NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Dua Jiwa, Satu Tubuh

[Catatan: jangan panik.]

Terlambat.

Aku panik selama tujuh puluh dua jam berikutnya.

Atau lebih tepatnya, aku mencoba tidak panik sambil gagal dengan gaya hidup yang cukup meyakinkan. Aku makan. Aku tidur. Aku tersenyum pada Sari. Aku membiarkan Reynard mengirim sarapan ke kamarku. Aku bahkan pura-pura tidak melompat setiap kali Si Kepo berkedip.

Reynard tahu ada yang salah.

Tentu saja.

Pria itu baru saja mengakhiri salah satu kesalahpahaman paling memalukan dalam sejarah rumah tangga modern, lalu istrinya mendadak berubah menjadi orang yang menatap kalender seperti menunggu meteor.

"Keira," katanya pada hari ketiga, di ruang keluarga PIK.

"Hm?"

"Kau takut."

Aku memegang cangkir teh lebih erat. "Tidak."

"Cangkirmu hampir retak."

Aku menurunkannya.

Ia duduk di hadapanku, tidak menyentuhku, tapi juga tidak memberi jalan kabur.

"Setelah malam di rooftop, kau menghindar."

"Aku tidak menghindar."

"Kau sarapan di kamar."

"Aku lapar lebih pagi."

"Kau mengirim Boba sebagai kurir catatan."

"Dia butuh pekerjaan."

"Keira."

Suara itu membuat pertahananku retak.

Aku ingin memberitahunya. Tentang 72 jam. Tentang fusi. Tentang kemungkinan aku pingsan. Tapi setiap kali mulutku hampir terbuka, Si Kepo memberi peringatan tentang detail sistem yang tidak boleh bocor sembarangan.

Jadi aku hanya bisa takut di depannya.

[Hitung mundur fusi: kurang dari dua jam.]

Si Kepo, tolong tampil lebih halus.

[Tidak ada mode halus untuk potensi kehilangan kesadaran.]

Aku berdiri terlalu cepat.

"Aku mau ambil udara."

Reynard ikut berdiri. "Aku ikut."

"Tidak perlu."

"Perlu."

Kami baru sampai koridor ketika kepalaku terasa seperti dipukul dari dalam.

Langkahku berhenti.

"Keira?"

Suara Reynard jauh sekali.

Lantai bergerak.

Bukan gempa.

Ingatan.

Naomi di apartemen.

Keira kecil di rumah Liem, duduk diam saat Monica menghapus warna bibirnya dengan bedak terlalu tebal.

Naomi tertawa sendirian di halte bus.

Keira menangis tanpa suara di depan cermin.

Dua hidup bertabrakan.

Tubuhku jatuh.

Reynard menangkapku sebelum kepalaku membentur lantai.

"Keira!"

Aku mendengar Sari menjerit. Pak Hadi memanggil ambulans. Anto berlari. Boba menggonggong keras.

Lalu semuanya pecah menjadi cahaya putih.

Ketika aku membuka mata, aku tidak berada di PIK.

Aku berdiri di sebuah ruang yang tidak punya dinding. Di kiri ada apartemen Naomi. Di kanan ada kamar Keira di Pondok Indah. Dua dunia bertumpuk seperti dua foto yang tidak sejajar.

Di lantai, ada benda-benda dari dua hidup bercampur: kartu transportasi Naomi, lipstik pucat Keira, tagihan listrik apartemen, undangan pernikahan, boneka kecil yang dulu disembunyikan Keira di lemari, dan gelas kopi murah yang sering kubeli sebelum kerja.

Setiap benda menyentuhku dengan ingatan berbeda.

Aku bukan hanya menonton.

Aku merasakan semuanya.

Seorang gadis berdiri di depan cermin.

Keira.

Wajah yang kupakai.

Tapi matanya lebih lelah, lebih sunyi.

"Kau akhirnya datang," katanya.

Aku tidak bisa bernapas.

"Kau..."

"Aku yang seharusnya tinggal di tubuh ini."

Sakit menusuk dadaku.

"Maaf."

Itu kata pertama yang keluar.

Keira menatapku lama, lalu tersenyum kecil. "Kau meminta maaf karena hidup?"

"Aku mengambil hidupmu."

"Hidupku sudah hampir tidak ada."

Di belakangnya, muncul potongan memori. Monica menyuruhnya menunduk. Celine tertawa. Herman menghindari mata. Albert kecil berdiri jauh, tidak berani mendekat. Reynard di altar, asing dan menakutkan.

"Aku lelah," kata Keira pelan. "Tapi aku juga takut hilang."

Aku menangis.

"Aku juga."

Keira menatap tanganku yang transparan. "Kau membuat mereka melihatku."

"Apa?"

"Albert. Papa. Bahkan Reynard. Sebelum kau datang, aku hanya beban, alat tukar, wajah yang harus disembunyikan."

Suaranya tidak marah.

Justru itu yang membuatnya lebih sakit.

"Kau marah untukku," katanya. "Aku tidak tahu caranya."

"Aku marah karena kau pantas dibela."

Matanya berkaca-kaca.

"Kalau kita menyatu, berjanjilah jangan biarkan aku kembali jadi orang yang diam."

"Janji."

Di dunia luar, Reynard membawa tubuhku ke Pondok Indah Hospital VIP. Leo tiba dengan wajah pucat yang jarang sekali terlihat. Bersamanya datang seorang pria tua berjubah sederhana, kepala botak, mata tenang.

"Ini Guru Agung," kata Leo singkat. "Jangan tanya dulu."

Reynard berdiri di samping ranjang. "Apa yang terjadi?"

Guru Agung menatapku, lalu menatap ruang kosong di atas dadaku seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Dua jiwa sedang mencari bentuk yang sama."

Leo mengencangkan rahang. "Bahasa manusia, Guru."

"Jika saling menolak, tubuh ini pecah dari dalam. Jika salah satu menelan yang lain, yang hilang tidak akan kembali."

Reynard merasa darahnya dingin.

"Apa yang harus kulakukan?"

Guru Agung menatapnya. "Jadilah jangkar."

"Bagaimana?"

"Panggil dia. Bukan hanya nama yang kau tahu. Panggil semua yang membuatnya ingin kembali."

Di ruang tanpa dinding, Keira dan aku berdiri berhadapan.

"Aku tidak tahu caranya berbagi tubuh," kataku.

"Aku juga."

"Aku takut kalau kita menyatu, aku bukan Naomi lagi."

"Aku takut kalau kita menyatu, tidak ada yang mengingat aku pernah ada."

Kami sama-sama diam.

Lalu suara Reynard masuk.

Jauh.

Serak.

"Keira."

Ruang itu bergetar.

"Naomi."

Aku menoleh.

Keira juga.

Ia tahu nama itu.

"Aku tidak tahu bagian mana yang mendengarku," suara Reynard berlanjut, "jadi aku bicara pada semuanya."

Di dunia luar, Reynard duduk di samping ranjang rumah sakit. Tiga hari tiga malam ia tidak benar-benar tidur. Leo memaksanya minum. Steven mengurus perusahaan. Pak Hadi menjaga PIK. Anto berdiri di pintu. Sari menangis diam-diam. Boba tidak diizinkan masuk rumah sakit, jadi Natasha mengirim foto Boba setiap beberapa jam.

Reynard terus bicara.

Tentang masa kecilnya yang sunyi.

Tentang pertama kali ia memakai Topeng Perak dan memutuskan orang lain tidak boleh melihat kelemahannya.

Tentang Steven yang pernah memukul anak sekolah yang mengejek lukanya.

Tentang Leo yang mengajarinya bertahan dengan cara paling keras.

Tentang hari pernikahan, ketika suara pikiranku masuk ke kepalanya seperti petir lucu.

"Kau menyebutku target," bisiknya. "Aku marah. Lalu kau memikirkan harga sewa gaun pengantin. Aku tidak jadi marah."

Ia bercerita tentang malam pertama di PIK, ketika aku memeriksa tubuhnya lewat kemeja dan ia hampir kehilangan kendali wajah.

Tentang Bibi Yanti, saat aku berdiri di dapur dengan bukti dan tangan gemetar tapi tetap bicara.

Tentang Boba, anjing kecil yang membuatnya sadar bahwa rasa takut bisa dilatih untuk duduk diam.

Tentang Puncak, ketika aku kembali dari lereng dengan tangan berdarah dan tiga batang tanaman seperti membawa seluruh dunia.

"Aku tidak tahu kapan tepatnya," katanya. "Mungkin bukan satu hari. Mungkin setiap kali kau memilih tinggal."

Suaranya pecah sedikit.

"Aku mencintaimu."

Di ruang jiwa, aku dan Keira sama-sama mendengar.

Tidak ada panel.

Tidak ada misi.

Hanya kalimat itu.

Leo di sudut ruangan menutup mata, mungkin menahan tawa dan sedih sekaligus.

Reynard menggenggam tanganku.

"Kau bilang belum hidup benar. Kalau begitu hidup di sini. Marah padaku. Tertawa di rumahku. Paksa aku makan. Selamatkan anjing lain kalau kau mau. Tapi kembali."

Di ruang jiwa, Keira menatapku.

"Dia mencintaimu," katanya.

"Dia juga memanggil namamu."

"Namaku sekarang namamu."

"Tidak. Namamu tetap milikmu."

Aku mengulurkan tangan.

"Kita bisa pulang bersama?"

Keira menatap tanganku lama.

Lalu ia menggenggamnya.

Ruang tanpa dinding meledak menjadi ribuan potongan memori.

Naomi.

Keira.

Halte bus.

Pondok Indah.

Gempa.

Altar.

Kesepian.

Harapan.

Rasa takut.

Rasa ingin hidup.

Semuanya menyatu, bukan seperti satu menelan yang lain, melainkan seperti dua sungai yang akhirnya bertemu dan tetap membawa warna asalnya.

Pada hari ketiga, aku membuka mata.

Hal pertama yang kulihat adalah Reynard.

Matanya merah.

Janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya.

Tuan Muda Wijaya terlihat berantakan.

Aneh sekali, itu pemandangan paling menenangkan di dunia.

"Rey," bisikku.

Ia membeku.

Lalu menunduk, menempelkan dahinya ke punggung tanganku.

Aku merasakan tangannya gemetar.

"Aku kembali," kataku.

Suaraku serak, tapi utuh.

Reynard mengangkat kepala. "Kau tahu siapa dirimu?"

Aku berkedip pelan.

Pertanyaan itu seharusnya sederhana.

Dulu jawabannya selalu terbelah. Naomi di dalam. Keira di luar. Satu nama untuk dunia, satu nama untuk rahasia.

Sekarang keduanya tidak lagi saling mendorong.

"Aku Keira," kataku. Lalu setelah napas pendek, kutambahkan, "Dan aku ingat Naomi."

Matanya memerah lebih dalam.

"Keduanya?"

"Keduanya."

Aku menyentuh dadaku dengan tangan lemah.

"Tidak terasa seperti dua orang saling berebut lagi. Lebih seperti... rumah yang akhirnya punya semua kamarnya terbuka."

Reynard menggenggam tanganku lebih hati-hati, seolah takut rumah itu runtuh kalau ia terlalu kuat.

Ia menutup mata sebentar, seperti seseorang yang akhirnya boleh bernapas setelah tiga hari tenggelam.

Di sudut pandanganku, Si Kepo muncul pelan.

[Fusi tahap pertama berhasil.]

[Memori Naomi: stabil.]

[Memori Keira: terintegrasi.]

[Peringatan: gelombang fusi kedua tidak dapat diprediksi.]

Aku memejamkan mata.

Tentu saja belum selesai.

Tidak ada yang pernah selesai semudah itu dalam hidupku.

Di luar kamar, Leo berbicara pelan dengan Reynard setelah Guru Agung pergi.

"Ada hal lain," kata Leo.

Reynard masih menggenggam tanganku. "Apa?"

"Ong punya anak kembar. Marcus dan Rachel. Ada laporan lama tentang kemampuan mereka merasakan satu sama lain dari jarak jauh."

Reynard menatapnya.

Leo menghela napas. "Apa pun yang terjadi pada Keira, ini bukan satu-satunya fenomena aneh di sekitar kita."

Di ranjang, aku pura-pura tidur.

Tapi Si Kepo berkedip.

[Data baru: Ong twins.]

[Catatan: ini bukan kebetulan.]

Belum.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!