Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Program Pembuatan Bayi
Selamat malam kalian, pada lagi ngapain nih?
Semoga lagi baca noveltoon ya 😂
Emak hadir di episode ke 30 ini dengan harapan kalian selalu terhibur.
So Enjoy!
Aku mendorong tubuh Bagas untuk menjauh, sedikit mudah karena dia mabuk. Namun baru beberapa saat, dia kembali memenjarakan tubuhku dalam kukungannya.
“Bagas hentikan!” teriakku.
“Bagas!”
Kali ini teriakanku semakin menjadi saat merasakan tangannya yang mulai masuk ke dalam blus kerja yang kugunakan. Tak mengindahkan teriakanku, laki-laki itu malah semakin gencar melakukan aksinya. Air mataku mengalir begitu saja, aku tahu kami ini pasangan suami istri namun ini sudah termasuk pemaksaan dan pelecehan.
“Hapus air mata kamu, aku nggak akan berhenti.”
Suara serak laki-laki itu terdengar, setelah itu dia meraih kedua tanganku dengan tangan kanannya dan meletakannya di atas kepala dan mulai menciumku. Aku terus melakukan perlawanan yang bisa aku lakukan namun peristiwa itu tetap tidak terhentikan. Bagas tetap melakukan apa yang dikatakannya tadi.
“Semoga jadi,” ucapnya setelah semuanya usai sembari mencium perutku.
Aku memalingkan wajah dan menangis. Kami masih berada di sofa dengan posisi Bagas memelukku dari belakang.
Aku benci, sangat benci.
***
Paginya, aku cepat-cepat bangun dan pergi membersihkan diri di kamarku tak lupa mengunci pintu kamar serapat-rapatnya. Setelahnya dengan tergesa-gesa aku keluar kamar, sambil melangkah aku melirik Bagas yang terkapar di atas sofa tanpa selimut dan tubuhnya hanya tertutupi dengan kemejanya.
Mengabaikan rasa sakit hatiku aku mengambil selimut dari dalam kamar dan melemparnya asal ke arahnya, bukannya peduli, mataku hanya tak ingin melihat hal-hal kotor.
Setelahnya kemudian aku berdiri dan pergi keluar rumah.
“Beli apa mbak?” tanya sang kasir saat aku sampai di depan apotek tak jauh dari tempat kami, tepatnya di blok sebelah.
“Saya ingin membeli pil pencegah kehamilan!” ucapku tanpa berniat menjaga image, lagi pula untuk apa itu sedangkan aku adalah wanita yang sudah bersuami.
“Eh Mbak pengantin baru yang baru pindah dua minggu lalu kan?” tanya mbaknya kepo.
“Iya mbak,” jawabku cepat.
“Oh lagi belum mau punya anak ya?” tanyanya lagi sembari menyodorkan sedus merek pil pencegah kehamilan yang pernah kulihat dilaci meja di rumah kak Geri.
“Eh iya, mbak.”
Setelah membayar aku cepat-cepat pergi dari saja dan menyebunyikan kantong obat itu di balik kantong celanaku. Mengantisipasi aku sampai di rumah Bagas sudah bangun. Dalam perjalanan pulang aku mengingat-ingat apakah ini masa suburku atau tidak. Karena ada beberapa artikel tentang kehamilan yang pernah kubaca, meskipun meminum pil tapi kalau sedang masa subur kemungkinan untuk tetap hamil itu tetap ada.
“Dari mana?” tanya Bagas yang kini sudah tampak segar, sepertinya dia baru selesai mandi. Rupanya berjalan kaki ke apotek memakan waktu lama hingga laki-laki itu bahkan sudah bangun dan membersihkan diri.
“Jalan-jalan di depan rumah,” jawabku cuek.
Setelah itu aku melangkah ke lantai dua dan masuk ke kamarku dan menguncinya dari dalam. Aku mengambil segelas air yang kebetulan sebelum pergi sudah ku siapkan memang di dalam kamar agar Bagas tak curiga.
Saat hendak memasukan obat itu ke dalam mulut pintu kamar terbuka. Astaga aku lupa bahwa semua kamar di rumah ini dilengkap dengan sensor sidik jari dan hanya sidik jari Bagaslah yang terkonek di sana untuk membuka sementara tadi aku mengguncinya dengan password yang tentunya tidak diketahui Bagas. Laki-laki itu melotot dan berlari menghampiriku, menampar tanganku hingga sebutir pil itu terlempar di udara.
“Sialan!” makinya dengan wajah memerah.
“Benar kecurigaaanku, kamu nggak akan keluar rumah cuman dengan alasan jalan-jalan!” sinisnya sembari merampas dus kecil berisi obat yang kubeli tadi.
“Kamu pikir ini akan berhasil heh!”
Dia mengambil semua obat itu, beserta yang tadi terlempar dan memasukannya ke dalam gelas berisi air hingga larut dan membuangnya dari jendela kamarku.
“Bagas!” teriakku tidak terima.
“Mulai hari ini kamu berhenti bekerja di tempat Yonatan dalam sebulan ke depan kamu aku kurung di rumah ini!” tekannya.
Aku melotot tak percaya.
“Kalau perlu lebih dari itu, sebelum kamu kupastikan hamil!”
“Kamu tidak bisa melakukan itu Bagas! Tidak padaku!” jeritku.
“Aku bisa melakukan semuanya, semua yang berkaitan denganmu aku bisa melakukannya!
***
Riando
Plis tolongin gue
Urgent!!
Sudah sekitar dua jam setelah ucapan Bagas, dia mengunci pintu dengan sidik jari dan password baru yang tak kuketahui itu apa. Well, laki-laki itu benar memulai aksinya mengurungku. Saat ini dia juga berada di dalam kamar ini dan duduk di meja riasku yang sudah disulapnya menjadi menjadi meja kerjanya.
Tak mendapat balasan dari Riando yang sepertinya sudah diajak Bagas untuk kerja sama, aku beralih ke Andrew, semoga saja bule tampan itu membalas pesanku. Mungkin kalian bertanya kenapa aku tidak langsung menelpon karena itu akan mencurigakan, Bagas tentu akan langsung mengambil ponselku.
Andrew
Ndrewww!
Tolongin!
Bagas mau ngurung aku di rumah!
Tak lama setelah itu Andrew membalas.
Andrew
Nggak bisa, siang ini aku harus menemui klien di luar kota dan mungkin akan seminggu-an atau malah dua minggu, sekalian nyari jodoh.
Aku menjerit dalam hati membaca pesan Andrew, entah dia betulan atau hanya sedang mencari alasan agar tidak dapat menolongku.
“Jangan membuat pesan yang tidak-tidak Re, aku menyadap ponselmu!”
Sialan!!
Bagas benar-benar sudah gila.
“Sialan, gila kamu Bagas!” teriakku dengan nada naik seoktaf.
“Aku nggak akan gila kalau kamu nurut!”
“Bagas, apa susah kamu menceraikanku dan hidup nyaman kembali dengan mantan istrimu itu dan anak kalian?”
“Sialan dia bukan anak aku! Dia anak Yonatan!”
Oke, aku terkejut dengan informasi itu. Karangan cerita siapa ini yang diambil.
“Maling mana ada mau ngaku!”cibirku.
“Terseralah!” pasrahnya.
Bagas nampak kembali menekuni pekerjaannya dan beberapa kali menerima telpon namun tak ada niatnya untuk meninggalkan tempat ini.
***
Mesci tampak sesegukan di meja kerjanya.
“Udahlah Ci nggak usah lebay deh!”
Riando tampak kesal melihat rekan kerjanya itu.
“Gimana nggak lebay Mas Ri, mbak Alma ngajuin surat resignnya. Aku nggak siap!”
Sekali lagi perempuan itu menjerit bersama isakannya. Mesci sedih karena Alma mendadak mengajukan resign dari kantor dengan alasan mau fokus bersama keluarga. Padahal Mesci belum sempat meminta nomor bule tampan itu. Tidak bukan karena itu saja, tapi karena Mesci memang sudah sesayang itu sama Alma.
Sementara Riando tidak kaget lagi karena semalam dia pergi minum bersama Bagas dan Bagas menceritakan tentang rencananya itu pada Riando. Perlu kalian tahu, surat resign itu Riando yang ketik dan masalah tanda tanggannya juga dia yang buat, bukan karena hasil photoshop dan aplikasi canggih lainnya tapi karena Riando memang seprofesional itu untuk menirukan tanda tangan Alma.
Cerita sedikit, dulu saat masih sekolah Alma dan Riando memang saling belajar menirukan tanda tangan masing-masing agar dapat mereka gunakan sebagai bahan manipulasi kalau salah satu dari mereka menitip daftar hadir kegiatan sekolah. Ternyata berguna juga sekarang, bakat itu.
“Mas Riando kok nggak kelihatan sedih?” tanya Mesci tiba-tiba.
“Ya senang aja, udah bosan lihatin Alma selama bertahun-tahun,” candanya.