JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan.
Rafael menunggui Rian di UKS, padahal Rian sudah mengatakan tak apa dan dia bisa kembali saat bel masuk berbunyi tadi. Namun, Rafael tetap bersikeras menjaga sahabatnya itu. Perawat yang ada di UKS, memberi kami surat keterangan. Rafael pun mau tak mau kembali ke kelas untuk memberitahukan pada guru yang mengajar saat ini. Rian pikir, Rafael akan belajar, tak tahunya dia kembali dengan sangat cepat. Dia bahkan membawa tas mereka berdua.
"Ngapain di sini?" Rian bertanya begitu melihat Rafael kembali.
"Nemenin lo, lah!" balas Rafael.
"Heh, aku cuma alergi. Bentar lagi juga sembuh, memangnya harus pakai acara ditungguin segala, ya?" bantah Rian cepat, dia menyayangkan Rafael yang tak masuk kelas hanya karena dirinya. Ayolah, alergi begini tak akan bahaya. Menunggu sebentar lagi juga pasti sembuh dengan sendirinya setelah meminum obat.
"Kenapa, sih? Gak suka amat gue temenin," protes Rafael merajuk.
"Sayang aja, kamu jadi gak ikut pelajaran cuma gara-gara hal sepele," balas Rian tak ingin sahabat kakaknya itu salah paham. Ahh, apa sekarang dia harus menganggap bahwa Rafael juga sahabatnya.
Rafael mengibaskan tangannya sambil tersenyum kecil, dia mendekati Rian kemudian menunduk sedikit. " Gak masalah, gue juga gak terlalu suka belajar kok sebenernya!" bisik pemuda itu sepelan mungkin.
Rian berkedip pelan menatap Rafael yang berdiri di depannya. "Jadi, aku dijadikan alasan supaya kamu bisa bolos kelas secara legal, gitu?" Rian mengangkat sebelah alisnya, menatap Rafael dengan wajah datar.
Rafael pun menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap ke arah lain, dia enggan bertatapan dengan mata sahabatnya yang menurutnya cukup menakutkan itu. "Ya ..., gak gitu juga, sih," gumam Rafael pelan. Dia merasa terlalu banyak hal yang berubah soal temannya yang satu ini. Dari makanan sampai ke sifatnya pun juga berubah.
"Kita pulang aja, yuk. Gue udah izin tadi!" ajak Rafael mengubah topik dengan cepat.
"Hah?" ucap Rian cepat, dia seperti meragukan pendengarnya. Masa iya mereka izin pulang hanya karena alergi seperti ini saja. Dia kan baik-baik saja, kenapa harus pulang. Padahal Rian berencana kembali ke kelas sebentar lagi.
"Kita pulang, Ian. Gue juga udah pesan taksi kok tadi," jelas Rafael. Dia bahkan membantu Rian berdiri dan pamit pada perawat yang ada di UKS.
Rian mengikuti dalam diam, perlakuan dan perhatian seperti ini baru pertama kali dia dapatkan selain dari sang kakak dulu. Dia senang di satu sisi, tapi di sisi lain dia merasa berdosa karena mendapatkan perlakuan yang seharusnya bukan miliknya. Bagaimana kalau Rafael suatu saat tahu yang sebenarnya, bagaimana kalau dia jadi membenci dirinya yang telah berbohong berkali-kali. Baru kali ini Rian merasa takut untuk meneruskan sandiwara yang dia lakoni sejak sepuluh tahun yang lalu.
"Makasih Raf," ucap Rian tulus untuk pertama kalinya. Dia mengucapkan terimakasih karena Rafael sudah membantu dirinya dalam banyak hal hari ini. Yah, walaupun karena makanan yang dipesan Rafael juga alerginya kambuh dan dia terpaksa harus ke UKS. Namun, Rian merasa harus tetap berterimakasih.
"Tumben lu manggil gue, Raf? Biasanya juga El doang dulu," kata Rafael dengan nada biasa, dia hanya mencari-cari pembicaraan saja kalau didengar dari nada suara yang dia keluarkan. Padahal Rafael memikirkan banyak hal tentang temannya ini.
"Eh, aku, emmm, itu, emmm, aduh, gimana, ya?" ucap Rian bingung, baru kali ini dia gugup untuk menutupi sesuatu dengan berbagai alasan yang masuk akal. Biasanya otaknya akan bekerja dengan cepat menemukan alasan yang tepat. Dia selalu bisa keluar dari semua situasi genting, bagaimanapun caranya.
"Udah, nyantai aja kali! Gue gak apa-apa kok kalau lo lebih nyaman panggil gue Raf sekarang," kata Rafael memamerkan senyum cerahnya. Rian pun mau tak mau balas tersenyum, senyum tulus, meski sedikit canggung terlihat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitu sampai di rumah Rian, taksi yang mereka berdua tumpangi pun berhenti. Saat Rafael ingin turun, Rian langsung mencegahnya. "Mau kemana?" kata Rian menahan tangan Rafael.
"Turunlah, gue mau mampir sekalian bantuin lo tahu!" balas Rafael beralasan.
"Aku bisa sendiri, kamu langsung balik ke rumah kamu aja!" ucap Rian dengan cepat. Dia tak ingin Desita tahu dirinya sudah mendapatkan teman di hari keduanya bersekolah, apalagi temannya itu teman lama sang kakak aslinya.
"Ayolah, kawan! Mama gue pasti ceramah kalau tahu gue pulang jam segini. Jadi, izinkan gue mampir, ya, ya, ya!" bujuk Rafael dengan tampang sok imut yang memang terlihat imut sih.
"Gak!" tegas Rian.
"Antar dia ke rumahnya, pak!" lanjutnya berbicara dengan si supir taksi.
Si supir taksi mengangguk. "Alamatnya di mana?" balas si bapak cepat. Dia merasa senang mengantar dua anak muda yang berbeda tujuan, setoran taksinya pasti lebih cepat tertutupi.
"Tanya dia saja, makasih ya pak," balas Rian, setelahnya dia turun dari taksi dan melenggang tanpa menoleh ke belakang lagi.
Rafael menatap Rian dengan lekat, berbagai pikiran aneh berseliweran di kepalanya. Pria muda itu menghembuskan napas panjang dan mengalihkan pandangan ke depan. Dia menyebutkan alamatnya, taksi pun kembali melaju mengantarkan Rafael ke tempat tujuannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Raf pulang, ma!" teriak Rafael memberitahu kedatangannya.
"Raf, kok cepet pulang, sayang?" kening sang ibu mengernyit bingung. Heran kenapa sang anak pulang lebih cepat, padahal tak ada pemberitahuan apa-apa dari pihak sekolah.
"He-he-he, Ian tadi sakit. Trus Raf antar pulang, ya udah, Raf juga izin pulang sekalian," balas Rafael sambil nyengir kuda. Dinda, sang ibu hanya geleng-geleng kepala mendengar alasan sang putra semata wayangnya itu.
"Raf naik dulu, ya ma. Mau rehat bentar," ucap pria muda itu yang dibalas anggukan oleh sang ibu. Tak membuang waktu, Rafael langsung melesat bagai anak panah ke kamarnya.
Begitu sampai di kamarnya, Rafael mengganti baju sambil memikirkan Rian, sahabat baiknya. "Dia alergi apa, ya? Gue lupa nanya tadi," ujarnya sambil membuka kancing seragamnya.
"Gak mungkin karena makanan yang gue pesan, kan?" pikir pemuda tampan itu.
Kepala Rafael menggeleng kecil. "Gak mungkin, lah! Gue yakin Ian biasa makan menu yang sama dulu dan dia gak pernah kenapa-napa!" katanya meyakinkan diri.
Selesai menggantung Paju seragamnya dan berganti ke baju rumahan yang lebih santai serta nyaman dipakai, Rafael menuju meja belajarnya. Dia membuka satu buku penuh dengan coretan tak jelas di dalamnya. Pena mulai menari di atas kertas putih yang belum terisi, merangkai kata-kata yang pemuda itu inginkan. Bibirnya yang tipis sesekali bergumam pelan, membaca kembali apa yang dituangkannya ke dalam buku tersebut.
"Daftar kecurigaan! Satu, temen gue tiba-tiba punya alergi. Dua, dia manggil gue Raf, kelakuannya juga kaku sama gue, sobatnya sendiri. Tiga, dia jadi lebih tertutup dan sedikit dingin. Empat, dulu biasanya dia maksa nyuruh gue mampir, sekarang dia malah maksa gue untuk pulang!" pena yang dipakai menulis digigit sambil bergumam, membaca kembali apa yang dia tulis barusan.
"Mungkinkah seseorang bisa berubah terlalu banyak?" katanya bingung.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝