RCR S1 ~ Bercerita dimana seorang gadis SMA berkepribadian ceria, humoris dan juga ceroboh yang sering mengalami mimpi yang sangat aneh. Yaitu, menjadi seorang Putri Kerajaan Eropa Abad Pertengahan dengan gaun mewah serta permata indah yang terbalut di tubuhnya. Tidak hanya sampai disitu, terdapat seorang lelaki bernama Ken yang tidak lain adalah teman sekelasnya yang memiliki paras sangat serupa dengan Pangeran yang ada dalam mimpinya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada rahasia di balik itu semua?
RCR S2 ~ Bercerita dimana terbukanya rahasia kepingan puzzle dalam mimpi yang selama ini dialami oleh Ruby. Gadis itu secara ajaib terlempar di kehidupan masa lalunya. Yaitu, Kerajaan Eropa Abad Pertengahan. Disinilah ia harus terjebak dalam dunia kerajaan yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan rahasia, intrik, dan pengkhianatan. Hingga akhirnya, kepingan puzzle itu akan terbuka seutuhnya. Gadis itu menemukan Reinkarnasi Cintanya. Reinkarnasi Cinta Ruby.
RCR S3 ~ Kembalinya Ruby di kehidupan asalnya. Namun, takdir baru telah siap menyambutnya. Sebuah dunia dimana ia merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Sebuah profesi yang membuat gadis itu lebih menghargai setiap detak jantung karena ia bisa berhenti tiba-tiba, kapan saja. Profesi yang menuntut pengorbanan besar, demi menyelamatkan nyawa manusia.
(First novel yang acakadulnya akan dibuat sebagai kenang-kenangan 😂)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Optimus Primi mengajari kami pelajaran matematika dengan layar LCD yang terpasang di dadanya. Dia adalah robot yang sangat pintar karena dapat menerjemahkan apa yang sedang kita bicarakan. Entah bagaimana ceritanya robot bisa lebih pintar melebihi kapasitas otak manusia, terutama manusia seperti kami ini. Sejenak aku berfikir semua ini ada memang karena akibat dari kemajuan jaman ataukah hanya aku saja yang masih ketinggalan jaman? "Hmm, entahlah."
"Mus, Timus, gimana nih rumus Aljabar soal nomer 10?" Nina bertanya.
Triingggg!
Sebuah jawaban beserta caranya keluar dari layar robot itu. Sementara kami hanya bisa tertegun saling memandang dan mencoba terus belajar di tengah ketertegunan itu. Bagaimana tidak? Biasanya kami hanya bisa melihat robot di dalam film, pameran maupun dalam kompetisi pembuat robot, namun sekarang justru dikejutkan oleh teman sekelas yang mempunyai peliharaan robot di rumahnya.
Terlebih lagi dia adalah Ken, seorang cowok jutek dan dingin yang merenggut ciuman pertamaku. Tentu saja sampai sekarang aku masih saja berlebihan memikirkannya, karena sejak dari lahir sampai detik ini aku masih ditakdirkan menjadi seorang jomblo, namun justru dia yang merenggut ciuman pertama jomblo yang malang ini, dan parahnya dia bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Padahal aku berharap yang mendapatkan ciuman berharga itu adalah sosok seperti pangeran baik hati yang sering kutemui dalam mimpiku. Yah, memang aku jadi sedikit terobsesi padanya sejak awal dan berharap sosok seperti dia ada dalam kehidupan nyata.
Walaupun pasti akan ada banyak wanita yang mau memberikan ciuman mereka pada Ken dengan senang hati bahkan sampai rela berebut, tetapi tidak denganku. Karena aku masih akan terus mencari sosok pangeran yang sering kali mucul dalam mimpiku, bukan si jutek dan dingin seperti dirinya.
Tak lama nampak Ken dan Anton berjalan menghampiri kami. Sepertinya mereka sudah lelah bermain PlayStation sejak tadi.
"Woy, kalian cewek-cewek ribet, ayo kita makan dulu, nggak laper apa belajar terus dari tadi?" sahut Anton dengan wajah jutek. Sementara Ken langsung memasuki ruang makan tanpa menoleh kearah kami sedikit pun.
"Dih, lihat deh sombongnya, dia anggap apa kami disini? Mentang-mentang bisa bikin robot gitu? Aku juga bisa bikin robot walaupun dari kertas." gumamku dalam hati yang semakin sensitif dibuatnya.
Di Ruang Makan Rumah Ken
Barisan pelayan berdiri di belakang tempat duduk yang kini kami duduki, mereka berdiri tegap seolah menjadi patung lengkap dengan seragam berwarna hitam dan putih khas pelayan yang sering muncul di dalam komik. Mereka menyiapkan banyak sekali hidangan di atas meja. Mulai dari macam-macam seafood, Korean Food, Indonesian Food, sampai European Food.
Lagi-lagi kami semua hanya bisa tertegun. Kini kami seolah menjadi rakyat jelata yang diundang makan bersama dengan keluarga kerajaan. Padahal saat di rumahku kemarin, Ken hanya makan dengan ayam goreng crispy yang dibeli ayah di toko pinggir jalan langganan kami. Malang sekali nasib lidahnya tiba-tiba dikejutkan oleh ayam crispy.
Karena aku duduk bersebelahan dengan Ken, tanpa sadar aku melihat keanehan dari para pelayan, mereka hanya menghidangkan makanan khas Eropa di atas piring milik Ken dari banyaknya menu yang ada di atas meja. Seolah mereka telah mengenal betul dan sudah terpatri jika tuannya itu lebih menyukai hidangan khas Eropa dibandingkan dengan yang lainnya. Apakah karena Ken merindukan orang tuanya yang tengah berada di Eropa? Entahlah.
"Ini Tuan Ken, foie gras panggang dari hati angsa, dan ratatouille yang dibuat saus untuk pasta, silahkan dinikmati," ucap seorang pelayan wanita paruh baya setelah usai meletakkan satu persatu hidangan yang sengaja disuguhkan khusus untuk Ken di atas mejanya. Tak lama pelayan itu kembali lagi berdiri di belakang tempat duduk Ken layaknya patung.
Ken mulai menyantap menu foie gras sebagai makanan pertamanya. Foie gras adalah makanan favorit sejak jaman kerajaan di abad pertengahan. Bahan pokoknya adalah hati angsa dan bebek yang dibuat pasta yang menghadirkan rasa nikmat dan gurih karena diberi mentega. Saking nikmatnya, seporsi foie gras di restoran bintang lima dapat mencapai harga ribuan dolar Amerika Serikat. Sedangkan untuk ratatouille dihidangkan sebagai makanan penutup, makanan ini adalah semacam semur yang terdiri dari berbagai macam sayuran dan biasanya dimakan dengan nasi, kentang atau roti.
Namun disisi lain aku justru lebih memilih mengambil makanan yang sudah jelas rasanya dan menjadi makanan favoritku yaitu rendang lengkap dengan sayur khas masakan Kota Padang yang sontak menggoda iman saat pertama kali aku melihatnya. Kini hanya tinggal seporsi rendang terakhir di atas meja, dengan gerakan malu-malu kucing namun sigap aku melayangkan sendokku untuk segera menggambilnya, namun nahas tiba-tiba Anton menyahutnya terlebih dahulu dengan senyum tengilnya.
"Ih apa'an sih Ton, kan aku duluan yang lihat," gerutuku dengan wajah kesal.
"Yeee, dimana-mana siapa cepat dia dapat kali Ruby jelek," jawabnya tetap dengan memasang wajah tengil.
"Idih kamu tuh daritadi udah ngabisin semua rendangnya masih kurang aja, laper apa doyan sih? Dasar cowok tengil," sahutku semakin tak terima satu-satunya rendang targetku diambil olehnya.
"Yeee, yah Lu tuh yang dasar jelek, lagi caper sama gue ya? Sorry ya, asal tahu dari sekian cewek yang ngejar-ngejar gue, cuman Lu yang paling jelek," guman Anton dengan begitu percaya diri.
"Apaaaa? Caper sama kamu? Halu gila ya?" Aku semakin tak terkendali.
Anton memang tampan dan juga populer di sekolah, namun sifatnya selalu menyebalkan dan lebih menyebalkan dari pada Ken. Entah mengapa setiap cowok tampan di sekolah selalu memiliki celah, kecuali Reyhan. Memang tak dapat dipungkiri yang paling mendekati kemiripan dari pangeranku adalah Reyhan dengan sifatnya yang lembut itu. Tiba-tiba Ken yang duduk di sebelahku meletakkan seporsi ratatouille yang khusus dibuat untuknya di atas piringku.
"Ah, nggak perlu kok Ken, aku nggak pernah makan yang beginian, nanti lidahku kaget lagi hehe," ucapku dengan canggung.
"Udah makan aja daripada berisik!" sahutnya dengan nada dingin.
Mau tidak mau akupun mulai mencicipi makanan aneh yang pernah kulihat dalam film animasi yang diperankan oleh seekor tikus di Televisi. Bagaimana lagi, karena makanan itu sudah terlanjur ditaruh oleh Ken di atas piringku. Ratatouille berasal dari kata touiller yang artinya adalah 'melempar makanan' sama halnya seperti Ken yang saat ini sudah melemparkan makanan ini untukku.
Saat mulai menyuapkan ratatouille ke dalam mulutku, seketika aku menyadari bahwa rasanya sangat unik. Ada lebih dari macam rasa dalam seporsi ratatouille, rasa itu berbeda satu dengan yang lainnya. Namun perpaduan antara rasa-rasa itu dapat menambah kelezatan yang sulit untuk dijelaskan. Seolah aku dapat menyelam lebih dalam dan berenang merasakan makanan ini. Aneh rasanya! Seakan aku pernah merasakan makanan ini sebelumnya, namun aku tak bisa mengingatnya. Rasanya seperti ada kerikil yang mengganjal di otak namun aku tak tahu letak kerikil itu. Aku masih terus berusaha memikirkan bagaimana bisa rasa ratatouille ini terasa begitu tidak asing bagiku.
"Woy norak, nggak pernah makan ginian ya sampe bengong gitu? Jangan malu-maluin dong udah tadi mau ngerebut rendang gue lagi." gerutu Anton membuyarkan lamunanku.
"Ah, apa'an sih Ton ngagetin aja! Aku cuman ngerasa kayak pernah makan ini deh sebelumnya tapi aku lupa, aneh banget rasanya kayak deja vu gitu," jawabku sambil berfikir.
"Buahahaha, halu? Itu makanan Eropa tau, emangnya Lu pernah ke Eropa gitu?" Ejek Anton dengan wajah tengilnya.
"Ya nggak pernah sih, tapi aneh aja, eh tapi ngomong-ngomong kamu tuh tengil amat sih Ton dari tadi, pantes aja kamu jomblo," jawabku tiba-tiba sewot.
"Apa? Heh Lu juga jomblo gitu dasar cewek jelek," balas Anton.
"Udah dong kalian berdua ini ribut aja sih dari tadi nggak capek apa?" sahut Anggita yang telah usai menyantap makanannya.
"Oh ya, Ken kamu hebat yah, bisa bikin robot canggih kayak Timus, wow kalau dijual bisa tambah kaya kamu," ucap Anggita yang seketika matanya berubah menjadi warna hijau.
"Hmm dasar mata duitan, kan udah gue bilang kalau Ken itu nggak mau jadi makin terkenal, dia lebih suka kehidupan yang tenang dan damai. Awas Lu kalau sampai ember gue sleding." Anton menjawab dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Dih iya-iya nggak ember kok, tapi aku beneran penasaran banget deh sama robot-robot itu. Ton, kamu nggak mau gitu ngajakin kita lihat robot-robot itu lagi di ruang rahasia?" Anggita tiba-tiba merayu Anton dengan wajah sok imut.
"Iyuhhh, males banget, mau mutah gue," celetuk Anton sambil menekuk wajahnya seolah ingin mutah.
Anggita membangkitkan tubuhnya dari kursi dan memukul kepala Anton dari belakang, dia sudah tidak tahan lagi dengan ketengilan Anton yang sudah ditahanannya sejak tadi.
Plaaakkk!
"Gila lu ya Nggit, untung cewek lu," gerutu Anton sambil menggosok-gosok kepalanya.
"Udah deh, jangan ribut mulu kenapa sih ah!" lerai Nina.
"Oh ya aku boleh nanya nggak Ken? Sebenarnya sejak masuk ruang rahasia tadi, aku udah penasaran banget sama lukisan-lukisan yang ada disana, kamu suka koleksi sesuatu yang berbau abad pertengahan ya, Ken?" Aku bertanya sambil mengarahkan wajahku kepada Ken dengan serius.
Ken sekejap menatapku dalam-dalam, tatapannya seolah mengisyaratkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Namun dia tetap bergeming tak menghiraukan pertanyaanku dan kembali melanjutkan menyantap makanannya.
"Kamu mau tau Ruby?" sahut Anton.
Pandanganku beralih dengan cepat kepada Anton sambil mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Beneran mau tahu?" tanya Anton lagi.
"Iya Ton,"
"Mau tau aja apa banget? Hahahaha." Lagi-lagi Anton tertawa tengil seakan meminta untuk disentil ginjalnya.
"Jawabannya adalah R," ucapnya.
"'R' apaan?"
"Rahasia hahahahaha,"
😑
***
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
cinta yg sangat menyentuh hati
tetap semangat berkarya
TRUE BEAUTY
lah klo pantasi itu nama MC di sebut tanpa ada kata AKU ,