudah cukup.
“Kita juga tidak perlu berbagi kamar. Aku akan tidur di kamar sebelah.”
Alyssa sedikit terkejut, tetapi tidak sepenuhnya menolak. Ada rasa lega yang muncul, bercampur dengan perasaan lain yang lebih sulit dijelaskan.
Ia ingin mengatakan sesuatu, mungkin sekadar memastikan atau mempertanyakan, tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Daren sudah berbalik, berjalan menuju pintu tanpa menunggu respons lebih lanjut.
“Ada yang ingin kamu tambahkan?” tanyanya singkat.
Alyssa menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Baik.”
Pintu kembali terbuka, lalu tertutup, meninggalkan Alyssa sendirian di ruangan yang terasa semakin luas dan sunyi. Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.
Perlahan, ia kembali duduk di ranjang, tangannya bergerak merapikan gaun yang masih ia kenakan. Pandangannya kosong, pikirannya penuh, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar bisa ia pegang.
“Aku memang tidak diinginkan,” bisiknya pelan.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup untuk membuka sesuatu yang ia tahan sejak tadi. Matanya mulai panas, dan kali ini ia tidak berusaha menahannya terlalu keras. Air mata jatuh perlahan, satu demi satu, membasahi pipinya tanpa suara.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar pelan. Tangisnya tidak keras, tidak berisik, tetapi cukup dalam untuk membuat dadanya terasa sesak. Semua emosi yang ia pendam sejak awal hari akhirnya keluar, bercampur menjadi satu tanpa bisa dipisahkan.
Beberapa saat kemudian, ia berbaring di atas ranjang tanpa mengganti gaun, menatap langit-langit dengan mata yang masih basah. Air mata terus mengalir diam-diam, tanpa saksi, tanpa penghiburan.
Di luar, dunia tetap terlihat sempurna, tetapi di dalam kamar itu hanya ada seorang wanita yang mencoba bertahan dari kenyataan yang tidak pernah ia pilih. Alyssa menarik selimut perlahan, memeluk dirinya sendiri, seolah itu satu-satunya cara untuk merasa sedikit lebih hangat.
Matanya akhirnya terpejam, bukan karena tenang, melainkan karena kelelahan yang tidak bisa lagi ia lawan. Dan malam itu, di kamar yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, Alyssa tertidur dalam diam dengan hati yang penuh luka.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔